Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Young and Wild and Free Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 5

Start Young and Wild and Free Part 5 | Young and Wild and Free Part 5 Start

PREMAN IN LOVE​

POV Ella

Selepas magrib aku diantar Joe pulang ke rumah, sesekali kulirik kekasih dari sahabatku tersebut. Aku merasa jantungku berdebar-debar dan pikiranku nggak karuan, namun mulutku tidak bisa bicara bahkan tingkahku jadi serba salah.

“Kenapa elu La? Kayanya gelisah banget. Katanya Grace elu lagi ada masalah… “

“Eh, iya. Tapi gue belum mau ceritain dulu. Masalah keluarga.”

“Oh, OK. Tapi kalo lu butuh temen curhat, lu tahu bisa hubungin siapa.”

“Thanks, Joe.”

Saat kami sudah berda dekat rumahku, aku melihat sebuah mobil sedan terparkir di depan rumahku. Tiba-tiba saja aku mendapat firasat buruk yang akan menimpaku. Saat aku hendak turun dari mobil Joe, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang wajahnya kulihat beberapa hari yang lalu dari dalam rumahku.

“La, muka lu kok tiba-tiba pucet? ”

“Tiba-tiba aja perasaan gue nggak enak abis liat orang itu.” Ucapku sambil menunjuk orang yang baru keluar dari rumahku.

“Perlu gue temenin?”

“Nggak usah, gue nunggu sampe orang itu pergi aja.”

“Kayanya gue tahu permasalahan keluarga lu.”

Aku kaget mendengar ucapan Joe, ku tatap wajah laki-laki itu.

“Orang yang lu tunjuk itu pernah berurusan juga sama keluarga gue, dia penipu.”

“Makanya lu disuruh pulang dari Inggris.”

“Yup, semoga bokap lu belum ditipu habis-habisan sama orang itu.”

“Sayangnya udah, semalem bokap gue udah cerita tentang kondisi keluarga saat ini. Hiiks…”

“Loh, kenapa elu nangis La?”

“Hiiks…. Hiiks…”

Secara spontan Joe memeluk pundakku lalu mengusap-usapnya. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, aliran darahku mengalir lebih cepat, otakku tidak dapat berpikir dengan jernih.

“Temenin gue, Hiiks… malem ini, Joe… Hiiks.”

“Apa… apa maksud lu, La?”

“Gua butuh elu, Hiiks… malem ini, Hiiks…”

Joe berusaha menenangkanku. Laki-laki itu merengkuh kepalaku lalu menyandarkannya di bahunya, dengan lembut ia mengelus-elus kepalaku. Kuhapus air mata yang sempat keluar dari mataku kemudian kupejamkan mataku meresapi suasana yang dibangun laki-laki yang sedang mengelus-elus kepalaku. Sebuah kecupan mendarat lembut dikeningku, darahku berdesir, jantungku berdebar, pikiranku melayang-layang lupa akan masalah keluarga yang kualami. Tangan Joe bergerak, ibu jarinya mengelus-elus wajahku perlahan mulai dari kantung mata yang masih saja basah oleh air mataku turun ke hidung hingga akhirnya mengelus permukaan bibirku. Joe memainkan Ibu jarinya dipermukaan bibirku.

Perlahan kubuka mataku menatap wajah laki-laki tersebut, dia tersenyum padaku. Saat aku membuka celah diantara bibirku, Joe segera memasukkan ibu jarinya dalam mulutku. Jari tersebut kujilat dan hisap dengan penuh perasaan. Tiba-tiba Joe mendekatkan wajahnya ke wajahku.

CUUPPHHH!

Aku kaget dengan apa yang dilakukan Joe walaupun sebenarnya aku menginginkannya. Mataku melirik memperhatikan kondisi di sekitar. Walaupun kaca mobil Joe sangat gelap namun tetap saja aku was-was, untung saja saat itu suasana sekitar rumahku memang sedang sepi. Setelah yakin merasa aman, segera kubalas ciuman Joe. Tangan Joe yang lain mulai bergerak mengerayangi tubuhku secara perlahan hingga akhirnya berhenti di bagian paha. Birahiku naik saat Joe meremas-remas pahaku.

Joe memundurkan kursiku lalu menurunkan bagian sandarannya sehingga posisiku setengah berbaring. Pemuda itu segera menindihku lalu kembali menciumku, kedua tangannya mengerayangi tubuhku mulai dari payudara hingga ke bagian paha. Aku bisa merasakan penisnya menegang saat menyundul bagian dalam pahaku. Ciuman kami makin panas, hembusan udara dingin dari AC mobil tidak dapat lagi memberikan kesejukan.

“Mmmmppppphhhh………”

**********​

POV Bimbim

Hari ini aku merasa sangat bahagia bisa ngobrol dengan Grace cukup lama saat ia menunggu kekasihnya yang sedang bermain basket dengan teman-temannya. Bahkan ketika malam harinya saat aku sedang berkumpul dengan teman-temanku di sasana milik bang Agung pikiranku masih tertuju padanya. Caranya berbicara, gerakan tubuhnya serta mimik wajahnya yang polos dan menggemaskan silih berganti terlintas dipikiranku.

(“Haruskah gue pendam semua ini? Haruskah gue merebutnya?”)

Segera aku tersadar dan membuang jauh-jauh pemikiran itu ketika Riko datang ditemani Mimin dan Agung.

“Udah lama kalian disini?” Tanya Agung.

“Lumayan bang, setengah jam-an.” Jawab Jati.

“Gue ada informasi penting buat kalian. Kakak dari Antonius Lee datang ke kota ini beberapa hari yang lalu, namanya Maikel Lee. Sepertinya dia mencari orang-orang yang mencelakai adiknya jadi kalian harus berhati-hati. Dia bisa jadi ancaman buat kita kedepannya, kalau kalian mau membereskannya gue nggak keberatan tapi jangan bawa-bawa kelompok kita karena dia belum ada masalah sama kelompok ini kecuali masalah pribadi.”

“Dia udah tahu tentang kami?”

“Belum, dan itu jadi keuntungan buat kalian yang belum terdeteksi olehnya. Kalau kalian bergerak cepat, masalah kita dengannya tidak akan berkepanjangan. Karena kalau ditunda-tunda akan menyeret banyak pihak termasuk kelompok pesaing kita. Tapi sekali lagi gue tekankan, kalian harus bergerak sendiri tidak ada bantuan apapun dari gue termasuk senjata dan rute pelarian kalian.”

Selanjutnya kami membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan bagaimana mengantisipasinya. Setelah dirasa cukup kamipun membubarkan diri.

Setelah kami terpisah aku kembali memikirkan Grace. Akupun berjalan-jalan untuk menenangkan pikiranku, aku hanya mengikuti kemana saja kakiku melangkah tanpa tujuan yang jelas hingga tanpa kusadari kini aku sudah berada didepan sebuah rumah. Ada apa dengan diriku? Bahkan seluruh anggota tubuhku seakan terpusat pada seorang gadis. Langkah kakiku yang nggak jelas arahnya ternyata menuntunku untuk mendatangi rumah Grace.

Aku menghembuskan nafas, melepas beban pikiran yang mengusikku saat ini. Beban? Itu bukan beban. Pikiranku memang seperti sedang terhimpit, namun yang menghimpit itu bukan sebuah beban. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, yang jelas itu bukan beban karena aku merasa bahagia memikirkannya. Tidak ada orang yang pikirannya terbebani merasa bahagia, jadi jelas yang menghimpit pikiranku bukan sebuah beban. Lalu mengapa aku bertindak seperti itu? Entahlah.

Kutatap rumah bergaya modern yang memiliki 2 lantai tersebut. Ketika mataku menatap salah satu jendela dilantai 2, tiba-tiba lampu diruang itu menyala sehingga nampak siluet seorang perempuan. Walaupun belum bisa memastikan kebenarannya namun perasaanku mengatakan ruangan tersebut adalah kamar tidur Grace. Kini mataku yang kembali tersedoot oleh pesona gadis itu. Malam ini perasaanku berbunga-bunga walaupun hanya bisa melihat siluet gadis itu dari kejauhan.

“Heh! Ngapain lu!? Mau maling, ya?!”

Lamunanku buyar mendengar suara hardikan tersebut, aku menoleh ke arah sumber suara tersebut. Tampak 2 orang pemuda menghampiriku dengan tatapan curiga.

“Ngapain lu ngeliatan rumah orang kaya gitu? Mau nyolong, ya?!” Bentak pemuda pertama menegaskan perkataannya.

“Eh nggak kok bang, cuma mau mastiin ini rumah temen gue. Ini rumahnya Grace, kan?”

“Boong lu. Pasti lu mau macem-macem sama Grace, nggak mungkin cewek kaya dia punya temen kaya elu. Muka lu aja keliatan mesum.” Sanggah pemuda kedua sambil mengarahkan senter yang dibawanya kearah wajahku.

“Bener kok, kalau lu nggak percaya tanya aja sama Grace.”

“Ngapain malem-malem gangguin orang mau tidur. Lu mesti gue bawa ke pos keamanan.”

Kedua pemuda itu segera mendekatiku, ketika tangan salah satu dari mereka berusaha ingin menyeretku, aku mencoba menghindar. Karena kesal merka langsung menyerangku, kembali aku menghindari serangan dari keduanya. Keduanya terus berusaha meringkusku. Dari gerakan mereka aku tahu keduanya memiliki kepandaian bela diri yang cukup namun masih dibawahku. Dalam suatu kesempatan aku mampu menyerang balik keduanya sekaligus. Tangan kananku mengarah keleher pemuda pertama sedangkan tangan kiriku mengincar dagu pemuda kedua. Kedua seranganku itu sebenarnya berhasil mengenai sasaran. Namun sesaat sebelum pukulanku mendarat, aku menahan gerakanku sehingga kini masing-masing kepalan tanganku berada persis didepan titik tubuh yang kuincar.

Mengetahui hal tersebut kedua pemuda itu tercengang, sepertinya kini mereka menyadari bahwa aku bukan lawan sepadan untuk mereka.

“Kalo niat gue jahat, nggak bakalan gue nahan pukulan gue kaya sekarang.”

“Eh, iya bang maaf kita salah duga.” Ucap orang pertama dengan suara bergetar.

“Kenapa nggak langsung samperin aja rumahnya Grace. Jadi kita nggak salah sangka.” Tambah pemuda yang kedua dengan nada suara yang sama seperti temannya.

“Gue yang seharusnya minta maaf. Harusnya gue nggak nyari rumah temen gue malam-malam kaya gini. Gue balik aja sekarang, lain kali aja gue mampir kemari lagi. Sekali lagi gue minta maaf.”

Akupun segera meninggalkan perumahan tersebut dan berjalan entah kemana. Kali ini kakiku membawaku ke sebuah diskotik yang ada dipinggiran kota. Aku segera duduk di salah satu kursi di meja bartender. Sambil menunggu pesananku disediakan, aku memperhatikan suasana di diskotik tersebut. Dari tempatku duduk aku melihat sebagian besar mata laki-laki yang ada disitu tertuju pada seorang gadis yang sedang sendirian melenggak-lenggokkan tubuhnya di dance floor.

Gadis yang malam itu memakai terusan pendek tanpa lengan berwarna putih keruh seperti tidak memperdulikan kondisi sekitar yang sedang memperhatikannya. Ia terus bergoyang walaupun gerakannya terkadang tidak seirama dengan dentuman musik yang keluar dari pengeras suara di tempat tersebut. Sesaat kemudian DJ yang bertugas memutar musik yang semakin memanaskan suasana, pengunjung diskotik ditempat itu mulai menyemangati gadis berbaju putih keruh tersebut. Gerakan gadis itupun semakin liar sehingga memancing seorang laki-laki yang dari tadi memperhatikannya datang menghampri gadis itu lalu ikut bergoyang bersamanya.

Mengira gadis itu sudah terbawa suasana, laki-laki tersebut memberanikan diri untuk merapatkan tubuhnya pada gadis tersebut lalu memeluknya. Gadis itu seakan tersadar, didorongnya laki-laki itu agar menjauh darinya lalu dia kembali bergoyang. Melihat hal tersebut laki-laki tersebut kembali mendekati gadis itu dan langsung merapatkan tubuhnya. Gadis itu meronta saat laki-laki itu berusaha memeluknya.

Dari kejadian tersebut terlihat bahwa gadis itu sedang tidak ingin diganggu, aku tersenyum ketika mengetahui siapa diri gadis itu. Sesaat kemudian gadis itu berhasil mendorong jatuh laki-laki yang mengganggunya lalu segera meninggalkan dance floor. Tentu saja hal itu membuat kecewa pengunjung yang merasa mendapat tonotnan gratis dari tarian gadis itu. Aku segera melambaikan tangan pada gadis itu memberi tanda kehadiranku ditempat itu. Gadis itu menghampiriku.

“Ini minuman lu?” Belum sempat kujawab gadis itu langsung menenggak habis minuman berkadar alkohol tinggi tersebut.

“Sendirian lu, Sis?”

“Iya, lagi suntuk gue. Elu baru nyampe?”

“Iya… Goyangan lu asik juga.”

“Dasar mesum, pasti pikiran lu udah kemana-mana. Eh, elu bisa bawa mobil kan? Ntar anterin gue balik, ya…..?”

“OK. Mau balik sekarang?”

“Bentar lagi…”

Aku menemani Siska ngobrol malam itu, setelah ia sudah benar-benar mabuk aku segera membawanya pulang. Setibanya dikontrakan miliknya aku segera memapah Siska menuju kamarnya. Sebelum sempat kubaringkan tubuh Siska di kasur, gadis itu memuntahkan isi perutnya sehingga membasahi pakaian yang dikenakannya. Aku menuju lemari pakaiannya untuk mecari pakaian ganti untuk Siska, sengaja kupilih lingerie yang menurutku paling minim potongannya.

Perlahan-lahan kubuka pakaian Siska yang sudah basah oleh muntahannya sendiri, aku tertegun melihat tubuh Siska yang sudah tidak tertutupi benang selembarpun. Kusentuhkan jemariku menyusuri tubuhnya perlahan hingga membuatku mulai terangsang.

“Eeeehhh…..”

Siska melirih namun matanya masih terpejam. Aku membaringkan tubuhku disampingnya, tanganku kini berada diatas lututnya lalu secara perlahan naik ke atas. Kudekatkan wajahku pada wajah Siska, kulumat bibirnya dengan lembut. Mulut Siska merespon ciumanku walaupun matanya tetap terpejam. Tanganku bergerak perlahan keatas sambil meremas pahanya yang mulus. Ciuman kami semakin panas, aku sudah tidak lagi memperdulikan bau alkohol serta muntahan dari mulutnya. Remasan tanganku di pahanya semakin intens, sementara tanganku yang lainnya juga mulai menggerayangi tubuhnya.

“Buka baju lu, Bim.” Ucap Siska setengah sadar.

Dengan cepat kubuka pakaian dan celanaku lalu kembali menggumuli tubuh Siska. Gadis itu menyambutku dengan ciuman, tangannya memeluk tubuhku.

“Kenapa kamu berbuat ini padaku, Bim? ….. Kamu jahat!”

Tiba-tiba saja aku merasa sedang menggumuli Grace. Aku tersentak kemudian bangun dari posisiku, Siska terkejut ketika tiba-tiba aku menjauhinya.

“Kenapa Bim? Body gue nggak menarik buat elu?”

“Bukan Sis, kalo gue nggak tertarik nggak mungkin gue sampe berbuat kaya tadi. Kalo kaya gini situasinya gue ngerasa nggak enak, kesannya gue lagi manfaatin elu.”

“Gue nggak keberatan kalo elu manfaatin gue malem ini.”

“Gue yang keberatan.”

“Tapi kontol lu nggak. Elu nggak kasian sama kontol lu yang kesiksa kaya gitu…” Rayu Siska.

Sekilas kulirik daerah selangkanganku, penisku tidak bisa membohongi nafsuku yang sudah memuncak. Aku tak mampu mengendalikan hasratku sehingga penisku membuat sesak celana panjang yang ku kenakan.

Kembali kutatap tubuh telanjang Siska, namun aku merasa seolah-olah sedang melihat tubuh telanjang Grace. Segera kudekati Siska, gadis itu tersenyum mengira aku akan kembali menggumulinya. Namun kali ini aku bisa mengontrol diri, kupakaikan lingerie yang sudah kupilih untuk menutupi tubuh Siska lalu menyelimutinya.

“Lu udah punya cewek ya Bim. Elu keinget sama dia?”

Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Siska. Karena sudah larut malam aku memutuskan untuk menginap di rumah tersebut, namun aku memilih untuk tidur di sofa ruang tamu. Sebelum mataku benar-benar terpejam, dalam pikiranku kembali melintas bayangan-bayangan Grace. Senyumannya, mimik wajahnya, gerak geriknya bahkan bentuk siluet tubuhnya yang tadi kulihat terus memenuhi pikiranku. Namun tidak seperti biasanya ketika aku merasa terangsang ketika membayangkan seorang gadis, kali ini aku merasa tentram saat membayangkan Grace.

(“Benar-benar perwujudan seorang bidadari.”)

**********​

POV Joe

Aku segera tersadar atas perbuatan yang sedang kulakukan. Segera kulepas ciumanku dari bibir Ella, gadis itu merasa heran akan perubahan sikapku.

“Maafin gue, La. Harusnya gue nggak melakukan ini ke elu.”

“Bukan salah lu, Joe.” Ucap gadis itu yang juga ikut merasa bersalah.

“Gue jemput Grace ya? Biar dia aja yang nemenin lu malem ini.”

“Nggak usah nanti ngerepotin dia, gue nggak mau ngerepotin orang lain.”

“Grace itu udah nganggep lu lebih dari sahabat, elu buan orang lain buat dia tapi sodara. Lagian tadi elu minta gue buat nemenin lu.”

“karna gue butuh elu, bukan yang lain. Kalo elu nggak mau nemenin gue ngapapa, gue ngerti.”

Aku terkejut mendengar ucapan Ella, aku mengerti arah pembicaraan gadis itu. Sebagai laki-laki normal sulit bagiku untuk mengabaikan permintaan gadis secantik Ella, tapi aku sudah punya Grace! Aku tak ingin mengkhianati gadis itu.

“Maaf, La. Gue nggak bisa ngabulin permintaan lu. Gue harap lu ngerti.”

“Iya Joe, gue ngerti. Maaf kalo tadi kita sampai berbuat jauh, seenggaknya lu udah tahu perasaan gue…. Joe, please jangan bilang siapa-siapa.”

“Iya, La. Masa aib sendiri mau gue ceritain ke orang lain.”

“Bukan yang itu maksud gue. Tapi soal masalah yang dihadapi keluarga gue, jangan kasih tahu ke orang lain cukup elu aja yang tahu.”

“Sorry La, kalo yang itu nggak mungkin gue lakuin. Gue nggak mau terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa keluarga lu, khususnya elu sendiri. Elu itu temen baik gue, bahkan dianggap sodara sama cewek gue jadi nggak mungkin gue tinggal diem tahu kalo elu dalam kesulitan. Gue pasti akan cari cara nolongin keluarga lu, Tapi gue nggak mungkin ngebantuin elu seorang diri, gue butuh bantuan orang lain. Gue usahain akan sesedikit mungkin orang yang akan tahu masalah keluarga lu.”

“Ya udah kalo begitu. Mau mampir?”

“Boleh, aus nih ngobrol dari tadi.”

“Yuk masuk.”

Kami segera turun dari mobilku lalu masuk ke rumah Ella. Aku memang sengaja mampir ke rumah Ella, selain untuk silaturahmi dengan kedua orang tuanya juga untuk menyelidiki lebih banyak sejauh mana masalah yang sedang dialami oleh keluarga tersebut. Setelah aku merasa cukup mengumpulkan informasi yang kuperlukan, aku segera berpamitan pada orang tua Ella. Gadis itu mengantarku hingga aku masuk kedalam mobil. Sebelum aku pergi meninggalkannya, aku bertanya pada gadis itu tentang penawarannya tadi.

“Sorry ya La, tentang tawaran lu tadi nngggg….”

“Kenapa, mau berubah pikiran?” Sahut Ella sambil tersenyum penuh arti.

“Bukan… Bukan itu. Elu kok berani ngajakin gue nemenin lu? Kan ada bonyok lu.”

“Ya nggak disini lah, kebetulan ada tetangga gue yang pulang kampung kemarin sore. Kunci kontrakkannya dititipin ke gue. Ayo kesana kalo mau liat-liat, siapa tahu berubah pikiran.”

“Gila lu. Nggak usah, lain kali aja.”

“Bener ya, kapan-kapan elu mau nginep nemenin gue.” Ucap Ella dengan suara yang mengintimidasi disertai tatapan yang menggoda.

“Bukan gitu maksud gue, tadi cuma bercanda.” Jawabku yang baru menyadari kesalahan ucapanku sebelumnya.

“Serius juga ngapapa, malah gue seneng kalo ucapan lu tadi serius.”

Aku terdiam tidak tahu bagaimana lagi harus mengelak. Untungnya Ella tidak meneruskan rayuannya sehingga aku boleh merasa lega.

“Thanks ya Joe”

“Gue belum ngelakuin apa-apa, nggak usah ngucapin terima kasih dulu.”

“Seenggaknya lu udah niat mau nolongin keluarga gue….. Lagian ucapan terima kasih gue lebih ditujukkan untuk apa yang udah lu lakuin tadi di mobil, sebelum kita masuk ke rumah.”

“Eh, udah jangan dibahas lagi. Gue cabut ya, La.”

“Hati-hati.”

Aku segera meninggalkan tempat itu. Malam itu jalanan di kota ini cukup lengang sehingga aku bisa mengendarai mobil dengan santai. Sambil tetap konsentrasi mengendarai mobil, aku mulai berpikir mencari solusi untuk membantu keluarga Ella. Karena konsentrasiku terbagi, tanpa kusadari aku menyetir mobilku menuju ke perumahan tempat tinggal Grace.

(“Ngapain malam-malam gue kesini? Ah, mungkin karena gue nggak fokus nyetir jadi gue nggak sadar justru sampai kesini. Lebih baik gue istirahat sebentar.”)

Akupun memutuskan untuk memarkirkan mobilku di pingir jalan tak jauh dari rumah Grace. Kuatur posisi tempat dudukku hingga aku bisa tiduran lalu kupejamkan mataku untuk beristirahat sejenak.

Pagi itu aku baru saja keluar dari toilet setelah buang air kecil. Saat melintasi koridor menuju ruang kelasku aku melihat seorang siswi sedang menuju kearahku. Gadis itu sangat cantik, kulitnya putih kecoklatan, bertubuh ramping dengan tinggi sekitar 165cm, rambutnya lurus kecoklatan terurai hingga punggungnya. Wajahnya yang cantik tampak semakin erotis dengan peluh disekitar wajah, pakaian olahraga yang basah oleh keringatnya semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah. Gadis itu tersenyum saat berpapasan denganku.

Angella Kusuma Wijaya, salah satu kembang tercantik di sekolah ini bahkan yang paling cantik menurutku. Diusianya yang baru 16 tahun sudah terlihat matang, bentuk tubuhnya tak kalah dengan gadis-gadis berusia 20-an. Pemandangan tadi tentu saja terekam kuat dipikiranku hingga aku tidak bisa konsentrasi penuh mengikuti pelajaran.

Aku belum memiliki banyak teman di sekolah ini karena baru beberapa hari yang lalu diterima ditempat ini. Oleh karena itu aku memilih pergi ke perpustakaan saat tiba jam istirahat. Saat sedang asiknya membaca buku, terdengar satu suara merdu tertuju padaku.

“Boleh gue duduk disini?”

Tanpa menunggu jawaban dariku gadis itu sudah langsung duduk disebelahku. Kuperhatikan gadis itu, ternyata gadis yang sama saat tadi pagi aku berjalan di koridor sekolah setelah dari toilet.

“Elu yang baru pindah dari London, kan? Boleh gue kenalan?”

“Hah, elu? Gue?” Tanyaku kebingungan.

“O iya lupa gue. Gue itu saya, kalo elu itu kamu. Boleh aku kenalan sama kamu?”

“Joko, tapi panggil saja Joe.”

“Angela… Biasanya dipanggil Ella. Tolong isi biodata kamu di buku catatanku ya.”

Gadis itu memberikan sebuah buku catatan kepadaku. Saat memberikan buku tersebut Ella merapatkan tubuhnya sehingga lengan kirinya menempel pada lengan kananku. Ruangan berukuran 6×6 meter yang dilengkapi 2 buah pendigin ruangan yang masing-masing berkekuatan 1 PK tiba-tiba terasa gerah buatku, padahal dalam ruangan tersebut saat ini hanya diisi oleh kami berdua ditambah seorang penjaga perpustakaan yang duduknya jauh dari kami. Aku berusaha menenangkan pikiranku lalu mengisi biodataku di buku yang Ella berikan padaku.

“Joko Unggul Pranoto… Kok panggilanya jadi Joe? Panggilan kamu di London ya?”

“Sebelum aku ke London panggilanku juga Joe, lebih keren dibanding Jo.”

“Lahir di Jogja… Sampai umur berapa kamu di Jogja?”

“Sampai lulus SD, kira-kira umur 12 tahun. Waktu papaku pindah ke Jakarta aku dikirim ke London.”

“Kenapa kamu balik ke Indonesia?”

“Masalah keluarga, maaf aku belum mau cerita dulu masalah itu.”

“Oooohh ngapapa. Nanti sore kamu ada di rumah? Aku telpon kamu ya?”

“Boleh…..”

Aku tersadar dari tidurku ketika mendengar ada suara ribut-ribut tak jauh dari tempatku beristirahat. Kucari sumber keributan tersebut. Tak jauh dari mobilku, aku melihat 2 orang pemuda yang kutahu memang bertempat tinggal di perumahan ini sedang mengeroyok seorang pemuda yang kelihatannya bukan dari tempat ini. Pertarungan itu berlangsung singkat, pemuda asing tersebut berhasil mengalahkan pengeroyoknya. Sesaat kemudian ia meninggalkan lokasi tersebut.

(“Bimbim? Ngapain dia malam-malam kesini?”)

**********​

POV Bimbim

Siang itu Farid dan teman-temannya mendatangi tempat tongkronganku, kira-kira mereka berjumlah 20 orang. Mereka masih menggunakan seragam sekolah ketika menghampiri kami. Melihat kedatangan mereka, seperti biasa Jati jadi orang pertama yang menghadang langkah mereka.

“Ngapain lu kemari Rid, masalah kita kan udah beres. Nggak puas?” Tanya Jati.

“Urusan gue kali ini bukan sama elu, tapi sama si cungkring itu.” Jawab Farid sambil menunjuk kearahku. Aku segera mendekati Farid.

“Ada masalah apa sama gue?”

“Jangan pura-pura bego lu. Berani-beraninya elu gangguin cewek dari sekolah gue.”

“Siapa yang kasih laporan kaya gitu ke elu? Ella? Dia cewek lu ya? Gue nggak gangguin siapa-siapa, gue cuma mau temenan sama Grace. Kayanya dia juga nggak keberatan temenan sama gue, cewek lu aja yang berlebihan.”

“Nggak usah banyak alesan! Pokoknya gue nggak suka lu gangguin cewek dari sekolah gue. Jangan pernah lagi deketin Grace.”

“Terus, lu mau apa? Nyari ribut?” Tantangku.

Farid mengepalkan tangannya bersiap-siap untuk memukulku tapi tidak dilakukannya. Wajahnya memerah, rahangnya menggembung menandakan pemuda itu sedang berusaha menahan emosi. Mungkin dia segan bentrok lagi dengan kami, karena kini kami sudah jadi anak buah bang Riko. Belum lagi memang selama ini mereka belum pernah sekalipun berhasil mengalahkan kami, termasuk ketika beberapa saat yang lalu yang entah bagaimana caranya ia berhasil mengajak teman-teman sekolahnya yang tidak tergabung dalam gengnya termasuk Joe, untuk ikut bergabung mengeroyok kami. Kami berempat ditambah beberapa teman sekolah berhasil menahan puluhan anak-anak yang membantu Farid dan gengnya.

“Gue cuma mau ngasih peringatan. Lain kali gue nggak akan segen lagi.”

“Elu tahu harus kemana kalo mau cari gue.”

Farid dan kawan-kawannya segera meninggalkan kami. Setelah Farid pergi kami kembali meneruskan kegiatan kami. Aku memikirkan apa yang baru saja terjadi. Aku tahu Farid, dia tak akan semarah itu kalau tidak ada sangkut pautnya langsung dengan dirinya. Walaupun aku ragu Ella adalah kekasih Farid, namun bila hal itu benar sekalipun cukup aneh kalau Farid sampai semarah itu, karena bukan Ella yang kudekati. Mengapa Farid marah mengetahui aku mendekati Grace? Apakah pemuda itu juga menyukai Grace?

Berpikir bahwa Farid juga menyukai Grace aku mulai merasa khawatir terhadap gadis itu. Aku percaya jika hanya Farid yang akan dihadapi, Joe masih sanggup untuk melindungi kekasihnya. Tapi aku kenal Farid, pemuda itu pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan seseorang yang diinginkannya bahkan dengan cara-cara kotor sekalipun. Aku harus memastikan Farid tidak akan berbuat macam-macam terhadap Grace.

Karena mengkhawatirkan keadaan Grace, perlahan bayangan gadis itu kembali mengusikku. Meskipun masih ada kekhawatiran terhadapnya, namun bayangan wajahnya bisa membuat rasa nyaman dalam pikiranku sehingga pikiranku tetap jernih tidak terbawa emosi.

“Sendirian aja, Bim?”

Aku terjaga dari lamunanku, seorang gadis yang menjadi bahan lamunanku kini duduk persis disebelahku. Aku dapat mencium bau tubuhnya yang semakin membuatku terbuai oleh kecantikannya.

“Ada tuh…” Ucapku sambil menunjuk teman-temanku yang sedang bercengkrama di pinggir taman.

“Kamu nggak gabung mereka?”

“Lagi pingin sendiri. Elu ngapain nyamperin gue? Nggak takut gue culik?”

“Jadi kamu nggak mau aku temenin, ya udah aku balik aja kalo gitu.”

“Bukan gitu maksud gue. Heran aja gue sama lu, biasanya orang-orang terutama cewek berusaha hindarin ketemu orang kaya gue. Tapi elu kayanya santai aja deket sama gue.”

“Don’t judge a book by its cover (jangan menilai seseorang dari penampilannya). Bukan berarti aku nggak waspada, tapi aku memang tidak pernah menilai seseorang dari luarnya saja. Lagi pula entah kenapa aku merasa aman berteman sama kamu, Joe juga pernah cerita kalau dia bisa langsung nyambung sama kamu waktu pertama kali kalian kenalan. Hal yang sama aku rasain waktu kita kenalan, walau sempet risih sama tatapan kamu yang mesum tapi dari perkenalan tersebut aku bisa menilai kamu itu orang baik dan sangat menghargai wanita.”

“Emang ada ya orang mesum bisa menghargai perempuan.”

“Ada. Yang lagi duduk disebelahku contohnya.”

Grace tersenyum, duniaku semakin teralihkan. Gadis itu seperti seorang bidadari yang dikirim untukku. Selain cantik, pemikirannya begitu tulus tidak terkontaminasi orang-orang di sekitarnya. Mengapa aku harus 2 kali dipertemukan dengan gadis seperti ini?

“Elu ngapain nyamperin gue?”

“Kebetulan aja aku lewat abis jalan-jalan. Pas lewat sini ngeliat ada yang lagi bengong langsung aku samperin.”

“Joe kemana, kok nggak nemenin elu?”

“Nanti malam dia kerumah, sekarang dia lagi ada keperluan lainnya.”

Sepanjang percakapan kami aku lebih fokus memperhatikan Grace. Suara, mimik wajah serta gerakan tubuhnya membuatku mengabaikan kondisi sekelilingku. Aku benar-benar bahgia bisa dekat dengan gadis itu. Untuk sesaat aku mengabaikan bahwa Grace adalah kekasih seorang pemuda yang kuanggap sebagai temanku, walau untuk sementara aku menganggap gadis itu sebagai kekasihku. Entah apa yang akan terjadi setelah ini namun yang pasti aku sangat menikmati setiap detik kebersamaan kali ini walaupun kami hanya berbincang-bincang.

“Ngomong-ngomong rencana kamu untuk ngembangin tempat ini bagaimana? Sudah ada konsepnya?”

“Belum ada konsep, masih sekedar pemikiran. Elu ada ide?”

“Kalau menurutku ide awal itu harus datang dari kamu sendiri atau temen-temen kamu. Coba kamu tuangin pemikiran kalian dalam sebuah konsep, dari konsep tersebut nantinya aku atau Joe akan kasih masukan juga mungkin bisa bantu cari dana.“

“OK kalau gitu, secepetnya gue buatin konsep seperti yang lu bilang….. “

“Kayanya udah makin sore nih, aku pulang dulu ya belum beres-beres rumah. Makasih ya udah mau nemenin ngobrol, kita sambung lagi kapan-kapan.”

“Gue lagi yang harusnya ngomong gitu. Gue anterin, ya?”

“Nggak usah. Kamu balik aja sama temen-temen kamu, rumahku kan nggak jauh dari sini. Lagipula masih terang jadi nggak perlu kuatir.”

“Oh ya udah kalau gitu.” Sahutku sedikit kecewa.

Aku melepas kepergian gadis itu. Satu lagi sifatnya yang membuatku kagum. Meski anak orang berada namun Grace masih mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan pembntu. Bagi gadis itu seorang pembantu mengerjakan pekerjaan sesuai julukannya, hanya membantu pekerjaan empunya rumah bukan sebagai budak yang bisa disuruh-suruh semaunya untuk melakukan suatu pekerjaan.

Tak lama setelah bayangan tubuh Grace tak terlihat lagi olehku, aku bermaksud kembali bergabung dengan teman-temanku namun tiba tiba aku merasakan ada seseorang yang menghampiriku dari arah berlawanan. Kualihkan pandangnku pada sosok tersebut, seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi dariku menatapku dengan tatapan yang serius.

“Elu Joe, ada perlu apa lu kemari?”

“Gue mau ngomong sama lu….” Ucap pemuda itu dengan nada serius.

BERSAMBUNG​

END – Young and Wild and Free Part 5 | Young and Wild and Free Part 5 – END

(Young and Wild and Free Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 6)