Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Young and Wild and Free Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 2

Start Young and Wild and Free Part 2 | Young and Wild and Free Part 2 Start

MASUK DALAM LINGKARAN​

POV Bimbim

Siang itu kami bermain basket 2 lawan 2 di taman sambil ngobrol santai. Topik obrolan kami siang itu tidak lain adalah Siska, cewek yang semalam kami tolong.

“Gue ampe coli 2 kali semalem…”

“Tuh cewek bodynya emang kelas satu, mukanya juga cantik bener. Panteslah kerja jadi sekertaris di perusahaan besar.”

“Bosnya pasti awet muda tuh ngentotin dia terus, mungkin sampe lupa sama bininya juga.”

“Hahahaha……….”

Kucoba melewati Guntur yang menghalangiku, namun tubuhnya yang tinggi besar menyulitkanku untuk menembusnya. Terpaksa ku oper bola pada Jati. Jati mendribel bola sambil mengatur posisi, setelah memberi kode padaku iapun bergerak untuk mengecoh Sakti.

“Kebaca gerakan lu Je…”

“Hmmm…”

Jati mencoba melakukan penetrasi dari sisi lapangan, usahanya kali ini berhasil hingga Guntur yang harusnya menjagaku terpancing untuk menghalangi Jati melakukan shooting. Dengan cerdik Jati melakukan tipuan seakan-akan hendak memaksakan shooting namun sebenarnya ia hendak mengoper bola padaku. Setelah menerima operan dari Jati, aku segera mendribel bola mendekati ring basket lalu melakukan gerakan lay-up tanpa ada pengawalan.

“SCORE…..!!”

“OK satu point lagi kita menang Je…”

“Sak, konsen dong jangan sampai lepas lagi.”

Kali ini bola dikuasai Sakti, ia memantul-mantulkan bola menyusun serangan sementara Guntur mencari ruang. Berkali-kali Sakti dan Guntur melakukan manuver namun aku dan Jati tidak memberikan ruang untuk shooting secara bebas ataupun kesempatan menembus area key hole. Akhirnya Sakti memaksakan shooting langsung yang kurang akurat. Bola yang dilempar Sakti membentur bagian dalam ring basket namun memantul keatas sehingga menjadi bebas diudara. Aku dan Guntur beradu cepat melakukan rebound, namun karena lentingan bola masih terlalu tinggi akhirnya kami berebut men-tip bola rebound tersebut.

Guntur yang lebih cepat berhasil men-tip bola tersebut ke arah Sakti yang dengan cepat melakukan gerakan pivot setelah menguasai bola. Usahanya tersebut membuat ruang yang memungkinkannya menembak bola dengan bebas, dan kali ini tembakan bola Sakti sukses meluncur mulus masuk ring basket.

“SCORE…..!!”

Saat aku dan Jati bersiap-siap melakukan serangan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dari seberang lapangan tempat kami bermain basket. Kami berempat segera mengarahkan perhatian kesumber suara tersebut. Tampak seorang laki-laki berusia sekitar 30-an tahun yang rambut gondrong hitamnya dibuat model kuncir kuda. Dibelakangnya belasan orang mengikutinya, kami mengenali sebagian orang tersebut yang merupakan anggota gengnya Farid.

“Woi siapa yang ngasih lo ijin main basket disini?!”

Kami menghampiri orang tersebut.

“Ada masalah kalo gue sama temen-temen gue main disini?” Tanya Jati.

“Lo pada tahu kan kalo wilayah sini ada yang jagain? Kenapa nggak permisi dulu?! Mau bikin ribut disini?” Balas laki-laki berkuncir kuda.

“Kita cuma main basket, bukan nyari ribut!”

“Cara lo jawab barusan yang bikin ribut. Hajar mereka!”

Belasan anak buah si kuncir kuda segera menyerang kami. Ada aura yang berbeda dari lawan kami semalam yang menandakan orang-orang yang kami hadapi kali ini tidak main-main. Kucari dimana keberadaan si kuncir kuda, aku berpikir jika bisa mengalahkan pimpinannya akan lebih mudah untuk selanjutnya. Namun orang itu tidak ada diantara para pengeroyok. Kamipun sepakat untuk menghadapi orang-orang tersebut secara bersamaan, tidak secara berpencar seperti semalam.

“HIIYYAAAATTTT !!!”

Perkelahianpun terjadi, kami saling bahu membahu menghadapi belasan berandal tersebut. Walaupun kalah jumlah jauh namun kami masih bisa unggul dari pengeroyok kami. Baru 2 menit berjalan, sudah 3 orang orang berandal dapat kami robohkan. Namun tidak seperti perkelahian semalam yang terbilang mudah, kali ini kami mendapat perlawanan. Sakti sempat terjatuh saat terlambat menghindari tendangan memutar dari lawan, namun bukan Sakti namanya kalo baru kena tendang sekali langsung KO. Temanku itupun langsung bangkit dan kembali menghajar lawan.

Jati sempat terkena beberapa kali pukulan akan tetapi sesuai namanya tubuhnya masih terlihat kokoh, hanya ada sedikit memar pada wajahnya padahal pukulan yang diterimanya sangat keras. Bahkan sempat kulihat salah satu orang yang berhasil memukulnya langsung mengerenyitkan wajah karena tangannya kesakitan. Guntur yang memiliki badan paling tinggi dan besar sepertinya memang yang paling dihindari lawan, hal itu terbukti dari 2 orang berandal yang roboh adalah akibat menerima hantaman pukulannya yang tidak hanya keras tapi juga berat. Sedangkan aku sampai saat ini memang masih bisa menghindari pukulan ataupun tendangan lawan, hanya 1 – 2 pukulan yang nyerempet di wajahku.

Lima menit berlalu, pukulan Guntur yang menderu-deru memakan korban lagi. Seorang dibuat roboh dengan mulut berdarah dan gigi somplak, seorang lagi roboh dengan kondisi rahang bergeser dan langsung pingsan.

“Cukup!” Teriak seorang dengan lantang. Teriakannya begitu keras sehingga kami semua menghentikan perkelahian kami.

Kucari keberadaan orang yang berteriak tadi. Di bagian bangku panjang sisi luar sebelah kanan lapangan kulihat seorang pria berambut gondrong yang seumuran si kuncir kuda ditemani laki-laki bertampang dingin berdiri dekat si kuncir kuda yang rupanya dari tadi hanya duduk di kursi panjang menyaksikan pertarungan kami. Kulihat mereka terlibat pembicaraan, lalu beberapa saat kemudian berjalan menghampiri kami.

“Kalian tahu siapa gue?!” Bentak laki-laki gondrong tersebut.

Aku memperhatikan laki-laki itu dengan seksama. Perawakannya sedang, kulit tubuhnya cenderung coklat kehitaman. Rambutnya hitam gondrong, wajahnya tidak sangar namun terlihat badboy dengan sorot mata tajam.

“Kenapa nggak jawab?! Bisu?! Ato perlu gue suruh Mimin buka mulut kalian secara paksa?!” Lanjut si badboy.

“Tahu, bang Riko. Maafin kita bang.”

Dari nada ucapan Jati aku tahu bang Riko ini bukan orang sembarangan sampe temanku itu begitu respek padanya. Terus terang aku memang pernah mendengar sepak terjang bos preman bernama Riko, tapi baru kali ini aku melihatnya. Tadinya bayanganku tentang orang bernama Riko itu bertubuh kekar dan bertampang bagai pembunuh berdarah dingin seperti sosok pengawalnya yang saat ini berdiri dibelakang bang Riko. Tapi orang seseram itu justru bernama Mimin yang membuatku tertawa geli dalam hati.

“Kaya anak kecil aja lu, pake minta maaf segala. Ngapain lu buat keributan disini?! Mau jadi jagoan?! Ato mo cari mati?!”

“Kasih pelajaran aja bang… Hajar… Abisin…” Seru orang-orang yang ngeroyok kami tadi.

“Diem lo semua! Kalo tadi nggak gue setop lo juga nggak lama lagi nyusul temen-temen lo yang keok, bikin malu bos lo aja!” Lanjut bang Riko. “Buat lo berempat, karena kalian udah bikin keributan disini maka gue harus ngasih kalian pelajaran. Kalian harus terima digebukin dan ditendanganin sama anak buahnya Tito, nggak boleh ngelawan ato mo berurusan dengan Mimin.”

Bang Riko memberi tanda pada anak buahnya si kuncir kuda untuk mulai gebukin kita berempat. Dengan brutal mereka mulai gebukin sambil memaki-maki dengan kata-kata kotor dan kasar.Tampak sekali mereka penuh bernafsu menghajar kami terutama anggota gengnya Farid yang memang bermusuhan dengan kami. Sudah tak terhitung berapa banyak pukulan yang ku terima dari mereka, kulirik teman-temanku yang lain mereka pun dengan tegar menerima pukulan para berandal tersebut.

Lewat 3 menit kami masih mampu bertahan berdiri, hanya mulai tampak memar-memar di beberapa bagian wajah namun belum ada tanda-tanda kami akan roboh. Lewat 5 menit kami masih tetap mampu bertahan berdiri walaupun aku merasakan badanku seperti remuk, lucunya ada beberapa anak buah Tito yang mundur sejenak cari nafas. Mungkin saking bernafsunya menghajar kami sampai kehabisan nafas sendiri. Memasuki menit keenam aku merasa lututku mulai goyah badanku pun seperti tidak memiliki tulang lagi.

Sesaat kemudian akupun terjatuh, saat itulah aku baru menyadari hanya tinggal Guntur yang masih sanggup berdiri menerima pukulan para berandal tersebut. Saat kami sudah terjatuh itulah mereka semakin semangat memukul, menendang juga menginjak-injak kami. Akhirnya untuk melindungi kami yang sudah sangat kepayahan, Guntur seperti sengaja menjatuhkan dirinya memancing agar berandal-berandal tersebut lebih fokus menghajar dirinya. Pancingannya berhasil, anak buah Tito yang sangat gemas karena tidak berhasil menjatuhkan Guntur mulai mengarahkan sasaran pukulan maupun tendangannya pada temanku itu sehingga kami bisa sedikit merasa lega.

Saat mampu mengumpulkan sedikit kekuatan aku coba menghalang-halangi para berandal tersebut menghajar Guntur. Beberapa orang berandal yang kesal melihat ulahku kembali mengalihkan sasarannya padaku. Usahaku memecah konsentrasi lawan terhadap Guntur diikuti Jati, lalu kemudian Sakti. Sehingga kini kami sama-sama menerima hajaran dari para berandal tersebut secara merata.

Entah berapa lama lagi kami harus terus menerima siksaan ini, yang kutahu saat ini aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Mungkin sebentar lagi aku akan pingsan.

“CUKUP!!!”

Melihat orang yang berteriak memberikan instruksi tersebut, para berandal tersebut menghentikan aksinya.

“Masih bisa berdiri?!”

Aku masih berusaha mencari udara segar sambil mencari tahu kondisi teman-temanku. Sepertinya sudah tidak ada yang sanggup untuk berdiri, namun kulihat Guntur berusaha untuk duduk. Dengan sangat kepayahan akhirnya dia berhasil duduk dengan kaki terjulur. Badannya membungkuk kedepan sedangkan tangannya digunakan untuk menopang tubuhnya. Aku, Jati dan Sakti hanya bisa terlentang di tengah lapangan.

“Tinggalin mereka! To, ayo kita ngomong.”

“Disini aja!”

“Bukan tempat yang pas buat bikin kesepakatan.”

“OK, kalo gitu di kedai gue. Gimana dengan mereka?”

“Biarin aja disini, ntar juga cabut sendiri.”

Merekapun meninggalkan kami terkapar di lapangan. Ini pertama kalinya aku merasakan tubuhku benar-benar remuk, bahkan untuk duduk saja sudah nggak sanggup. Akupun memejamkan mataku agar bisa istirahat memulihkan tubuhku hingga akhirnya akupun tertidur. Entah berapa lama aku tidur di lapangan tersebut, hingga satu ketika aku merasa ada yang menguncang-guncangkan tubuhku. Kubuka mataku walau terasa agak berat.

“Bangun!” Ucap Guntur sambil mengulurkan tangannya.

Kugapai uluran tangan tersebut lalu mencoba untuk bangun.

“Bantuin gue bangunin yang lain.” Tambah Guntur.

Dengan berat aku berjalan mendekati Sakti yang posisinya lebih dekat denganku. Setelah kami semua berdiri, kemudian kami berjalan menuju bangku panjang di pinggir lapangan. Kami berjalan dengan saling menopang satu sama lain.

“Gila! Sakit banget seluruh badan gue.” Umpat Sakti setelah kami duduk bersandar pada bangku panjang tersebut.

“Kalian kenapa mau aja digebukin kaya tadi? Takut sama yang namanya Mimin itu? Seberapa killer sih dia?” Tanyaku penasaran dengan sikap teman-temanku tadi.

“Takut sama Mimin? Nggak sampe segitunyalah. Lah lu sendiri kenapa juga ikutan nggak ngelawan?” Tanya Jati.

“Gue kan perantauan disini, belum banyak tahu. Sama kaya kata lu tadi… ikut-ikutan.”

“Lu pasti bisa nebak kalo kita tadi keliatan respek banget sama bang Riko.”

“Hmmm…..”

“Bang Riko itu bukan preman biasa. Walau masih muda dia itu pernah jadi kandidat kepala preman geng besar di kota ini, cuma dia nolak karena ngerasa banyak seniornya yang lebih berhak dudukin posisi itu. Akhirnya sama ketua geng yang baru terpilih dia diangkat jadi kepala cabang wilayah tenggara, termasuk tempat ini.”

“Terus si kuncir kuda tadi siapa? Bukan dia yang pegang wilayah sini?”

“Si Tito? Hmmm….. Itulah anehnya bang Riko, meskipun jagoan dan disegani tapi dia nggak ambisius. Tito itu tadinya anggota geng biasa, cuma emang lebih senior dari bang Riko. Dulu bang Riko punya pacar namanya Rika, tapi mereka putus karena sifat bang Riko yang nggak ambisius sedangkan Rika itu cewek yang ambisius. Rika itu satu-satunya cewek di geng tersebut yang bisa jadi kepala cabang, saat ini dia megang wilayah selatan. Si Tito itu pacarnya Rika yang sekarang, sebenernya dia juga ambisius kaya Rika tapi belum punya kesempatan megang wilayah makanya Rika minta bang Riko untuk ngasih sedikit wilayahnya ke Tito. Jadi si Tito itu kaya kepala bayangannya bang Riko.”

“Kenapa nggak Rika aja yang ngasih wilayahnya? Terus kok mau si Rika sama Tito yang cuma anggota biasa? Padahal orang kaya bang Riko aja diputusin.”

“Si Tito itu sebenernya juga orang yang lumayan hebat, tapi emang masih kalah sama bang Riko ataupun Rika. Sedangkan sama kepala wilayah lainnya dia sebenernya cuma kalah senior. Tito belum punya pengikut sebanyak mereka, masih kalah jauh. Tapi tinggal tunggu waktu sih, kepala cabang lainnya udah pada berumur semua. Makanya tadi gue bilang si Tito itu belum punya kesempatan aja buat megang wilayah. Kalau masalah kenapa bukan Rika aja yang bagi wilayahnya, itu karena Rika tahu bang Riko nggak terlalu berambisi megang wilayah. Selain itu juga cewek itu ngerti kalo bang Riko sebenernya masih sayang sama dia, makanya bang Riko dimanfaatin.”

“Pantesan anak buahnya Tito keliatannya nurut juga sama bang Riko. Kalo masalah kalian mau aja digebukin apa hubungannya?”

“Itu salah satu cara bang Riko ngerekrut anak buah. Bang Riko nggak suka punya banyak anak buah sesuai dengan sifatnya yang nggak ambisius. Tapi karena dia punya wilayah, maka penambahan jumlah anak buah musti dia lakukan. Karena anak buah bang Riko nggak terlalu banyak, makanya dia cari orang yang tahan pukul diatas rata-rata preman. Dan kayanya kita tadi udah nunjukkin ke dia kalo kita itu masuk standarnya. Walau tadi dia ninggalin kita tapi tadi gue sempet ngeliat dia senyum puas waktu merhatiin kita.”

“Ia sama, gue juga sempet liat dia senyum puas. Tapi tadi gue nggak ngerti maksudnya apa.” Sahutku menimpali penjelasan Jati.

“Sama gue juga sempet merhatiin….. Gue juga…..” Timpal Sakti dan Guntur.

“Berarti kita tinggal tunggu waktu bang Riko nyamperin buat ngasih tugas sebelum resmi jadi anak buahnya. Biasanya sih disuruh ngerebut lokasi yang nantinya jadi tempat yang akan diawasi oleh kita.” Ucap Sakti.

“Tawur lagi dong? Sanggup nggak ya? Badan gue masih remuk nih.” Balasku yang agak ragu mendengar tugas yang kemungkinan kami terima.

“Harus sanggup, bang Riko jarang ngasih kesempatan kedua.” Tegas Jati.

“Sekarang kita cari tukang urut yang bagus biar cepet pulih.” Usul Sakti.

Setelah merasa cukup kuat untuk berjalan kami segera bangkit lalu meninggalkan lokasi tersebut menuju tempat yang diusulkan Sakti. Setelah urusan kami selesai kami kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

**********​

Malam itu seperti biasa kami berkumpul di tempat tongkrongan kami. Sebuah warung yang sudah cukup lama ditinggalkan pemiliknya. Walaupun sudah dibiarkan cukup lama, bangunan tersebut masih berdiri dengan baik walau catnya tampak kusam dan terlihat mulai mengelupas di beberapa bagian. Menurut Jati pemilik warung tersebut sudah meninggal, anaknya tidak minat untuk meneruskan usaha orang tuanya di tempat tersebut karena dianggap sepi. Bangunannya ditinggalkan begitu saja, karena memang bangunan liar yang didirikan di lahan milik perusahaan besar yang entah mengapa seperti mengacuhkan lokasi tersebut sehingga terbengkalai.

Hanya perabotan dan isi warung lainnya yang diambil keluarga pemilik warung tersebut. Walaupun bangunan liar, namun pemilik bangunan tersebut tidak mendirikan warungnya asal-asalan. Terbukti dari masih kokohnya warung tersebut walau mulai terlihat termakan usia dan tak terawat, hanya dibeberapa bagian saja terlihat sudah rusak. Tapi untuk sekedar tempat nongkrong, bangunan tersebut masih aman dan layak disinggahi.

Saat malam mulai larut, dari kejauhan tampak 3 orang laki-laki berjalan mendekati tempat tongkrongan kami. Aku segera memperhatikan dengan seksama ketiga orang tersebut, 2 orang diantaranya sudah kulihat tadi siang, mereka adalah bang Riko dan Mimin. Namun seorang lagi baru kali ini aku melihatnya. Laki-laki muda bertubuh kurus namun tinggi dengan rambut gondrong ala Brucee Lee, usianya sekitar awal 20-an.

“Yang sebelah kanan itu pengawal bang Riko lainnya. Dia lebih jago dan berbahaya dibanding Mimin tapi orangnya lebih tenang. Namanya Agung, dia alumni sekolah kita, lulus 2 tahun yang lalu. Orangnya juga pinter kaya elu, tapi jarang keliatan. Kayanya dia sambil kerja di tempat lain.”

Tak lama kemudian ketiga orang itupun sudah berada di tempat tongkrongan kami, bang Riko sejenak memperhatikan bangunan tempat tongkrongan kami kemudian menatap kami satu persatu dengan tajam.

“Duduk bang…..” Tawar Jati pada ketiga orang itu.

“Hmmm…. Lo anak pindahan ya? Nih si Agung katanya nggak kenal sama elo, dia kan alumni sekolah lo.” Ucap bang Riko.

“Iya bang, baru pindah 7 bulan yang lalu…” Jawabku.

“Oohhhh, gitu…. Kalian pasti udah bisa nebak kenapa gue kemari, jadi gue nggak perlu banyak omong. Kalo kalian bisa ngeladenin Mimin sama Agung malam ini, kalian boleh gabung sama gue.”

Sakti langsung bersiap-siap memasang kuda-kuda untuk menghadapi kedua pengawal bang Riko. Melihat hal tersebut Jati dan Guntur pun melakukan hal yang sama sehingga akhirnya akupun ikut bersiap-siap seperti yang lainnya. Sedangkan Agung dan Mimin terlihat lebih santai walaupun kutahu mereka pun juga tengah bersiap-siap untuk menghadapi kami. Dari cara kedua orang tersebut memasang kuda-kuda aku sudah bisa memperkirakan duel kali ini akan berlangsung sengit dan memakan waktu yang cukup lama.

#####​

3rd POV

WWUUUUTTTT!!!

Sakti mulai melancarkan serangannya ke arah Mimin namun dengan cepat orang itu menghindarinya dengan cara memiringkan tubuhnya. Namun rupanya serangan Sakti tidak berhenti sampai disitu, ia segera memutar pukulannya untuk kembali menyerang Mimin. Mengetahui hal itu Mimin segera menggeser kakinya sedangkan tangannya diarahkan meredam pukulan Sakti.

Beberapa langkah dari mereka Jati dan Agung juga terlibat dalam duel yang cukup berimbang. Jati yang berinisiatif menyerang terlebih dahulu tampak kesulitan menyarangkan pukulannya pada tubuh Agung. Gerakan Jati yang gesit mampu diredam oleh gerakan Agung yang tenang. Agung belum merubah sedikitpun kuda-kudanya, dia hanya menangkis serta menghindari serangan pukulan Jati yang cepat dan deras.

“Ngapain lo berdua bengong aja?! Lo pikir dengan kondisi nggak fit 100% bisa ngadepin Agung sama Mimin satu lawan satu?! Kalian maju berempat sekaligus pun belum tentu bisa ngimbangin anak buah gue untuk waktu yang lama! Cepet bantuin temen lo!”

Menyadari kondisi tersebut, Bimbim segera membantu Sakti menghadapi Mimin sedangkan Guntur ikut menyerang Agung. Perkelahianpun teus berjalan semakin seru, walau diawal-awal Agung dan Mimin terlihat kerepotan namun perlahan duel kembali berjalan imbang. Kedua anak buah bang Riko itu sadar jika hanya menghindar dan bertahan maka sama saja memberi kesempatan kepada lawannya untuk terus mendesak. Kedua orang itupun merubah cara bertarungnya menjadi lebih agresif sehingga kini pertarungan benar-benar terlihat sengit.

Pertarungan berjalan lebih dari 5 menit namun belum ada satupun pukulan ataupun tendangan yang mampu mengenai lawan masing-masing dengan telak, hanya beberapa kali terjadi adu lengan maupun kaki yang cukup keras. Dari jarak yang cukup Riko tampak memperhatikan pertarungan tersebut dengan antusias sambil sekali-kali mengangguk-anggukan wajahnya.

Seiring berjalannya waktu kecepatan dan tenaga pukulan dari keenam orang yang sedang bertarung tersebut mulai mengendur. Pada sebuah kesempatan, Bimbim memberi kode kepada Sakti akan membuat pancingan. Remaja itu terlihat mengendurkan pertahanannya sehingga Mimin segera melayangkan pukulannya kearah Bimbim. Namun karena Bimbim memang menunggu hal tersebut sengaja menunggu pukulan tersebut lebih dekat lagi ke tubuhnya, sesaat sebelum pukulan tersebut mendarat ditubuhnya dengan cepat Bimbim melakukan gerakan menghindar.

Bersamaan dengan itu Mimin yang melihat pukulannya nyaris mengenai dada dari salah satu lawannya segera memutar tubuhnya sambil melancarkan tendangan memutar. Bimbim terperanjat melihat hal tersebut, sebelumnya ia memang menduga bahwa Mimin akan melancarkan serangan susulan namun yang tak ia duga ialah orang itu menggunakan kakinya dengan kecepatan tinggi untuk melakukan serangan susulan karena dari tadi Mimin lebih sering menggunakan tangannya sedangkan kakinya hanya sesekali digunakan, itupun hanya untuk menangkis serangan Bimbim ataupun Sakti. Dengan terpaksa Bimbim menggunakan kedua tangannya untuk menghadang tendangan berputar Mimin.

DEEGGHH!!!

BUUGGHHH!

Tendangan keras Mimin berhasil ditahan oleh Bimbim, namun remaja tersebut tersurut beberapa langkah kebelakang karena kerasnya tendangan Mimin. Kedua lengan Bimbim pun terasa nyut-nyutan. Namun karena terlalu bernafsu menyerang Bimbim, pertahanan Mimin menjadi longgar sehingga hal tersebut dimanfaatkan Sakti untuk menghujamkan pukulannya dengan telak di wajah Mimin.

“Anjing! Keras juga pukulan lu.” Maki Mimin sambil meludah ke tanah.

Mimin yang menyadari kelalaiannya kembali memasang kuda-kuda, wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya. Kali ini Mimin yang memulai serangan, ia menyerang Sakti dengan ganas sehingga membuat Sakti kesulitan membalasnya. Melihat hal itu Bimbim kembali membantu temannya, walaupun tanggannya masih terasa sakit namun ia berusaha menyerang Mimin.

Perkelahian antara Agung melawan Jati dan Guntur juga berlangsung dengan sengit. Jika perkelahian yang lain lebih banyak mengandalkan kecepatan serta jurus-jurus mengelak dari serangan lawan, maka perkelahian mereka saat ini lebih didominasi jual-beli pukulan dan tendangan. Walaupun awalnya Agung mampu meladeni serangan-serangan dari kedua lawannya, namun karena stamina dan konsentrasi yang mulai turun membuat gaya bertarungnya berubah.

Terlihat dari sudut bibir Agung mengeluarkan darah, hal yang sama terlihat pula pada pelipis Guntur sedangkan Jati walaupun belum ada bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah namun di wajahnya terlihat lebam di beberapa bagian. Namun hal tersebut seperti tidak mereka rasakan, ketiganya justru terlihat semakin ganas saling jual-beli pukulan dan tendangan. Pertahanan Agung yang terbuka membuat Guntur berhasil menyarangkan pukulannya yang membuat luka pada pelipis kiri Agung, namun disaat itu pula sikut Agung menghajar hidung Jati yang membuat remaja tersebut terpekik kesakitan.

“Cukup! Bagus kalian layak gabung jadi anak buah gue!” Bentak Riko melerai keenam orang tersebut.

Keenam orang tersebutpun menghentikan pertarungan mereka. Sejenak mereka mengatur nafas masing-masing lalu saling pandang sambil tersenyum. Setelahnya mereka saling menjabat lengan serta berpelukan.

“Selamat bergabung kawan….“ Ucap Agung.

“Nggak salah rekrutan bang Riko kali ini, geng kita akan bertambah kuat.” Timpal Mimin.

“Emangnya gue pernah salah ngerekrut orang?!”

“Hehehehe…. Maksud gue rekrutan yang ini bener-bener mantap! Kalo mereka fit 100% gue belum tentu bisa ngalahin mereka satu lawan satu.”

“Makasih bang buat pujiannya.” Ucap keempat remaja tersebut hampir bersamaan.

“Sekarang kalian jadi anak buahnya Agung, tugas kalian sehari-hari jagain taman yang tadi siang.”

“Anak buahnya Tito gimana bang?”

“Santai aja, tadi udah gue omongin sama dia untuk barter taman itu sama tempat lain.”

“Makasih bang Riko. Bang Mimin…. Bang Agung ajarin kita, bang…” Ucap Jati sambil menunjukkan rasa hormat pada ketiga orang dihadapannya. Bimbim, Sakti dan Guntur pun melakukan hal yang sama.

Ketiga pria itu menyambut hormat dari keempat remaja yang baru saja bergabung dengan mereka. Selanjutnya mereka bercakap-cakap ditempat tersebut saling mengenal lebih dalam hingga akhirnya Riko, Agung dan Mimin meninggalkan keempat remaja tersebut.

“Berarti mulai besok tempat tongkrongan kita pindah dong?” Tanya Bimbim.

“Iyalah, lagian bosen juga disini. Nggak ada pemandangan yang bagus.” Sahut Jati.

“Setuju…!” Timpal Sakti dan Guntur bersamaan.

**********​

POV Bimbim

Siang ini seperti biasa aku, Jati, Sakti dan Bimbim nongkrong di tempat tongkrongan kami yang baru. Sudah seminggu lamanya sejak kejadian malam itu, saat kami ditugasi untuk mengawasi tempat tersebut. Entah mengapa tempat ini disebut taman, padahal menurutku tempat ini lebih cocok disebut lapangan. Rumput-rumput di sekitar tempat itu banyak yang sudah kering, tidak banyak pohon yang tumbuh di tempat itu layaknya sebuah taman. Disisi timur ada sebuah lapangan basket yang dikelilingi pagar kawat berbentuk jaring. Dibagian tengah ada sebuah kolam kecil yang mengelilingi sebuah pancuran yang sudah tidak berfungsi lagi. Di salah satu sudut tumbuh pohon beringin yang rindang, sedangkan sekeliling tempat itu tumbuh pohon teh-tehan namun banyak yang kering bahkan sudah mati. Beberapa bangku panjang tak terawat juga ada di beberapa bagian tempat itu, selebihnya hanya hamparan rumput yang sudah tidak hijau lagi.

“Huft! Gue kira tempat ini rame, nggak tahunya gini-gini aja…” Keluh Sakti membuka pembicaraan siang itu.

“Iya ya, gue juga bingung kenapa tempat kaya gini suruh dijagin.” Timpal Jati.

“Terus gimana kita mau bisa dapat uang dari tempat ini? Yang jualan disini aja dikit, sepi lagi. Kasian juga kalo dipalakin terus-terusan. Yang nyewa lapangan juga nggak bayak.” Tambahku.

“Lu ada ide Bim?” Tanya Jati.

“Kita harus bikin tempat ini bener-bener jadi taman supaya orang-orang tertarik kesini.”

“Butuh biaya gede tuh, belum lagi perawatannya. Ribet.”

“Terus mau gimana lagi? Didiemin aja? Bisa mati boring kita…” Ungkap Sakti.

“Namanya tugas, ya harus dilaksanain. Ini kan emang maunya kita jadi anak buah bang Riko, sebagai orang baru kita harus mulai dari awal. Tinggal gimana kita bisa ngembangin tempat yang dipercayain ke kita.”

“Bener kata lu Bim, tapi gimana caranya kita ngembangin tempat kaya gini dengan budget kecil?” Tanya Jati lagi.

“Pelan-pelanlah kita rubah tempat ini. Kalo dibiarin kaya gini terus ya nggak akan berkembang.”

Tiba-tiba ada beberapa anak sekolah datang ke tempat itu menghampiri kami. Namun saat sudah berada dekat tempat kami nongkrong mereka tampak ragu-ragu.

“Ada apa?” Tanya Jati.

“Maaf bang, nggak jadi.”

“Apanya yang nggak jadi? Mau make lapangan basket?”

“I-iya, tapi…..”

Belum selesai anak itu menjelaskan, dari belakang mereka muncul lagi temannya. Wajahnya tak asing lagi bagiku. Begitu melihatku anak itupun tersenyum.

“Apa kabar Bim….. Jadi sekarang elu sama temen-temen lu yang jagain tempat ini?”

“Eh Joe, gue baik-baik aja. Iya, sekarang kita yang jaga disini. Lu mau nyewa lapangan?”

“Iya…. Tadi itu temen-temen gue khawatir, kalian kan musuhnya Farid sedangkan dia temen sekolah kita. Tadinya kita pikir tempat ini masih dipegang sama Farid. Nggak masalahkan kalo kita tetep minjem lapangan itu?”

“Asal bayar sewanya aja ngapapa. Lagian masalah temen gue sama gengnya Farid udah kelar kok. Mau make berapa lama?”

“Seminggu, buat persiapan ikut turnamen.”

“Kenapa nggak pake lapangan sekolah lu aja?”

“Lapangan sekolah di pake buat persiapan juga sama tim cewek.”

“Oooo… Ya udah pake aja. Tapi gue belum bisa ngasih diskon. Mau make mulai kapan?”

“Besok sore…. Kita pinjem dari jam tiga sampe mau magrib.”

“Beres… O ya kenalin nih temen-temen gue.”

Joe pun berkenalan dengan teman-temanku. Tak lama kemudian setelah memberi uang muka sewa lapangan, Joe beserta teman-temannya pergi meninggalkan kami.

“Keliatannya lu akrab banget sama Joe, padahal baru ketemu sekali.” Ucap Jati.

“Jangan-jangan lu anak yang terbuang….” Timpal Sakti.

“Hahahaha…. Sinetron banget. Udah ah nggak usah bahas itu, ngomongin yang lainnya aja.”

“Hmmm… kira-kira kabarnya Siska gimana, ya?” Tanya Jati mengalihkan pembicaraan.

“Baik, kemarin gue baru ketemu dia.” Jawabku polos.

Ketiga teman-temanku memandangku dengan tatapan kesal.

“Eee si bedes (monyet – red.) nyolong start, ketemu dimana lu?” Tanya Jati.

“Ngacengaja kok ketemuan di mini market, hehehehehe…..” Candaku.

“Hahahahaha….. ialah pasti ngaceng elunya. Gimana? Tambah semok nggak doi?”

“Masih sama, baru juga seminggu. Tapi emang dasarnya dia semok, jadi ketemu dimanapun tetep napsuin.”

“Hahahahaha……….”

“Ntar malem main kerumahnya yuk?”

“Boleh tuh, kemarin dia juga bilang lagi nggak banyak kerjaan. Bosnya lagi ke luar negri sama keluarganya.”

“Siplah kalo gitu, lu yang hubungin dia ya Bim.”

“Beres.” Sahutku lalu bergegas menuju wartel tak jauh dari tempat itu.

Saat masuk kedalam wartel tersebut aku kembali bertemu dengan Joe yang sepertinya sedang menunggu seseorang di tempat itu.

“Belum balik, Joe? Kok sendirian aja?”

“Iya lagi nunguin cewek gue, bentar lagi dia kemari. Yang lainnya udah pada balik.”

“Oooo cewek lu anak sini. Kok nggak lu samperin ke rumahnya?”

“Lagi dipingit. Ini aja dia keluar sembunyi-sembunyi.”

“Hah??? Lu udah mau kawin, Joe?”

“Hahahaha….. Nggak lah, itu istilah gue aja. Kan udah mau ujian, dia nggak boleh kemana-mana habis pulang sekolah. Gue aja cuma dikasih kesempatan malam mingguan ketemuan dirumahnya, selain itu nggak boleh.”

“Yang ada malah stress tuh cewek lu dirumah doang.”

“Makanya ini gue culik.”

Tak lama kemudian muncullah seorang gadis remaja dihadapan kami. Saat mataku menatap wajah gadis itu aku langsung terkesiap. Dihadapanku kini berdiri seorang gadis dengan wajah yang innocent, memiliki bentuk tubuh kecil dengan tinggi diatas rata-rata gadis seusianya. Benar-benar perwujudan seorang malikat gumamku dalam hati.

“Bim, kenalin nih cewek gue.”

“Grace…”

“Bimbim…” Jawabku sambil terus memandang wajah gadis itu, kedua mataku tak berkedip sedetikpun menatapnya.

“Woi… sampe segitunya ngeliatin cewek gue.” Ucap Joe mengagetkanku.

“Eh, sorry… sorry… cewek lu cantik banget. Kalo elu bukan temen gue, pasti gue rebut.”

BERSAMBUNG​

END – Young and Wild and Free Part 2 | Young and Wild and Free Part 2 – END

(Young and Wild and Free Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 3)