Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Terjebak Arisan Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 16

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 16

EPISODE 16

Pov Resty

Hari ini hari Minggu. Aku bangun agak kesiangan. Kurasakan tubuhku lebih segar karena semalam aku langsung pulang dan tidur. Mang Kardi pun tak mengusikku. Padahal semalam aku cerita tentang kejadian di pom bensin. Itu pun juga tak membuatnya terpancing untuk menyentuhku. Jika pria lain mungkin sudah sange kali ya. Apa dia benar-benar mengira aku sedang menstruasi. Oh iya, dia tak melihat saat aku sedang pemotretan. Tapi aku masih curiga, sepertinya dia tahu tapi pura-pura tak tahu. Bodo amatlah, ngapain juga mikirin dia!

Kulihat Tini sedang mempersiapkan sarapan untukku. Kok ada yang beda dengan Tini. Hemm, dia semakin bersih kea habis glowing gitu. Ah, apa cuma perasaanku saja. Tini memang orangnya cantik kok.

“Mbak Tini, mang Kardi di mana?” tanyaku berbasa basi.

“Dia tadi keluar pagi-pagi sekali, Bu.” jawabnya.

Keluar pagi-pagi sekali?

Kemanakah dia?

Tumben si sopir mesum itu tak ijin kepadaku. Dasar! Dia semakin berani berbuat seenaknya.

“Kamu bisa masak western food?” tanyaku pada Tini

“Bisa dong, Bu.” jawabnya singkat.

Setahuku, Tini itu dari kampung. Bagaimana dia bisa memasakan masakan ala eropa. Oh, apakah dia diam-diam belajar. Syukurlah dia benar-benar bisa diandalakan. Sudah lama rasanya tak makan masakan seperti ini. Aku senang sekali. Kumakan semua masakan Tini.

Setelah kenyang aku menuju ke ruang lihat drama favoritku. Kubuka hapeku. Ada 5 panggilan tak terjawab dari Farah. Ah paling dia abis mabok. Tapi kulihat ada beberapa pesan WA darinya.

“Aku diperkosa, tolong Res!” — 5 jam yang lalu

Yah, bukanya dia suka diperkosa? Palingan juga diperkosa berondong. Ah, jika nyebut Brondong, aku jadi kangen sama Kevin. Ummm, dia lagi di mana ya…

***

Sial, sudah jam 2 siang si Kardi belum juga pulang. Padahal aku sudah kangen pengen ketemu Gadis. Ayah dan Ibu tadi menyuruhku ke sana. Tapi aku belum siap ketemu Rini, adikku.

Sungguh biadap Mas Ridwan. Aku yakin dia pasti sudah berkali-kali bercinta dengan Rini. Kenapa harus Rini. Dia adik kandungku. Dia itu adik ipar Mas Ridwan. Tapi mereka. Ahhhh!!!

Aku berbaring menyamping di sofa, tiba-tiba kurasakan sentuhan di pahaku. Ah, Mang Kardi akhirnya dia datang juu…..

“Kamu!!” aku molotot ke arah seorang pria yang baru saja kupikirkan.

“Resty, please. Maafkan aku!! Aku yang salah. Jangan salahkan Rini!!” dia bersujud di hadapanku.

Kehadiran Mas Ridwan secara tiba-tiba membuatku shock. Aku tak bisa melupakan kejadian itu. Itu tidak bisa dimaafkan!

“PERGI KAMU DARI SINI!!” aku mundur melepaskan tangannya dari kakiku

“RESTY!! AKU MINTA MAAF!!” dia memelas tapi aku mah bodo amat!

Aku berlari menuju ke kamarku. Aku ambil pakaian seadanya dan tas ranselku. Aku malas bertemu dengannya. Apapun alasan yang dia berikan, aku sudah tak mempercayainya. Tak lupa kupakai jilbabku sekenanya.

“AKU MINTA CERAI. JIKA KAMU TAK MAU PERGI. BIAR AKU YANG PERGI. DAN JANGAN PERNAH MENEMUIKU LAGI!!” kataku tegas.

Kupesan taxi online, lalu bergegas keluar dari rumah yang telah memberikan banyak kenanagan ini. Di depan pintu, kulihat Tini sedang berdiri di sana.

“Boleh saya ikut, Mang Kardi tadi berpesan kepada saya untuk menjaga anda, Bu.” ucap Tini.

“Tapi aku sudah tak punya apa-apa Tini! Kamu boleh balik ke kampungmu. Tapi jika kamu mau ikut, bergegaslah. Taxi sebentar lagi tiba.” kataku masih terisak .

“Baik, Bu. Tak ada yang perlu saya bawa.” lanjutnya.

“Tunggu aku, Resty!” terdengar suara Mas Ridwan yang masih mau mencegahku pergi. Dia berhasil menarik tanganku tapi tiba-tiba Tini mendorong Mas Ridwan hingga terjatuh.

“Maaf, Anda tidak bisa mencegah Bu Resty pergi.” kata Tini pelan tapi mengancam.

Kulihat Mas Ridwan terjatuh, matanya sembab penuh air mata. Tak pernah aku melihatnya menangis seperti ini. Apakah aku harus mendengarkan penjelasannya??

“Mas, Aku…”

“Ayo, Bu. Taxi sudah tiba.” belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Tini menarik tanganku.

“AKU MEMBENCIMU!!!” itulah kata-kata terakhirku sebelum kakiku keluar dari rumah itu untuk selama-lamanya.

Selama di Taxi, aku terus menangis. Tini memeluk tubuhku dan berusaha menenangkanku. Kadang-kadang si sopir taxi juga ikutan kepo.

“Diputusin pacarnya ya, Mbak?” tanyanya membuat semakin naik pitam.

Pacar?? Emangnya aku anak abg??

“Bukan pacarnya, Pak. Tapi lagi berantem sama suaminya.” jawab Tini.

“Oh, suaminya pasti nakal ya, Bu.” sahutnya yang kali ini memang benar.

“BAPAK BISA DIEM NGGAK!!” emosiku memuncak dengan kekepoan bapak ini.

“Maaf, Bu. Saya sudah lancang. Tapi saya bisa membaca pikiran ibu. Ibu harusnya bersyukur jika suami ibu masih mau meminta maaf. Itu tandanya suami ibu masih ingin memperbaiki kesalahannya. Apakah ibu sendiri tidak memiliki kesalahan??” pertanyaan bapak ini membuatku terpaku. Bagaimana dia bisa tahu tentangku??

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyaku mulai tertarik dengan obrolannya.

“Jadi gini, jujur ya, Bu. Ibu sudah salah melangkah sangat jauh. Saya sangat prihatin ketika pertama kali melihat ibu. Ibu sangat cantik tapi ibu juga sangat liar.” dia tiba-tiba menghentikan ucpanya saat menoleh ke arahku. Tepat sat itu lampu merah.

Degh,

“Maksud bapak APA!!”

“Huhuhuhu, ini sangat menarik. Ibu mungkin adalah golongan wanita sosialita atau semacamnya. Wajar sih kalo itu benar adanya. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah apakah ibu siap menanggung semua resiko termasuk kehormatan ibu hanya demi gengsi dan nafsu semata??”

“Kamu tahu semua?”

“Harusnya saya tak melihat ibu sejauh itu. Tapi niat saya baik. Saya hanya ingin ibu sadar atas kesalahan ibu selama ini. Cinta memang tak harus memiliki tapi selama kita punya cinta dia akan selalu dimiliki oleh hati kita. Soul itu akan jadi energi positif untuk ibu. Saya sederhanakan kata-kata saya. Semua tergantung ibu mengendalikan hawa nafsu. Oh iya, jika ibu merasa penjelasan sy msih kurang, ibu bisa berkonsultasi dengan saya, ibu bisa datangi alamat saya. Ini kartu nama saya.” Bapak itu menyerahkan kartu namanya.

Ki Anggoro

“Baiklah, nanti akan saya temui anda.” kataku

“Tapi ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Ibu akan jadi wanita yang sangat kaya raya jika bisa mengendalikan semua masalah ibu. Tergantung ibu mau pilih kaya apa hidup damai kembali bersama keluarga ibu. Saya bisa bantu ibu menyelasaikan masalah-masalah ibu.”

“SAYA TIDAK AKAN SUDI KEMBALI DENGAN SUAMI SAYA!!”

***

Rumah Dania,

Aku tak tahu lagi harus pergi ke mana. Hanya Bu Dania yang bisa kuhubungi. Aku dan Tini pun di sambut dengan baik oleh Bu Dania. Satu lagi yang membuatku bingung. Perkataan Ki Anggoro terus mengahantui pikiranku.

“Aku tahu, kamu pasti akan datang kemari. Baiklah, Resty. Kamu lebih baik istirahat dulu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Oiya, Tini kamu boleh kerja di sini untuk sementara waktu. Aku ada tamu di kamar. Jadi, mohon bersabar yah. Hihihihi.” kata Bu Dania.

Ada tamu katanya? Siapa tamu tersebut? Aku jadi penasaran dengan tamu yang di maksud oleh Bu Dania. Akhirnya, setelah pura-pura istirahat, aku berjalan mengendap ke arah kamar Bu Dania. Aku sangat penasaran dengan tamu Bu Dania. Tapi lagi-lagi Tini menarik tanganku.

“Ada apa Tini?” bisikku pelan.

“Mang Kardi bilang nanti akan menuju ke sini malam hari.” katanya.

“Ah, itu ngga penting. Sekarang aku sedang penasaran dengan tamu Bu Dania. Lebih baik kamu balik ke kamar.” kataku mengusirnya.

“Kalo gitu, aku juga penasaran Bu.” ucapnya.

“Hassst. Kamu itu ikut-ikutan aja. Tapi awas ya, jangan berisik!”

*“Uuuuuuhhh.. terus!!!”*

Tuh kan, aku bilang juga apa. Pasti mereka sedang ngewe. Aku sudah menduga pasti Bu Dania nyimpen berondong di rumahnya. Dasar, tante genit!

Gila, apa Bu Dania sengaja membuka pintunya. Duh, kalo terbuka lebar gitu pasti bisa ketahuan kalo aku dan Tini sedang mengintip. Aku menoleh ke arah Tini. Dia langsung bereaksi. Huhu, Tini seliar itukah kamu!!

“Ayo, Bu. Gabung aja! Daripada mengintip.” Tini langsung membuka seluruh pakaiannya tanpa tersisa.

Dia menarik tanganku kemudian masuk ke dalam kamar Bu Dania. Aku sangat malu, apa kata Bu Dania nanti. Huhuh, Tini sangat tidak sopan.

“Lihatlah mereka, Bu.” ucap Tini.

“Ojol??”

Aku bingung dengan nalar Bu Dania. Dia adalah seorang anak CEO perusahaan ternama. Bagaimana bisa dia bercinta dengan seorang driver ojol??

“Eh, kalian ngapain di situ. Bukannya aku bilang kalian lebih baik istirahat. Hahahaa. Dasar kalian kepo juga!” Bu Dania ngomel sambil didoggy oleh ojol.

Plak

Plak

Plak

Plak

Aku melotot menyaksikan Bu Dania. Belum hilang rasa terkejutku, Tini mendekat ke arah mereka. Dia melompat ke tempat tidur. Tubuhnya yang mungil memantul dan membuatku tertawa. Kelihatannya sih asyik. Tapi …

Mungkin…

Mungkin benar yang dikatakan oleh Ki Anggoro. Aku tidak ada bedanya dengan Mas Ridwan. Dan mungkin aku lebih liar. Tak mungkin aku kembali kepadanya. Inilah jalan hidupku. Aku tak tahu masa depanku seperti apa. Yang jelas, aku akan ditakdirkan menjadi orang kaya. Ah, Ki Anggoro. Semoga kamu bisa membantuku.

“Resty. Buka jilbabmu dan gabung bersama kami!” ajak Bu Dania yang terjembab disodok Abang Ojol.

Iisssshh. Kau pikir cuma kamu yang liar, Bu Dania? Akan kutunjukan siapa diriku sebenarnya.

“Anjir, itu ibu berhijab mau gabung juga Madam?” tanya ojol.

“APA KAU BILANG!! IBU??” tanyaku sok galak

Aku menarik tangan abang ojol lalu kuarahakan melingkar dileherku. Kutatap tajam matanya, aku ingin melihat seberapa besar nyalinya untuk mencubui tubuhku. Jilbab ini semakin membuatku gerah. Uhh..

“Kamu sangat cantik sekali, sayang.”

Mmmppphhh …

Sial, dia langsung mencium bibirku. Apakah bibirku ini terlalu seksi, Haa! Aiihhsshh.. hmmmmphh. Gila bau rokok banget ni mulut! Kudorong tubuh ojol tersebut hingga menubruk tubuh Tini. Dia kaget melihat reaksiku. Bu Dania tersenyum lalu keluar dari kamarnya.

“Kuambilkan minuman biar semakin hot.” katanya lalu menghilang dari pandanganku.

“Resty, bolehkah aku memanggilmu Resty?” tanya Tini sangat melenceng dari situasi sekarang.

“Apa maksud kamu Tini?”

“Setelah kita selesaikan ini, aku ingin membawamu ke suatu tempat. Mari kita hajar ojol sange ini.” katanya lalu menyambar penis ojol tersebut.

“Ah, Tini. Apa kamu juga sedang menyamar? Kalian semakin membuatku bingung dan kalian telah membawaku ke diriku sebenarnya! Gilaaa! Aku gila Tini!!!” teriakku kesetanan.

“Hey, kalian para wanita. Otong aku udah tegang nih. Masih mau ngobrol atau nyepongin kontol gua haaa??” tanya abang Ojol tidak sopan.

“BERISIK!” bentakku dan Tini bebarengan.

BERSAMBUNG