Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Sempurna Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45

Sempurna Part 45

Start Sempurna Part 44 | Sempurna Part 45 Start

Dasar Setan!!

Ternyata semalam aku terlalu lebay. Aku tidak sampai pingsan, hanya berkunang-kunang saja hingga saat ada beberapa orang yang berteriak dari kejauhan lalu menolong ku dan Rere. Mas Arga dan teman-temannya yang menolong ku. Ternyata mas Arga dan teman-temannya ini memang sudah sejak lama tidak suka dengan Rian dan teman-temannya. Dan aku bingung sendiri bagaimana bisa Riang macarin Rere yang notabene adalah sahabat dari musuhnya sendiri. Lalu bagaimana mas Arga bisa tau? Tanpa sepengetahuan ku ternyata Rere yang ngabarin mas Arga dan minta tolong kepadanya untuk datang karena khawatir kepada ku dan takut terjadi keributan.

Ya itu cerita semalam. Dengan jumlah lawan yang sebanding ternyata Rian dan teman-temannya itu tidak ada apa-apanya. Gede dibacot doang. Keok semua kena hajar teman-teman mas Arga. Dari kemang aku lantas diantar pulang oleh mas Arga setelah sebelumnya mengantar Rere terlebih dahulu. Tadinya aku mau diantar ke Rumah Sakit namun pikir ku ini hanya luka lebam biasa. Tidak perlu sampai ke rumah sakit. Yang aku pusingkan semalam adalah justru bagaimana menjawab pertanyaan mama atas semua kejadian ini. Meskipun aku tidak salah tapi tetap saja melihat anaknya habis berantem seperti ini seorang ibu pasti akan panik dan omelan demi omelan tidak akan terhindarkan lagi.

Tapi itu semua sudah berlalu. Kuncinya cuma satu saat menghadapi orang tua di saat seperti ini, jujur, ceritakan apa adanya, dan iya iya aja kalau di nasehati. And its work men. Tidak lama setelah ngomel-ngomel endingnya mama mengobati ku juga. Mungkin tidak enak dengan mas Arga juga yang memang tidak langsung pulang.

Pagi ini Rere sudah ada di rumah ku, ditemani Arga juga tentunya. Begitu tiba tadi dia langsung menemui mama dan minta maaf untuk semuanya. Dia mengamini bahwa aku tidak salah sama sekali. Semua salah dia yang meminta ku menemaninya di saat hubungannya dengan Rian sedang ada masalah. Walaupun memang apa yang terjadi semalam jauh dari kendali dia, tapi tetap saja saat ini dia menjadi orang yang paling merasa bersalah. Tapi untungnya sih mama mau mengerti dan mau mencoba memahami gejolak kaula muda seperti kami-kami ini.

“Kakak belajar silat aja sama mas Arga, biar ga letoy,” ledek Rahma yang seolah punya bahan untuk mem-bully ku. Ngomong-ngomong Gadis belum tau dan semalem memang belum ada rencana untuk memberitahunya karena itu hanya akan membuatnya khawatir. Begitu juga dengan Ratna yang belum mengetahuinya. Pagi ini aku baru akan mengabari mereka.

“Jangan salah lho, Adi ini udah numbangin dua orang, kalau satu lawan satu mas mu ini pasti menang,” bela mas Arga.

“Tuh dengerin, punya kakak lagi kena musibah bukannya di perhatiin malah di ledekin mulu, ini belum ketambahan Gadis,” balas ku.

“Hehehe, iya-iya maapin ade mu yang cantik ini yaaa…”

“Narsis!”

“Biarin!!”

“Aku beneran jadi ga enak ini, duh jadi ngerasa bersalah banget,” ucap Rere.

“Santai aja kali, yang kaya gini mah biasa buat laki, hehehe.”

“Kakak itu belum lakik, masih cowok,” lagi-lagi Rahma meledek ku.

“Kan mulai lagi…”

“Ups…hehehe…ngomong-ngomong Gadis udah di kabarin belum kak? Ntar marah lho dia kalau ga dikabarin…”

“Huhuhu…Gadis bakalan marah ya? Aarrhhh…gimana dong…” tanya Rere sambil merengek ketakutan.

“Gadis itu sayang banget lho mba Re, belum lagi mba Ratna yang sohib banget sama kakak, mba Rere ati-ati aja ya, hihihi,” ucap Rahma. Ini anak bener-bener ya batin ku.

“Kamu tuh ya de, semua orang dijahilin…”

“Hehehe, canda kok…biar cari aja suasana, jadi kapan Gadis mau dikabarin? Sini aku aja yang bilang, ntar kalau kakak yang ngomong malah bisa jadi salah paham, mba Ratna sekalian ya,” tawar Rahma.

“Nah gitu dong, jadi ade ada gunanya,” balas ku.

“Enak aja, kakak tuh yaang…”

“Apa? Ga ada gunanya?”

“Hehehe, ga lah, kakak mah selalu berguna buat aku sama mama, selalu bisa di andelin, suamiable banget lho mba Re, hihihi,” canda Rahma lagi.

“Jadi nelpon Gadis ga kamu?” tanya ku dengan tegas.

“Hehehe, iya-iya…”

Rahma pun bangkit dan agak menjauh untuk mengabari Gadis dan Ratna. Mungkin dia butuh konsentrasi dalam memilih kata yang tepat agar tidak terjadi kesalah-pahaman diantara kami.

“Lucu ya si Rahma,” ucap mas Arga.

“Naksir lo?” tanya Rere.

“Orang bilang lucu dibilang naksir.”

“Siapa tau gitu…”

“Eh, ini gue mau kabarin mas Ega sama mba Ai ga apa-apa kan ya? Gimanapun juga kita sekarang kan udah kaya sodara, jadi haru saling berkabar,” tanya mas Arga.

“Ya ga apa-apa kali ya, gimana Di?” tanya Rere.

“Iya ga apa-apa,” balas ku sambil tersenyum.

Mas Arga pun ikut bangkit dan agak menjauh. Lebih tepatnya ke arah teras depan sama seperti Rahma. Apa mungkin dia juga butuh konsentrasi walau hanya untuk mengabari mas Ega dan Mba Ai? Entahlah. Yang pasti di ruang tamu ini sekarang hanya ada aku dan Rere. Dan entah kenapa juga aku jadi merasa canggung terhadapnya. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Kami masih saling diam untuk beberapa saat.

“Tante beneran udah ga marah lagi kan ya?” tanya Rere dengan ragu-ragu.

“Hehehe, udah enggak kok, tenang aja,” balas ku menenangkan kegundahan hatinya. Tentu saja Rere sangat tidak enak. Kami belum lama saling kenal dan dia sudah bikin aku di keroyok oleh mantan pacarnya. Selain itu hari ini Rere juga nampak tidak seperti biasanya yang ceria. Dia jadi lebih pendiam. Kaku. Dan canggung.

“Udah santai aja, mama ga apa-apa kok, yang penting kan aku sekarang ga kenapa-kenapa, untung ada mas Arga dan temen-temen semalem,” ucap ku lagi. Dia hanya mengangguk, sedikit tersenyum dan melihat keluar ke arah Rahma dan mas Arga yang belum selesai dari sambungan telephone nya.

###

Singkat cerita Gadis dan Tante Pristy akhirnya datang ke rumah juga siang ini. Begitu juga dengan mas Ega dan mba Ai yang tiba di rumah tidak lama setelah Gadis dan tante Pristy. Lalu setelah itu mba Sintya yang datang. Dan terakhir Ratna. Hahaha. Penuh juga akhirnya rumah ku ini. mungkin sisi positif yang bisa aku ambil adalah kalau tidak ada kejadian semalem maka kami tidak akan bisa ngumpul bareng seperti ini.

Mama, tante, mba Sintya, dan mba Ai ngobrol terpisah di dalam rumah. Gender dan umur mungkin membuat mereka membuat satu kelompok tersendiri berpisah dengan kami para anak muda. Gadis, Rahma, Ratna dan Rere, meskipun sama-sama cewek namun lebih memilik bergabung bersama ku dan mas Arga dan mas Ega di depan. Dengan obrolan yang lebih ringan tentunya. Aku tidak tau di dalam sana para ibu dan calon ibu itu sedang ngerumpi apa.

“Padahal kita mau ajak kalian liburan ke jogja lho tahun baru nanti, eh elo malah kena musibah kaya gini,” ucap mas Ega di tengah-tengah bincang-bincang kami. Hahaha. aku dan Rere langsung saling pandang. Aku semalem sudah bisa nahan Rere untuk tidak ngebuka rencana jalan-jalan mereka ke Gadis dan Rahma, eh kebuka juga dari mulut mas Ega.

“Kenapa ga jadiin aja?” tanya Gadis.

“Kasian kakak mu lah Dis, hehehe,” balas Rere.

“Kalau perlu ga usah ikut dia mah…hehehe,” tambah Rahma lagi dengan entengnya.

“Ya ga bisa lah, kita ga berani ajak kalian berdua sama Gadis mungkin kalau Adi ga ikut, hehehe, maaf ya…” ucap mas Ega.

“Dengerin tuh, yang ada kalian berdua bisa jadi beban, lagian kan bentar lagi kalian mau ujian, nanti aja jalan-jalan nya kalau udah lulus, kita tamsya bareng-bareng berdelapan,” ucap ku.

“Yuk yuk, seru tuh pastinya,” timpal Rere.

“Iya tapi nanti nunggu mereka berdua ini ninggalin seragam abu-abu putihnya, hahaha,” balas ku.

“Eh iya ya, ngomong-ngomong cuma Gadis dan Rahma aja ya yang masih sekolah, hehehe,” ucap mas Arga.

“Iya, makanya lo kalau mau modus nanti dulu, bisa kena UU perlindungan anak lo,” balas Rere kepada sahabatnya itu yang sontak membuat kita semua tertawa.

“Terus itu orang-orang yang ngeroyok elo semalem itu sekarang gimana?” tanya Ratna yang tiba-tiba bersuara. Dari tadi memang hanya dia yang lebih banyak diam saja mendengarkan perbincangan kami.

“Kita kasih pergi aja sih, gue tau kok mereka itu pada dasarnya orang-orang yang ga gentle, gue yakin mereka kapok dan ga akan berani gangguin Adi lagi,” balas mas Arga yang pasti lebih tau dan kenal siapa Rian dan teman-teman nya itu.

“Syukurlah, pagi-pagi dapet kabar itu bikin ga tenang aja,” ucap Ratna lagi.

“Ratna tenang aja deh pokoknya, merek itu orangnya cemen-cemen semua, awalnya doang belaga jagoan, kalau udah ngerasain kena gebuk kaya semalem juga langsung ciut semua nyalinya,” lanjut mas Arga.

“Iya mas, makasih udah nolongin Adi,” balas Ratna.

Waktu berlalu dengan cepat diantara obrolan kami. Tidak terasa sudah sore saja dan satu persatu dari merka ijin pamit pulang. Dimulai dari mba Sintya yang ijin pulang karena ada kuliah sore. Oiya hari ini terpaksa kafe tutup karena tidak ada orang yang jaga. Ya udah lah ga apa-apa. Cuma satu hari ini. Besok sudah buka lagi seperti biasanya. Setelah itu tante Pristy yang pulang sendiri karena Gadis ternyata sudah berencana akan menginap di rumah malam ini. Mungkin dia masih kuatir dengan kondisi ku saat ini. Sebenarnya aku sudah tidak apa-apa, hanya nyeri dan memar saja di beberap abagian tubuh yang semalem kena hajar Rian dan teman-temannya itu. Terakhir mba Ai, Rere, mas Arga dan mas Ega yang pulang bersamaan selepas ashar. Sedangkan Ratna masih bertahan di rumah ku, tapi yang pasti dia tidak akan ikut menginap di rumah ku.

###

“Elo sih ga cerita-cerita ke gue kalau mau jalan bareng mba Rere, diem-diem bae, kena tonjok dah tuh,” ucap Ratna. Aku dan dia ngobrol santai berdua di teras rumah ku sore ini.

“Gitu ya?” balas ku dengan cuek. Bukan aku tidak menghargai dia sih, kami memang udah biasa keliatan saling cuek seperti itu. Tapi sebenernya kami saling perhatian. Halah.

“Dih, sama sahabat itu saling cerita bro, kalau lo cerita kan gue bisa kasih masukan, siapa tau mba Rere itu emang lagi ada apa-apa sama pribadinya, ya gue sih curiga aja dia tiba-tiba ngajakin elo, helo sesuatu banget gitu kalau mba Rere nya ga lagi ada masalah sama mantannya itu,” jelas Ratna.

“Sialan lo, jadi maksud lo gue terlalu buruk gitu buat Rere?”

“Hahaha, bahkan untuk sekedar nemenin jalan bareng pun gue bisa dengan yakin jawab iya, weeek…”

“Ah elo mah…bukannya kasih semangat malah ngeredupin semangat gue,” keluh ku.

“Lo suka ya sama mba Rere?”

“Menurut lo?”

“Ga apa-apa sih, artinya lo udah bisa move on dari Gadis,” jawabnya.

“Makanya, siapa tau ya kan, dapet cewek kaya Rere mana bisa nolak…”

“Hahaha, tapi kalau ditolak bisa sakti cuy ati…”

“Ya…itu resiko sih…”

“Tapi kalau dari gelagatnya hari ini, keliatan sih kalau dia kek nya juga lagi usaha buat buka hati lagi, mungkin elo akan jadi salah satu cowok yang beruntung berikutnya men…”

“Tau dari mana?”

“Canggung banget gila dia sama tante, tanda nya apa coba kalau kaya gitu?”

“Ga enak, takut mama marah, ehm…”

“Itu artinya?”

“Apa?”

“Dia takut kesan pertama tante sama dia jelek, inget bro kesan pertama pada seseorang itu membekas dan susah ilangnya, ya gue ga tau apa yang tante rasain, tapi sayangnya dia harus kenal Rere sebagai orang yang bikin elo di gebukin mantan pacar nya.”

“Hmm…iya juga sih…terus gue harus gimana?”

“Ya elah masih nanya, ya pepet terus lah bro itu cewek, hahaha, masa elo udah dapet sakit kaya gini terus diem bae, rugi lah, anggep aja ini bayaran buat dapetin Rere,” jelas Ratna.

“Hahaha, baiklah, gue demen kalau elo udah ngedukung gue.”

“Gue akan selalu dukung elo cuy, makanya ga usah deh laga nutupin sesuatu dari gue, santai aja gue pasti dukung, hehehe,” ucap Ratna.

“Thanks Rat…”

“Santuy…”

###

Hari-hari berlalu tanpa terasa sudah hampir satu bulan dari peristiwa pengeroyokan itu terjadi. Dan selama itu pulan Rere, yang kadang sendiri, kadang pula bersama dengan ke tiga sohibnya hampir setiap hari selalu mampir ke kafe ku. Sayangnya selama itu pula aku belum bisa mendapatkan waktu yang pas untuk mengungkapkan perasaan yang aku rasakan kepadanya. Selain karena belum mendapatkan waktu yang pas, juga karena fokus ku pada kafe baru kami yang alhamdulillah mendapatkan respon bagus dari pasar. Tentu saja ini adalah sesuatu yang bagus bagi kami. Awal yang bagus. Siapa tau ini adalah batu loncatan bagi kami. Dan siapa tau suatu hari nanti akan muncuk kafe yang ke tiga, empat, lima, dan seterusnya.

Beberapa hari ini Rere dan kawan-kawan tidak datang ke kafe. Ya, mereka sedang liburan ke jogja. Berempat saja karena aku, Gadis, dan Rahma memang tidak jadi ikut. Dan seperti ini lah hari-hari ku seperti biasanya. Bangun agak siang, buka kafe dari siang menjelang sore, pulang mendekati larut malam, dan sesekali mengontrol kafe baru yang ada di mall. Mba Sintya sekarang aku angkat jadi supervisor guna mengawasi karyawan-karyawan baru yang kini total ada enam, masing-masing tiga.

“Hari ini jadi ketemu sama vendor mas?” tanya mba Sintya. Pagi ini aku memang sengaja datang lebih pagi ke kafe yang ada di mall. Aku ada janji ketemu seseorang dan orang itu adalah yang ditanyakan mba sintya tadi. Orang ini adalah vendor bahan makanan. Kabarnya dia bisa kasih bahan makanan dengan kualitas premium namun dengan harga yang bersahabat. Mungkin berlebihan, ya namanya, tapi maklum sih ya namanya juga marketing.

“Jadi, makanya ini aku datang ke sini, sekalian kontrol di sini, nanti siang baru ke Cinere,” balas ku.

“Emang siapa sih mas? Kok bisa tau mas yang emang lagi buka usaha ini?”

“Aku dapet rekomendasi dari temen SD ku dulu mba yang kebetulan minggu lalu main ke kafe, nah siapanya itu aku belum tau juga, yang pasti hari ini dibuatin janji di sini, ya siapa tau jodoh ya kan, kalau engga ya namanya juga usaha,” balas ku.

“Oh gitu, ya mudah-mudahan jodoh mas, eh maksudnya jodoh di bisnis nya, hihihi,” ucap mba Sintya sambil terkekeh.

“Ya iyalah jodoh bisnisnya, emang jodoh apa lagi?”

“Hehehe, canda mas, eh ngomong-ngomong soal jodoh, mba Rere apa kabar mas?”

“Rere, kenapa dengan Rere?” tanya ku yang mencium bau-bau gosib dari mulut nya.

“Alah mas Adi ga usah ngelak deh…semua juga udah tau kalau kalian saling pdkt, cuma sayang kenapa ga jadian-jadian?”

Et dah, pdkt dari mananya coba?”

“Jadi enggak nih? Ya udah nanti aku bilang ke mba Rere kalau mas Adi nya ternyata ga bener-bener serius.”

“Hahaha, aku kan enggak bilang enggak serius mba…”

“Mas, wanita itu butuh kejelasan, kalau iya iya, enggak enggak, jangan di gantungin…”

“Hahaha, siap mba kuh Sintya yang cantik…”

“Idih, gombal doang bisanya, nembak ga berani…”

“Hahaha…”

“Ya udah ah aku mau kerja dulu, sore nanti aku ada kuliah.”

“Kuliah sama aku lagi ga ada mba?” tanya ku membercandainya. Kalian tentu tau apa maksud ku.

“Bilang enggak dulu soal mba Rere, kalau masih nggantung gini, enak aja mau menang banyak kamu mas weeek…” balas nya sambil menjulurkan lidah dan berlalu meninggalkan ku. Hahaha. Baiklah kalau begitu. Setidaknya aku sudah ada tempat pelampiasan seandainya nanti Rere menolak ku. Setan!!

###

Aku duduk di salah satu sudut kafe ini dengn segelas Americano Ice yang aku racik sendiri tadi. Siapa sangka aku yang dari hanya seorang pelayan kafe dalam kurun waktu kurang dari dua tahun ini sudah punya dua kafe. Dan ini belum berakhir. Aku belum puas dan akan terus berkembang. Masih akan ada kafe ke tiga, empat dan lima. Sebelum restoran, atau bahkan mungkin bisnis penginapan suatu saat nanti. Masih jauh memang tapi itu adalah mimpi ku.

Suasana mall masih belum terlalu rame, hanya ada satu dua yang pengunjung yang nampak berjalan di depan kafe. Wajar sih karena memang belum ada jam sebelas juga. Beberapa gerai toko pun juga masih sepi dan nampak masing-masing pegawainya masih sibuk dengan segala persiapan untuk memulai hari yang entah akan berjalan seperti apa hari ini. Apapun itu, kita tetap harus menjalaninya, dan mengerjakannya. Tidak kerja tidak makan.

Asyik memperhatikan sekitar membuat ku sampai tidak sadar kalau di depan kafe ku sendiri sedang berdiri seorang wanita yang nampak seperti sedang mencari-cari sesuatu. Alamat kah? Apa jangan-jangan dia orang yang sedang aku tunggu? Sempat aku berfikir seperti itu sebelum aku berinisiatif untuk mencoba menelepon nomor yang sebelumnya sudah diberikan oleh salah seorang teman SD ku yang membuatkan aku janji dengan calon vendor ini. Tidak lama setelah nada tersambung panggilan ku langsung terangkat, dan benar saja wanita itu yang mengangkat telpon ku. Aku langsung memintanya untuk menghadap ke arah dalam kafe dan aku langsung memberikanya isyarat dengan tangan ku. Wanita itu pun langsung masuk. Aku yang sebelumnya duduk agak di dalam lalu pindah ke bagian luar agar lebih enak dan tidak terkesan terlalu tertutup.

“Mas Adi ya?” sapa wanita cantik di depan ku ini sambil mengulurkan tangannya. Aku langsung menjabat tangannya dan memperkenalkan diri ku.

“Iya, mba nya kenalannya Fajar ya? Yang vendor bahan makanan itu?”

“Supplier aja mas ga usah vendor, kalau vendor kesannya gimana gitu, hehehe,” balas nya sambil tersenyum yang entah kenapa senyuman itu tidak asing bagi ku. Cukup familiar namun aku belum bisa mengingatnya.

“Oh oke, silahkan duduk, oiya mau minum apa? Kopi? Teh? Coklat? Panas? Dingin?” tanya ku dengan garingnya efek masih bertanya-tanya siapa wanita ini. Fajar tidak memberikan detail orang ini sebelumnya, dan aku pun salah juga tidak bertanya kepadanya.

“Hihihi, apa aja mas, yang penting enak,” jawabnya sambil duduk di depan ku.

“Hehehe, tenang aja, menu di sini semuanya nagih,” balas ku ngasal, entah dia akan tertawa atau akan krik-krik karena garing.

“Percaya, Fajar juga bilang gitu kok.”

“Oiya, kalau boleh tau, siapanya Fajar ya mba?” tanya ku setelah memesankannya secangkir kopi namun yang ringan-ringan saja.

“Fajar tidak cerita?” tanya nya balik.

“Tidak,” jawab ku sambil menggelengkan kepala. “Entah dianya yang iseng atau memang saya nya yang lupa nanya,” lanjut ku.

“Jadi mas nya tidak nanya-nanya dulu ke Fajar siapa yang akan mas temuin sekarang?” tanya nya dan aku menggelelngkan kepala lagi.

“Hahaha, mas Adi ini ada-ada aja, saking sibuk nya ya?”

“Hehehe, mungkin, maklum ini kafe juga belum ada tiga bulan jadi masih sibuk-sibuk nya, mastiin semua berjalan dengan benar, nanti kalau udah stabil baru bisa santai, atau malah buka cabang lagi, ga ada yang tau.”

“Ambisius sekali.”

“Masih mending saya cowok ambisius, mba nya cewek tapi keren lho kalau menurut saya bisa survive bisnis seperti yang mba jalanin sekarang,” balas ku. “Eh iya, mba nya belum kasih tau namanya lho…” lanjut ku yang baru sadar kalau aku juga belum tau namanya.

“Jadi si Fajar juga ga ngasih tau nama ku? Hmm…”

“Hehehe, jangan salahin Fajar mba, saya yang lupa nanya.”

“Kalian ini temen apa bukan sih?”

“Temen lah, temen SD dulu sih…”

“Nah…ngomong-ngomong soal SD, kamu masih belum inget siapa aku?” tanya nya yang membuat ku yakin dia adalah orang lama di kehidupan ku. Apa mungkin karena gegar otak ringan yang aku alami waktu kecil dulu sehingga menghapus sebagian memori waktu kecil ku?

“Mba nya tadi juga pake nanya mastiin saya apa bukan, berarti kan mba nya juga lupa-lupa ingat siapa saya,” kilah ku.

“Kalau aku sih wajar, kamu dulu masih kecil dan sekarang sudah gede gini, banyak perubahan dari fisik mu, tentu saja aku memastikan.”

“Berarti mba nya bukan temen SD saya ya?”

“Hahaha,” wanita itu langsung tertawa setelah aku mengira awalnya dia adalah teman SD ku. Jadi siapa dia?

“Kenapa tertawa?”

“Memangnya aku masih terlihat seumuran kamu ya sampai kamu ngira aku temen SD mu?”

“Bukan ya?”

“Hahaha, Adi…Adi, lucu banget sih kamu…” balasnya sambil mengusap-usap kepala ku tanpa sungkan. Fix dia pasti umur nya lebih tua dari ku, bahkan mungkin jauh lebih tua. Tapi kok masih cantik banget ya? Hehehe.

“Jadi sebenernya siapakah anda gerangan?”

“Hmm…dari mana ya ceritanya? Ih masa bener-bener lupa sih? Emang muka ku udah banyak berubah ya?”

“Saya ga tau, makanya saya tidak ingat, yang pasti sih saya ngiranya mba ini temen SD saya, soalnya masih keliatan mudah dan cantik, hehehe,” canda ku karena aku merasa sudah cukup akrab dengannya walau baru ngobrol beberapa saat ini.

“Dih-dih, udah jago ngegombal ya sekarang, dasar cowok dimana-mana mah sama, padahal dulu mah…”

“Dulu kenapa?”

“Cengeng, hihihi, malah dilindungin mulu sama temen cewek kamu, aduh siapa itu namanya…”

“Ratna?”

“Nah…itu kamu inget…”

“Iya lah, aku bangun kafe ini sama dia…jadi mba ini siapa sih? Hmm…”

“Kamu masih inget gak, ada satu momen dimana kamu dihukum sama guru kamu karena ga ngumpulin tugas padahal ternyata sebenernya kamu udah ngerjain tapi sengaja ga dikumpulin karena mau nemenin Ratna yang ga ngumpulin tugas?”

“Bu Niqi?”

“He’em…”

“Astaga…gimana ceritanya bu kok bisa? Aduh maaf banget dari tadi manggilnya mba mulu…”

“Sempet godain lagi…pake bilang cantik segalah, dasar…”

“Hehehe, maaf bu…” balas ku sambil garuk-garuk kepala.

Bu Niqi ini memang salah satu guru di SD ku dulu. Kalau tidak salah waktu itu dia adalah guru baru. Masih mudah lah intinya. Katakanlah waktu itu dia baru lulus dan mungkin umurnya dua puluhan awal, dan itu sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu, berarti sekarang umurnya harusnya disekitar tiga puluhan awal. Tapi gimana ceritanya?

“Jadi gimana ceritanya?” tanya ku lagi.

“Panjang lah ceritanya…”

“Saya mau kok dengerin ceritanya sebelum masuk ke topik bisnis, hehehe.”

“Hahaha, lain waktu aja lah, intinya gaji guru SD berat kalau buat bertahan hidup di Jakarta, meskipun itu dipinggiran Jakarta juga,” jelasnya. Ya, aku paham. Memang berat sih kalau hanya mengandalkan gaji. Apalagi hanya seorang guru SD. Belum lagi kalau waktu itu statusnya mungkin masih honorer. Makin susah aja.

“Baiklah…nurut aja saya mah, ntar kena hukum lagi repot, hehehe.”

“Hahaha, bisa aja kamu, jadi gimana? Bisa kita mulai sekarang ngobrolnya?”

“Dari tadi bukannya udah ngobrol ya?”

“Ngobrol kerjaan maksudnya…”

“Hehehe, iya bu iya…”

Kami pun mulai berdiskusi yang bertepatan juga dengan datangnya minuman pesanan ku untuknya. Geblek, mantan guru gue gombalin. Tapi emang masih cantik sih. Modis pula. Ga keliatan kaya seorang wiraswasta. Lebih kaya model atau bintang iklan. Kalau sekarang masih jadi guru mungkin ga akan semodis ini kali ya. Entahlah.

Kami berdiskusi panjang lebar. Mulai dari bahan makanan apa yang aku butuhkan. Lalu dari dia apa-apa saja yang bisa dia sediakan. Tempo pembayaran. Pengantaran. Hingga rincian harga masing-masing item. Panjang lebar kami berdiskusi dan kemudian entah dari mana datangnya sebuah pertanyaan muncul. Diawali dengan bayang-bayang mba Sintya tadi yang aku bercandai soal hubungan kami sebelumnya. Lalu mba Vina dengan kejadian tempo hari yang turut memberi andil pada dealnya sewa kafe ini. Belum lagi dengan tante Pristy tempo dulu. Dan sekarang ada mba atau bu Niqi yang sedang duduk manis di depan ku. Mantan guru ku yang sekarang lebih memilih untuk berdagang. Mantan guru yang masih terlihat cantik, jauh lebih cantik malah dari waktu itu. Akan kah kejadian-kejadian sebelumnya seperti dengan mba Sintya dan mba Vina juga akan terjadi lagi? Setan di kiri ku mulai berbisik memberikan seribu satu rencana untuk memuluskan kejadian itu. Dasar Setan.

[Bersambung]