Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Sempurna Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45

Sempurna Part 44

Start Sempurna Part 43 | Sempurna Part 44 Start

Mantan

Gebyok pelaminan itu terlihat sangat megah. Didominasi dengan warna putih menjadikannya terlihat sangat mewah dan elegan. Hiasan bunga warna warni memberikan variasi yang sangat serasi. Karpet merah nan mewah menjadi alas bagi sepasang pengantin yang belum lama tadi baru saja meresmikan hubungan meraka kejenjang yang lebih tinggi baik secara hukum maupun agama. Dan sekarang untuk mensyukuri kebahagiaan tersebut, digelarlah resepsi pernikahan yang cukup mewah ini.

Tamu undangan lalu lalang di depan ku dan Rere. Ya, pesan chat yang aku terima minggu lalu adalah permintaannya untuk menemani nya menghadiri pesta pernikahan salah seorang kerabatnya ini. Ramai sekali dan hampir sesak. Hilir mudik ke sana ke mari. Ada yang sibuk mencoba dan mencicipi setiap hidangan yang ada, padahal hidangan yang sebelumnya diambil belum habis tapi sudah antri ke hidangan yang lain. Ada yang sibuk berpelukan, ya sepertinya mereka kerabat lama yang baru bertemu pada momen pesta pernikahan ini. Tapi yang pasti semua nampak bahagia.

“Mau nyobain ini ga?” tanya Rere pada ku sambil menunjukkan sesuatu yang ada di tangannya, semangkuk Zuppa Shop.

“Eh itu gubukannya dimana?” tanya ku balik karena sepertinya enak pikir ku. Padahal di tangan ku sendiri masih ada sepiring kecil kambing guling yang baru saja aku ambil. Musti jadi target selanjutnya itu pikir ku dalam hati.

“Ngapain?”

“Ya mau antri juga lah…”

“Hehehe, aaa…,” ga seperti yang aku sangka sebelumnya ternyata Rere malah menyuapi ku dan kini sendok yang ada di tangan kanannya sudah mengarah ke mulut ku. Tentu saja aku ragu dan malu. Aku belum terlalu kenal dengan Rere, belum lama juga, dan sekarang di tengah keramaian ini dia hendak menyuapi ku. Hahaha.

“Iiih malah bengong, udah cobain dulu, kalau suka nanti ikut antri, itu kambing guling aja belum dimakan…”

“Hehehe,” senyum ku dengan garing. Aku lalu membuka mulut ku dan sesuap zuppa shop dari Rere masuk ke mulut ku pada akhirnya.

“Gimana?”

“Enak, tapi kok manis ya?” ucap ku memberikan komentar karena setau ku zuppa shop itu kebanyakan rasanya gurih, tapi ini sesuatu yang sangat berbeda, dan unik pikir ku. Aku harus mencoba menirunya lanjut ku dalam hati.

“Makanya tadi aku minta kamu cobain dulu takutnya ga suka, kan sayang…”

“Aku juga sayang sama kamu, pantes rasanya jadi manis,” canda ku padanya yang kemudian diikuti dengan senyumnya yang berseri. Sekilas wajahnya nampak merah bersemu.

“Nakal ya, mulai gombal…”

“Hehehe, tapi unik sih, jadi penasaran pengen bikin yang beginian buat di kafe.”

“Asik, ada untungnya dong kamu nemenin aku kondangan…”

“Hmmm…ya bisa di bilan begitu.”

“Asik…”

“Kok seneng banget gitu?”

“Iya lah, siapa tau nanti pas tutup buku aku bisa dapet bonus lebih dari yang lain, kan aku udah kasih banyak masukan buat kafe, hehehe.”

“Woo…dasar…ujung-ujungnya minta bonus…”

“Wajar kali…”

“Bener sih, dan itu bisa jadi semacam motifasi dan itu fair aja…”

Tidak terasa sudah beberapa saat aku ngobrol ringan dengan Rere. Antrian tamu yang akan memberikan ucapan selamat ke mempelai pun juga sudah berkuran dan hampir habis. Ya seperti pada umumnya kondangan di Jakarta, MC mempersilahkan para tamu untuk memberikan ucapan selamat ada pengantin tapi sebagian besar tamu biasanya akan lebih tertarik untuk antri makanan terlebih dahulu. Termasuk juga aku dan Rere. Kambing guling ku sudah habis, begitu juga dengan zuppa shop Rere, maka kami pun sepakat untuk maju kedepan ke arah pelaminan.

Kami berjalan beriringan. Sekilas nampak serasi dan sempurna. Untuk sesaat aku merasa menjadi laki-laki paling gagah sedunia akhirat. Dandanan rapi, dan berjalan di dampingi oleh wanit cantik seperti Rere. Ya, Rere malam ini tampil cantik sekali. Seperti biasa stelan cewek pada saat kondangan, kebaya dengan kain jarit berwarna cerah yang mengikuti lekuk tubuhnya. Dan akan aneh memang kalau kebaya tidak mengikuti lekuk tubuh. Tapi Rere di sini berbeda. Penampilan Rere tidak serta merta membuatnya terlihat hot seperti perempuan lain pada umumnya. Aura yang terpancar dari dalam diri nya membuatnya terlihat cantik yang elegan. Ah sudah lah, susah untuk dijelaskan. Apalagi saat akan menaiki panggung, dengan heels yang ia kenakan malam ini membuatnya agak kesulitan naik ke atas panggung pelaminan yang mau tidak mau membuatnya harus merengku lengan kiri ku untuk berpegangan. Untuk pertamakalinya Rere menggandengan tangan ku. Dan itu membuat ku semakin tidak bisa menggambarkan betapa cantiknya dia malam ini.

###

“Jadi yang nikah itu siapa kamu?” tanya ku pada Rere. Aku dan dia sekarang duduk di salah satu bangku yang ada di taman ini. Ya, resepsi pernikahan ini bertema setengah outdoor, dimana resepsi pernikahannya ada di dalam bangunan utama yang berbentuk joglo itu, sedangkan sebagian makanan yang disajikan ada di area taman. Jadi kami pun bebas untuk menikmati makanannya baik yang ada di dalam maupun yang ada di luar.

“Anaknya keponakan mama.”

“Itu artinya…?”

“Aku bule nya, hahaha.”

“Iya juga ya, soalnya keponakan mama kamu itu kakak sepupu kamu, pasti dia dari kakak tertua.”

“Iya…”

“Hmmm…terus, kamu kapan?”

“Aku? Hahaha, jangan tanya itu, ini aja aku ajak kamu bukan ngajak…”

“Cowok mu…”

“Eh kamu mau nyobain es krim itu ga? Aku ambilin yah…mau kan? Pasti mau, tunggu ya aku ambilin…” ucap Rere dengan cepatnya memotong kalimat ku. Fix lagi ada masalah ini mah. Pantes aja nyari partner kondangan dadakan.

Rere meninggalkan ku dan berjalan menuju gubukan es krim itu. Jalannya agak sedikit berhati-hati karena alas kaki nya yang ber-hak itu, ditambah lagi di lokasi outdor ini dan kondisi pencahayaan taman yang tidak terlalu terang. Gimana sih Di, bukannya lo yang ambilin malah diem aja cewek secantik Rere mau ambilin lo es krim. Dasar cowok ga peka.

Kondisi sekitar sudah tidak seramai tadi. Sebagian tamu sudah pulang. Acara resepsi pun mungkin bentar lagi uga akan selesai. Beberapa gubuk jajanan juga sudah mulai di bereskan. Ya karena jam sewa juga sudah mau habis. Ini karena Rere masih kerabat saja maka kami berdua masih ada di sini. Dan beruntung saja itu es krim masih ada dan menjadi rejeki ku dan Rere malam ini.

“Nih, enak juga ternyata, ya meskipun cuma es krim es krim an kalau menurut ku sih, hehehe.”

“Ya kalau es krim beneran bangkrut kali WO nya.”

“Hehehe, kamu emang pinter…”

“Hahaha.”

“Eh Di, berarti kamu lulus SMA itu dua tahun lalu ya?”

“Hehehe iya, kenapa?”

“Enggak, berarti memang bener beda dua tahun ajaran sama aku.”

“Tapi kok tahun lahirnya cuma beda setahun?”

“Aku masuk sekolahnya kecepetan…”

“Owh…” balas ku singkat pada Rere. Kami duduk berdampingan sambil menikmati secangkir es krim yang kata Rere eskrim eskrim an menurut dia. Lumayan juga menurut ku. Merek apa ini ya?

“Oiya Di, nanti awal tahun aku, mba Ai, A’ Ega, sama Arga mau jalan-jalan ke Jogja, mau ikut ga?” tanya nya membuyarkan pertanyaan ku akan merek eskrim apa yang sedang aku makan ini.

“Hah? Ke Jogja? Kemana nya?”

“Ya semuanya…”

“Ga tau deh…”

“Kenapa? Sibuk yah?”

“Mungkin…”

“Beneran ga mau?” tanya nya lagi.

“Aku kan belum bilang ga mau, aku cuma bilang ga tau, soalnya kan kita baru aja buka kafe baru, pasti masih sibuk-sibuknya, tapi ga masalah sih, itu emang udah jadi kerjaan ku.”

“Jadi ga enak…”

“Ga enak enak kenapa? Kan kesepakatan dari awal emang aku yang akan kelola uang kalian, hehehe.”

“Iya sih…”

“Eh satu lagi…”

“Apa?”

“Jangan ajak Gadis atau Rahma dulu ya, mereka berdua pasti pengen ikut, masalahnya ya itu tadi, aku belum tentu bisa nemenin, dan mereka berdua kan mau ujian juga, jadi harus fokus sama sekolahnya.”

“Aiihhh…kakak yang perhatian banget sam ade-ade nya, duh jadi pengen jadi kakak iparnya Gadis atau Rahma nih, ups…hihihi…”

“Hahaha…bisa aja kakak ipar…”

“Tua’an aku satu tahun tak apalah ya…”

“Umur hanyalah sebatas angka, kedewasaan adalah pilihan, dan membimbing adalah amanah.”

“Aiiihh…udah cocok ini mah jadi imam yang aku cari selama ini…hihihi…”

“Hahaha, kehaluan menjelang malam, ngomong-ngomong kita pulang jam berapa?”

“Hehehe, jam berapa aja bebas yang penting kamu anterin mah aku ikut aja.”

“Ya udah karena udah hampir jam sepuluh juga sekarang aja kali ya…”

“Jadi pulang sekarang nih?”

“Enggak, pamit aja dulu, dari sini mau melipir kemana kan urusan lain,” balas ku iseng. Siapa tau berhadiah. Hadiahnya enak-enak. Siapa tau kan. Namanya juga iseng.

“Gue suka gaya lo Di, yuk lah.”

Aku dan Rere pun bangkit dan berjalan menuju bangunan utama, tempat dimana para keluaga dekat masih pada berkumpul. Tamu-tamu undangan sudah pada pulang. Peralatan pesta pun juga sudah hampir selesai dibereskan. Benar-benar tinggal keluarga dekat saja. Entah apa yang mereka perbincangkan. Pengantin wanita pun juga sudah tidak ada, tinggal pengantin pria yang bajunya pun juga sudah tidak serapi tadi. Sebentar lagi mereka semua paling juga akan pulang ke rumah masing-masing pikir ku.

###

Tidak tau kenapa aku dan Rere malah nyangkut di kemang. Entah setan apa yang mengarahkan kami berdua ke tempat ini. Bukan tempat maksiat sih, hanya saja pergi tempat yang berlawanan arah dengan arah pulang di jam segini menurut ku agak aneh aja. Rere ternyata suka kopi juga seperti ku. Doyan nongkrong. Dan aku juga lagi butuh banyak ide dan inspirasi seputar kopi dan per-kafe-an. Jadi tidak ada salahnya pikir ku jika sekali-kali atau dua kali mampir ke tempat seperti ini.

Aku memilih tempat di smooking area. Yang aku suka dari Rere, sejauh ini dia tidak komplain terhadap asap rokok, padahal kalau dari tampang dan tipe-tipe cekek sepertinya biasanya itu anti rokok banget. Aku pesan segelas Americano Ice. Sejauh ini black coffee yang disajikan dalam keadaan dingin ini masih menjadi favourite ku. Taste dari si kopi itu sendiri menurut ku justru malah lebih terasa kalau disajikan dalam keadaan dingin. Berbeda dengan sebagian orang awam yang menganggap kalau kopi identik dengan panas atau hangat. Sedangkan Mochaccino menjadi teman Rere bersama ku malam ini.

“Aku boleh kepo ga?” tanya nya tiba-tiba. Kami duduk saling berhadapan dan aku baru saja mengeluarkan rokok dan korek api ku. Jalanan di daerah kemang masih nampak rame, sudah biasa apalagi ini weekend. Pengunjung di kafe ini juga tidak sepi namun tidak penuh juga.

“Tergantung, kalau mau nanya ya bebas aja sih, dijawab apa enggak itu urusan belakangan, hehehe.”

“Aku penasaran sama hubungan kamu dengan keluarganya Gadis…”

“Penasaran di apanya?”

“Ya semuanya…”

“Singkat ceritanya aku dan dia itu satu ayah beda ibu.”

“Ya elah to the point amat ceritanya, dasar lakik…” protes Rere dengan lucunya.

“Hahaha, yang simple-simple aja aku kalau cerita.”

“Terus ibu sama ayahnya Gadis sekarang gimana?”

“Mereka tetap berhubungan, tetap berkomunikasi, tidak ada masalah di antara mereka kok.”

“Kamu sendiri gimana?”

“Aku?”

“Iya, kamu gimana kalau mereka hubungannya baik-baik aja gitu, kan jadi ada kemungkinan untuk mereka…”

“Balikan?”

“Iyaaa…hehehe…”

“Yang penting mama bahagia aja sih…”

“Yakin?”

“Kenapa ga yakin?”

“Ih kamu gimana sih? Masa jadi cowok ga ada feeling buat lindungin mamanya…”

“Lindungin dari apa?”

“Ya kan bisa aja mama sama…ayah mu itu dulu nya pisah ga baik-baik, bukan mau jelekin ayah mu ya, tapi kan kalau memang ga ada apa-apa masa bisa pisah?”

“Kadang suka kepikiran juga, keinget almarhum papa juga, tapi ya mau gimana? Punya orang tua tinggal satu kalau aku ga setuju bisa jadi mama malah sedih, tapi tetep sih kalau misal jadi dan papa nya Gadis macem-macem, aku sendiri yang maju.”

“Ngapain?”

“Ngehajar dia lah.”

“Dia kan papa mu juga.”

“Papa ku ga akan nyakitin mama ku…”

“Asik…jadi makin yakin nih…”

“Yakin soal?”

“Iya jadi makin yakin untuk jadi kakak ipar nya Gadis dan Rahma, hihihi…”

“Awas lo ya mancing-mancing ntar aku pepet beneran kamu…”

“Aku sih seneng-seneng aja ya dipepet cowok kaya kamu, hehehe.”

“Kalau mas Arga?”

“Alah dia mah udah kaya kakak ku sendiri, lah dari TK sampai kerja satu tempat.”

“Kalau orang-orang yang ada di seberang itu?” ucap ku tiba-tiba sambil memberikan isyarat pada Rere kalau di seberang jalan sana ada beberapa laki-laki yan juga sedang berkumpul dan yang aku perhatikan dari tadi adalah mereka selalu mengawasi kami. Bahkan mereka juga mengikuti kami dari lokasi resepsi pernikahan tadi. Rere nampak kaget. Mencoba menajamkan pandangannya namun masih dengan gesture tubuh yang tidak mencolok. Dia seperti sedang menyimpulkan sesuatu. Antara yakin dan tidak yakin.

“Kamu tau siapa mereka?”

“Ya Allah, itu kan?”

“Siapa?”

“Mmm…”

“Siapa? Mereka ngikutin kita lho dari tempat nikahan tadi.”

“Hah? Masa sih? Kok kamu diem aja?”

“Aku pikir kebetulan doang, tapi setelah aku perhatiin mereka dari tadi ngawasin kita terus, jadi siapa mereka?”

“Mmm…mereka…Rian dan temen-temen nya…”

“Siapa Rian?”

“Man-tan ku,” balas Rere dengan polos nya dan seolah-olah merasa bersalah, tapi tidak tau dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tentu saja dia merasa bersalah. Kalau sampai mantannya ngikutin kita berdua besar kemungkinannya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kan. Paling sepele adu bacot. Lebih parah dikit ada yang patah tulang. Lebih parah lagi masuk ICU. Paling parah namanya ada di batu nissan. Pertanyaannya siapa? Aku atau si Rian itu?

“Jadi gimana sekarang Di? Duh aku kok jadi kepikiran ya…”

“Emang kenapa?”

“Si Rian itu, orang nya agak tempramen, apa lagi aku sama dia belum lama putus nya.”

“Kamu sih maksa ajak aku,” balas ku setengah bercanda.

“Lah kamu nya mau, jadi nyesel nih? Kalau nyesel aku bisa kok pulang sendiri, biarin aja kalau di jalan nanti di cegat sama Rian dan temen-temennya itu,” balas Rere dengan memelas dan pasrah.

“Hahaha, canda kali, ya udah kalem aja, kalau ada apa-apa paling aku yang digebukin, ga mungkin kan kalau kamu yang di apa-apain.”

“Iiihh ga bisa gitu juga dong, ntar kamu kenapa-napa gimana? Terus nanti Gadis sama Rahma marah sama aku, terus Ratna juga, duh Adi kok kamu bisa sesantai itu sih?”

“Hahaha, ya emang harus gimana? Toh emang malam ini kita ga ngapa-ngapain kan? Cuma jalan bareng aja aku abis nemenin kamu kondangan…”

“Kamu ga kenal sama Rian sii…”

“Ya entar aku ajak kenalan dulu, sebelum kita duel, hehehe,” balas ku menggoda Rere.

“Iiihh Adi apaan sih ga seru becandanya, pokoknya ga boleh ada yang berantem!”

“Ya masa sesama cowok kita jutek-jutekan? Hahaha.”

“Aaarhhh…”

“Hahaha, iya-iya becanda aku,” balas ku sambil mengusap rambut Rere yang masih nampak rapi itu sambil memperhatikan reaksi orang-orang di seberang sana. Dan orang-orang itu sepertinya benar-benar terpancing. Sialan. Sekarang aku sendiri yang jadi bingung. Mana banyak lagi orangnya. Maksud hati mau godain Rere tapi sepertinya orang-orang itu tidak suka dengan sikap ku ke Rere. Cewek secantik Rere ngajak jalan cowok kaya aku berarti memang cuma ada tiga kemungkinan. Matanya jereng. Otaknya lagi gangguan. Cari pelampiasan.

###

Yang aku kuatirkan akhirnya benar-benar terjadi. Aku dan Rere sedang berjalan menuju parkiran mobil, dan begitu tiba di parkiran, orang-orang yang tadi ada di seberang jalan sudah berdiri di sekitar mobil yang aku bawa tadi. Dua orang duduk bersandar di kap mobil. Dua lagi bersandar ke pintu depan. Dan dua lagi berdiri di sekitar mereka. Asap mengepul pekat di sekitar mereka. Semuanya sedang merokok.

Aku harus tenang sih pikir ku. Belum tentu mereka semua akan cari gara-gara, meskipun itu kecil peluangnya. Aku dan Rere terus berjalan ke arah mereka. Aku bisa merasakan bagaimana tangan Rere yang mengapit lengan ku sudah gemetar sejak tadi. Jarak semakin dekat dan beberapa dari mereka yang menyadari kehadiran ku dan Rere mulai mengambil sikap. Layaknya di film-film dram action, ke lima orang itu mengambil sikap dengan ekspresi segarang yang mereka bisa. Iya hanya lima, karena yang satu lagi masih santai dengan posisi nya tadi, bersandar pada badan mobil, menunduk ke bawah sambil menghisap kuat-kuat lintingan yang ada di tangannya. Aku tebak ini yang namanya Rian.

“Ri-rian?” sapa Rere yang jelas sekali terlihat basa-basi nya. Rian lalu memandang ke arah kami sebelum membuang puntung lintingan ditangannya setelah satu hisapan kuat terakhirnya.

“Jadi dia alesan lo putus sama gue?” tanya Rian dengan wajah sinisnya.

“Apaan sih? Kita udah putus duluan sebelum gw kenal Adi,” balas Rere.

“Oh, namanya Adi,” balas Rian lagi lalu maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di depan ku. “Payah banget selera lo Re? hahaha,” ejeknya yang kemudian diikuti oleh gelak tawa dari teman-temannya yang lain.

“Rian please aku mohon, aku ga mau ada masalah lagi di antara kita, kita udah berakhir,” ucap Rere yang sepertinya semakin panik dengan situasi saat ini yang mulai agak memanas.

“Gue emang ga mau cari masalah sama lo, karena masalah gue sekarang sama dia,” balas Rian, wajahnya semakin tidak mengenakan. Ingin rasanya langsung memukul kepalanya yang congkak itu, tapi aku tidak boleh terburu-buru.

“Please Rian, kita bisa bicarain ini lagi lain waktu, ini udah malem, aku sama Adi harus pulang.”

“Gue ga terima lo jalan sama dia.”

Lah, apa urusan lo? Aku bertanya tapi masih dalam hati karena aku masih mencoba untuk menahan jangan sampai aku terpancing duluan.

“Gue tau kok latar belakang keluarga dia, dan itu ga level sama lo Re,” lanjut Rian lagi.

Anjir, ini laki kok lemes amat ya mulutnya. Rere mencoba untuk tidak menggubris ocehan dari mantannya itu. Dia lalu menarik lengan ku dan berusahan menerobos orang-orang itu menuju mobil. Tapi baru setengah jalan Rian menarik paksa lengan kiri Rere sehingga dia terlepas dari ku. Jujur aku belum siap hingga sesaat kemudian…

Buuggh!!

Sebuah tinju keras mengenai perut ku hingga membuat ku merunduk kesakitan.

“Hahaha, dasar anak tukang jahit!”

Sontak darah ku langsung mendidih. Urusan dia dengan ku, dan aku tidak terima kalau keluarga ku di bawa-bawa. Apa lagi kalau itu menyangkut soal mama.

“Bacoot!!”

Buuggh!!

“Arrgghh!!”

Tanpa pikir panjang aku langsung bangkit, merengsek ke arahnya dan melayangkan pukulan yang mengenai rahang kirinya. Serangan ku yang tiba-tiba membuatnya tidak sempat menghindar, sama seperti yang aku terima tadi. Saking kerasnya pukulan ku hingga membuat Rian terpelanting kebelakang.

“Bangsat, habisi dia!!” perintah Rian pada teman-temannya.

Aku mulai mengambil posisi kuda-kuda. Kelima orang itu mulai mengelilingi ku. Satu persatu mereka maju. Dari arah samping kanan ku merengsek maju, namun gerakannya sangat mudah untuk di tebak, dengan mudah aku bisa memberikan tendangan balik ke arah tubuhnya yan lebih pendek dari ku. Dari arah kiri juga sama. Sebuah pukulan hendak di arahkan kepada ku, namun aku bisa menangkisnya dan sebuah pukulan telah berlabuh di rahangnya sebelum aku akhiri dengan tendangan pada perutnya yang membuatnya tersungkur.

Lalu dari arah depan dan belakang maju secara bersamaan. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan mereka hujam kan ke arah ku. Awalnya aku masih bisa meladeni. Bahkan jika duel satu lawan satu aku yakin bisa menghabisi mereka semua. Tapi aku hanya sendiri, sedangkan lawan ku ada lima. Tangan ku hanya dua, kaki ku juga dua. Jika terus dikeroyok seperti ini aku pasti akan tumbang juga. Belum lagi fokus ku yang terbelah dengan nasib Rere yang sekarang ada di tangan Rian. Dan akhrinya terjadi, sebuah pukulan telak mengenai belakang kepala ku yang membuat ku terhuyung dan limbung ke pelataran parkiran. Dan mereka tidak berhenti sampai di sini. Meskipun aku sudah tersungkur, kaki-kaki mereka seolah sedang menari dengan indahnya dengan menjadikan tubuh ku sebagai media untuk di injak-injak. Pandangan ku mulai gelap sebelum seseorang dari kejauhan berteriak ke arah ku berada.

“Woii!! Berhenti!! Mati kalian!!”

[Bersambung]