Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Rahasia Pribadi Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 4

Start Rahasia Pribadi Part 4 | Rahasia Pribadi Part 4 Start

Siang hari, dikota Daeng saat ini cuaca mencapai 34°C, walau cuaca panas begini tak mengurungkan rencana Al siang ini untuk bertemu dengan salah satu calon kandidat bussines partnert PT. 3MP.

Al sebelumnya menjemput Mr. Nos di Hotel Clarion, karena semalam pria itu lebih memilih menginap di Hotel ketimbang di appartement Al.

“Kang aku diparkiran yah,” Ujar Al saat menelfon Nos.

Dari arah pintu lobby Hotel, dua insan yang semalam telah bergulat menghabiskan malam mereka di penthouse Hotel, Mr. Nos sedang melambaikan tangannya saat melihat mobil Al menjemputnya di depan lobby.

“Lama bener kamu kang,” Kata Al saat berada di depan lobby.

“Biasa bro, nyelup dulu sebelum berangkat.” Jawab Nos nyengir.

“Ihhh, apaan sih sayang.” Ucap Dona manja yang sejak semalam menemani seorang Mr.Nostra di Hotel.

“Yuk kang,” Ajak Al.

“Ya udah, Don gue cabut dulu yah. Oh iya bentar gue kayaknya langsung berangkat… biasa, mau long trip area sulawesi dulu selama seminggu.” Kata Nos selanjutnya.

“Ok jangan lupa telpon Dona yah sayang,” Jawab Dona.

“Bareng aja Don.” Ujar Al mengajak gadis itu untuk berbarengan keluar Hotel.

“Dona bawa mobil kok kak,” Jawab Dona.

“Ya udah, kami cabut dulu yah.”

Sebelum berpisah, Nos dan Dona sempat berciuman di depan Al, membuat pria itu hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya yang tak melihat kondisi keramaian saat ini.

Honda All New Civic milik Al membelah jalan A.P. Pettarani menuju pintu tol Reformasi. Saat ini kondisi jalan yang mereka lalui sedikit macet karena bertepatan dengan jam makan siang para pegawai.

“Gimana bos semalam ama gadis siapa gi namanya?” Tanya Nos membuka obrolan.

“Reva?” Jelas Al dan Nos mengangguk. “Kami gak ngapa-ngapain, semalam begitu nyampe appartment… kami langsung tidur.” Lanjutnya menjelaskan kejadian semalam di apartemennya bersama seorang gadis bernama Reva.

“Udah gue duga kok…. Loe normal kan?” Tanya Nos dengan wajah serius.

Al sontak menoleh kesamping saat mendengar kalimat terakhir dari sahabatnya. “Uhuk.. Uhuk.. Anjrit kang, kamu pikir aku maho apa.”

“Yah kali aja, hahahaha…” Ledek Nos. “Ngomong-ngomong si Reva cakep juga loh, kalo loe gak mau biar gue aja yang embat.”

PLAKK!!! Al menabok kepala Nos membuat pria itu hanya nyengir mengejek sahabatnya sendiri.

“Woiy dia gadis baik-baik yah, dan gak akan pernah aku biarkan orang macam kalian ngerusaknya.” Jawab Al setelah menabok kepala Nos.

“Cie. Cie. Cie. Ada yang cemburu nih…”

“Bukan cemburu dodol, gak tega aja ngeliat gadis baik-baik dirusak ama cowok kayak kamu kang.”

“Iye. Iye. Iye, gue tau loe itu orangnya penyayang.” Kata Nos.

“Gak ada hubungannya keleus,” Ucap Al mendengus.

“Hahaha… oh iya, siang ini apa agenda kita?” Tanya Nos mulai serius.

“Ketemu ama pihak Inti Sari Pratama,” Jawab Al.

“Ohh. Sipp lah kalo gitu.”

“Btw cabang mana aja yang akan loe akuisisi Hotelnya?” Lanjut Nos bertanya tentang rencana Al yang akan mengembangkan bisnisnya di bidang perhotelan.

“Untuk wilayah Indonesia timur doank kang,”

“Oh lumayan lah, semalam aja gue liat di hotel rame loh…” Terlihat diwajah Nos sedang memikirkan rencana kedepannya bersama dengan Al dan juga L untuk pengembangan bisnis 3MP.

“Iya sih kang, akhir-akhir ini Hotel lagi full, gak tau nih Makassar kayaknya ketiban rejeki deh” Ucap Al membenarkan opini seorang Nostra.

“Trus untuk peluncuran produk pertama kita Go Clean, apakah tetap loe akan nge-split manajemen 3MP?” Tanya Nos.

“Hemm, menurut aku sih kang. Mending kita satuin aja karena baru kali ini kita bermain di bidang produsen kan.” Ujar Al menggantung ucapannya dan sekilas menoleh ke samping.

“Dan loe takut kita belum bisa meng-split costnya yah?” Nos menebak maksud yang diutarakan oleh Al.

“Yup, tapi aku sudah nyuruh si L tuk ngerjain Costing Sheet-nya dulu… nanti kita liat seperti apa hasilnya.” Kata Al.

“Emang bagian dia kan itung-itungan.” Ujar Nos.

“Btw, jadi gak kamu Market Visit ke beberapa kota besar di Sulawesi?” Tanya Al mengingatkan rencana sahabatnya.

“Jadi donk. Dan gue udah telpon pihak agency untuk membantu gue selama melakukan market Visit.” Jawab Nos, sambil membuka beberapa agendanya di Smartphone-nya.

“Aku demen cara kamu kang,” Kata Al sambil menepuk-nepuk paha Nostra di jok samping.

“Nostra gitu loh, tapi ngemeng-ngemen tangan loe jangan singgah di paha gue donk! Risih gue nya.” Ujar Nos menepis tangan Al.

“Hahahaha, dasar kamu kang.”

Mobil Al memasuki kompleks pergudangan KIMA makassar. Dan akhirnya mereka tiba dikantor PT.Inti Sari Pratama.

“Yuk kang,” Kata Al saat mereka tiba diparkiran.

Saat mereka turun dari mobil, Al menyempatkan bertemu dengan salah satu security di gerbang, kemudian setelah memberitahukan rencana mereka yang sudah buat janji dengan pak Rudi, owner dari PT. ISP. Akhirnya mereka-pun di persilahkan masuk sambil di antar oleh security tadi.

“Pak Al dan Pak Nos, tak nyangka kalian datang menjenguk ke perusahaan kecilku ini.” Seorang pria telah menunggu mereka di pintu kantor dan segera menyambut Al maupun Nos saat mereka berdua tiba. Seseorang berbadan tinggi, gemuk dan perawakan cina campuran.

“Pak Rudi bisa aja, apa kabar bos?” Ucap Al menjabat tangan owner ISP.

“Yah beginilah pak kalo kami orang kecil, beda dengan bapak berdua.” Jawab Rudi.

“Hahaha, pak Rudi mah duitnya gak berseri.” Celetuk Nos, hingga membuat mereka tertawa bersamaan.

“Ada-ada aja Pak Nostra, kita keruangan saya aja yuk Pak.” Ucap Rudi mengajak Al dan Mr.Nos untuk ke ruangannya.

Di dalam ruangan yang cukup luas, Al dan Nos dipersilahkan duduk di depan meja Rudi yang juga duduk berhadapan dengan mereka.

“Ok Pak Rud, ini pertemuan kita untuk kedua kalinya. Dan tujuan kami ke sini adalah untuk mendiskusikan kelanjutan plan kita saat kita bertemu pertama kali dijakarta.” Ucap Al serius membuka obrolan dan Rudi hanya mengangguk.

“Ok Pak Al, seperti di awal saya bilang. ISP sangat tertarik menjadi bisnis partner 3MP.”

“Sebelum kita melanjutkan plan kita untuk step ke dua, ada baiknya pak Nos yang akan menjelaskan detailnya.” Kata Al.

“Jadi gini pak Rud, rencana saya seminggu ini akan melakukan market visit di beberapa area. Nah dari hasil visit tersebut, dari situ saya akan memberikan kesimpulan langkah apa yang akan kita buat di awal.” Ujar Nos melanjutkan. “Jadi sebelum kita melangkah step 1, ada baiknya kita mengetahui dulu secara garis besar isi dalam wilayah coverage ISP nantinya.” Lanjut Nos.

“Ok saya tunggu minggu depan. Oh iya jadi hari ini kita gak banyak diskusi nih?” Jawab Rudi mengerti dengan yang dimaksud oleh pria dihadapannya.

“Dari pada kita mendiskusikan sesuatu yang masih abu-abu, mending kita hold dulu sampai minggu depan.” Jawab Al. “Tujuan kami kesini, hanya untuk mengsurvey tempat bapak.”

“Ok no problem… kalau gitu, mending kita cek beberapa gudang dan delivery kami.” Ucap Rudi mengajak mereka untuk sekedar menge-check gudang, delivery dan juga system milik Rudi.

~•○●○•~​

“So… kemana kita?” Tanya Nos saat mereka telah meninggalkan kantor ISP.

“Nyari makan dulu yuk.” Jawab Al.

“Btw, tiket gue nanti ke Manado jam 7 malam yah,” Ujar Nos sambil menge-check kembali tiketnya dari smartphone. “Jadi… Loe antarin gue ke kantor agency aja.”

“Oh ya udah.” Jawab Al singkat.

Akhirnya mereka menuju pusat kota di jl. Boulevard, tujuan mereka ke Mall Panakukang untuk mencari tempat makan yang enak.

“Eh Al bukannya tuh cewek yang semalam?” Ucap Nos tiba-tiba, saat melihat seorang gadis sedang menyebrang bersama kedua teman-nya menuju ke Panakukang Square.

“Oh iya yah, aku menepi dulu.” Ucap Al lalu menepikan mobilnya di pinggir Panakukang Square.

“Al keren nih gantungan kunci loe, gue buka yah.” Ujar Nos. Tangannya langsung bergerak ke samping kanan setir dan mencoba membuka gantungan kunci mobil.

“Ya elah kang, maen nyerobot aja.” Ucap Al sedikit kesal sambil mencoba menepis tangan Nostra yang ingin merebut gantungan kunci tersebut.

“REVA…… “ Teriak Al saat baru saja seorang gadis yang tak lain adalah si Reva melewati samping mobilnya.

Reva langsung menoleh ke samping saat Al sudah membuka kaca mobilnya. “OHHH MY GODDDD, Ihhhh dasaaaarrrr Gay emang kalian” Teriak Reva terkejut karena saat ini posisi Nos sedang berusaha mencabut gantungan kunci mobil dan wajahnya tepat di atas selangkangan Al.

DAMN!!!

“Woi Kang… Aiiishhhh, kamprettt.” Gerang Al lalu berusaha mengangkat wajah Nos.

“Kenapa loe Al?” Tanya Nos dengan polosnya dan tanpa Al sadari, ternyata Reva sudah melangkah meninggalkan mobilnya.

“Udah gak usah dibahas, mending nyari makan aja yuk.” Jawab Al kesal.

“Nah loh, si Reva gak jadi ikut?” Tanya Nos masih bingung.

“Kagak, dan ini gegara kelakuan kamu tau.” Jawab Al mendengus.

“Loh kok gue sih bos ?” Kata Nos masih merasa tidak bersalah sedikitpun.

“Stop bahas dia yah, atau gak aku turunin kamu disini. Kang,”

“Eh, loe gila apa. Ntar gue di culik gmn?” Tanya Nos dengan tampang lucunya.

“Huuuaaahhaa… Huaaa…hahaha.” Al tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nos.

~•○●○•~​

Sore hari, di sebuah rumah yang cukup sederhana. Terlihat Reva sedang duduk berhadapan dengan seorang Rentenir. Dua orang bodyguard hanya berdiri dibelakang sang rentenir dengan penuh kewaspadaan jikalau saja terjadi apa-apa terhadap majikannya.

“Jadi kapan nih mau bayar hutang?” Tanya rentenir yang menagih hutang yang sebetulnya bukan hutang Reva. Namun, hutang-hutang tersebut adalah titipan dari mendiang Ayah-nya.

“Maaf pak aku belum ada duit,” Jawab Reva menunduk sedih.

Saat ini hutang almarhum ayah Reva sangat besar, dan ayahnya dulu saat mengambil uang di rentenir menjaminkan serifikat rumah satu-satunya yang saat ini Reva tempati. Sedangkan ibunya entah dimana, sepuluh tahun sudah ibunya meninggalkan Reva dan ayahnya tanpa memberi kabar sebelumnya.

“Berarti anda sudah siap meninggalkan rumah ini, saya kasih waktu dua hari anda harus mengosongkan segera rumah ini. Titik!!” Tegas rentenir dengan wajah menahan emosi.

“Kasih aku waktu lagi pak, karena kebetulan aku baru saja kerja dan belum terima gaji. Hikz. Hikz. Hikz.” Ucap Reva. Tubuhnya bergetar, menangis memohon kepada rentenir itu.

“Anda tak perlu memasang air mata buaya kayak gini, karena saya udah muak mendengarkan janji-janji manis anda.” Kata Rentenir itu yang tak memperdulikan kesedihan gadis di hadapannya.

“Hikz.. Hikz.. Aku mohon pak, berikan aku waktu.”

“TIDAK!!!” Jawab rentenir itu dengan suara keras, meninggalkan Reva menangis di depan rumahnya.

Gadis itu mengusap air matanya, lalu mencoba menguatkan dirinya dari kesedihan yang menimpanya selama ini.

“Kamu harus kuat Va, kuat uhhh…” Ucapnya sendiri menyemangati dirinya.

Reva berdiri lalu perlahan sambil bermalas-malasan melangkah masuk kedalam rumahnya. Saat didepan pintu, Reva kemudian membuka tasnya untuk mencari kotak kecil tempat menyimpan kunci rumahnya.

Reva terlihat masih berusaha mencari-cari kotak itu namun hasilnya nihil, kemudian dia mulai berfikir tentang terakhir kalinya dia menaruh kotak tersebut.

“KYAAAAA!” Teriak Reva terkejut saat mengingat ternyata kotaknya tertinggal di appartement Al tadi pagi, dan dengan berat hati akhirnya seperti robot diapun membalikkan tubuhnya lalu melangkah keluar pagar rumahnya.

Dengan bermodalkan uang 50ribu satu-satunya yang berada di dompetnya, akhirnya Reva memberanikan diri untuk menghentikan sebuah taksi dan segera menuju ke appartement Al.

Ting… Tong… Ting… Tong!!!

“Hufhhhh, kemana sih nih orang.” Ujar Reva yang berulang kali menekan bel di depan pintu saat sudah tiba di appartement Al.

Beberapa kali reva memencet bel membuatnya harus bersabar menunggu pemiliknya. Cukup lama ia menunggu, akhirnya gadis itu berdiri di samping pintu sambil bersandar di dinding. Kedua matanya menatap kosong dinding di depannya.

10 menit, 15 menit, setengah jam berlalu. Cukup lama Reva menunggu Al tetapi orang tersebut tak kunjung kelihatan batang hidungnya.

Kemudian Reva membuka smartphonenya dan menyesali kenapa dia tak minta no Hp pria itu.

“Huffhhh mana batrey Hpnya tinggal 30% lagi, kemana sih nih orang. Dasar gay!!” Gerutu Reva yang tak sabar menunggu.

~•○●○•~​

Di tempat lain, saat ini Al sedang keluar dari kompleks perumahan Hertasning setelah mengantarkan Nos ke kantor agency.

Al awalnya memutuskan untuk ke rumah kedua orang tuanya, akan tetapi tiba-tiba Al mengingat sesuatu terlupa di apartementnya.

Akhirnya Al memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan segera memutar arah mobilnya menuju jalan A.P. Pettarani.

Al mengingat kejadian semalam di apartementnya, membuatnya tersenyum sendiri dan sangat lekat di ingatannya tubuh seksi, putih, tanpa sehelai benang-pun milik gadis itu.

“Kok aku jadi ke ingat dia yah,” Gumam Al pelan.

Kejadian semalam, Al masih mengingat dengan jelas saat dia memberanikan diri membuka seluruh pakaian Reva karena sudah sangat basah akibat terkena muntahnya sendiri, lama Al menatap tubuh bugil gadis itu membuatnya hampir saja melakukan sesuatu yang menurutnya akan menghancurkan masa depan gadis itu.

Karena malaikat di samping Al sangat kuat membisikkan di telinganya untuk mengurungkan niatnya melakukan hal keji tersebut, akhirnya dia segera meninggalkan apartemennya menuju rumah kedua orang tuanya untuk mengambil sesuatu.

Saat tiba di rumah orang tuanya, Al segera meminjam pakaian ganti sekaligus pakaian tidur wanita ke adik bungsunya. Setelah dibujuk oleh Al bahwa jangan bilang ke ortu mereka, dan tentu saja beberapa lembar uang ratusan ribu akhirnya Al berhasil mendapatkan dua buah lingerie tipis milik Eci. Secepat mingkin Al menuju kembali ke apartemennya.

Saat tiba di kamarnya, Al segera memakaikan lingerie ke gadis itu.

Karena ngantuk, maka Al memutuskan untuk tidur di sebelah Reva sesaat sebelum ia membuka kaosnya dan melemparkannya ke bawah.

Terlihat di wajah Al sangat ceria, ia senyam senyum sendiri mengingat semua kejadian semalam. Sambil melangkahkan kakinya naik ke apartemennya, namun saat tiba di koridor yang menuju ke kamarnya, Al menghentikan langkahnya saat tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok gadis yang sedang duduk selonjoran sambil bersandar di dinding samping pintu dengan lemas.

“Eh, Reva…” Ujar Al, namun tak ada jawaban dari gadis itu. sepertinya gadis itu sudah tertidur menunggu Al.

Al berkongkok dihadapan Reva, lalu menepis rambut gadis itu sedikit yang sempat menutupi wajah cantiknya, kemudian Al mencium keningnya. Reva menggeliat dan langsung terjaga dari tidurnya.

“Eh…” Reva terkejut saat menyadari ternyata ia baru saja tertidur, dan di hadapannya, Al tersenyum menatapnya lembut.

“Kok kamu ada di sini?” Tanya Al mencoba membantu Reva untuk berdiri.

“Astagaa jadi tadi gue nunggu 2 jam.” Reva terkejut saat melihat arloji di lengan kirinya. Wajahnya menampakkan wajah cemberut ke arah Al.

“Jadi kamu udah lama disini?”

“Iya, dan buruan loe buka pintu gih. Ada barang gue ketinggal didalam” Jawab Reva dan segera Al membuka apartemennya.

Secepatnya Reva berlari masuk untuk mengambil kotaknya di dalam kamar pribadi Al. “Hufffhhh, Akhirnya ketemu…” Reva terlihat lega saat kotak itu masih ada di atas meja.

“Udah ketemu?” Tanya Al menghampirinya.

“Nih, gue gak bisa masuk rumah kalau kotak ini hilang tau. Soalnya kunci rumah gue ada di dalamnya” Jawab Reva.

“Mau kemana?” Tanya Al sambil menahan lengan Reva saat gadis itu ingin pamit pulang.

“Mau pulanglah,” Jawab Reva.

“Kenapa gak tinggal disini aja menemaniku?” Tanya Al yang membuat Reva sedikit terkejut.

“Gila apa, masa gue harus tinggal ama cowok yg bukan muhrim gue sih,” Jawab Reva sewot.

“Kan aku juga gak suka ama…” Ujar Al menggantung ucapannya.

“Hehe. Iya sih, loe mah suka-nya ama cowok? Benerkan!”

“Huuuhhh…” Al hanya mendengus, lalu segera menarik lengan Reva untuk duduk disofa.

“Eh, mau ngapain loe?” Tanya Reva.

“Udah… gak usah pulang… mending kamu nemenin aku dulu disini yah, habisnya BT nih kalo tinggal sendiri.” Ujar Al memelas.

Sejenak Reva berfikir mengenai tawaran Al, dan kemungkinan dia tidak akan mampu membayar hutang ayahnya dalam waktu dekat. Dan tentu saja rumahnya akan disita oleh rentenir. Apalagi mengingat duit-pun dia tak punya, akhirnya berlaga berat hati diapun mengangguk mengiyakan tawaran Al.

“Tapi hanya ini malam aja yah, besok gue harus pulang kerumah,” Jawab Reva sedikit jaim.

“Ya udah, makasih yah”

“Sipp, anggap gue kasihan ama loe” Kata Reva.

~•○●○•~​

Di sebuah Apartemen mewah di daerah ibu kota Jakarta, di dalam kamar tampak salah satu sahabat Al bernama Mr. L sedang terbaring di atas ranjang dalam keadaan bugil. Penis panjangnya yang berdiri kokoh, sedang di genggam oleh seseorang yang berada di sampingnya.

“Oughhhtttt…” Desah L masih memejamkan matanya saat orang yang berada disampingnya sudah mengocok lembut penisnya.

Sluurpppp…Sluurppp…!

“Oughhhtttt… sepongan loe nikmat banget sayang.” Desah L tanpa membuka matanya, dan mencoba menikmati kuluman oleh orang itu di penisnya.

Dengan lembutnya orang itu menggelitik ujung penis L memakai lidahnya, kemudian jemarinya menambah rangsangan di kedua bolanya. Perlakuan orang itu membuat L merasakan kenikmatan yang tiada tara.

“Oguuuhhhhh… Haaahhhh…”

Sluuurpppp… Sluurpppp…!!! “Ohhh shiiitttt…. Kontol gue nikmat banget sayang,”

“Buruan masukin aja, gue udah gak tahan”

Orang itu kemudian naik ketubuh L lalu mengangkangi penisnya, sambil memegang penis panjang tersebut kemudian dia mengarahkan kelubangnya.

Sreeekkkk….!

“Oughhhhhtttt… Keseeettt bangeeettt sayanggg,”

Plokkk… Plokkk…! “Anjriiitttt… Nikmat dan hangat lubang loe sayanggg” Erang L menikmati penisnya menggenjot lubang orang itu.

Saat hampir menuju puncaknya, L membuka matanya. Ia melemparkan sebuah senyuman saat mata mereka bertatapan.

“Uuuhhhh… Eh elu toh Nostra, kirain pantat siapa yang gue entot…”

“WHAT???”

“KYAAAAAA!” L tiba-tiba teriak dan tersadar akan sesuatu.

@@@

Zzz

“Hash… Hash… Hash… Ternyata cuma mimpi…” Ujar L yang baru saja terbangun dari tidurnya dan nafasnya naik turun tak karuan.

“Anjrrriiittt… Masa gue mimpi jadi maho sih… Cuihhhh..cuihhh. Najis gue”

Saat L mulai memaki-maki dirinya karena memimpikan hal aneh, tiba-tiba dia tersadar ada yang lain dari dirinya.

Kemudian L meraba selangkangannya…

“KYAAAA!” L makin terkejut karena ternyata penisnya masih berdiri dan celananya basah oleh spermanya sendiri.

Bersambung

END – Rahasia Pribadi Part 4 | Rahasia Pribadi Part 4 – END

(Rahasia Pribadi Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 5)