Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Petualanganku Seorang Diri Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22

Petualanganku Seorang Diri Part 11

Start Petualanganku Seorang Diri Part 11 | Petualanganku Seorang Diri Part 11 Start

Sebelumnya….

“Maaf.. aku gak tau gimana akhirnya aku bisa disini.. ? Apa itu karena kamu..?”

“Kamu di pukul dan dibius oleh teman nya Yudhi… Ivan namanya. Orang bule Indo. Setiap hari kamu terus di tempelkan bius di hidung mu agar kamu tidur. Dan.. Yudhi juga dua teman nya ada tugas di.. di.. wilayah PLTU Banten 2 sana. Mereka itu penjahat negara, mereka menyelundupkan emas batangan ke Arab melalui pelabuhan sana dengan menggunakan tongkang batu bara yang akan di bawa ke Arab sana. Lalu Yudhi dan teman-teman nya membawa aku dan kamu ke wilayah Banten sini. Di Anyer tepat nya. Dan.. sehari sebelum hari penyelundupan itu, kamu.. kamu.. dibuang ke laut oleh orang nya Yudhi.. dan.. dan.. aku gak tau harus apa.. maaf kan aku.. maafkan aku..

aku seharusnya kamu biarkan saja mati dari pada aku hidup tapi aku tak berguna dan hina di hadapan mu. Aku.. akhirnya tau.. kamu orang yang sangat kuat. Biarkan aku pergi, aku gak akan mengganggu hidup kamu lagi mas. Mungkin lebih baik aku menjadi gembel dijalankan, dari pada aku pulang ke rumah bapak. Aku gak mau.. aku mau pergi sendiri. Ini adalah ganjaran yang sangat setimpal atas kebodohan ku.. kesalahan fatal yang aku lakukan.”

“Aku sudah mengungkapkan semua pada mu mas.. aku lega. Beban ku hilang sudah. Kalau pun besok aku harus mati, aku rela dan ikhlas. Atau jika memang aku masih ada umur, aku akan pergi jauh dari sini. Menghabiskan sisa hidupku.. Jadi biarkan aku pergi mas besok pagi, aku tak akan menyalahkan atau membawa-bawa namamu mas. Buatlah seolah-olah aku melarikan diri.”

“Heh.. jangan gila kamu.. itu kamu merusak nama ku sebagai dokter disini. Gak.. kamu gak boleh pergi begitu saja. Kalau pun kamu harus pergi, dengan cara baik-baik. Kamu sembuh dan di jemput keluarga atau kerabat, setidaknya teman mu. Jangan coba kabur, kamu akan akan aku laporkan ke polisi..”

“Tapi mas.. tolong.. aku gak mau nanti Yudhi mendatangi aku lagi.. aku gak mau.. lebih baik aku mati dari pada harus jadi budak nya lagi. Dia penjahat, dia kriminal. Aku.. aku gak mau…”

“Kenapa bukan dari dulu kamu menghindari nya..? Kenapa baru sekarang saat kamu sudah ada di titik terendah dalam hidup mu..?”

“Iya mas.. karena saat ini aku sudah tidak akan lagi mengharapkannya, malah aku menghindari nya. Andai aku punya kemampuan, ingin aku menghabisi nya sendiri. Tapi aku hanya seorang wanita lemah dan dia seorang bekas pasukan elit, dan terakhir aku tau.. dia.. pembunuh bayaran kelas satu di negara ini.. aku hanya dijadikan nya boneka pemuas nafsu hewan nya. Biarlah sekali ini saja aku hidup benar, walau standard kebenaran itu hanya mutlak milik Tuhan, setidak nya aku gak mau menambah dosa ku lagi…”

“Nggak . Itu riskan buat hidup kamu. Kalau itu yang kamu lakukan, percuma aku menolong mu kemarin itu. Aku menolong mu karena, aku memang tidak bisa melihat orang lain atau pasien ku menderita. Mungkin itu yang menuntun aku jadi seorang dokter, jiwaku kuat untuk itu. Dan.. itu pun berlaku pada mu. Walau.. aku sangat membenci mu saat itu. Aku sampai rela melepas semua dunia ku agar aku tidak bertemu lagi dengan kamu dan masa laluku. Tapi ternyata, dengan sangat cepat, aku dipertemukan lagi dengan mu dengan situasi dimana kamu memang sangat memerlukan bantuan ku. Dan.. dan.. jiwaku tak bisa menolak itu, walau hatiku menjerit, aku tetap menolong mu. Jadi, jika kamu tetap memutuskan pergi kabur dari sini diam-diam, dan membuat dirimu menjadi santapan kejahatan diluar sana, untuk apa arti pertolongan ku itu? Apa kamu gak menghargainya lagi..?”

“Maaf kan aku mas.. maaf kan aku, aku lagi-lagi berpikiran sangat bodoh. Aku memang hanya membuat dirimu susah. Jadi aku musti apa..?”

“Tetap disini sampai kamu sembuh.. hargai sedikit pertolongan ku pada mu. Soal Yudhi.. aku pun wajib melindungi semua pasien ku, termasuk juga kamu. Aku pun gak mau kalo seorang kriminal hadir lagi dalam pekerjaan ku, pasti aku akan melawan. Mungkin saat dia antar kamu, aku siap ada disana, dia akan aku hajar. Sayang aku gak sempat bertemu dengan nya, aku memang melihat kamu, tapi saat aku mau mencari dia, dia telah menghilang dengan cepat. Kalau tidak, aku pasti sudah menghajarnya…”

“Jangan mas.. kamu bukan tandingan nya. Dia sangat ahli dalam beladiri dan berperang.”

“Aku gak peduli, biar dia juara dunia berkelahi sekalipun, tetap aku akan menantangnya. Ini menyangkut harga diriku sebagai lelaki.. aku gak akan mundur…”

“Kamu.. kamu.. hahhh.. jangan kamu korbankan dirimu. Biarlah aku menerima nya akibat dari kesalahan ku ini. Kamu harus mulai semua hidup mu lagi.. banyak yang masih mendukung mu. Dan.. dan.. yang masih lebih pantas mendampingi mu..”

“Ya, terima kasih atas saran mu. Tapi selama kamu disini, kamu tetap dalam tanggung jawabku. Tapi setelah kamu pergi, kamu bebas. Aku gak akan menahan kamu lagi..”

“Terima kasih mas.. maaf kan aku atas rencana ku tadi. Aku sudah putus asa dan habis.. maafkan aku..”

Lanjutannya….

Aryo keluar dari ruangan IGD. Melangkah ke luar dan saat pak Amin pun muncul dari samping.

“Eh.. mas dokter… Kirain dah pulang..”

“Iya pak Amin.. saya barusan selesai tadi ada bicara sedikit dengan pasien wanita itu. Tapi sudah sih…”

“Iya mas, dia seperti orang frustasi. Ada banyak pikiran sepertinya… “

“Iya pak Amin.. tapi saya udah kasih arahan. Pak Amin tolong titip pesan sama kang Surpan, pasien tolong di tengkuk sesekali yah. Dan.. kalau ada tanda-tanda yang gak lazim pada pasien, tolong hubungin saya ya pak. Ini saya udah di pinjami hp sama Bu dokter.. “

Aryo memberikan nomor nya pada pak Amin.

“Ya mas dokter. Nomor mas dokter saya simpan…”

“Saya permisi ya pak.. Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

Aryo berjalan meninggalkan puskesmas.

Lima belas menit kemudian ia telah tiba di rumah Mira. Hari sudah gelap. Sudah lewat waktu Isya..

Tok.. tok.. tok..

“Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

terdengar suara jawaban wanita.

Pintu terbuka..

“Mas… Ayo masuk…”

Aryo masuk rumah.

“Mas.. ayo mandi dulu. Nanti aku siapin makan yah..”

Mira masuk dan menyiapkan baju Aryo. Mira pun di berikan bungkusan yang Aryo bawa.

“Ini apa mas… Eh.. ini kan baju baru.. mas beli baju baru..?”

“Bukan Mir.. besok mas mau ketemu pak Bupati mengenai pekerjaan yang di puskesmas. Mau aku ceritain sekarang apa nanti..”

“Eh.. nanti aja cerita nya.. mas mandi dan makan dulu deh..”

Lalu Aryo tidak lama segera mandi, saat selesai mandi, sudah tersedia makanan hangat di meja makan. Aryo pun makan di temani Mira.

“Mir.. besok aku mau ketemu sama pak Bupati, sehabis praktek di puskesmas. Juga besok siang, teman baik aku dan rekanan aku di klinik, namanya Yulianto, dia akan datang juga bawa dokumen kedokteran punya ku Mir. Itu penting karena tanpa itu aku masih belum bisa kerja secara full di puskesmas sini.”

“Oh.. Mira mendoakan kamu sukses ya mas. Tapi besok kamu menghadap bupati pakai baju apa..?

“Itu.. plastik yang tadi aku bawa Mir.. itu baju dan celana yang di belikan Bu dokter buat aku. Karena aku juga diminta Bu dokter untuk bisa meyakinkan pak Bupati supaya perjodohan Bu dokter dengan teman ayah nya itu bisa batal, atau setidaknya di undur. Aku juga mendukung Bu dokter, karena aku sangat menentang dengan perjodohan. Ini lah.. ini lelaki yang di jodohkan. Kamu liat kan gimana akibat nya? Hampir saja aku gak bisa melihat matahari lagi, untung ada Pe’i dan khusus nya kamu yang menyelamatkan aku. Kalau tidak, aku gak mungkin ada sampai saat ini..”

“Mas… Maaf kan aku. Aku belum bisa mendukung kamu buat menyiapkan kepantasan buat kamu saat menghadapi moment penting dalam hidup mu… Aku.. Aku.. sadar siapa aku ini…”

Mira menunduk..

“Eh… Ssstt.. jangan omong gitu… Aku tetap mau kamu yang utama. Kamu menolong aku dengan ikhlas, sedang yang lain ada keinginan nya di balik itu walau aku pun gak keberatan. Bagaimana juga, kamu orang yang pertama harus merasakan keberhasilan ku nanti nya. Bukan siapa pun… Karena kamu lah calon istri ku dan kelak jadi ibu dari anak-anak ku..”

“Ii.. ya.. mas.. aku bahagia denger nya.. aku gak nuntut kamu mas.. kamu masih memberikan aku kesempatan pun aku sudah cukup. Aku gak merasa harus mempunyai semua kesuksesan mu kelak, itu berbalik pada mu kok mas.. tapi kamu mau bertanggung jawab saja, aku sudah puas…”

“Ya sayang… Aku akan tetap ada buat kamu..”

“He em.. yuk mas pindah. Biar piring nya aku beresin…”

“Iya deh.. aku ke kursi tamu aja…”

Mira membereskan piring dan bekas makan Aryo. Aryo pindah ke kursi ruang tamu. Dia teringat akan hp pinjaman dari Mila. Dia ambil dan segera memeriksa nya..

Ada SMS dari Yulianto yang mengatakan dia sudah jalan dari Purwokerto. Tidak dijelaskan dengan siapa. Lalu juga SMS dari dokter Mila. Walau isi SMS nya menanyakan keadaan Aryo, tapi Aryo enggan menjawab. Dia tidak mau moment bersama Mira jadi terganggu.

Mira kembali dari beberes dan duduk di kursi panjang itu.

“Mas ada hape..?”

“Iya Mir, di pinjam pakai sama Bu dokter. Ini juga sudah tidak dipakai oleh nya. Aku tadi beli SIM perdana untuk telpon Yulianto, terus di pinjamkan pesawat ini. Aku akan kembalikan jika urusan besok sudah selesai. Bagaimana pun ini bukan milik ku…”

Mira terdiam.. tapi Aryo segera menyadari sesuatu.

Aryo menggeser tubuhnya merapat ke Mira lalu merengkuh tubuh nya merapat ke dada nya.

“Jangan minder ya sayang… Buat aku, kamu yang terutama. Eh.. ini tadi ada uang, aku pinjam dari pasien wanita di puskesmas. Pe’i juga tau. Si pasien pas tau keadaan ku hendak membantu aku dengan uang nya, tapi aku tolak, tapi dia paksa, ya aku terima untuk beli SIM card, sisa nya aku kasih buat calon istriku. Dan aku sudah bilang padanya, akan mengembalikan padanya plus bunga nya. Maaf ya yang, aku belum bisa kasih dalam jumlah yang pantas saat ini..”

“Nggak mas, kamu belum wajib apapun. Kan kita belum nikah. Kalau udah nikah, kamu bisa dan harus menafkahi aku. Saat ini belum lah…”

“Iya benar. Tapi ini kamu ambil yah..”

“Buat apa ini..?”

“Buat kamu lah dan keperluan disini.. ayo lah sayang…”

“Ya udah aku terima, ini aku anggap pemberian atau titipan calon aku. Karena aku gak akan pakai kalau aku gak terpaksa sekali. Dan aku pasti izin kamu..”

“Kok ribet amat Mir… Di mana-mana wanita di kasih uang akan sangat senang dan dengan kalap belanja, kok Mira malah beda yah??”

“Iya lah aku paham. Mas nya kasih bukan dari kelebihan tapi dari kekurangan dan hutang. Jelas beda sayang…”

“Aku makin sayang sama kamu… eh.. aku juga mau omong sesuatu. Tapi aku bingung.. tapi udah lah.. aku mau Mira juga tau.. sebenar nya sejak kemarin, aku dan dokter Mila di puskesmas itu, telah merawat pasien wanita yang luka tembak itu. Ya… Wanita itu adalah Ayu Astuti, istri ku yang mengkhianati aku. Aku sudah menyadari nya sejak dia masuk puskesmas di bawa oleh lelaki pacar nya itu. Kondisinya sangat kritis.. aku sebenar nya sangat murka padanya dan lelaki nya. Sayang lelaki nya keburu pergi sebelum sempat aku bertindak. Tapi, jiwa kedokteran ku mengalahkan amarah ku. Terpaksa kemarin aku menolong nyawa nya dan memberikan darah ku padanya. Aku gak sampai hati melihat kondisi nya, walau aku pun hampir mati seperti dirinya kemarin..”

Mira tercengang sampai membelalakkan mata nya..

“Iya, dia luka parah akibat kejadian di PLTU Banten 2 kemarin lusa. Dan tadi aku sempat bicara juga dengan nya, aku akan melepas dia begitu keadaan dia membaik. Tapi satu sisi aku jika memproses cerai, maka aku akan muncul ke umum, aku akan mudah di ketemukan keluarga ku, aku gak mau. Yang aku tetap membiarkan saja, orang-orang gak ada yang tau status ku. Tapi kalau dia bocorkan, aku akan lapor polisi atas segala tindakan nya pada ku…”

Mira diam..

“Ternyata kamu lelaki hebat mas. Jiwa kemanusiaan dan kepedulian kamu mengalahkan ego mu. Kamu lebih peduli pada sesama dibanding kepentingan pribadi kamu. Aku jadi tau, kenapa kamu segera bisa di terima dengan sangat baik di sini, di puskesmas bahkan dokter Mila yang sombong pun sampai mau mendandani mu walau ini ada juga kepentingan dirinya disana. Kalau aku pikir, apa kurang nya dokter Mila? Semua dia punya kok dan terjamin. Tapi demi hanya untuk bisa bekerja lebih lama dia rela menyusahkan dirinya untuk kamu. Apa sebelum kamu datang, pilihan ini ada buat dia? Aku pikir gak ada pilihan lain untuk nya saat itu, dan saat kamu datang dan bisa dia terima, akhirnya pilihan dan kemungkinan itu datang, dan dia bisa bekerjasama dengan mas nya dengan baik kan..?”

“Iya Mir.. pikiran kamu kayanya yang paling tepat. Dan disaat yang sama aku pun membutuhkan pekerjaan itu jadi aku pun mau memperjuangkan dia dan aku.”

“Ya mas… Aku tau aku mungkin gak akan bisa seperti Mila yang akan memperjuangkan untuk kebahagiaanmu..”

“Nggak.. nggak.. semua yang aku perjuangkan ini buat kamu, buat kita, dan keluarga kita. Percaya ama aku kan Mir..?”

kata Aryo sambil merapatkan badan nya dan merengkuh Mira masuk dalam dekapannya.

Sejenak kedua nya diam. Mira merapatkan wajahnya ke dada Aryo.

“Mas.. aku bahagia sekali. Biarlah, saat kamu disini, kamu milikku. Karena kalau kamu di luar sana, pikiran dan perasaan mu pasti terbagi untuk pekerjaan dan kepentingan orang lain. Aku gak tau dan gak mau tau dulu saat ini, sebab aku sangat ingin dirimu saat malam ini mas…”

“Ya sayang.. aku ada kok… Kamu mau apa saat ini..?”

“Aku mau dede.. aku mau yang selalu bisa menjadi bukti kasih dan sayang kita. Dan… Biar kamu gak lupain aku…”

“Kamu akan aku kasih.. dan aku akan tetap terikat pada mu…”

“Ayo mas.. kita ke kamar saja… Aku mau pijat kamu, biar besok kamu segar. Kan besok hari yang penting buat kamu..”

“Ayo.. siapa nolak…”

Aryo dan Mira masuk ke kamar.

“Mas.. kamu tidur dan buka pakaian yah. Biar aku siapin minyak dulu..”

“Oke..”

Aryo meloloskan semua pakaian yang melekat di tubuh nya. Mira keluar kamar. Selang 5 menit Mira kembali dengan semangkuk minyak yang harum. Dan Mira juga hanya memakai sarung menutupi tubuh nya. Pakaian daster yang tadi ia kenakan telah di lepaskan semua.

Mira meminta Aryo menelungkup.

Lalu membalurkan minyak yang ia bawa ke punggung dan bahu Aryo. Lalu dengan telaten mulai memijat. Dimulai dari leher belakang, dengan ibu jari menekan mulai belakang telinga, dan di tarik turun terus berbelok ke pundak. Berulang dilakukan kiri kanan dengan tekanan. Lalu ibu jari kiri kanan bersama menekan dari sambungan tengkorak belakang di tarik sampai sambungan leher. Aryo merasakan kenyamanan yang amat sangat ditambah lagi minyak itu menguarkan aroma harum yang lembut dan juga mengandung menthol yang membuat hangat.

Setelah beberapa saat, Mira memijat dengan ibu jari menekan pundak belakang sedang ke empat jari lain meremas pundak depan, seperti gerakan meremas. Ini sungguh melonggarkan otot pundak. Aryo sampai merenung. Sungguh dia merasa sangat di layani oleh seorang istri. Mira pun berpikiran, dia saat ini melayani suami nya seperti yang pernah dia lakukan juga pada almarhum suaminya dulu.

Hal itu membuat Mira sempat menitikkan air mata, tapi segera dia hapus, dia tak ingin Aryo tau dan jadi kepikiran.

“Mas…”

“Ya sayang…”

“Maaf kan aku yah… Aku hanya bisa membuat ini padamu untuk mempersiapkan diri mu. Seharusnya kamu di pijat oleh profesional agar hasil nya maksimal, tapi saat ini aku hanya dapat melakukan nya sendiri dengan keterbatasan kemampuan ku..”

“Kamu omong apa sih sayang..? Justru ini jadi dambaan dan impian semua suami yang normal menurut aku. Dipijat dengan rasa cinta dan sayang. Bukan hanya untuk sekedar hasil jasmani, tapi batin ku saat ini terpuaskan sayang.. aku tak pernah memikirkan di pijat orang lain, biar profesional..”

Mira pindah pijatan nya ke punggung, lalu pinggang. Lalu pinggul dan paha sampai ke kaki seluruh nya. Selesai itu, Mira bergeser ke pinggir dan mengambil tangan Aryo. Lalu memijat nya mulai telapak, lengan terus ke atas. Kiri kanan dia pijat. Tampak nafas Mira sedikit berat.

Setelah selesai, Mira meminta Aryo berbalik terlentang. Aryo dapat melihat Mira saat ini. Tubuh nya telah nampak licin berkeringat. Jelas Mira menguatkan cukup banyak energi untuk memijat Aryo.

Aryo memandangi tanpa lepas. Hati nya sangat bahagia akan hal ini.

Saat Mira sampai pada selangkangan Aryo, Mira memijat batang yang telah keras itu dengan sangat lembut. Pijatan dan remasan dia lakukan denga lembut tapi mantap. Testis Aryo juga di remas dan di pijat melingkar. Hal ini membuat penis Aryo makin menegang maksimal, tapi tidak terasa terlalu sensitif. Remasan yang dilakukan Mira, malah membuat terasa aliran darah ke batang itu lancar dan membuat nya menjadi hangat.

Mira menyudahi pijatan nya. Lalu menyeka minyak di seluruh tubuh Aryo dengan handuk basah yang hangat. Nafas Mira terdengar memburu. Lalu Mira beranjak keluar kamar. Selang 5 menit, ia kembali lagi tapi telah membuka sarung, tidak lagi di lilit di dada, tapi saat ini telah di pakai menutupi tubuh hanya menyisakan kepala yang terlihat. Dan ujung sarung di genggam dengan tangan kanan.

Aryo duduk bersila di atas kasur dan tersenyum. Mira naik ke atas kasur dan bersimpuh di depan Aryo. Seperti nya Mira sempat membasuh keringat di tubuh nya, karena nampak tubuh nya masih sedikit basah.

“Mas.. sekarang, kamu puasi aku yah. Jangan ragu, kamu telah siap. Besok pun stamina mu gak akan berkurang. Aku mau malam ini kita memadu kasih sepuas nya… Dan membuat aku mengandung anak mu. Aku sedang subur mas.. dan aku sangat bergairah sejak tadi.. lakukan lah dengan lembut ya sayang…”

Mira membuka sarung nya, dan dibalik itu dia sudah tak ada sehelai benang pun. Dia duduk menghadap Aryo. Payudara nya yang besar, menjuntai indah. Tak dapat di kepal dengan satu tangan, puting yang telah mengeras sempurna.

Aryo dengan lembut maju dan wajah ke dua nya menempel lembut. Kecupan tipis Aryo menyentuh lembut bibir Mira.

Mira menyambut nya dengan membuka mulut nya dan menerima lumatan Aryo. Mulut saling menempel, lidah saling bertemu. Nafas lambat laun mulai memburu.

Mira merangkulkan tangan nya ke leher Aryo, dan menarik kepala Aryo makin merapat ke wajahnya. Tangan Aryo mengelus punggung Mira, mengusap dengan penuh gairah. Lalu Aryo melepas lumayan nya, mulut nya turun menyasar leher Mira. Mira mendesah penuh gairah, sambil meremas kedua lengan atas Aryo.

Eehhssshh… Aaahhhhh….

Hhooosshh…. Hoosshhh…

Aryo menciumi dan terus menyasar leher dan dagu Mira.. lalu merayap turun ke dada Mira. Tangan nya mulai meraba gunung besar putih dan keras. Aryo mencium dan menjilat semua area gunung itu kiri dan kanan hanya puncak nya tidak di sentuh sama sekali. Mira meracau…

Aaaaiiihh… Eeiiihhh… Teruss… iyaahhh…

mass… ku… saayaaangg… eeiiihhh…

Mira menggeliat, mengerang, dan akhir nya mencambak kepala Aryo. Lalu memaksa Aryo mengarahkan ke puting gunung kembar nya yang putih tanpa noda. Saking putih nya, urat-urat halus terlihat jelas di sekitar lereng dan puncak gunung kenikmatan itu.

Aryo akhir nya mencaplok puting yang kiri dan memelintir puting kanan nya. Aryo menyedot dengan lembut penuh perasaan. Menyedot pelan tanpa terburu-buru. Lalu pindah ke gunung satunya. Kembali Aryo menyedot lembut. Terdengar suara lembut pembangkit gairah..

slrrppp.. srruupp.. slruuupp… cleepp..

eeuugghh… oouughh… eeggghhh …. ooohhh… iiiihhh… eesssshh…. oussshhh…

Puting itu basah dan makin kaku menegang.. habis di lumat oleh Aryo… Kilat puting itu makin jelas, Aryo makin lama makin cepat dan keras melumat puncak gunung indah itu. Aryo sangat suka menyusu di gunung indah nan segar. Remasan nya pun makin keras, makin meremas gemas.. ia memencet dengan keras.. lambat laun gunung itu sedikit bersemu kemerahan akibat di remas keras oleh Aryo…

Mira berkeringat, nafas nya memburu cepat. Aryo tak mengendurkan cumbuannya, malah semakin ganas. Mira memegang gunung kiri nya dan menempelkan ke mulut Aryo.

iinniihh… masss… hisaapphh… keraaasss…

teeruuss.. remass.. ayyoohh… maasss.. eeeiihh… susuii.. Miraa.. teruusss… tetek ku kangenn kamuu mass.. teruusss… biaarr tetekk.. kuuhh.. ma.. kinn.. besaarr..

Aryo menuruti Mira.. dia hisap sekeras nya, dan meremas satunya dengan kerass..

Mira makin menggeliat penuh kenikmatan.. kedua gunung itu seakan mengembang makin besar, makin mengeras sempurna..

Aryo lebih dari setengah jam hanya menyedot dan melumat susu montok Mira. Dan Mira terus menerus mengerang kenilmatan. Sudah beberapa kali cairan gairah nya memancar keluar dari liang vagina nya. Tapi gairah nya tidak mengendur bahkan tetap tinggi dan makin tinggi.

Mira tak tahan, tangan nya kirinya turun dan mengusap lubang vagina nya yang merah dan basah. Dia mengusap kelentit nya yang telah mengeras sebesar ujung jari kelingking.

Aryo yang mengetahui nya, makin menindih Mira dan tangan nya ikut meraba dan mengusap kelentit Mira. Pinggul Mira diangkat tinggi akibat nikmat nya rangsangan yang dia dapatkan.

Lalu mulut Aryo berpindah, dan menyasar pada vagina tembem Mira yang berbulu tipis. Dimulai dari mengecup lembut, lalu lidah nya menjilat vagina itu juga kelentit yang telah mengeras maksimal..

iiiihhhh…aaaaiiihh… eeeeaahhh… ooohhh…

eennaakkhh…. eennaakkhh… nikkmaatthh…

maasss… Miraa… gak taahhaann.. masss..

aayyoohhh… masukkan.. massuukk… akuhh.. gak tahaann…

Mira menarik kepala Aryo agar naik. Aryo naik ke atas tubuh Mira. Aryo mendekatkan batang penis nya ke lubang vagina Mira. Lubang pembiakannya telah sangat siap. Hangat, basah dan merekah sempurna. Syaraf-syaraf di sekitar nya terasa sangat sensitif dan hanya menghasilkan rasa nikmat yang tiada tara…

Penis Aryo yang sejak tadi telah mengeras sempurna dan tegak dengan gagah nya, mulai menerobos hangat nya lubang sempit dan telah matang itu. Vagina ini, walau dimiliki wanita matang tapi telah lama tak di terobos oleh penis keras milik siapapun selain almarhum suami nya yang telah meninggalkan nya lebih lima tahun lalu. Disamping anak Mira pun telah besar dan hanya satu orang, membuat lubang kenikmatan ini sungguh sempit dan sangat meremas.

Lenguhan Aryo dan desahan Mira terdengar jelas saat penis jantan itu masuk ke lubang sang betina nya. Sungguh kegiatan kawin yang sangat indah. Di ikuti rasa nikmat dan nyaman yanguar biasa dirasakan kedua nya.

slleebb… slleebb…

Aaahhhhh… aaiiihhhh… uuugghh…. maasss.. akkuu.. ciiintaa… kammuu…

aaaoohh… eesssshh… uuuhhh…

Miraa… isstrrii ku…

Batang penis itu telah masuk sempurna di sarang hangat nya.. terasa denyutan penis itu di sambut dengan remasan dari lubang hangat nya.. jiwa dan raga telah menjadi satu, satu tubuh, satu perasaan, satu gairah dan menuju satu puncak kenikmatan dan kepuasan.

Tak ada lagi yang bisa memisahkan bersatu nya mereka saat ini. Semua organ kawin nya berfungsi sempurna. Hanya kepuasan yang dirasa ke dua nya. Padahal, belum sekalipun Aryo mulai memompa penis nya, tapi ini telah membuat kedua nya menikmati bersatu nya rasa dan jiwa mereka.

Mira memeluk erat Aryo, Aryo merapatkan seluruh tubuhnya ke tubuh Mira. Denyut dan remasan kelamin kawin mereka saling beradu dengan penuh kelembutan. Bibir saling melumat begitu mesra nya. Ya, hanya itu yang dilakukan kedua nya. Saling menikmati tubuh satu sama lainnya.

Mira melepas bibir Aryo..

“Mas.. lakukan tugas mu sayang… Buahi aku sekarang.. berikan aku benih cintamu. Isi rahimku dengan bayi kita. Aku ingin mempunyai anak mu mas… Aku ingin memberikan untuk mu…”

“Ya sayang ku.. aku akan menyirami rahim mu, membuahi telur mu, dan mengisi nya dengan buah cinta kita.. nikmati lah sayang.. aku ingin menjadikan kamu ibu dari anak kita.. aku mulai ya Mir…”

Mira mengangguk sambil mata nya menyipit dan bibir nya membuka dengan senyum merekah.

Aryo menarik batang nya dengan lembut, sampai leher batang, kembali di tekan masuk sedalam-dalam nya. Disambut dengan lonjakan pinggul Mira yang di tekan ke atas dan teriakan halus Mira.

iiiihhhh… iiissshh… aaahhhhh… menn.. tookkh… uuugghh…

terr.. uusss… tee.. ruusss… iyaahhh.. iyahh..

haaiisshh.. hoshh… aaaoohh…

Mata mendelik, mulut menganga, tangan nya meremas lengan gagah Aryo, kaki di buka selebar-lebarnya ..

plokk.. plokk.. plokk.. clookk.. crookk…

Kelamin beradu dengan erotis nya. Sodokan mantap Aryo di sambut lonjakan pinggul Mira. Basah dan licin terlihat batang itu keluar masuk dengan mantap.

Aryo menundukkan tubuh, melumat habis bibir Mira, menyedot dengan ganas. Mira pun menyambut dengan panas dan penuh gairah membara.

Mira membusungkan dadanya, Aryo segera mencaplok gunung putih indah itu dan memasukkan sedalam nya ke mulut nya. Memilin puting keras nya dengan lidah nya, dan menggigit-gigit halus kemudian menggesek kan nya di sepanjang gigi nya. Mira makin menggeliat, laksana menangis.. menangis dalam kenikmatan yang amat sangat…

Lebih setengah jam terus berpacu tanpa merubah posisi. Aryo sangat menikmati posisi ini, dia merasa sangat menguasai pasangan nya, dan langsung dapat melihat ekspresi orang yang dikasihi nya itu.

Peluh telah membasahi ke dua nya. Kilat basah itu sangat membuat gairah siapapun yang melihat. Gairah yang di selimuti rasa sayang, membuat semua dilakukan sepenuh hati dan segenap jiwa

Puas menyusu, Aryo kembali menciumi wajah Mira. Dan sesaat kemudian, dia tegakkan badan nya, dan memegang pinggang Mira kiri kanan. Dia ingin segera mengejar puncak gairah nya.

Mira memegang tangan Aryo.

Aryo mengocok cepat… cepat… makin cepat.. makin cepat… dan sangat cepaaat…

plokk.. plokk.. plokk.. plokk.. plokk.. plokk..

clokk.. clokk.. clokk.. clokk.. clokk.. clokk..

aaahhhhh.. aaaahhh… aaahhhhh… aaahhh…

aa.. aaa.. aaa… aaasshh… aagghh… aaash…

iieehh… iaaahh.. oosshh… oosshh… ooohhh..

maaaassss… maaaassss… aakkuu.. aak.. uu.. maauu.. samm… peehh…

Mira berteriak, wajah nya menegang.. tangannya meremas lengan Aryoo..

iyyaa.. akuu.. ju.. gaaa.. aku… mauu.. ke.. luaarr… teriimaa.. aakkuu… ssaayyaangg..

Aaaoohh.. oouughh… ggrrhhh…

croott… croott… croott.. croott… croott..

srrtt… srrtt.. ssrrttt… srrtt… ssrrttt…

Kedua bersatu, memeluk erat, penis ditanam sejauh-jauhnya dan menambrak telak gerbang rahim Mira..

Rasa, gairah, nafsu dan cinta menyatu sempurna. Tak mau di pisah, tak terpisahkan.

Diam.. terdiam.. sunyi…

Nafas memburu.. keringat mengucur.. rambut, tubuh dan sekujur tubuh basah oleh cairan lambang ke gairahan..

semenit.. diam..

lemas.. melemah… tersungkur…

Aryo melihat Mira, Mira menatap Aryo. Jelas rasa itu, rasa puas yang teramat sangat. Dan ditambah rasa sayang yang mendalam..

Aryo tetap membiarkan batang nya bersarang dengan nyaman nya pada liang hangat dan indah itu

Tak terlihat kelelahan pada Aryo..

Tapi menyisakan keletihan yang sangat pada Mira.. tapi rasa puas menutupi semua keletihan dan kelelahan dari persetubuhan ini..

Mira tersenyum manis.. ia tau.. pijatan nya memang masih terbukti ampuh membuat lelaki nya perkasa. Dia pun sangat menikmati kejantanan itu.

Aryo mengangkat tubuh nya. Mengecup kening Mira, dan membuat Mira nyaman dan aman.

Orgasme tubuh, dan orgasme jiwa di capai nya dengan maksimal..

Aryo membelai kepala Mira, Mira mengusap dada Aryo..

“Mir.. aku sayang kamu.. aku akan mendapat anak dari mu, sayang…”

“Ya mass.. hangat, penuh, mengalir masuk rahim ku mas.. rahim ku terasa berdenyut.. aku tau.. dia telah gembira, disirami benih seorang perkasa milik mu.. aku.. pastii.. jadi.. ibu lagi.. ibu dari anak mu.. sayang..”

Mata kedua nya berbicara..

Dan… Lalu menutup mata… terlelap.. dalam damai…

Bersambung

END – Petualanganku Seorang Diri Part 11 | Petualanganku Seorang Diri Part 11 – END

(Petualanganku Seorang Diri Part 10)Sebelumnya | Selanjutnya(Petualanganku Seorang Diri Part 12)