Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 17

Cerita Dewasa Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 9

Cerita Dewasa Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 9

DIMULAI DENGAN CINTA DITUTUP DENGAN..​

Pov Angger

Wahhh.. orientasi yang menarik.. tugas – tugasnya pun, semua ada maksud dan tujuannya.. semua tugas yang diberikan panitia, sangat bermanfaat bagi kami para mahasiswa baru, sebagai bekal kami ketika akan memulai kuliah.. dan orientasi ini juga, disiapkan sebagai modal kami nanti ketika akan berkecimpung di dunia kerja..

Dan apabila kami melakukan suatu kesalahan.. hukumannya pun ga begitu berat.. paling kami hanya disuruh berlari, bernyanyi, menggombal panitia atau maba.. dan hukuman yang paling berat, hanya disuruh push up.. cukup sampai disitu saja.. tidak ada kontak fisik sama sekali..

Kami semua mahasiswa baru pun, dibuat enjoy dengan semua kegiatan yang disiapkan panitia.. tidak ada ketegangan sedikitpun selama kegiatan orientasi ini.. kami semua tertawa dan bersenang – senang sambil diperkenalkan kehidupan kampus..

Walaupun tidak ada kekerasan, kami para mahasiswa baru sangat menghormati para panitia.. ini nih, orientasi dijaman milenial.. ga perlu ada kekerasaan.. sudah ga jaman kekerasan seperti itu.. kami dan para panitiapun seperti berteman saja, tapi dengan batasan – batasan yang kami jaga..

Dan ini sudah hari ketiga kami mengikuti orientasi dikampus ini.. dan kami sekarang sedang istirahat siang.. aku. Lia, Rogi dan Dylanpun sedang berkumpul..Lia sudah ga begitu marah denganku.. tapi seperti masih ada yang mengganjal dihatinya.. mungkin setelah selesai kegiatan ini, aku akan berbicara empat mata dengannya.. aku ingin semua baik – baik saja dengannya.. dan aku ingin memulai kuliah ini dengannya dengan hati yang sama – sama senang..


AnggeLia Putri Aldo​

“orientasinya enak ya..? ga seperti dikampus teknik kita..” ucap Dylan membuka omongan..

“iya.. disana pakai dipukul dan diinjak – injak..” sahut Rogi..

“iya loh.. hari pertama ospek aku kan lewat depan kampus teknik kita.. sadis banget.. semua maba yang laki – laki dihajar sampai tertidur dijalanan depan kampus.. sedangkan yang maba perempuan, disuruh jumping jack didalam pagar.. untung kita ga kuliah dikampus teknik kita..” ucap Lia menyahut..

“beda kampus beda juga cara pengenalan kampusnya..” ucapku lalu aku mengeluarkan permen lolipopku dan aku langsung mengemutnya..

“tapi kan ga perlu kekerasan Mas..” sahut Lia..

“betul ya’.. buktinya, walaupun ga pakai kekerasan.. disini bisa, enak lagi..” ucap Dylan..

“mungkin kita menganggapnya enak kuliah disini, tapi bagi mahasiswa baru kampus teknik kita, mungkin lebih enak kuliah disana..” ucapku..

“kekerasan kok enak.. aneh kamu itu ngger..” sahut Rogi..

“kekerasan itu kadang diperlukan juga sih.. karena kehidupan itu ga semulus apa yang kita pikirkan.. dan kalau menurutku.. mungkin kekerasan dikampus teknik kita itu, untuk membangun mental mereka supaya siap menghadapi kehidupan yang keras setelah lulus nanti.. dan kekerasan itu juga, menurutku membangun kebersamaan sesama mahasiswa baru dikampus itu.. mereka lebih kompak dan lebih memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat.. dan mereka akan lebih mengormati seniornya..” ucapku..

“dikampus negeri tempat kita ini, disiapkan untuk lulus dan menghadapi dunia kerja loh Mas.. dan ga pakai kekerasan.. dan buktinya itu bisa..” ucap Lia..

“dunia kerja itu ga melulu dibalik meja ya’.. apalagi seperti kita teknik sipil.. kalau kena dilapangan.. mental yang berbicara ya’.. hehehehe..” ucapku lalu tertawa..

“aku tertarik dengan kekerasan untuk membangun kebersamaan yang kamu ucapkan tadi itu ngger.. bagiku untuk membangun kebersamaan, ga perlu kekerasan juga bisa kok.. buktinya kelompok kita ini bisa bersama seperti ini..” ucap Rogi..

“iya hanya berkelompok saja.. bukan satu angkatan.. coba kamu lihat teman – teman kita yang lain, ga berkumpul jadi satu kan..? ada yang disana, disana dan disana..” ucapku sambil menunjuk kelompok kelompok kecil disekitar kami..

“terus kalau masalah menghormati senior itu maksudnya gimana ngger..? kita loh juga masih menghormati senior kita walaupun tidak dikerasin..” ucap Dylan..

“Dylan yang paling ganteng sekolam lele.. coba tolong jawab pertanyaanku ya..”

“dikampus kita ini, berapa persentasi mahasiswa yang berasal dari SMU dan yang berasal dari SMK..? bandingkan dengan kampus teknik kita.. banyakan dari SMU apa SMK..? terus tingkat solidaritasnya kuat mana..? kehidupannya keras mana..?” tanyaku ke Dylan..

“terus apa hungannya dengan menghormati senior sih..?” Tanya Dylan lagi..

“solidaritas dan kehidupan yang keras, dengan sendirinya membangun rasa hormat kepada tingkatan – tingkatan yang ada dilingkungan itu.. tapi itu menurutku sih.. karena setiap kepala, pasti beda pemikiran.. hehehehe..” ucapku lalu tertawa lagi..

“tapi intinya.. semua kegiatan orientasi baik disini ataupun disana, itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya.. dan kalau itu diperdebatkan.. mungkin nunggu hutang Negara khayangan ini lunas, baru selesai perdebatan itu..” ucapku lalu aku mengemut permenku lagi..

“assuuu.. berarti ga selesai – selesai dong..” ucap Rogi sambil menggelengkan kepalanya..

“sudah ah.. bahas yang lain aja kenapa..?” ucap Lia kepada kami bertiga..

Dan ketika kami terdiam sejenak.. seorang wanita berhijab lewat didepan kami.. loh ini kan wanita yang kemarin aku lihat.. dia maba juga toh.. aku sempat melihat wajah wanita itu sebentar dan dia melihat kearahku lalu menunduk dan terus berjalan.. aku pun sempat melihat papan nama didadanya…

Kaila Zahra​

Nama wanita itu bernama Kaila Zahra dan dia mahasiwa baru jurusan informatika..

“ehem..” ucap Dylan dan aku langsung melihat kearahnya.. Dylan hanya memberi kode agar aku melihat kearah Lia..

Aku lalu melihat kearah Lia dan dia sedang memalingkan wajahnya, menatap kearah yang lain..

Duhhh.. kenapa Lia ini..? Masa ngambek lagi sih..? yang kemarin aja belum selesai kok sekarang ngambek lagi sih..?

“ya’..” panggilku..

“hem..” ucap Lia dan tidak menoleh kearahku..

Aku lalu melihat kearah Rogi dan Dylan.. mereka berdua hanya mengangkat kedua bahunya bersama..

“aku kekamar mandi dulu ya..” ucap Dylan langsung berdiri..

“aku juga ah..” ucap Rogi dan dia berdiri juga.. lalu dengan cueknya mereka berdua langsung meninggalkan aku dan Lia…

Duuhhh.. kenapa juga sih mereka meninggalkan aku dan Lia dikondisi seperti ini..? jadi tambah ga enak aku sama teman – temanku ini..

Dan Lia pun terlihat ingin berdiri juga, tapi aku langsung menahan tangannya..

“mau kemana ya..’?” tanyaku sambil menggengam punggung tangan kanannya dengan tangan kiriku..

“kekamar mandi..” jawab Lia dan tetap tidak melihat kearahku..

“ya..’” panggilku sambil melihat kepala belakangnya, karena dia terus melihat kearah yang lain.. dan aku masih terus memegang punggung tangan kanannya.. tangan kirinya pun diangkat lalu menutupi mulutnya..

“Angelia Putri Aldo..” panggilku lagi lalu perlahan aku membalikkan punggung tangan kanan lia, lalu aku genggam telapak tangannya itu dengan erat .. tidak ada penolakan sama sekali dari Lia.. dan aku merasa Lia juga membalas gengaman tanganku ini..

Liapun langsung menunduk dan perlahan dia langsung menolehkan wajahnya kearahku lalu menatapku.. tiba – tiba aku diam terpaku melihat tatapan mata Lia itu.. matanya terlihat sangat tajam menatapku.. tapi bukan itu yang membuatku terdiam.. tapi dalamnya tatapan mata Lia, seperti mempunyai suatu arti yang tidak bisa aku ucapkan dengan kata – kata.. tatapan Lia itu sama seperti ketika Bulan menatapku.. Bulan..? iya Bulan kembaran Purnama.. aku pun dibuat bingung dengan arti tatapan itu.. intinya, aku merasa tatapan itu seperti kami memiliki suatu kedekatan yang entah apa itu.. gilaaa.. kenapa bisa seperti ini sih..?

Aku dan Lia itu memang sering bertatapan, tapi tidak seperti saat ini.. genggaman tanganku ditelapak tangannya pun, perlahan mengisyratkan sesuatu..? ada apa ini..? kenapa aku merasakan sesuatu yang sangat luar biasa..? ini ga seperti pegangan tangan Lia ketika malam itu di pulau seberang.. ada apa dengan mu ya..’? kenapa bisa seperti ini yang kurasa..? apa kita memiliki suatu ikatan batin lebih dari sesuatu yang namanya cinta..? apakah kita bersaudara ya..’? ah ga mungkin kalau itu.. mungkin ini hanya perasaanku karena terlalu mencintaimu dan aku larut dalam perasaan ini..

“kamu marah sama aku ya ya..’? kamu kecewa..?” tanyaku dan Lia tetap diam sambil terus menatapku.. aku pun langsung membuang batang permen lollipopku..

“maaf kalau aku hanya membebani pikiranmu..” ucapku lalu aku melepaskan genggaman tanganku ditelapak tangan Lia.. aku lalu menatap lurus kedepan, begitu juga Lia..

“ga ada yang perlu dimaafkan.. lagian aku juga bukan apa – apamu Mas..” ucap Lia dengan bibir yang bergetar

Hiuufffftttt.. huuuuuu.. ini nih.. kata – kata seperti ini yang bikin kepala cenut – cenut..

“iya ya’.. kita memang ga memiliki ikatan apa – apa selain sahabat…” ucapku pelan lalu Lia langsung menolehkan wajahnya lagi kearahku dan menatapku..

Akupun menolehkan wajahku menatap wajah lia.. dan perlahan tatapannya menjadi sayu..

Hiuuffttt… huuuu.. apa sekarang aja ya aku mengungkapkan perasaanku kepada Lia..? tapi diakan lagi marah sama aku..? kalau nanti dia menolaknya gimana..? aku itu ga punya pengalaman untuk mengungkapkan perasaan hatiku..

Lia ini satu – satunya wanita yang sangat dekat denganku saat ini dan dia yang mengisi hatiku.. Lia ini yang mengajarkan aku tentang pandangan pertama dan jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupku.. dan kalau sampai aku di tolaknya, pasti aku hancur sekali dicinta pertama ini..

Tapi Lia kan pernah mencium pipiku dan aku yakin dia juga cinta sama aku..

Tapi lagi.. kondisi sekarang kan berbeda.. dia marah dan cemburu ketika aku melihat wanita yang lain.. apa cintanya juga hilang seiring dengan kecumburuan dan kemarahannya ini..? ahhhh.. susah memang kalau ga pengalaman dengan dunia percintaan ini.. lama – lama bisa gila juga aku kalau begini caranya….

“ya’.. apa aku ini terlalu pengecut, sampai aku tidak berani lagi untuk mengungkapkan perasaan ini kepadamu..?” ucapku sambil menatap matanya..

Duuhhh.. bener ga ya kata – kataku ini..?

Dan perlahan mata Lia berkaca – kaca.. laahhhh.. malah mau nangis lianya, gimana ceritanya sudah kalau begini..?

Apa Lia sudah terlalu marah, sampai matanya berkaca – kaca seperti ini..? waaahhh.. beneran bertepuk sebelah tangan sudah ini.. assuuuu.. (maaf.. akhirnya aku memaki lagi..)

“sebenarnya kamu itu ga pengecut Mas.. buktinya.. matamu selalu jelalatan kalau melihat wanita cantik..” ucap Lia lalu perlahan senyum pun mengembang dari bibirnya..

Stop.. stop.. maksudnya apa ini..? kok dia berkata sambil tersenyum..? tadikan dia marah..? sekarang malah tersenyum.. terus entar apa lagi..? katawa, lari – lari, gulung – gulung, salto, terus tidur terlentang dilapangan..? wahhhh.. aneh banget sih mahluk yang bernama wanita ini..? cepat banget berubah moodnya..

“selalu..? emang wanita mana aja yang jadi korban jelalatan mataku ini ya..’?” tanyaku sambil mengerutkan kedua alisku..

“Kaila..” ucap lia singkat..

“Kailia..? siapa Kaila itu..?” tanyaku..

“wanita berjilbab yang barusan lewat itu loh Mas.. Kaila Zahra.. dia teman satu kelompokku..” ucap..

“oooo.. dia teman satu kelompokmu..?” tanyaku..

“beneran kan Mas lihatin Kaila terus..?” tanya Lia..

“ya kan sekedar lihat aja ya’.. emang ga boleh gitu..?” ucapku membela diri.. dan aku melihat Kaila cuma dua kali ini loh.. kok dibilang lihatin dia terus..? aneh banget.. lagian kan aku hanya sekedar melihat keindahan ciptaanNya.. ya walaupun aku sedikit menikmatinya sih.. tapi sedikit aja loh.. memang salah gitu..?

“terus kalau sama kak Bulan panitia keamanan itu, sekedar lihat juga..?” tanya Lia lagi..

Duhhh.. kok Lia tau ya aku sering berpandangan sama Bulan..? wahhhh.. sampai sedetail ini Lia memperhatikan aku.. gilaaaaa..

“iya ya’.. cuma sekedar lihat juga..” ucapku menyakinkan Lia..

“sekedar lihat kok sampai begitu menatapnya..” ucap Lia dan dia langsung memalingkan wajahnya lagi dan menatap kedepan..

“harus berapa kali sih aku meyakinkan kamu, kalau aku itu hanya sekedar menatap mereka..” ucapku dan Lia masih menatap lurus kedepan..

“aku itu memang ga berpengalaman masalah percintaan ya’.. tapi bukan berarti aku ga sungguh – sunguh kalau sudah jatuh cinta dengan seorang wanita..” ucapku, lalu aku melihat kearah depan juga..

Dan sekarang giliran Lia yang menoleh kearahku dan menatapku..

“kepada seluruh mahasiswa baru peserta orientasi.. harap berkumpul dilapangan..” terdengar suara dari panitia dari tengah lapangan..

Akupun lalu berdiri dengan pandangan Lia yang terus melihat kearahku..

“semoga, wanita yang aku cintai itu.. juga besungguh – sunguh mencintai aku..” ucapku sambil menoleh kearah Lia yang masih duduk.. lalu aku melangkah kan kakiku kearah lapangan..

Dan disudut depan lapangan.. satu – satunya wanita di panitia keamanan, menatapku dengan pandangan yang.. sudahlah… kelihatannya dia melihatku terus dari tadi, dan dia juga pasti melihat ketika aku menggenggam tangan Lia tadi.. tapi biarlah.. kenapa juga aku memikirkan dia..

Pov Badai..

Gila nih.. sudah hari ketiga aja orientasi dikampus teknik tercinta.. dan sudah berbagai macam hukuman yang aku terima.. diinjak, dipukul, ditempeleng dan dimaki – maki oleh panitia kemanan.. dan yang menghukumku, tentu saja teman – teman kos pondok merah.. dan yang paling banyak menghukumku.. Kenzie sahabatku dari SMK itu.. anjiingg.. dia menghukumku atau punya dendam pribadi sama aku sih..?

Dan yang membuatku terus bersabar menjalani orientasi ini, tentu saja Clara.. bina damping kelompokku.. setiap aku habis terkena hukuman, wajah manis ‘mileaku’ ini selalu meneduhkan hatiku yang panas.. tatapan matanya itu seolah membelai hatiku untuk terus bersabar demi dia.. wajah manisnya itu juga seolah memberikan aku kekuatan baru dan semangat yang menggila.. ayo siapa lagi panitia keamanan yang mau menghajarku.. mumpung aku lagi sabar ini.. hahahaha.. anjing..

“kamu itu ga ada bosan – bosannya ya dihukum..” ucap Clara yang tiba – tiba datang kepadaku, yang lagi duduk didepan perpustakaan seorang diri.. dan ditangannya sedang memegang segelas minuman.. Clarapun langsung duduk tepat disampingku..


Clara Jasmeen Salsabila​

Sekarang ini waktunya istirahat.. dan diwaktu istirahat ini, semua teman – temanku sedang sibuk mencari tanda tangan panitia orientasi.. sedangkan aku, aku hanya duduk saja menikmati pemandangan teman – temanku yang kebingungan itu..

“ga taulah yunda.. bingung juga aku.. padahal aku sudah melalukan semuanya sesuai aturan selama orientasi ini..” ucapku sambil menatap lurus kedepan..

Sengaja aku tidak menatap ‘mileaku’ ini.. bagiku, aku ga perlu terlalu menunjukkan kalau aku suka dengannya.. aku juga ga mau memohon untuk rasa suka ku ini.. karena rasa itu bukan hanya tentang kata atau tatapan mata.. tapi juga tentang hati dan jiwa yang dimabuk asmara..

Maka biarkan semesta yang akan bersabda.. biarkan semesta yang menyampaikan rasa.. biarkan semesta yang menyentuhnya dengan cinta.. dan itu hanya untuk milea..

Anjingg.. nulis apa sih aku ini..? kok jadi ga jelas gini..? apa mungkin aku lelah karena cinta..? hahaha.. bangsattt..

“minum dulu gih..” ucap Clara sambil menyodorkan aku segelas minuman ditangannya kepadaku..

Akupun lalu melihat kearahnya yang tersenyum manis kepadaku.. aku lalu mengambil segelas minuman itu dari genggaman tangannya.. dan ternyata, gelas itu berisikan kopi.. waaahhhh.. luar biasa wanita satu ini.. dia tau kalau aku butuh minuman ini..

Akupun langsung menyeruput kopi ini dengan perlahan..

Sruuppppp…

Huuuuu.. nikmat banget rasanya.. dan rasanya itu pas dengan lidahku.. apalagi, minumnya ditemani ‘mileaku’.. itu makin menyegarkan kepalaku yang isinya sudah ngelantur kemana – mana..

“pahit ya..?” tanya Clara sambil melihat kearahku..

“manis..” jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya.. aku menatap kearah depan sambil memegang gelas kopi pemberiannya ini.. aku pun memegang gelas itu tepat dibekas pegangan tangannya.. aku merasa seperti sedang meremas tangannya itu..

Anjing.. kalau sudah suka seperti ini.. jangankan duduk berdua, pegang gelas yang bekas pegangan tangannya aja aku sudah bahagia.. bangsat ga..? hahahahaha..

“tapi aku kasih gula loh..” ucap Clara dan masih tetap menatapku..

“maksudku wajahmu yang manis..” ucapku sambil menoleh kearahnya..

Dan seketika itu, wajah Clara langsung memerah dan dia langsung tertunduk dihadapanku..

Hemmm.. kenapa kamu menuduk Clara..? apa itu pertanda hatimu sudah takluk dengan aku..? jangan menunduklah sayang.. angkat wajah cantikmu itu.. aku ingin menatap wajahmu yang sedang bersemu kemerahan itu.. wajahmu yang memerah itu, seperti gairah cintaku yang sedang menggelora didalam hatiku.. angkat lah sayang.. tatap wajah pangeranmu ini.. hahahaha.. bangsat.. bangsat.. sudah rusak otakku ini.. anjinnngg..

“apasih kamu itu..? bisa aja merayunya.. dasar penya’ir jalang..” ucapnya sambil mengangkat wajahnya dan menatap wajahku dengan malu – malu..

“aku bukan hanya jalang.. tapi aku juga beringas, binal, buas, galak, ganas, garang, bajingan dan semuanya.. tapi itu semua sebelum aku mengenalmu..” ucapku lalu aku melihat kearah depan lagi..

“apa semua itu telah hilang ketika aku sudah didekatmu..?” tanya Clara sambil melihat kearah depan juga..

Aku tidak menjawabnya, aku hanya menyeruput lagi kopi pemberian wanita ini..

“cinta bukan untuk merubah seseorang, tapi cinta itu untuk saling melengkapi dan menerima seseorang dengan kekurangannya..” ucap Clara lalu berdiri dan berjalan meninggalkan aku..

Aku hanya memandang kedepan tanpa melihatnya pergi.. kemudian aku menyeruput kembali kopi ini.. ternyata pahitnya kopi ini, Masih ada yang menyukainya.. dan itu aku.. dan aku yang jalang ini.. ternyata ada juga yang menyukainya.. bangsaattttt..

“WOIIII.. KAMU YANG LAGI MINUM..” teriak seseorang dari pinggir lapangan..

Aku pun langsung melihat kearahnya dengan santai sambil menyeruput kopi ini.. dan orang yang memanggilku itu, seorang panitia keamanan yang berbadan kekar.. dia berteriak dengan garangnya sambil berkacak pinggang.. dan disekitarnya, belasan panitia keamanan juga menatapku..

“SINI KAMU.. BANGSAT INI.. MALAH DUDUK SANTAI AJA LAGI..” ucapnya dengan emosi..

Akupun langsung menghabiskan kopi cinta ini.. kurang ajar panitia itu.. untung aku lagi minum kopi pemberian dari wanita pujaanku.. kalau enggak, sudah kupatahkan lehernya.. bajingaannn..

Dan setelah aku menghabiskan kopi ini.. aku lalu meletakkan gelasnya dikursi dan aku langsung berdiri.. setelah itu aku berjalan dengan santainya ke arah panitia kemanan itu..

Dan ketika aku sudah didekatnya..

BUHHGGGG..

Dia menunju dadaku dengan kerasnya..

“huupppp..” dadaku termundur dengan nafas yang tertahan.. tapi aku tidak jatuh dan kakiku juga tidak bergerak sama sekali.. akupun bersabar dengan tindakan sibangsat ini..

“bangsat kamu itu.. teman – temanmu cari tanda tangan , kamu malah santai sambil minum..” ucapnya lalu..

BUHHGGGG.. BUHHGGGG.. BUHHGGGG.. BUHHGGGG..

Beberapa temannya langsung maju dan mengeroyok aku.. mereka memukul, menendang dan menginjak tubuhku bersamaan..

BUHHGGGG.. BUHHGGGG.. BUHHGGGG.. BUHHGGGG..

Aku hanya diam sambil menggerakkan tubuhku yang terkena pukulan bertubi – tubi ini..

BUHHGGGG.. BUHHGGGG.. BUHHGGGG.. BUHHGGGG..

Dan serangan mereka tidak berhenti ketika aku diam.. serangan mereka justru makin menjadi.. wajah, dada, punggung dan perutku terkena pukulan mereka..

“WOIIIII..” teriak seseorang dari kejauhan dan mereka langsung menghentikan serangannya kepadaku..

“kenapa ini..?” tanya Kenzie yang baru datang dan Kenzi datang bersama Mas Gibran, Mas Bagas dan Mas Eric..

“sibangsat ini duduk santai.. padahal teman – temannya lagi cari tanda tangan..” ucap orang pertama yang memukulku..

“kalian ga dengar pengarahan dari Mas Panji tadi ya..? hari ini kan kekerasan sudah dikurangi.. kok malah main keroyokan seperti ini..?” tanya Mas Bagas sambil menatap belasan orang ini bergantian..

“oh iya iya..” ucap orang pertama yang memukulku lalu tersenyum mengejek kearahku.. setelah itu, dia langsung membalikkan tubuhnya dan pergi diikuti belasan orang lainnya tanpa merasa berdosa..

“bangsatt..” gumam Mas Gibran sambil menahan emosinya..

“bran..” ucap Mas Eric..

“kalau bukan karena Mas Panji melarang kita menghabisi mereka.. sudah kubantai satu – satu mereka itu..” ucap Mas Gibran yang masih emosi itu..

“iya Mas.. makin kurang ajar aja mereka itu..” ucap Kenzie yang juga terlihat emosi..

“ada waktunya.. tenanglah.. kamu kira aku juga ga geregetan..?” sahut Mas Eric.. Mas Gibran dan Kenzie pun langsung terdiam..

Dan dari kejauhan aku melihat Clara berjalan kearahku.. kelihatannya dia melihat semua kejadian ini.. Clara pun berjalan dan berpapasan dengan bangsat – bangsat itu.. lalu orang pertama yang memukulku itu menghalangi jalan Clara dan..

“hai Clara..” ucap orang itu sambil mencolek dagu Clara…

“apasih kamu itu..?” ucap Clara yang terlihat marah sekali sambil mendorong dada orang itu..

“hahahahaha..” orang itu hanya tertawa diikuti teman – temannya..

Bangsaattt.. emosiku langsung memuncak seketika dan aku langsung berlari kearahnya.. kedua tanganku pun terkepal dengan kuatnya..

“Badai..” teriak Kenzie dan dia mengejarku..

“anjingg..” maki Mas Gibran dan dia juga berlari bersama Mas eric dan Mas Bagas..

Clara yang melihatku emosi, langsung berjalan melewati orang itu dan berdiri menatapku yang sedang berlari kearahnya..

Clara menatapku dengan tajamnya sambil menggelengkan kepalanya.. lariku pun langsung terhenti dihadapan Clara..

Bangsat – bangsat itu pun langsung tertawa dan melanjutkan langkah mereka..

“hahahahaha..”

Anjinggggg.. ini penghinaan sekali bagiku.. boleh mereka memukulku, menginjakku atau apapun terhadap tubuhku.. tapi jangan pernah menyentuh wanitaku.. aku pasti tidak terima itu.. jangankan menyentuh.. berbicara yang tidak – tidak tentang wanitaku aja, aku pasti akan membuat mulutnya menyesal pernah berkata seperti itu.. bangsaaaatt..

“Badai..” ucap Kenzie dibelakangku dan aku tetap diam sambil melihat para bajingan itu berjalan meninggalkan kami..

Emosiku benar – benar dikepala dan tanganku masih terkepal..

Dan tanpa aku sadari, Clara mengeluarkan sapu tangan berwarna putih dari kantongnya dan membersihkan sesuatu yang mengalir diwajahku.. lalu aku melihat kearah sentuhan sapu tangan itu.. merah.. sapu tangan Clara langsung berubah menjadi merah.. ternyata wajahku sudah dipenuhi darah.. bangsaattt..

Akupun langsung melihat kearah wajah Clara.. dia membersihkan wajahku dengan mata yang berkaca – kaca dan senyum yang dipaksakan..

“bawa keruang kesehatan aja dia..” ucap Mas Bagas sambil berjalan kearah samping Clara.. Mas Gibran, Mas Eric dan Kenzie pun berdiri dihadapanku..

“wajahku ga apa – apa Mas.. tapi hatiku yang berdarah..” ucapku sambil melihat kearah Mas Bagas lalu melihat kearah Mas Gibran dan Mas Eric..

“dan kalau hatiku sudah berdarah.. cuma darah mereka yang bisa mengobatinya..” ucapku sambil melihat kearah Clara yang langsung meneteskan air matanya.. lalu aku pun melihat kearah Kenzie yang sangat tau ketika aku sedang emosi..

Setelah itu akupun membalikkan tubuhku dan berjalan meninggalkan mereka.. aku berjalan dengan emosi yang memenuhi isi kepalaku..

“darah balas darah..”

“darah balas darah..”

“darah balas darah..”

Kata – kata itu terus menggema dikepalaku dan membuat seluruh tubuhku seperti panas membara.. darahku seperti direbus dan emosiku seperti menghantam dadaku dengan kerasnya.. anjinggg..

Akupun langsung berjalan kearah kamar mandi dan masuk kedalamnya.. dan dengan masih menggunakan kemeja putih yang terkena bercakan darah.. aku membungkukan tubuhku dan menyiram kepalaku yang terasa panas ini.. tetesan darahku dan air pun bercampur dan menggenang diclosed kamar mandi..

Air yang dingin ini pun tidak bisa meredakan panas dikepalaku.. luka – luka diwajahku pun tidak terasa perih sama sekali ketika air ini menyentuhnya.. emosi, emosi, emosi dan menggila, itu saja yang terasa..

Dan setelah mengguyurkan air yang cukup banyak kekepalaku.. aku lalu menegakkan tubuhku.. kemeja yang kukenakan pun langsung basah seketika.. persetan dengan acara ini, mereka sudah berani mengusikku dan orang – orang terdekatku.. aku harus membantainya saat ini juga.. dan kalau sampai perang ini pecah karena aku.. aku sendiri yang akan menyelesaikannya.. aku akan membantai mereka satu – persatu tanpa terkecuali..

Mereka telah memanggil dan mengundang Badai dengan tetesan darah.. salah.. itu kesalahan terbesar dan sangat fatal akibatnya.. Badai yang sangat dasyat ini akan menggulung dan membinasakan mereka satu persatu tanpa ampun.. ingat itu.. tanpa ampunn…

Akupun langsung membuka pintu kamar mandi dengan tubuhku yang basah ini.. dan didepan pintu kamar mandi.. Clara berdiri menatapku dengan tetesan air mata yang mengalir dipipinya.. lalu..

BUHHHGGGG..

Clara menabrak tubuhku dan mendorongku masuk lagi kedalam kamar mandi lagi.. lalu Clara menutup pintu kamar mandi dengan menginjakkan kakinya kearah belakang..

BRAKKKKKK..

Pintu kamar mandi tertutup dengan kerasnya.. lalu Clara merangkul leherku dan..

CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUAACCHHHHH..

Clara langsung menyambar bibirku dan mengulumnya.. bibirnya yang lembut itu langsung bermain dibibirku yang berdarah ini..

CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUAACCHHHHH..

Sementara bibirnya mengulum bibirku, rangkulan dileherku pun dikuatkannya.. tubuh kami sangat rapat tapi kedua tanganku masih terkepal di pahaku..

CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUAACCHHHHH..

Clara terus mengulum bibirku yang terluka ini.. dan tidak ada rasa jijik sedikitpun terlihat dari tatapan Clara yang sedang melumat bibirku ini..

Lalu Clara menggigit bibir bawahaku dan menariknya kebelakang dan dilepaskannya..

Dan dengan masih merangkul leherku.. Clarapun menatap mataku.. bibir manisnya itu pun terlihat bercakan darahku yang menempel..

“ternyata.. ciuman pertamaku, harus bercampur dengan darahmu..” ucapnya dengan bibir yang bergetar dengan diiringi tatapan sayunya serta air mata yang mengalir..

Bangsaatttt.. ini adalah kata – kata yang paling romantis yang pernah aku dengar dari seorang wanita kepadaku.. dan emosiku pun perlahan mulai mereda dengan lumatan bibir, pelukan dan tatapan mata ‘Mileaku’ ini..

Aku pun langsung membalas pelukan Clara dan..

CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUAACCHHHHH..

Aku langsung mengulum bibir Clara dan dia membalasnya dengan lumatan yang sangat lembut..

CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUAACCHHHHH..

Lumatan kami diiringi dengan lidah kami yang bergantian masuk kedalam mulut kami masing – masing..

CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUAACCHHHHH..

Aku lalu melepaskan lumatanku dibibir bawah Clara itu, lalu aku melumat bibir atasnya..

CUUPPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUAACCHHHHH..

Dan setelah cukup lama kami saling melumat.. kami melepaskan lumatan ini bersama..

“jangan menggila ya Badai..” ucap Clara sambil melepaskan rangkulannya dileherku dan dia langsung membelai wajahku yang masih terus meneteskan darah ini..

“cinta bukan untuk merubah seseorang, tapi cinta itu untuk saling melengkapi dan menerima seseorang dengan kekurangannya..” ucapku membalikkan kata – kata Clara tadi sambil melepaskan pelukanku ditubuh Clara..

Setelah itu aku pun berjalan melewati Clara dan membuka pintu kamar mandi..

“aku tidak akan mencegahmu Badai..” ucap Clara berbicara dibelakangku.. akupun langsung menghentikan langkahku didepan pintu kamar mandi tanpa menoleh kebelakang..

“tapi aku harap.. kamu membantai mereka karena cintamu kepadaku.. bukan karena emosi yang menguasai dirimu..” ucap Clara dengan pelan tapi tegas..

“hehe.. justru kalau aku membantai mereka karena cintaku kepadamu.. aku akan lebih gila dari pada emosi yang menggila ditubuhku ini.. terimakasih sudah mengingatkanku..” ucapku lalu aku meninggalkan Clara didalam kamar mandi..

Aku berjalan melewati lapangan yang telah ramai.. semua maba telah baris dilapangan itu.. pandangan semua maba langsung tertuju kepadaku.. semua panitia – panitia yang ada dilapangan, dan disekitar lapangan juga memandangku.. mereka semua hanya melihatku berjalan tanpa berani menegurku..

Aku berjalan dengan pakaian putih yang kemerahan dan basah, serta wajah yang masih berdarah – darah.. aku berjalan menuju kemarkas keamanan..

Aku akan menggila dan aku akan membantai mereka.. persetan dengan semuanya..

Dan ketika aku berjalan, aku melewati Bapak Rector dan Bapak Wakil Rector yang ada didepan rektorat..

“woi mahasiswa baru.. kenapa kamu..? mau kemana kamu..?” panggil Wakil Rector dan aku tidak menghiraukannya.. aku terus berjalan dengan emosi yang mulai naik kekepalaku..

Dan ketika aku sampai di bawah gedung jurusan teknik industry.. aku melihat orang – orang yang memukulku, sedang berdiri didepan ruangan markas keamanan dilantai tiga.. dan terlihat mereka sedang berhadapan dengan Kenzie.. dan seluruh penghuni pondok merah berdiri dibelakang Kenzie.. lalu..

BUUHHGGGGG..

Orang pertama yang menghajarku tadi langsung menghantam wajah Kenzie.. anjinggg.. akupun langsung berlari kearah tangga dengan cepatnya.. aku berlari menyusuri anak tangga sampai dilantai tiga.. dan ketika aku sampai dilantai tiga.. kulihat Kenzie sudah terkapar dilantai dengan wajah yang diinjak – injak oleh orang yang pertama memukulku tadi..

Bangsat.. rupanya mereka sedang berduel dan disaksikan oleh semua penghuni pondok merah serta kelompok ‘pemberontak’ itu.. bajingaannn..

“aku mau duel sama kamu nji..” ucap orang itu kepada Mas Panji sambil menginjak wajah Kenzie yang terkapar dilantai..

“menghadapi bajingan kayak kamu itu, ga perlu Mas Panji yang turun tangan.. cukup aku aja..” ucapku didekat tangga sambil mengepalkan kedua tanganku..

Semua orang yang ada disitu pun langsung melihat kearahku.. akupun langsung berjalan kearah mereka.. dan aku berhenti dibarisan pondok merah.. dan mereka yang berjumlah puluhan dan sekitar tiga kali lipat dari pondok merah, berdiri dihadapanku.. aku berdiri tepat disamping Mas Panji yang sedang menghisap rokoknya..

“waahhhh.. emang pondok merah sekarang lemah ya..? kok sampai meminta bantuan dari mahasiswa baru..” ucap orang yang pertama memukulku tadi dan masih menginjak kepala Kenzie..

“mulutmu tai lasooo..” ucapku lalu aku berlari kearahnya sambil mengarahkan kakiku kedadanya..

BUUHHGGGGG..

Orang yang pertama memukulku itu langsung terlempar kebelakang setelah dadanya aku injak dengan keras.. dan orang itu langsung ditahan oleh beberapa temannya supaya tidak roboh..

Hu.. hu.. hu.. hu… hu.. hu.. hu…

Orang itu langsung mengatur nafasnya sambil memegang dadanya.. akupun langsung berjalan kearah Kenzie yang terlentang dilantai.. bangsatt.. mengenaskan sekali sih sahabatku ini.. kalian semua harus membayarnya.. darah dibalas darah..

“aku ga apa – apa njing.. aku cuma istirahat sebentar.. hu.. hu..” ucap Kenzi ketika aku menatap wajahnya.. wajahnya pun terlihat berdarah – darah..

“aku tau bangsat.. makanya aku ga mau ganggu istirahatmu..” ucapku dan Kenzie langsung tersenyum dengan darah mengalir dari bibirnya..

Aku langsung menjulurkan tangan kananku kearah Kenzie, dan Kenzi langsung menjabatnya dan dibuat tumpuan untuk berdiri.. akupun langsung menarik tubuh sahabatku ini sampai berdiri tegak..

“makanya jangan banyak coli.. istirahat sana..” ucapku sambil menepuk pundak Kenzi..

“anjing.. kamu yang ngajarin kok..” ucap Kenzi lalu berjalan kearah belakangku sambil membersihkan mulutnya yang berdarah..

Orang yang aku hajar itu pun berdiri dengan tegak sambil mengepalkan kedua tangannya.. dan dia langsung berjalan kearahku sambil mengarahkan kepalan tangannya..

WUTT.. WUTT.. WUTT.. WUTT.. WUTT.. WUTT.. WUTT.. WUTT..

Aku menghindari setiap pukulan dan tendangannya..

TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP..

Akupun langsung menangkis pukulannya dengan kedua lenganku.. dan

BUUGGHHH..

Dia menginjak dadaku sampai aku termundur beberapa langkah..

“huuppppp..” akupun langsung menahan nafasku dan aku langsung maju lagi sambil mengarahkan tendanganku..

TAPPP..

Dia menangkis tendangan kaki kananku yang dari arah samping ini dengan tangan kirinya.. lalu..

BUUGGHHH..

Kepalan tangan kiriku dengan cepatnya melayang kearah rahang kanannya..

“aargghhhhh..” teriaknya dengan tubuh yang oleng kekiri.. lalu..

BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH..

Aku langsung melayangkan kepalan tangan kanan dan kiriku bergantian kearah wajahnya..

Rahang, pipi, pelipis, hidung dan mulutnya terkena kepalan tanganku..

BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH..

Aku menghajarnya terus sampai dia tersandar didinding.. lalu..

BUUGGHHH..

Aku memutarkan tubuhku dan melayangkan tendangan balik kearah wajah sampingnya dengan tumit sepatuku..

BUUMMMM..

Diapun langsung langsung roboh dengan wajah dipenuhi darah..

“AARGGGHHHHHH..” teriaknya kesakitan sambil memegangi kepalanya..

Aku yang sudah dikuasai emosi langsung menginjak – injak wajahnya dengan sekuat tenaga..

BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH..

Aku menginjaknya sampai dia lemas dan tidak mampu menggerakkan tubuhnya..

“ARGGHHH.. ARRGGGHHH..” teriaknya kesakitan..

Aku lalu menghentikan injakanku dan membungkukan tubuhku.. aku lalu meraih pergelangan tangan kanannya dan menariknya sampai lurus lalu..

“ini tangan yang pukul aku ya..?” ucapku sambil memutarnya pelan..

“ARRGGGHHHH..” teriaknya kesakitan..

“tangan ini jugakan yang memegang dagu ‘Mileaku..’” ucapku lalu..

KRAAAKKKKK..

Aku memutarnya dengan keras sampai pergelangan tangannya patah dan terkulai..

“AAARRRRGGGHHHHHHH..” teriaknya yang langsung membuat tempat ini sunyi seketika..

Akupun langsung melepaskan tangan kanannya yang patah itu.. dan tangannya langsung lunglai jatuh kelantai..

“AAARRRGGGGHHHHH..” orang itu langsung memiringkan tubuhnya kekanan sambil memegangi tangan kanannya itu..

Apa aku puas..? belumlah…

Aku lalu menunduk lagi dan meraih kaki kanannya dan memegang pergelangan kakinya itu..

“jangaaann.. jangaaannn.. ampuuunnnn..” ucapnya dan wajahnya terlihat kesakitan sekali dengan darah yang terus mengalir..

“ini kaki yang menginjak kepala sahabatku tadi ya..” ucapku sambil memutar pelan pergelangan kaki kanannya itu..

“ampunnn.. AMPUUUUUUUNNN..” teriaknya yang memekan telinga siapa aja yang mendengarnya.. lalu..

KRAAAKKKKK..

Aku memutarnya sampai patah dan dia langsung melolong dengan merdunya..

“BANGSAAAATTTTTT.. AARRRGGGGHHHHHHH…” teriaknya kesakitan..

Aku lalu melepaskan kakinya itu sambil melihat kearah para ‘pemberontak’ yang berjumlah puluhan dihadapanku ini.. wajah mereka terlihat ketakutan dan memucat.. tidak ada yang tertawa atau pandangan mengejek seperti tadi lagi..

Aku pun langsung mengalihkan pandanganku kearah para penghuni pondok merah.. Mas Agam, Pace Beni, Mas Gibran, Mas Reihan, Mas Bagas, Mas Berry, Mas Eric, Mas Ian dan Mas Simon.. mereka semua terlihat terkejut dengan apa yang kulakukan dengan bajingan satu ini.. setelah itu aku melihat kearah Mas Panji.. dan hanya Mas panji yang santai melihatku sambil menghisap rokokknya.. lalu pandangan terakhirku tertuju pada Kenzie sahabatku.. dan hanya dia yang tersenyum kepadaku..

Kenzi pun langsung meraih rokoknya dikantong dan melemparkannya kepadaku.. aku menangkap rokok itu dan mengambil sebatang bersama korek yang diselipkan didalam bungkus rokoknya.. setelah membakar rokokku, aku lalu melemparkan bungkusan rokok ini lagi kearah Kenzie.. lalu aku membalikkan tubuhku lagi dan menatap para ‘pemberontak’ itu

“penghianat itu ga pantas untuk kuliah dikampus teknik kita..” ucapku lalu aku menghisap rokokku sambil berjalan kearah mereka.. wajah – wajah mereka itu pun makin terlihat ketakutan dan memucat..

Lalu..

BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH..

BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH..

Aku menendang dan menginjak belasan orang yang mengeroyok aku dilapangan tadi satu persatu.. dada, perut dan wajah mereka menjadi sasaran tendangan dan injakan kedua kakiku ini..

BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH..

BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH.. BUUGGHHH..

Satu persatu mereka tumbang dan tidak ada perlawanan sama sekali..

“aarragghhhhh.. aarragghhhhh.. aarragghhhhh.. aarragghhhhh..” teriakan – teriakan mereka pun terdengar ketika roboh dilantai..

Sedangkan belasan orang yang tidak ikut mengeroyok aku, mundur perlahan..

“jangan pernah berurusan dengan pondok merah.. kalau sekali lagi kalian berurusan dengan pondok merah.. bukan hanya aku yang membantai kalian.. tapi mereka yang dibelakangku ini yang akan menghabisi kalian satu persatu.. dan kupastikan.. kalian kan lenyap tanpa satu orang pun yang menemukan tubuh kalian yang tidak bernyawa..” ucapku sambil memandang semua para ‘penghianat’ ini..

Tidak ada jawaban dari mereka semua.. mereka hanya tertunduk satu – persatu, ketika aku menatap wajah mereka..

“kamu baru jadi mahasiswa baru aja berani macam – macam dikampus ini.. kamu mau aku selesaikan kah..?” ucap seseorang kepadaku dari arah tangga..

Kami semua langsung melihat kearah tangga.. dan disana, Pak Rector dan Wakil Rector Tiga sedang berdiri menatapku.. dan yang berbicara tadi Wakil Rector Tiga..

Akupun dengan santainya menatap wajah Wakil Rector ini.. bangsaattt.. kalau dia ikut – ikutan, kuselesaikan juga manusia ini.. persetanlah aku dikeluarin.. aku juga sudah terlanjur membuat masalah..

“pihak rektorat jangan ada yang ikut campur.. ini hanya masalah kecil diantara mahasiswa..” ucap seseorang dari pojok ruangan dibelakang para ‘pemberontak’ itu.. dan pandangan kami semua langsung tertuju kearah suara itu..

Dan disana.. seseorang berdiri dengan santainya sambil menghisap rokokknya..

Anjingg.. ini kan orang yang menegur aku kemarin waktu diwarung.. siapa orang tua satu ini dan bagaimana dia bisa ada dikampus ini..? dan kenapa juga Pak Rector dan Wakil Rektor Tiga terdiam setelah orang ini berbicara..? bangsaaattt..

Orang tua itu lalu berjalan kearah kami melewati barisan para ‘pemberontak’ itu.. dan barisan ‘pemberontak’ itu langsung membelah dua, mereka memberikan jalan kepada orang tua itu..

Orang tua itu berjalan dengan santainya kearahku sambil menghisap rokoknya.. dan ketika dia sudah dihadapanku, orang tua itu berhenti sebentar..

“kamu belum dapat kepalanya nyo..” ucapnya berbisik sambil menepuk pundakku pelan lalu dia berjalan kearah tangga.. dan ketika sudah didekat tangga.. orang tua itu melihat kearah Pak Rektor dan Wakil Rektor Tiga..

“Masalah ini ditutupkan..?” ucapnya dengan santai sambil menatap wajah kedua petinggi kampus teknik kita itu..

Dan mereka berdua langsung mengangguk pelan.. orang tua itu pun langsung pergi dan turun dari tangga..

#cuukkk.. siapa orang tua itu..? dan kenapa sampai kedua petinggi kampus ini tidak berani kepadanya..? lalu siapa kepala yang dimaksud yang belum aku dapatkan..? anjinggg.. tapi yang jelas.. ini gesekan pertamaku dikota ini.. dimulai dengan cinta dan ditutup dengan tetesan darah.. wuuuu.. indahnya jalan kehidupan yang siap menghadangku ini.. bangsaattt..

(Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 8)Sebelumnya | Selanjutnya(Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 10)

Banyak Film lain di Banyak Film Indoxxi

Banyak Game lain di Banyak Game