Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 17

Cerita Dewasa Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 15

Cerita Dewasa Perjalanan Cintaku di Kehidupan Selanjutnya Part 15

TEGANG..
Pov Gagah

Hiuufftttt… huuuu.. akhirnyaaa, rambutku sekarang sudah mulai agak panjang.. kenapa aku bisa sesenang ini..? beberapa bulan yang lalu, seluruh rambutku digundul karena kepala samping kananku yang dijahit oleh dokter.. sebenarnya sih ga perlu digundul, tapi karena rambut dibagian samping kanan kepalaku sudah dicukur dokter, mau ga mau aku harus menghabisi seluruh rambutku.. kan ga lucu, masa samping kanan gundul, atas panjang, samping kirinya lagi panjang.. hehehehe.. tapi yang panjang yang dibawah, ga perlu dipotong.. itu untuk pembangungan jangka panjang.. hahahaha.. assuuu..

Dan ga terasa.. beberapa bulan lagi aku akan menghadapi ujian akhir nasional.. akupun mempersiapkan diri untuk ujian akhir itu dan aku jarang keluyuran seperti dulu.. aku juga ingin menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan keluarga dirumah..

Dan untuk Mita, akupun sudah menjalin komunikasi dengan kekasihku itu.. sudah tidak ada masalah dengan hubungan kami berdua.. dan aku juga sudah tau tentang Purnama yang sering datang kekosan Mita.. Mita sudah cerita semua kepadaku.. dan aku sih enjoy aja, selama kekasih ku itu jujur kepadaku dan tidak menyembunyikan apapun dari aku.. aku itu sadar, kalau punya kekasih yang cantik dan pasti banyak yang suka kepadanya.. dan itulah resikonya..

Aku termasuk salah satu laki – laki yang beruntung memiliki kekasih seperti Mita.. jangankan di tempatnya kuliah, dikota ini aja.. banyak loh sebenarnya yang suka dengan Mita.. tapi karena ada aku sitampan ini.. ga ada yang berani mengungkapkan perasaan mereka kepada Mita.. padahal aku itu orangnya nyantai aja.. kalau mereka berani mengungkapkan perasaannya dan Mita juga suka salah satu dari mereka, silahkan aja.. yang penting Mita harus putuskan aku dulu.. simple to..

Ga ada yang perlu dipaksakan dalam menjalin suatu hubungan itu.. percuma jalan dengan seorang wanita, kalau hatinya bukan untuk kita.. itu yang menjadi prinsipku dalam menjalin suatu hubungan.. hatiku memang ga bisa selingkuh, tapi batangku..? hehehehe.. itu lain lagi ceritanya.. hahaha.. bangsattt..

Dan sekarang, aku sedang bersantai dikamarku.. aku sedang berselancar didunia maya untuk mencari beberapa referensi tentang tugas sekolahku.. dan ketika aku sedang asyik didepan laptopku, Hpku berbunyi dan itu panggilan untuk video call.. aku lalu melihat Hpku dan terlihat dilayar.. kekasihku Mita yang menghubungiku..

Aku lalu meraih Hpku dan menjawab panggilan dari Mita..

“halo sayang..” ucapku dan wajah cantik Mita pun langsung terlihat dilayar Hpku..

Mita Aurela Queensha

“Hai ganteng..” ucap Mita lalu tersenyum dengan manisnya..

“tambah cantik aja loh kekasihku ini..” ucapku lalu tersenyum juga kepadanya..

“iyakah..? kamu juga tambah ganteng loh yang..” ucap Mita balas merayuku..

“kalau aku sih, memang dari sananya sudah ganteng yang.. ga kaget kalau sayang ngomong gitu barusan.. hehehehe..” ucapku lalu tertawa..

“assyyiikkkk.. berarti beruntung banget dong Mita punya kekasih ganteng seperti ini..?” ucap Mita lalu tersenyum tapi senyuman kali ini seperti menggodaku..

“banget yang.. apalagi batangku juga panjang dan besar.. hehehehe..” ucapku yang mulai terbawa nafsu ketika menatap senyum Mita yang menggoda..

“tuhkan mulai lagi mesumnya..” ucap Mita sambil pura – pura meraju..

“kamu sih pakai mancing – mancing gitu, kan aku jadi nafsu..” ucapku membela diri..

“hihihihi.. baru disenyumin aja sudah nafsu sayang ini loh..” ucap Mita lalu memundurkan tubuhnya dan meremas lembut nenen sebelah kanannya..

Loh.. ada apa ini dengan kekasihku..? tumben banget dia langsung main remes – remes gitu..? biasanya kan tunggu aku godain dan aku rayu dulu, baru dia mau meremas nenennya..

“Mit.. jahat ih..” ucapku sambil mataku melotot..

“kenapa yang..? pengen ya..?” ucap Mita lalu meremas kedua buah dadanya bersamaan sambil memejamkan matanya sebentar..

“yang..” ucapku lagi..

“ahhhhhh..” Mita lalu mendesah sambil terus meremas kedua nenennya..

Aku yang panik karena suara Mita terdengar keras ketika mendesah, langsung menarik laciku untuk mengambil headset ku dan memasangnya ditelinga lalu menyambungkannya di Hpku..

“hihihi.. semangat betul sih yang..?” ucap Mita lalu menghentikan gerakan erotisnya dan menutup mulutnya dengan manja..

“bukan gitu yang.. desahanmu itu nyaring loh..” ucapku pelan.. aku takut suaraku terdengar dari luar kamar..

Aku pun langsung menoleh kearah pintu kamarku.. sudah kukunci belum ya..? aku pun dengan cepat melepas headsetku dan berjalan kearah pintu kamar.. lalu aku menguncinya pelan supaya tidak terdengar bunyi kuncian pintu ini.. setelah itu aku duduk lagi sambil memasang headsetku lagi..

“sayang mau ngapain..? kok pintunya dikunci..?” tanya Mita dengan herannya..

“kamu mau waktu kamu lagi remas – remas gitu, bunda masuk terus mergokin kita begini..?” tanyaku..

“hihihii.. aku loh ga lanjutin lagi..” ucap Mita lalu tersenyum mengejek..

Anjinggg.. jadi cuman manasin aku aja nih Mita..? kurang ajar..

“jahat kamu yang..” ucapku sambil pura – pura meraju..

“hihihi.. makanya, cepat kesini..” ucap Mita lalu membenarkan posisi kaosnya yang agak terangkat..

“sabar yang.. belum juga ujian nasional..” ucapku sambil membenarkan posisi jono yang berdiri karena melihat gerakan erotis dan mendengar desahan Mita tadi..

“hihihi.. pasti berdiri ya ‘punyanya’ sayang..” ucap Mita lalu menggodaku lagi..

“ya iyalah yang.. aku kan normal..” ucapku lagi..

“ooo.. gitu ya.. jadi mau apa nih..?” ucap Mita lalu meremas lagi nenennya..

“udah yang.. cukup.. masa aku coli sih..?” ucapku dan suaraku kubuat seperti berbisik..

“beneran ga mau lihat isinya.. ahhhhhh..” ucap Mita sambil mendesah lalu menggigit bibir bawahnya dan terus meremas kedua buah dadanya..

“yang.. woi…woi..” ucapku menahan supaya Mita ga lebih gila lagi..

Dan Mita tidak mendengarkan ucapanku.. sekarang dia malah memasukkan kedua tangannya ke balik kaosnya lalu meremas dari dalam nenennya itu..

“yaaaaang… ahhhhhh..” ucap Mita lalu memejamkan matanya, seolah menikmati remasannya itu..

“gila kamu yang.. gila..” ucapku sambil menjambak rambutku sendiri.. dan nafsuku pun semakin naik melihat kegilaan kekasihku ini..

“uhhhhh..” desah Mita lalu melepaskan remasannya dinenen dan mengangkat kaosnya sampai memperlihatkan branya yang berwarna hitam..

Anjinggg.. Mita pakai bra warna hitam lagi.. dan dia tau, kalau aku itu suka sekali ketika dia memakai bra berwarna hitam itu..

“Mitttt..” ucapku sambil melotot..

“ga pengengn bukain yang..? hihihihi..” ucap Mita lalu tertawa dan kedua tangannya langsung kebelakang punggungnya dan

Klik..

Pengait Bra hitam itu pun langsung terturun dan menjuntai kebawah, sedangkan bagian depannya masih menutupi kedua nenennya..

“uhhhhh.. yanggg.. gilaaaa..” ucapku sambil mendekatkan wajahku ke Hp yang aku sandarkan didekat laptopku..

“mau lihat ga yang..?” ucap Mita lalu memasukkan kedua tangannya kedalam Branya lagi dan seperti gerakan yang memelintir kedua puttingnya..

“yang.. ampun yang.. masa aku coli sih yang..?” ucapku yang sange ngelihat wajah Mita yang nggemesin itu..

“terserah sayang lah.. ahhhhh..” ucap Mita lalu menutupi kedua buah dadanya dengan lengan kanannya dan tangan kirinya menurunkan branya.. dan Mita kembali menutup kedua nenennya yang sudah tidak memakai bra itu dengan kedua telapak tangannya..

“Mit.. ampun Mitt.. ampunn..” ucapku yang sudah ngaceng berat ini..

Anjing.. nanggung banget sih pakai Hp ini.. apa aku pindahkan ke laptop aja video callnya..? tapi kalau Mita berubah pikiran gimana..? bajingaannn..

“sayang beneran ga pengen ngeluarin ‘itunya’ ya..?” ucap Mita sambil meremas kedua nenennya itu..

“jangan yang.. jangaann.. masa aku coli sih..?” ucapku sambil meremas batangku.. aku sengaja jual mahal dengan permintaan Mita itu.. aku ingin lihat seberapa ‘nekat’ sih kekasihku hari ini..

“beneran..” ucap Mita lalu merenggangkan jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga puttingnya yang kemerahan itu mengintip sedikit dicelah jari – jari itu..

“anjiiiingggg.. jahat kamu yang.. jahat..” ucapku sambil membersihkan keringat yang membasahi keningku dengan telapak tanganku..

“beneran..” ucap Mita lagi sambil terus menggodaku dan sekarang kedua puttingnya telah keluar dan langsung dijepit diantara jari tengah dan jari telunjuknya itu..

“Mitaaaaaa..” ucapku geregetan.. kalau tadi aku jual mahal, sekarang aku yang mulai terpancing dengan ‘tingkah’ kekasihku ini..

“sayang ah….” ucap Mita dengan manjanya lalu menggesek puttingnya dengan menggunakan jari telunjuknya..

“uhhhhhhh..” ucapku yang tidak berkedip sama sekali..

“beneran sayang ga mau keluarin nih..?” ucap Mita dan dia langsung melepaskan kedua telapak tangannya, sehingga kedua nenennya langsung tertampang jelas dihadapanku..

Dan nenennya yang Lumayan besar, putih dan putting berwarna merah, langsung menggodaku untuk menjamahnya.. gilaaaa.. makin mantap aja nih nenennya Mita..

“yang.. pakai bajumu lagi yang.. pakai..” ucapku yang sudah gak kuat lagi kepada Mita.. cukup sudah kegilaan kekasihku ini.. bukannya aku ga suka, tapi aku takut nanti malah kebablasan.. bagaimana coba kalau sampai aku sange dan dia juga sange..? masa aku coli dan dia colmek sih..? gilaaa.. gilaaa..

“enggah ah..” ucap Mita lalu dia menutup lagi nenennya dengan kedua telapak tangannya.. setelah itu sekarang giliran jari tengah dan jempolnya yang memelintir kedua puttingnya..

“yang ampun yang..” ucapku dan sekarang aku meremas batangku yang sudah berdiri tegak ini..

Anjing anjing.. isi kantong kemihku ini sudah lama ga dikeluarin, sekarang Mita malah begini lagi.. masa hari ini aku coli beneran sih..? gila aja..

“ahhhhhh..” desah Mita lalu mendangakkan kepalanya keatas sambil terus memelintir kedua puttingnya..

Waw.. gilaaa.. seksi banget kekasihku ini.. kelihatannya dia sange berat nih.. bajingaann..

“yang sudah yang.. sudah..” ucapku yang sudah ga tahan lagi melihat kekasihku sange begini.. aku juga sange sih sebenarnya.. tapi gimana coba kalau sampai keterusan dan ga ada tempat pelampiasan..? bangsaatt..

“beneran ga mau dilanjutin..?” ucap Mita lalu menghentikan gerakannya sambil menurunkan kedua tangannya dari nenennya dan itu menampakkan lagi kedua nenennya..

“iya yang.. iya.. cukup ya..” ucapku memohon untuk kesekian kalinya..

“beneran..?” ucap Mita dan sekarang dia mengangkat kaosnya yang ada diatas nenennya.. lalu meloloskannya.. gilaaaa.. kok makin gila aja nih Mita..? dan sekarang dia sudah bertelanjang dada dilayar Hpku.. kalung emas yang aku belikan dan aku kenakan dilehernya pun, sekarang terlihat dengan jelas melingkar dilehernya yang putih..

“yang kok malah dibuka sih..?” tanyaku..

Dan Mita hanya tersenyum lalu dia mengambil sesuatu dimejanya.. apa lagi yang mau dibuat kekasihku ini..? dan ternyata, Mita mengambil Lipstiknya yang tertutup dengan ujungnya lonjong seperti batang laki – laki..

Waw.. mau apa lagi nih..? dan Mita langsung menjilat ujung lipstiknya itu sambil menatapku..

“hemmmmmm..” ucap Mita setelah lidahnya menyapu ujung tutup lisptiknya itu..

“waw.. yang..” dan tubuhku langsung merinding.. aku seperti berada disana dan kepala batangku sedang dijilat oleh Mita..

“mana ‘punyamu’ yang..? sini Mita jilat..” ucap Mita sambil mendekatkan wajahnya diHp lalu mengeluarkan lidahnya dan dibuat gerakan seperti menjilat..

Bangsaaatttt.. sange aku.. sangeee….

“kamu ga kangen di gini’in ya yang..?” ucap Mita lalu meletakkan lipstiknya diantara kedua buah dadanya dan menjepitnya dengan nenennya..

Waw… itu gerakan yang aku suka ketika berhubungan badan dengan Mita.. batangku dijepit dibuah dadanya lalu matanya melihat kearahku.. itu sangat memperlihatkan sisi yang paling seksi dari kekasihku ini.. anjing..

“Mit.. gila kamu yang..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

Lalu Mita sekarang menggenggam lipstiknya dan menjilatnya lagi.. setelah itu, Lipstiknya dimasukkan kedalam mulutnya yang mungil itu dan dikeluarkan lalu dimasukkan lagi dengan sangat pelan sekali..

Anjiiiinnggg.. coli coli dah aku ini.. gilaaaaa… akupun makin meremas batangku yang masih didalam celanaku ini..

“huuuuummmm….” Ucap Mita sambil terus memasukan dan mengeluarkan Lipstik itu didalam mulutnya..

“yang.. keluarin dong..” ucap Mita sambil menggenggam lipstiknya..

“jangan Mit.. jangan ah..” ucapku..

“sayang jahat ah.. masa Mita sudah buka kaos, sayangnya ga mau ngeluarin sih..?” ucap Mita memaksaku..

“udah yang.. udah..” ucapku dan Mita bukannya menghentikan godaannya kepadaku.. dia malah berdiri dan meletakkan Hpnya dimeja lalu diarahkan ketubuhnya yang berdiri.. dan ternyata kekasihku ini sedang memakai celana pendek ketat yang seksi dengan tanpa atasan sama sekali.. anjinnggg..

Lalu Mita memajukan wajahnya sampai kedekat Hp lagi..

“sayang mau Mita buka dulu ya..? baru sayang ikut buka..?” ucap Mita lalu memundurkan tubuhnya lagi sampai wajah dan bagian lututnya terlihat.. lalu Mita membuka kancing celana pendeknya dan menurunkan resletingnya..

Asstttaaagaaaaaa.. coli beneran aku ini.. anjinggggg..

Dan perlahan.. Mita menurunkan celana pendeknya sampai celana dalamnya yang berwarna hitam terlihat.. lalu setelah itu diapun menurunkan celana dalamnya sampai telanjang bulat..

Dan sekarang.. meki Mika yang gundul itupun terlihat dihadapanku.. setelah itu Mika mengambil headsetnya lalu memasangnya dan berdiri lagi diseperti tadi..

“yang.. aku ngelakuin ini, karena sayang kan sudah lama ga ngeluarin.. jangan salah paham ya..” ucap Mita kepadaku..

“tapi jangan juga seperti ini yang..?” ucapku..

“terus gimana..? aku ga pengen sayang ngeluarin tapi membayangkan orang lain.. mending seperti ini..” ucap Mita..

“emang selama ini, kamu pikir aku coli gitu..?” tanyaku..

“sudahlah yang.. aku juga lagi pengen..” ucap Mita dan langsung membuatku kaget..

Anjingggg.. rupanya kekasihku juga lagi kepingin..? terus aku harus gimana sekarang..? apa aku harus coli..? wahhh.. ini merusak citraku sebagai penjantan tangguh yang menggalakkan anti coli.. tapi kalau aku ga ngelakuin, nanti Mita melakukan dengan orang lain gimana..? gila aja.. memang sih kalau sudah sange terus ga dikeluarin, itu ibarat ngenge yang sudah berada diujung lubang pantat dan ga dikeluarin.. apa ga tersiksa..? bajingaannn..

Oke.. mungkin ga apa – apa kali ya coli dihadapan kekasih seperti ini.. namanya juga LDR.. ya ngesex nya juga LDR an.. dari pada coli sambil melihat video porno..? atau malah coli dipinggir jalan sambil lihat orang yang lewat.. apa ga ngeri kalau gitu.. iiiiii..

Mita pun berdiri lagi.. tapi karena kabel headsetnya kurang panjang.. Mita pun langsung melepaskan headsetnya sambil memegang lipstick tadi..

Lalu setelah itu, Mita pun mengemut Lipstiknya dengan tangan kiri dan tangan kanannya memainkan belahan ujung atas mekinya..

Uhhhhh.. kok bisa begini sih kekasihku ini..? gilaaaa.. seksi banget..

Dan tampak Mita melakukan itu sambil memejamkan matanya.. dia seperti membayangkan itu sebagai hubungan badan yang sesungguhnya..

Dan dengan perlahan aku pun akhirnya membuka kancing celanaku lalu menurunkan resletingnya.. anjingggg.. coli aku brooo.. coli…

“yang.. Mita duduk aja ya..” ucap Mita sambil mendekatkan headset yang diletakannya tadi.. dan aku pun menganggukan kepalaku..

Setelah itu Mita duduk dan bersandar didinding disebelah kasurnya, lalu dengan menggunakan bantal untuk mengganjal hpnya, Mita pun langsung mengangkang sambil memakai headsetnya lagi..

“yang.. ini pertama kali Mita colmek loh..” ucapnya.. dan aku pun makin nafsu mendengar kekasihku ini berkata colmek.. hahahaha.. bangsat.. bangsat..

Dan meki Mita yang berwarna merah itupun terlihat jelas dilayar Hpku.. lalu Mita pun mulai meraba belahan mekinya lagi dan memainkannya dengan sangat pelan..

“uuhhhhh.. yang..” ucap Mita yang wajahnya juga nampak di Hpku..

Dan akupun mulai mengocok batangku pelan..

“yang.. boleh ga ini dimasukin kemeki Mita..?” ucap Mita sambil menunjukkan lipstick yang ukurannya jauh lebih kecil dari batangku yang besar ini..

Dan gilanya.. aku langsung menyetujui permintaan kekasihku ini.. anjinggg.. kenapa aku bisa seperti ini sih..? apa karena aku mau melihat kekasihku itu puas..? okelah.. yang penting bukan batang laki – laki lain aja yang masuk kesitu.. bisa kuremukkan batang sekalian bijinya, kalau sampai ada yang melakukan itu kepada kekasihku ini..

Dan perlahan, ujung lipstick itupun mulai masuk kedalam meki kekasihku ini.. gilaaa.. lipstick yang sekecil itu saja, seperti kesusahan masuk dilubang meki Mika yang sempit itu.. apalagi batangku yang besar ini masuk kedalam sana.. padahal batangku ini sudah sering kali masuk kedalam situ.. tapi meki Mita masih terlihat sangat sempit sekali.. anjinggg..

“yaaanggg.. enak banget.. tapi masih enak pakai punya sayang.. uhhhhhh..” ucap Mita mendesah sambil memasukan lipstick itu kedalam mekinya lalu mengeluarkannya dan memasukkannya lagi..

“uuhhhhh…” ucapku mendesah sambil mengocok batangku..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Mita pun mulai memainkan lipstick itu keluar masuk mekinya sambil meremas nenennya..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

“aaahhhh.. sayang..” desah Mita sambil matanya merem melek..

Dan aku pun makin mempercepat kocokanku melihat meki Mita, yang mulai keluar cairan disela – sela lipstick yang keluar masuk dimekinya itu..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Dan Mita makin mempercepat kocokan dimekinya..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

“yang.. batangnya sayang enak banget yang.. ahhhhh..” ucap Mita sambil memejamkan matanya dan dia membayangkan batangku yang masuk kedalam mekinya..

“aahhhhh.. yang..” desah Mita lagi..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

“aaahhhhh.. ahhhhh…” desah Mita sambil meliuk – liukan tubuhnya..

“Mita mau keluar yang.. aaahhhhhh..” ucap Mita lalu menambah kecepatan kocokannya..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

“iya yang.. aku juga..” ucapku sambil mengocok batangku dengan cepat pula..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Clok.. clok.. clok.. clok.. clok.. clok..

Lalu tubuh Mita mengejang dan dia mencabut lipstick dari mekinya lalu..

Sretttt.. srettt.. srettt.. srettt.. srettt.. srettt.. srettt..

Cairan deras langsung keluar dari meki Mita seperti air kencingnya…

“aaahhhhhhhh..” desah panjang Mita dan aku makin mempercepat kocokanku lagi dan mearih tisu yang ada dimeja lalu menutupi kepala baatangku…

Crotttt.. crotttt.. crotttt.. crotttt.. crotttt.. crotttt.. crotttt..

Akupun mencapai klimaks setelah Mita mengeluarkan cairannya tadi..

Bajingaaannnn.. ternyata bisa juga aku coli ya.. enak banget.. walaupun ga seenak hubungan sex yang sebenarnya sih..

Hu.. hu.. hu.. hu.. hu.. hu..

Mita lalu menyandarkan lagi tubuhnya dinding sambil meluruskan kedua kakinya.. dia menikmati sisa sisa orgasme yang keluar tadi..

“gila yang.. akhirnya Mita bisa juga orgasme setelah terakhir Mita keluarin dengan sayang dulu.. huu.. hu.. hu..” ucap Mita sambil mengatur nafasnya..

Anjinggg.. kalau aku sudah pernah mengeluarkan kepunyaanku di meki orang lain Mit.. maafkan aku.. maafkan aku yang ga bisa menjaga batangku ini..

Dan aku pun menyandarkan punggungku dikursi sambil membersihkan batangku dengan tisu yang baru..

Dan setelah kami berdua tenang..

“Mita bersihin sebentar ya sayang.. jangan ditutup dulu telponnya..” ucap Mita lalu berdiri sambil membawa Hpnya..

“iya yang.. aku juga..” ucapku dan aku langsung kekamar mandi sambil membawa tisu yang menampung spermaku tadi..

Aku pun lalu membasahi tisuku untuk menghilangkan jejak hasil coliku tadi.. bangsaattt.. kok bisa seperti ini sih aku..? apa pikirankuku sudah sakit karena sudah lama ga dikeluarin..? kalau aku yang beberapa bulan belum dikeluarin aja bisa seperti ini, apa lagi Mita yang lebih lama lagi belum dikeluarkannya.. gila.. gila..

Dan setelah membasuh batangku dan memasukannya lagi kedalam sempak.. akupun mengancingkan celanaku lagi.. setelah itu aku duduk lagi dihadapan laptopku dan melihat kearah Hpku.. tampak Mita masih membersihkan sisa – sisa colmeknya yang tercecer dilantai.. dan setelah itu.. Mita memakai kaosnya dan celana pendeknya lagi tanpa daleman..

Dan setelah itu Mita duduk dimejanya dan mengobrol lagi denganku.. rambutnya sekarangpun tampang dikuncirnya kebelakang..

“maaf ya sayang, maaf kalau Mita seperti ini..” ucap Mita yang sekarang terlihat malu disambungan video call kami ini..

“iya Mit..” ucapku lalu tersenyum untuk menenangkannya..

“sumpah yang, Mita ga pernah melakukan hal seperti ini.. ga tau kenapa hari ini Mita kok pengen sekali..” ucap Mita lalu tertunduk malu..

“iya gak apa – apa.. aku juga minta maaf yang..” ucapku kepadanya..

“hiuufftttt.. huuuu..” Mita menarik nafasnya panjang lalu mengeluarkannya perlahan..

“udahlah yang.. kalau aku disana, mungkin lain ceritanya,..” ucapku

“maaf yang.. maaf..” ucap Mita lagi sambil menatap layar Hpnya..

“sudahlah yang.. ga usah dibahas lagi..” ucapku menenangkan Mita.. dan wajahnya memang terlihat sangat bersalah sekali..

“gak gitu yang.. Mita seperti wanita yang..” ucapnya terpotong..

“Mit.. ga usah dibahas lagi..” ucapku yang memotong ucapannya tadi..

Dan Mita pun tertunduk lagi.. anjinngg.. kok jadi begini sih..? masa habis dikeluarin, sekarang jadi mellow – mellow an gini..? ahhhhh.. bajingaannn..

“gimana kuliahnya yang..? lancar..?” tanyaku mengalihkan pembicaraan..

“iya yang.. ini mau UAS untuk semester pertama..” ucap Mita sambil mengangkat wajahnya dan menatapku..

“aku juga mau ujian semester yang..” ucapku lalu tersenyum dan aku mencoba bersikap biasa.. kalau sudah ngecrot terus mau diapa..? masa pejuh yang sudah dikeluarin mau dimasukin lagi..? hehehe..

“semangat ya sayang.. semoga nilainya bagus nantinya..” ucap Mita yang perlahan sudah mulai terlihat santai..

“iya.. sayang juga ya..” ucapku menyemangati dia..

“oh iya yang.. ada yang mau Mita sampaikan lagi..” ucap Mita dan sekarang wajahnya terlihat serius..

“apa itu yang..?” tanyaku..

“tapi sayang jangan marah ya..” ucap Mita memohon kepadaku..

“apasih yang..? kenapa aku harus marah..? emang masalah ini serius banget ya..?” tanyaku..

“janji dulu ga marah..” ucap Mita..

“ayolah yang.. masa harus seperti ini sih..? sayang kayak ga kenal aku aja loh..” ucapku sambil mengerutkan kedua alisku..

“iya.. tapi awas sayang marah loh ya..” ucap Mita pelan..

“hem..” ucapku singkat..

“ini tentang Mas Purnama..” ucap Mita dengan sangat berhati – hati..

“kenapa lagi sama manusia satu itu yang..? dia ganggu sayang..?” ucapku dengan nada yang agak tinggi..

“tuhkan.. sayang marah..” ucap Mita ketakutan..

“oke.. oke.. aku ga marah kok yang..” ucapku dengan menurunkan nada suaraku..

“Mas Purnama nembak Mita yang..” ucap Mita dengan bibr yang bergetar..

“APA..?” ucapku yang terkejut..

“iya yang.. dan ini yang kedua kalinya.. padahal yang pertama Mita sudah menolaknya.. Mita itu sudah kasih tau ke Mas Purnama, kalau Mita sudah punya pacar dipulau seberang.. tapi dia tetap kekeh nembak lagi.. ya Mita tolak lagi..” ucap Mita menjelaskan kepadaku..

“HAHAHAHAHAHA..” dan aku pun langsung tertawa dengan senangnya..

“loh.. kok sayang malah ketawa sih..?” tanya Mita keheranan..

“HAHAHAHAHA..” dan aku terus tertawa..

“sayang.. apa yang lucu sih..?” tanya Mita sambil mengerutkan kedua alisnya..

“sory yang… sory.. hehehe..” ucapku lalu tersenyum..

“sayang kok malah ketawa sih..? emang sayang ga cemburu pacarnya didekatin sama orang lain..?” tanya Mita..

“enggalah yang.. buat apa aku cemburu.. justru aku bangga loh, pacarku ada yang suka.. berarti pacarku ini kan istimewa sekali.. dan yang lebih membuat aku bangga lagi, ternyata sayang masih tetap dengan perasaan sayang kepadaku..” ucapku..

“kok gitu..? sayang gak takut kalau Mita berubah pikiran dan luluh dengan perjuangan Mas Purnama..? terus Mita jadian dengan Mas Purnama nantinya..?” tanya Mita..

“engga yang.. aku gak takut sama sekali.. justru ini yang akan membuat aku semakin sayang sama Mita dan aku akan membuktikan ke Mita, kalau aku ini laki – laki yang tepat untuk Mita..”

“tapi semua itu tergantung kepada Mita.. kalau Mita gak mau aku perjuangin, ya mau gimana lagi.. gak mungkin kan aku berjuang untuk cinta yang ga ingin kuperjuangkan..?” ucapku dan membalikkan kembali kepada Mita..

“loh kok sekarang dibalikkin ke Mita sih..?” tanya Mita dengan herannya..

“ya iyalah.. masa kubalikkin ke Purnama..? inikan masalah hatiku dan hatinya Mita.. ga perlu campur tangan orang lain.. lagian, aku ga punya hak untuk melarang orang lain untuk mencintai Mita.. mencintai dan dicintai itu hak asasi seseorang..”

“lagian hati itu ga akan bisa berbohong yang.. jangan samakan bibir ini yang berucap, dengan hati yang berucap.. dan sekarang itu keputusan ditangan Mita..”

“oh iya aku tegaskan.. aku ga akan jadi pengemis untuk semua cintaku ini.. kalau sayang memang mencintaiku, kita jalani semua ini dengan saling percaya.. tapi kalau sayang sudah ga mencintai aku dan memilih orang lain.. lebih baik sayang jujur sama aku.. itu akan lebih baik agar kita bisa mengakhiri semuanya dengan baik juga.. hubungan kita ini diawali dengan baik dan harus diakhiri dengan..” ucapku terpotong..

“cukup Gah.. cukup..” ucap Mita dengan tegas dan mata yang berkaca – kaca.. dan dia menyebutku dengan namaku bukan kata sayang lagi..

Dan aku langsung terdiam melihat wajah kekasihku yang terlihat marah bercampur sedih ini..

“kenapa bisa terlintas pemikiran dikepalamu, kalau aku akan berhenti mencintaimu dan hubungan kita akan berakhir..? kenapa..?” ucapnya dengan emosi..

“ternyata kamu sama aja dengan..” ucapnya terpotong lalu terdiam..

“dengan siapa..?” tanyaku..

“sudahlah kamu ga harus tau itu.. yang kamu harus tau itu, sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu dan menolak siapapun yang mencoba mengusiknya.. cuma namamu yang ada dihati ini, Gagah Irawan Sandi.. ga ada orang lain lagi..” ucapnya sambil meneteskan air matanya..

“maaf yang.. maaf.. bukannya aku meragukan cintamu.. bukan itu maksudku..” ucapku menenangkan Mita yang menangis itu..

“aku mohon denganmu Gah.. jangan pernah berpikiran seperti itu denganku.. kalung pemberianmu ini pun masih melingkar dileherku dan selalu menjaga hatiku..” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dan memegang kalung emas dilehernya..

“aku akan mengakhiri semua ini dan cinta kita, kalau kamu sendiri yang meminta kalung ini Gah..” ucapnya dan kali ini dia mengucapkan dengan wajah yang sangat sedih sekali..

Assuuu.. kok jadi begini sih akhirnya..? emang salah gitu kata – kataku dari tadi..? dan situasi ini langsung membuat batangku lemas, selemas – lemasnya.. bajingaannn..

“hey.. hey.. yang mau minta kalung itu siapa..? pantang bagi seorang Gagah Irawan Sandi, meminta sesuatu yang sudah diberikan.. itu sama aja, ngecrot terus spermanya dijilat lagi.. jijik tau..” ucapku dan sengaja aku berbicara seperti itu, untuk mencairkan suasana yang tegang ini..

“tapi ucapanmu tadi itu, seolah – olah aku itu ada niat untuk mengakhiri hubungan kita Gah..” ucap Mita dengan emosinya..

“yang.. yang.. itu loh cuman perumpaan kata aja.. maaf kalau kamu tersinggung..” ucapku dan kubuat sesantai mungkin..

“perumpaanmu itu nyakitin banget Gah..” ucapnya dengan terus meneteskan air mata..

“maaf yang.. maaf.. jangan nangis terus dong yang..” ucapku memohon kepada Mita..

“terus kalau aku ga boleh mengeluarkan air mata, aku harus gimana setelah mendengar perkataanmu tadi itu..? apa aku harus ngeluarin lendir dari mekiku..?” ucap Mita dan sekarang terdengar ketus sekali..

“hehehehe.. mungkin itu lebih baik yang.. kita keluarin lagi yo..” ucapku sambil tersenyum kepada Mita..

“iiiiiiiiii.. sebel banget sih..” ucap Mita sambil meraju..

“iya yang.. iya.. maaf ya.. aku ga akan berucap seperti itu lagi..” ucapku dan sekarang aku mulai serius lagi berbicaranya..

“aku tau kamu itu slengean Gah.. tapi ga tau kenapa, justru itu yang membuat aku ga bisa berpaling dari hatimu.. tapi aku berharap, cintamu ga ikut slengan juga ke aku..” ucap Mita sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya..

“engga lah yang.. tingkahku memang seperti ini.. tapi kamu taukan hatiku seperti apa..?” ucapku sambil menatap wajahnya yang sudah tidak terlihat air mata di bola matanya..

“iya.. aku tau hatimu seperti apa dan kamu memang bukan laki – laki yang romantic.. dan satu lagi.. memang hatimu buat aku, tapi ‘punyamu’ itu loh.. kamu buang kemana – mana isinya..” ucap Mita lalu memanyunkan bibirnya yang imut itu..

Anjingg.. kenapa merembet bahas masalah yang itu ya Mita ini..? dia memang mengetahui beberapa kali aku bermain dibelakangnya waktu dulu.. dan dia marah sekali.. tapi dengan kecupan dan belaian mesra andalanku.. hatinya pun luluh dan menerima permintaan maafku.. tapi itu yang ketahuan loh ya, yang ga ketahuan.. ga terhitung jumlahnya.. hehehe.. kurang ajar ya batangku ini..? batangku atau aku yang kurang ajar ya..? hahahahaha..

“tapi kan ‘punyaku’ tetap balik ke’sangkarmu’ kan..? hehehehe..” ucapku bercanda..

“bodo..” ucapnya sambil cemberut dan aku hanya tersenyum saja..

“kenapa aku bisa cinta sama kamu yang seperti ini ya Gah..?” ucapnya pelan lalu melihat kearah yang lain..

“karena kamu wanita yang sangat luar biasa Mit.. kalau kamu aja bisa mencintai aku dengan segala kekuranganku, kenapa aku ga bisa mencintai kamu dengan segala kelebihanmu ini..?” ucapku dan kali ini aku tidak bercanda.. aku menatap wajahnya yang langsung menoleh kearah wajahku dan menatap mataku dengan mata indahnya itu..

“aku mencintaimu dengan segala yang aku miliki..” ucapku lagi dan itu langsung membuat matanya berkaca – kaca lagi..

Anjiiinnggg.. aku itu paling malas dengan situasi mellow yang seperti ini.. dan aku itu ga bisa merangkai kata – kata indah untuk wanitaku ini.. makanya Mita itu sering berkata, aku bukan pria yang romantic.. tapi itulah aku yang sangat dicintainya.. (itu kata – kata Mita sendiri loh ya.. dia sendiri yang bilang kalau mencintai aku..)

“apa sih yang kamu miliki sampai aku bisa seperti ini..?” ucap Mita dengan bibir yang bergetar..

“lendir..” jawabku dengan cueknya..

“iiiiiii.. sebeeellll.. mesummm.. ga bisa romantis… percuma aku mau meneteskan air mataku barusan..” ucap Mita yang terlihat geregetan sekali..

“hahahaha..” dan aku pun tertawa dengan kerasnya.. aku tuh paling seneng kalau melihat wajah kekasihku sebel seperti ini.. manisnya itu nambah.. imut banget lah pokoknya.. dan biasanya kalau Mita dikota ini, aku pasti langsung mencubit kedua pipinya itu.. hahahaha..

“ga lucu..” ucapnya sambil melipatkan kedua tangannya didada lalu memanyunkan bibirnya..

Dan kalau ekspresinya seperti ini, aku langsung menyambar bibirnya.. tapi sayang, sekarang dia jauh disana.. masa iya aku nyambar layar Hpku.. hehehehe..

“iya memang ga lucu.. cintaku ke kamu itu bukan untuk lucu – lucuan tau..” ucapku dengan santainya..

“tau ah..” ucapnya sambil tetap melipatkan kedua tangannya didada..

“udahlah yang.. ga usah dibahas lagi.. intinya itu, aku mencintai kamu dan kamu juga mencintai aku.. titik..” ucapku..

“hem..” ucapnya sambil melihat kearah yang lain..

“kok cuman begitu jawabnya yang..?” tanyaku..

“terus mau nya gimana..?” ucap Mita sambil melihat kearahku sambil menurunkan kedua tangannya dari lipatan didada..

“kamu mau suruh aku menjawab apa..? aku juga mencintaimu, aku menyayangimu.. ayo kita lanjutin lagi bugil – bugilannya.. gitu kah..?” ucapnya lagi dengan ekspresi yang… uuhhhh.. pengen kuremas aja nenennya yang sekal itu.. bajingaannn..

“ayolah..” ucapku lalu aku berdiri dan membuka kancing celanaku lalu menurunkan resleting celanaku..

“kamu mau ngapain Gah..?” tanyanya dengan keheranan..

“katanya mau bugil – bugilan lagi..?” ucapku dengan santainya sambil aku menurunkan sedikit celana dalamku, sehingga menampakan bulu jembutku yang halus dan menggoda ini..

“MESSUUUUUUUMMMMM.. IHHHHHHHH.. SEBELLL..” ucap Mita dengan sangat geregetan..

“hehehehe..” ucapku lalu menaikkan lagi celana dalamku dan mengancing celanaku lalu menarik resletingnya keatas..

“udah ah.. aku mau mandi dulu..” ucap Mita dengan ekspresi yang datar..

“live ga mandinya yang..?” tanyaku lalu aku duduk lagi..

“ogah..” ucapnya..

“yahhhh.. sayang gitu..” ucapku dengan wajah yang aku buat semelas – melasnya..

“kalau mau lihat aku mandi, ijin sama pacarku dulu.. Gagah Irawan Sandi..” ucapnya

“oke..” ucapku lalu aku berdiri dan mengambil cermin kecil yang ada dilaci mejaku.. lalu aku bercermin dan berbicara pada cermin itu..

“Mas Gagah yang ganteng sedunia.. bolehkah aku melihat kekasih mu mandi..?” tanyaku pada cermin..

“boleh.. tapi kusentil dulu bijimu sepuluh kali..” ucapku lagi dan suaranya aku buat setegas mungkin..

“hihihihihi..” dan terdengar Mita tertawa melihat aku berbicara pada cermin ini..

“wadaw.. atit dong..” ucapku lagi dan kubuat seimut mungkin…

“makanya kalau kamu gak mau sakit, jangan coba – coba kamu kurang ajar sama kekasihku itu..” ucapku yang aku buat tegas lagi..

“maaf mas.. maaf..” ucapku lalu aku meletakkan cerminku didalam laci lagi..

“bagaimana..? mau lihat aku mandi..?” tanya Mita sambil melebarkan kedua matanya..

“engga jadi deh.. lebih baik aku lihat wanita yang lain aja..” ucapku ..

“ohhhhh… begitu sekarang mainnya..” ucap Mita sambil menganggukkan kepalanya..

“hehehehe..” ucapku sambil menggaruk kepalaku..

“ga apa – apa.. silahkan aja.. tapi kalau sampai nanti kita ketemu disini.. kupatahin ‘punyamu’ itu sampai ga berbentuk lagi..” ucapnya dengan sadis sambil tangannya mengepal lalu meremas dengan kuatnya..

“upsssss..” ucapku sambil memegang batangku yang menciut..

“mau..?” tanyanya..

“engga yang.. engga..” ucapku sambil menggelengkan kepala pelan dan memegangi batangku..

“bagus..” ucapnya lalu tersenyum dengan kemenangan..

“sekarang aku mau mandi dulu.. ingat satu pesanku.. jangan pernah membuang ‘isinya’ sembarangan lagi ya..?” ucap Mita pelan tapi tegas..

“oke.. jadi intinya itu boleh main, tapi isinya ga boleh sampai terbuang.. gitu ya..?” tanyaku dengan polosnya..

“apa..?” ucap Mita sambil mendekatkan telinganya di Hp..

“engga yang.. engga.. bercanda kok.. hehehehe..” ucapku lalu tertawa..

“hem..” ucap Mita sambil menganggukan kepalanya..

“ya udah.. mandi gih.. aku juga mau mandi..” ucapku..

“iya..” ucapnya dan sekarang sudah terlihat santai..

“miss you yang..” ucapku..

“miss you to..” ucapnya sambil tersenyum lalu mematikan Hpnya..

Hiufffttttt… huuuuu..

Ini ngobrol apa aja sih..? kok bisa panjang banget begini..? tapi ga apa – apa deh.. yang penting isi kantong kemihku sudah aku keluarin, walaupun dengan cara yang hina.. coli.. hahahaha.. asuuu.. assuuu..

Dan sekarang aku juga sudah mengetahui, kalau Purnama itu menyukai Mita.. oke.. aku sih santai aja, tapi kalau sampai dia memaksakan cintanya ke Mita.. sesuai janjiku dulu, orang yang pertama aku cari dikota pendidikan.. adalah Purnama.. dan aku akan membantainya sendiri, dengan tanganku ini.. bangsattt..

Pov Badai

Holaaaa.. bertemu lagi dengan aku, Badai.. Badai si penya’ir jalang.. hahahaha.. bangsat..

Hari ini aku lagi nongkrong diparkiran didepan kampus.. dan aku bersama Mas Panji, Mas Agam, Mas Gibran, Pace Beni dan Kenzie sahabatku.. kami berenampun sedang pesta minuman disini.. para tukang parkir yang menjaga kendaraan, hanya sesekali mengikuti pesta kami ini.. karena mereka sudah mabuk sekali.. dan pesta ini sudah kami lakukan semenjak tadi pagi sampai siang ini..

“gimana kuliahmu dai..?” tanya Mas Panji..

“aman mas.. hehehehe..” jawabku dengan santainya lalu aku menghisap rokokku..

“aman gimana..? kamu sering ga masuk kuliah gitu kok..” ucap Kenzie menyahut dan aku hanya tersenyum saja..

“kamu kemana sih dai kalau ga masuk kuliah itu..? dikosan juga jarang kok..” tanya Mas Agam kepadaku..

“kekampus negeri Mas.. dia kan kuliahnya dobel.. kampus teknik kita sama kampus negeri..” Kenzie yang menjawabnya..

“cookkk.. ngapain kamu kesana terus dai..? ada cewekmu kah disana..?” tanya Mas Gibran..

“bukan cewek Mas, tapi cowok.. dia kan pacaran sama Angger sekarang..” sahut Kenzie lagi.. anjing nih anak.. kok dari tadi dia terus sih yang nyahut..

“pukimai ini.. ko berubah haluan kah..?” sahut Pace Beni sambil menuangkan minumannya lalu meminumnya..

“iya Pace.. dia sekarang senang sesama jenis.. katanya, ga penting jenis kelamin itu.. yang penting punya lubang, walaupun dibelakang.. hahahaha..” sahut Kenzi yang membuatku hanya menggelengkan kepala saja..

“hahahahahaha..” dan semua temanku ini langsung tertawa kecuali Mas Panji.. dia hanya menatapku sejenak, lalu menghisap rokoknya lagi.. anjingg.. ngeri juga ya tatapan Mas Panji ini..

“kamu kok diam aja dai..? kamu memang senang sama Angger kah..?” tanya Mas Gibran lalu tersenyum mengejek..

“iya Mas.. soalnya aku bosan sama Kenzie ini.. lubang bokongnya, sudah ga ngegrip lagi..” ucapku dengan cueknya lalu mengambil jatah minumanku dari Pace Beni dan meminumnya..

“anjinggg.. mulutmu dai..” maki Kenzi kepadaku..

“Kok kamu marah zie..? curiga kamu cemburu sama Angger yang dekat sama Badai ya..?” tanya Mas Agam dengan wajah yang dibuat seperti meledek..

“taik.. taik.. malah aku lagi yang kena bully..” ucap Kenzie lalu meminum jatah minumannya….

“memang seharusnya kamu yang dibully zie.. soalnya wajahmu itu jengkelin banget sih.. hahahaha” ucap Mas Gibran lalu tertawa..

“assuuu..” maki Kenzie pelan..

Dan tidak lama kemudian, ketika kami sedang asyik menikmati minuman kami.. sekelompok bajingan kampus teknik kita yang pernah aku bantai, lewat disebrang jalan.. dan didepan kelompok itu, tampak Boy memimpin dengan jalan terpincang – pincang bersama seseorang yang misterius.. orang yang menatapku dikafe waktu itu..

Beberapa bajingan itu tidak ada yang berani melihat kearah kami.. hanya manusia misterius saja dan beberapa orang lagi yang berani melihat kearah kami, dan yang ditatap olehnya hanya aku.. bangsaattt..

Lalu mereka pun berhenti dan duduk didekat pagar kampus.. jarak mereka dengan kami pun tidak terlalu jauh.. dan salah satu dari mereka, mengeluarkan beberapa botol minuman dan mereka juga berpesta seperti kami..

“kenapa kamu lihatin Faris dai..?” tanya Mas Panji yang mengagetkanku..

“Faris..?” tanyaku balik ke Mas Panji..

“ituloh yang jalan sama Boy..” sahut Mas Agam..

“ohhh.. namanya Faris to..” ucapku sambil menganggukan kepalaku dan aku terus menatap orang yang bernama Faris itu..

“kamu lagi ga bermasalah sama dia kan..?” tanya Mas Gibran..

“semoga Mas.. tapi aku berharapnya ada masalah sama dia..” ucapku dengan santainya lalu aku menghisap rokokku..

“pukimai ko Badai.. ko senang sekali cari masalah…” ucap Pace Beni dan aku hanya tersenyum saja..

“Faris itu pimpinan mereka dai.. oh iya satu lagi, Haris.. Haris itu adiknya Faris.. mereka berdua dan kelompok mereka yang ingin menggoyang pondok merah..” ucap Mas Panji..

“kalau mereka ingin menggoyang pondok merah, kenapa ga dibantai aja Mas..?” tanyaku..

“gak semudah itu kita membantai mereka dai.. apalagi Faris dan Haris.. mereka berdua memang ingin menggoyang pondok merah, tapi mereka berdua tidak pernah bergesekan langsung dengan kita.. pasti para cecurut – cecurutnya aja yang disuruh maju..” ucap Mas Panji dengan santainya..

“kenapa mereka berdua ga mau maju sendiri mas..?” tanyaku lagi..

“karena mereka berdua satu desa denganku.. desa jati bening.. aku, Faris dan Haris saling mengenal.. makanya mereka berdua gak mau bergesekan langsung dengan pondok merah.. kalau menurutku bukannya ga mau, tapi mungkin menunggu saat yang tepat..” ucap Mas Panji lalu meraih gelas yang ada dihadapannya dan meminum jatah minumannya..

“yang mana namanya Haris itu mas..?” tanyaku sambil melihat kearah kelompok mereka..

“ga ada disitu.. mungkin masih dikosan..” jawab Mas Panji..

“mereka berdua itu sama – sama kuat dai.. jadi kalau mereka berdua sampai duet menghajar musuhnya.. bisa kewalahan musuh – musuhnya..” ucap Mas Agam menyahut..

“persetanlah mas.. kalau mereka cari gara – gara.. jangankan mereka berdua, satu kelompoknya juga aku hancurkan..” ucapku dengan santainya..

“jangan sesumbar dulu, kalau belum merasakan..” ucap Mas Panji dengan dinginnya..

Dan aku pun hanya diam.. Anjing.. kok jadi penasaran banget ya aku sama Faris ini.. sekuat apasih dia itu, kok dia berani mau menggoyang pondok merah yang sangat tersohor ini.. dan yang makin membuatku penasaran, tatapannya itu seolah menantangku untuk berduel.. tapi iya kalau dia mau ngajak duel..? kalau engga..? bangsattt.. terus gimana caranya supaya aku bisa duel sama dia ya..? masa iya aku datang, terus main pukul aja.. pasti salah banget aku.. bajingaannn..

Mungkin saat ini yang ada dihadapanku aja dulu yang buat aku penasaran, kalau masalah Haris.. aku belum lihat orangnya.. tapi mungkin nanti aku juga akan berduel dengannya..

Dan bersamaan dengan itu, seorang wanita berhijab keluar dari pagar kampus dan melihat kearahku.. wanita setengah baya yang cantik, anggun dan judes.. hehehehe…

 

Karina Dwi Pramesti

Siapa lagi kalau bukan Dwi.. dan ketika dia sudah keluar pagar kampus, Dwi langsung berbelok dan berjalan kearah jalan besar sambil melirikku sejenak lalu menatap kearah jalan lagi.. dan dia akan melewati kelompok Faris yang sedang berpesta diseberang jalan sana..

“hai mahasiswi S2..” goda salah satu bajingan kepada Dwi dan Dwi tidak menghiraukan godaan bajingan itu.. Dwi terus berjalan sambil menunduk..

Anjingg.. Dwi itu mahasisiwi S2..? baru tau aku.. bangsattt.. tapi ngomong – ngomong, berani juga anak itu godain Dwi.. dia ga takut diterkam sama Dwi apa..?

Lalu seseorang berdiri dan berjalan disamping Dwi..

Waw.. waw.. ini nih yang seru.. kalau sampai dia berani menyentuh Dwi, aku ada alasan untuk menghajar salah satu dari mereka dan membuka jalanku untuk berduel dengan Faris..

Lagian, aku pasti cemburu lah kalau ada laki – laki lain yang menggoda Dwi.. apa..? cemburu..? ga salah nih..? emang aku siapanya, kok aku cemburu..? terus kalau suaminya yang goda..? itu lain cerita lah.. hehehehe..

“kok nunduk sih Mba..? entar cantiknya ga kelihatan loh..” ucap orang itu dan Dwi tetap cuek sambil terus berjalan..

Dan dengan kurang ajarnya.. orang itu langsung memegang tangan kanan Dwi dengan tangan kirinya dan menariknya..

Bangsaatttt.. berani sekali dia memegang tangan Dwi.. mau memang ini kubuat tidur diaspal.. bajingaannn..

“Mas Faris mau kenalan Mba..” ucap orang itu sambil menarik tangan Dwi dengan agak kuat..

“apa sih kamu itu..?” ucap Dwi lalu mencoba berontak.. tapi karena pegangan dan tarikan orang itu lebih kuat.. tubuh Dwi pun tertarik kearah Faris yang duduk didekat pagar..

Karena suara Dwi lumayan keras.. Mas Panji, Mas Agam dan Mas Gibran yang duduk memunggungi kelompok itu, langsung menoleh kearah Dwi.. lalu Mas Panji melihat kearahku lagi..

“kamu kenal sama mahasiswi S2 itu dai..?” tanya Mas Panji..

“kenapa Mas..?” tanyaku balik bertanya..

“mereka sengaja memancing reaksi kita..” ucap Mas Panji lalu menghisap rokoknya..

“kalau gitu, mereka berhasil melakukannnya Mas..” ucapku lalu berdiri dan menghisap rokokku dalam – dalam kemudian aku membuang puntung rokokku..

“mau kemana kamu dai..?” tanya Kenzie ketika aku mulai melangkah kearah kelompok Faris..

“kalau Faris gak mau bergesakan langsung dengan pondok merah, aku sendiri yang akan gesek kepalanya..” ucapku sambil berhenti sebentar sambil menoleh kearah teman – temanku..

Mereka semua tampak terkejut mendengar jawabanku.. dan lagi – lagi, hanya Mas Panji yang santai tidak menampakkan ekspresi keterkejutan sama sekali.. lalu dengan santainya, aku melihat kearah Faris dan aku berjalan lagi kearah mereka..

“anjinggg..” maki Kenzie..

“pukimai..” suara Pace Beni..

“cookkk..” maki Mas Gibran dan Mas Agam barengan..

Aku tidak menghiraukan makian teman – temanku itu, aku terus berjalan kearah Dwi yang masih mencoba melepaskan pegangan tangan orang itu.. dan orang yang memegang tangan Dwi itu, tidak pernah aku lihat sama sekali selama aku kuliah disini..

Dan ketika aku dekat dengan kelompok mereka, orang – orang yang pernah aku bantai tampak gugup sekali.. sedangkan yang tidak pernah merasakan tinjuku dan tendanganku, hanya santai saja termasuk Faris..

“lepasin..” ucap Dwi yang wajahnya mulai ketakutan sambil menarik tangannya dari tarikan orang itu.. dan..

BUHHGGG..

Tanpa banyak bicara, aku langsung melayangkan pukulanku kearah rahang orang itu dengan kuatnya.. sampai dia oleng dan tarikan tangannya ditangan Dwi terlepas..

“ARRGGHHH.. ANJINGGG..” teriak orang itu dan dia langsung terjatuh karena tersandung trotoar yang agak tinggi..

“BANGSAATTTT..” teriak beberapa orang yang tidak pernah merasakan tinjuku dan mereka berteriak sambil berdiri..

Sedangkan yang pernah merasakan pukulanku tetap duduk ditempatnya termasuk Boy..

Dwi yang kaget ketika melihatku mengahajar orang itu, hanya berdiri mematung.. aku pun mendatangi Dwi dan menggenggam telapak tangan kanannya menggunakan telapak tangan kiriku..

“ayo mba..” ucapku dan Dwi tidak menolak pegangan tanganku.. akupun berjalan kearah teman – temanku yang berdiri sambil menggelengkan kepala mereka.. hanya Mas Panji saja yang masih duduk sambil menghisap rokokknya..

Dengan perlahan, Dwi membalas menggenggam telapak tanganku yang memegang telapak tangannya ini..

Hiuuufftttttt.. rupanya dia membutuhkan perlindungan dari pangeran tampan ini.. hahahaha..

“woiii..” panggil seseorang dibelakang dan aku langsung menghentikan langkahku, lalu aku membalikkan tubuhku dengan tetap menggenggam telapak tangan Dwi..

Dan ternyata yang memanggilku adalah si Faris.. mantappp nih.. semoga aja dia menantangku berduel..

“kenapa bro..?” tanya ku dengan santainya sambil menatap matanya..

“kamu kepengen sekali ya duel sama aku..?” tanyanya dan dia masih dalam posisi duduk dan bersandar pada dinding pagar tanpa melihat kearah wajahku..

Anjingg.. tau aja dia kalau aku itu kepenget banget duel sama dia.. berarti dia memang bukan orang sembarangan ini..

“banget.. apalagi kamu sudah ganggu wanita dibelahku ini..” ucapku dan dwi langsung mengeratkan genggamannya tangannya sambil melihat kearahku..

“ayolah.. siapa tau habis ngalahin kamu, Panji mau duel sama aku..” ucapnya lalu berdiri sambil membuang rokoknya dan melirikku..

Loh maksudnya apa ini..? Mas Panji sudah pernah ditantang dan ga mau terima tantangannya gitu..? kenapa bisa begitu..? ini yang bener yang mana sih ceritanya..? Faris yang ga mau bersenggolan langsung dengan pondok merah, atau Faris sudah nantang tapi ga diladeni..?

Ada apa sih dengan Mas Panji ini..? ga mungkin lah sekelas Mas Panji menolak ajakan duel Faris tanpa ada sebabnya..

Dan aku merasa, beberapa orang berjalan mendekati aku dari arah belakangku..

“Nji.. aku duel sama anak ini ya..?” ucap Faris dan ternyata yang ada dibelakangku, Mas Panji beserta yang lain..

“tapi setelah aku merobohkan dia, aku mau duel sama kamu..” ucap Faris dengan pedenya ke Mas Panji..

“hehe..” Mas Panji hanya tersenyum saja..

“assuuu.. disenyumin aja tantanganku..” ucap Faris sambil melirik kearah teman – temannya..

“gimana kalau duelnya di pondok merah aja mas.. jadi kalau sampean bantai anak ini didepan Mas panji dan dikandangnya, mau gak mau.. Mas Panji pasti akan berduel dengan sampean..” ucap seseorang yang bertubuh tinggi besar kepada Faris lalu melihatku dengan tatapan yang mengejek..

“boleh juga.. dan supaya anak ini lebih semangat duelnya sama aku, dan aku mengeluarkan sedikit tenagaku.. perempuan ini akan menjadi taruhannya..” ucap Faris sambil melirik Dwi lalu menatapku..

“APA..?” ucap Dwi yang terkejut dengan situasi yang ada dihadapannya ini..

Dwipun langsung melepaskan genggaman tangannya ditanganku dan matanya pun berkaca – kaca.. aku sempat melihat kearah wajah Dwi sebentar lalu melihat kearah Faris lagi..

“kalau mau duel, duel aja.. ga usah pakai taruhan..” ucapku sambil menatap mata Faris..

“itukan supaya kamu ga jatuh sama pukulan pertamaku..” ucap Faris dengan santainya..

“sudahlah.. aku tunggu dikosanmu ya..” ucap Faris lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan kami, diikuti oleh para cecurutnya..

Bangsaaatt.. angkuh sekali manusia satu itu.. anjinggg.. kelihatannya dia sengaja memancing emosiku.. supaya aku ga konsentrasi ketika berduel dengannya..

Mas Panji kemudian menepuk pundakku pelan lalu berjalan kearah kosan, diikuti oleh Mas Agam, Mas Gibran, Pace Beni dan Kenzie..

“Badai..” ucap Dwi sambil menggelengkan kepalanya dan matanya berkaca – kaca..

“maaf kalau kamu harus berada pada pusaran ini..” ucapku lalu meninggalkannya dan menyusul teman – temanku..

“Badai..” panggil Dwi dan aku langsung menoleh kearahnya..

“kamu tau.. aku itu sekarang lagi marah, benci, jengkel, sedih, takut dan bingung dengan ini semua.. aku juga merasa seperti manusia bodoh saja sekarang ini..”

“dan ga tau kenapa, aku harus mengatakan ini kepadamu.. kamu ga akan membiarkan dia menang kan..?” ucap Dwi dengan bibir yang bergetar..

“gak tau..” ucapku sambil menatap matanya yang langsung mengeluarkan tetesan air mata kesedihan..

Aku lalu meninggalkan Dwi yang menangis itu, aku berjalan kearah gang kosanku.. dan didepan gerbang utama kampus, aku melihat ‘mileaku’ menatapku dengan tatapan yang sangat sedih sekali.. anjinggg.. sekarang belum waktunya aku mendekati ‘mileaku’.. aku ingin menuntaskan duelku dulu, yang terasa agak menegangkan ini..

Bajingaannn.. kenapa bisa deg – degan gini ya aku..? aku belum pernah setegang ini ketika akan berduel dengan seseorang.. tatapan mata Faris, mengisyaratkan kalau dia bukan lawan yang mudah bagiku.. anjingggg..

Asudahlah.. aku harus mengeluarkan semua kemampuanku untuk bisa menumbangkannya..

Dan ketika aku sampai didekat pondok merah, semua teman – temanku dan kelompok Faris, masih berdiri didepan kosan.. tidak ada yang masuk keruang tengah satu orang pun.. dan penghuni pondok merah yang tidak ikut berpesta tadi, juga keluar kosan dan bergabung dengan Mas Panji..

“yang boleh masuk kedalam, cuman yang berduel dan penghuni kosan ini.. selain yang aku sebutkan, jangan ada yang nekat masuk.. atau aku sendiri yang akan mematahkan kakinya..” ucap Mas Panji lalu masuk kedalam kosan diikuti oleh seluruh penghuni pondok merah..

Kelompok Faris pun hanya saling berpandangan dan tidak ada yang bersuara.. aku lalu masuk kedalam kosan dengan santainya, dan diikuti oleh Faris dibelakangku..

Pintu kosanku pun tidak ditutup oleh Faris, jadi semua kelompoknya bisa melihat duel kami dari luar kosan..

Dan sekarang.. aku dan Faris sudah berada diruang tengah dan saling berhadapan.. sebagian teman – temanku duduk dikursi ruang tengah dan sebagian lagi berdiri didepan kamarnya..

“jadi gimana..? kamu duluan yang serang aku, atau aku yang akan memukulmu terlebih dahulu..?” ucap Faris dengan santainya..

“banyak omong kamu..” ucapku lalu berlari kearahnya sambil mengarahkan kepalan tangan kananku kearah rahangnya dengan sangat kuat..

BUUHGGG…

Bangsaatttt.. Faris tidak roboh sama sekali dengan pukulanku yang kuat ini..? gilaaa.. kuat juga dia.. jangan kan roboh, tubuhnya pun tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.. hanya kepalanya yang tertoleh kearah kanan dan ujung bibirnya mengeluarkan tetesan darah.. bajingaannn..

“cuman segini aja kekuatanmu..?” ucap Faris sambil membersihkan tetesan darah diujung bibirnya dengan menggunakan jempolnya, lalu darah yang ada dijempolnya itu dibersihkan menggunakan lidahnya..

“banyak bicara kamu..” ucapku lalu aku mengarahkan injakan telapak sepatuku kearah dadanya.. dan bukannya Faris menghindar, dia malah merentangkan kedua tangannya lalu menekuk tangannya itu dan menahan injakan kakiku didadanya..

BUUHGGG…

Faris menahannya dengan dada lalu mendorong dadanya kedepan sampai aku termundur.. bajingaannn.. dan dia melakukan itu dengan wajah yang mengejek kearahku..

Lalu aku maju lagi sambil mengarahkan pukulanku kearah pelipisnya..

WUUTTT..

Faris menunduduk dan..

BUUHGGG..

Faris langsung melayangkan pukulannya kearah perutku..

“AARRGGHHH….” Ucapku sambil termundur dan menunduk sambil memegangi perutku.. gilaaa.. pukulannya keras banget sampai aku kesakitan seperti ini.. anjinggg..

Dan ketika aku menunduk sambil memegangi perutku..

BUUHGGG…

Sebuah hantaman menggunakan lutut Faris dari arah samping, mendarat dipipiku dan membuat wajahku terdorong kearah kanan dan darah tersembur dari mulutku..

“AARGGGHHH..” suaraku yang kesakitan dengan wajah yang melayang kekanan.. lalu..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Faris lalu maju lagi dan menyerangku dengan kedua kepalan tangannya, kearah pipi, pelipis, dan rahangku..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Lalu dia menyerang dada, perut dan wajahku lagi..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Aku terus dihajar tanpa bisa melakukan perlawanan… lalu..

BUUHGGG…

Sebuah serangan lutut kanan Faris, menghantam mulutku dan membuatku tumbang kebelakang dengan posisi terlentang..

JEDUUKKKK..

BUUMMMMM..

Kepala belakangku menghantam lantai dan itu membuat pandanganku kabur serta berbayang.. kepalaku pun terasa sangat pusing sekali..

Anjinggg.. dijadikan sansak hidup aku.. bajingaaannn..

Hu.. hu.. hu.. hu.. hu..

Akupun mengatur nafasku sambil memejamkan mataku.. dan aku merasa wajahku agak menebal akibat pukulan beruntun dari Faris tadi.. aku pun merasa cairan kental keluar dari mulut dan hidungku..

Aku kemudian meraba seluruh wajahku dengan telapak tanganku.. anjinggg.. wajahku dipenuhi darah dan luka.. bajingaannn..

Kuat sekali pukulan Faris ini.. padahal dia hanya beberapa kali saja menghajar wajahku, tapi setiap pukulannya selalu tepat sasaran.. dan semua pukulannya langsung membuat wajahku terluka dan berdarah..

“Nji.. sudah tumbang anggotamu.. dia bukan lawanku.. ayo.. kita duel..” samar – samar aku mendengar Faris berbicara kepada Mas Panji..

Bangsaattt.. apa aku benar – benar tumbang ini..? ga boleh.. aku ga boleh tumbang.. pantang bagi seorang Badai untuk kalah dalam duel ini.. aku harus cepat bangun dan mencari kelemahan Faris lalu membalas setiap luka diwajahku ini..

Dengan bersusah payah.. akupun langsung duduk dengan posisi kedua kakiku selonjor kedepan..

Aku yang duduk dan menunduk, langsung mengangkat wajahku perlahan.. kemudian aku menekan kedua mataku dengan menggunakan jari tengahku.. seteleh itu aku melihat kearah depan lagi.. pandanganku yang kabur pun, perlahan mulai terang lagi..

“loh.. masih bisa bangun anggotamu Nji..? bangsaattt..” ucap Faris ke Mas Panji lalu melihat kearahku..

Akupun melihat kearah Mas Panji yang duduk dan asyik menikmati rokoknya.. bangsaatt.. dari tadi kok rokokan terus kamu mas..? bajingaannn..

“kalau aku ga bisa numbangin dia, aku ga bisa ngerasain mekinya mahasiswi S2 itu dong..? hehehehehe..” ucap Faris lalu tertawa..

Bangsaattt..betul – betul dijatuhkan mentalku sama manusia satu ini.. anjingggg.. dan perlahan, emosiku pun mulai merambat naik kekepalaku..

Aku harus bisa numbangin dia dan aku harus membuat wajahnya lebih bonyok dari wajahku.. bajingaaann…

Kedua tanganku pun langsung terkepal dan aku langsung berdiri perlahan sambil menatap wajah Faris..

“wahhh.. kamu bisa marah juga ya..? tapi wajar sih kamu marah dengan kondisimu seperti ini, apalagi kamu pernah menumbangkan beberapa anggotaku.. kamu pasti malu karena babak belur seperti ini.. tapi itupun kalau kamu punya kemaluan loh ya.. eittsss.. entar dulu, emang kamu punya kemaluan..? coba keluarin dulu.. hahahahaha..” ucap Faris lalu tertawa dengan senangnya.. bangsaattt..

“hahahahaha..” terdengar tertawa yang keras dari teman – teman Faris di depan pintu..

Emosi yang tadinya merambat pelan pun, langsung cepat menguasai kepalaku.. bajingaannn.. enak banget kamu menghina aku.. sekarang waktunya aku balas dendam.. bangsaattt..

Aku pun lalu maju lagi sambil mengarahkan kedua kepalan tanganku kearah wajahnya..

WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT..

WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT..

Setiap pukulanku pun dapat dengan mudahnya dihindari Faris..

“hahahahahaha..” dan setia menghindari seranganku, dia selalu tertawa mengejekku.. bajingaannnn..

Dan emosiku pun semakin memuncak..

WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT..

WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT..

Semakin aku emosi dan menyerangnya, semakin lihai dia menghindari seranganku dengan mudahnya..

“hahahahahaha..” tawa Faris sambil menggerakkan tubuhnya kekanan dan kekiri lalu mendunduk..

“******.. hahahahaha..” hina Faris lalu tertawa lagi.. dan..

BUUHGGG…

Sebuah serangannya yang cepat dan kuat langsung menghentikan seranganku.. serangannya pun tepat mengenai di dadaku dan membuat nafasku langsung sesak, serta sakit yang sangat luar biasa..

“HUUPPPP..” aku termundur sambil memegangi dadaku.. dan darah terus menetes dari pelipis yang menutupi penglihatanku..

Anjing.. bisa mati aku kalau begini caranya.. huuuuu…

Tenang dai.. tenang.. kenapa kok emosimu bisa terpancing sama sibangsat ini.. ini bukan kamu yang sebenarnya dai.. bukan..

Huuupppppp… huuuuuuuuuuu..

Huuupppppp… huuuuuuuuuuu..

Akupun mengatur nafasku yang terasa sesak ini.. lalu aku menegakkan tubuhku dan menenangkan diriku sejenak.. aku lalu menutup mataku sebentar sambil menarik nafasku lagi, lalu mengeluarkannya perlahan..

Huuupppppp… huuuuuuuuuuu..

“sudah tenang..? sekarang waktunya kamu tumbang untuk selamanya..” ucap Faris lalu maju dan menyerangku dengan cepatnya..

WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT..

Aku menghindari serangan dari Faris…

TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP..

Dan aku menangkis pukulan Faris dengan kedua lenganku.. dan ketika dia asyik dengan serangannya.. aku melihat ada celah sedikit untuk membalas serangannya ini.. lalu..

BUHHGGG..

Sebuah upercutku dengan menggunakan kepalan tangan kanan, melayang dari arah bawah kedagunya dengan keras..

“AAAARRRGGHHHH..” teriak Faris dengan kepala yang terdanga dan termundur.. darahpun sempat keluar dari mulutnya itu.. lalu..

Karena tubuhnya oleng kebelakang, aku langsung maju lagi dan menyerangnya..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Seranganku kali ini tepat sesaran semua.. pelipis, pipi dan rahangnya.. terkena kepalan tanganku bergantian..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Aku terus menghajar wajahnya.. dan..

BUUHHGG…

Tiba – tiba Faris menginjak perutku sampai aku termundur..

“BANGSAATTT..” ucapnya lalu menegakkan tubuhnya yang sempat limbung kebelakang..

Faris lalu berdiri dengan tegak dan tatapan matanya berubah tajam kearahku..

“sepertinya kamu ga bisa dibuat main – main..” ucapnya lalu membersihkan bibir dan pelipisnya yang mengeluarkan darah itu..

Giginya mengerat dan nafasnya pun cepat.. dia sangat emosi sekali kepadaku..

“waktunya kamu mati..” ucapnya lagi dengan suara yang berat dan seluruh bola matanya, berubah menjadi hitam dan menyeramkan..

Bangsaattt.. kok mengerikan sekali mata Faris ini..? pakai ilmu apa dia..? bajingaannn..

Dan dengan kecepatan yang tidak aku duga, Faris sudah berdiri dihadapanku sangat dan dekat sekali..

“mati kamu.. mati..” ucapnya lalu..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Kedua tangannya langsung mengarah kewajahku dengan kuat dan cepat..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Dan kembali aku tidak bisa menghindari serangan Faris yang menggila ini.. ini seperti bukan dirinya yang menyerangku tadi, tapi ini mata hitam yang menguasai dirinya itu..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Seluruh wajahku dihajarnya secara bertubi – tubi..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

Perut, dada dan tulang iga ku pun, tidak luput dari lututnya yang ikut menyerangku..

BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG… BUUHGGG…

“HUEEKKKKKK..” darah tersembur dari mulutku sangat banyak.. dan seluruh wajahkupun, tertutup oleh darah yang mengalir dari luka – luka diseluruh wajahku.. akupun tidak bisa melihat lagi.. hanya darah yang menutupi wajahku..

Lalu..

BUUGGHHH..

BUUMMMM..

Sebuah injakan dari telapak sepatu Faris, mengakhiri serangannya dan kembali aku roboh dan terlentang..

Bajingaaaaannn..

Aku sudah tidak bisa merasakan sakitnya diwajahku.. wajahku sudah terasa sangat tebal sekali.. anjing.. ini bukan bonyok lagi namanya.. tapi ini babak belur dan lebur.. bajingaannn..

Pandanganku yang gelap ini pun, memaksaku untuk tetap terlentang dan pasrah dengan keadaan ini..

Dan aku mendengar.. ada bunyi langkah kaki yang mendekati aku.. lalu..

BUUHHGGGG..

Sebuah injakan mendarat dan ditahannya diwajahku, lalu ditekannya seperti mematikan puntung rokok dilantai..

“aaarrrgghhh..” ucapku tertahan sambil menahan telapak kaki sepatu Faris..

“hu.. hu.. hu.. anaknya lonte kayak kamu itu, memang harusnya ada diinjakan kakiku..’ ucap Faris dengan suara yang berat disertai hembusan nafas yang berat..

Bangsattt.. bajingaannn.. anjinggggg.. dia menyebut ibuku lonte..? biadab.. mulutmu ris.. mulutmu harus kuinjak karena kesalahanmu ini.. anjinggggg..

Emosiku pun tiba – tiba meluap lagi.. dan..

“saatnya kamu menikmati darah dari musuhmu ini.. hahahaha..” ucap seseorang yang menggema dikepalaku..

Dan suara yang menggema itu, disertai dengan darahku yang memanas seperti direbus.. darahku terasa mendidih sehingga membuat sekujur tubuhku bergetar.. panas dan panas.. itu yang aku rasakan sekarang ini..

Kedua tangan pun langsung mencengkram telapak kaki Faris yang masih diwajahku.. lalu dengan sekuat tanaga, aku mengangkat dan memutar telapak kaki Faris perlahan..

“masih hidup kamu ya..?” ucap Faris sambil menguatkan injakannya lagi.. tapi entah mendapatkan kekuatan dari mana, aku langsung mendorong dengan kuat telapak kaki Faris ini, sampai dia terjungkal kebelakang..

“AAAAAAAAAAAAAAAAAARRGGGGGGHHHHH..” teriakku sambil mendorong keatas.. dan setelah injakannya terlepas diwajahku dan Faris terdorong kebelakang, aku langsung membalikkan tubuhku untuk tengkurap lalu berdiri perlahan..

Aku berdiri sambil menunduk.. wajahku pun masih tertutup oleh darahku.. lalu dengan telapak tangan kananku.. aku membersihkan wajahku dari darahku sendiri, lalu aku membuka mataku.. dan pandanganku bukannya terang, tapi pandangan ku memerah.. ini seperti pandanganku ketika aku membunuh David preman kota asalku.. merah darah..

“bagaimana anak muda..? apa kamu mau menikmati aroma darah dari musuhmu ini..? atau kamu mau mati sebagai pecundang..? hahahahahaha..” ucap mahluk itu lagi dan kembali menggema dikepalaku..

“aku kasih tau ya.. darahnya musuhmu yang satu ini, sangat harum dan menyegarkan.. aku tadi sudah menciumnya, waktu kamu meng uppercut dagunya..”

“wawwwww.. itu ga bisa diungkapkan dengan kata – kata.. sayang kamu ga bisa menikmatinya tadi.. hahahahaha..”

Dan emosiku pun bertambah menggila.. tetesan darah diwajahku yang aku bersihkan tadi, masih menempel ditanganku.. aku pun langsung menciumnya dan menjilatnya..

“nikmat ya aroma darahmu..? apalagi darahnya musuhmu ini.. hahahahaha..” suara didalam kepalaku terus menggema dan makin membuat emosiku memuncak setinggi – tingginya..

“kamu siapa..? dan asalmu dari mana..? kenapa kamu punya mata merah..?” tanya Faris ketika melihat tatapanku yang memerah ini..

Dan seisi ruangan inipun langsung terkejut melihat perubahan mataku ini..

“hahahahaha.. ga perlu kamu tau asalku.. tapi yang jelas.. aku akan mengembalikan kamu keasalmu.. hahahahahaha..” ucapku lalu tertawa dan membuat Faris makin terkejut..

“bangsat kamu..” ucap Faris lalu maju dan menyerangku dengan kedua tangannya..

WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT..

Aku menghindari serangan dari Faris sambil menggoyangkan tubuhku kekanan dan kekiri..

“hahahahahahaha..” aku tertawa sambil terus menghindari pukulan Faris..

“bajingaaaaaannn..” maki Faris dengan mata yang makin menghitam..

WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT.. WUTTT.. WUUTTT.. WUUTTT..

Dia terus menyerangku dengan emosi yang menggila..

“hahahahahaha..” dan aku terus tertawa dengan senangnya..

WUUTTT..

Aku memundurkan langkahku dan wajahku, ketika kepalan tangan Faris mengarah kewajahku.. dan..

BUHHHGGG..

Aku langsung mengangkat kaki kananku dan menginjak wajah sampingnya dengan kuat..

“AAARRGGHHHH..” teriak Faris dan dia oleng kearah kanan..

Lalu dengan cepat, diapun menegakkan tubuhnya lagi.. dan dia terlihat sangat emosi..

“sudah cukup pemanasannya.. sekarang waktu untuk sajian utamanya.. hehehehe..” ucapku sambil tersenyum..

“kamu kira aku akan kalah kah..?” ucap Faris lalu maju lagi sambil mengarahkan pukulannya ke arah wajahku lagi..

WUUTTT..

Aku memundurkan wajahku lagi dan..

BUHHHGGGG..

Kaki kiriku aku angkat dan kuarahkan kedadanya..

“ARRGGHHHHH..” dan tendanganku pun, dengan telak masuk kearah dadanya..

Lalu aku maju lagi sambil membelakangi tubuhnya dan..

BUHHHGGGG..

Kali ini aku menggunakan sikut kananku untuk menyerang mulut Faris.. dan dengan cepatnya aku memutar tubuhku sambil melayangkan kepalan tangan kiriku kearah mulutnya lagi..

BUHHHGGGG..

“AAAARRGGHHH..” Faris termundur dan wajahnya terdanga dengan darah yang menyembur dari mulutnya.. dua seranganku tadi itu sangat telak mengenai mulutnya.. lalu..

BUHHHGGGG..

Aku injak dadanya lagi sampai dia termundur dan..

BUHHHGGGG..

Sekarang giliran lutut kananku naik kearah pipi kirinya..

“AAAARRGGHHH.. BANNGSAATTTT..” teriak Faris dengan darah yang mengalir deras dari mulutnya.. lalu dia maju dan menyerangku dengan pukulan tangan kanannya..

WUUTTTT..

Aku menunduk lagi lalu..

BUHHHGGGG..

Aku mengarahkan pukulan kearah hidungnya dengan keras..

“AAARGGHHHH..” dia termundur dan aku langsung menarik tangan kanannya dengan tangan kiriku, sampai wajahnya didekatku.. lalu..

BUHHHGGGG..

Aku hantam ubun – ubunnya dengan menggunakan sikut kananku..

“ARRGGHHHH…” dia kesakitan dan tertunduk dihadapanku.. lalu..

BUHHHGGGG..

Aku hantam wajahnya yang tertunduk itu dari arah bawah, dengan sangat kuat..

“AARGGHHHHHH..” wajahnya terdanga dan kembali darah tersembur dari mulutnya.. lalu..

BUHHHGGGG..

BUUUUMMM..

JEDUUKKKK..

Aku injak dadanya dan dia langsung tumbang dan terlentang.. kepala belakangnya pun terhantam lantai dengan keras..

“huuu.. huuu.. huuu.. huuu..” nafasku berat dan pandanganku masih memerah..

Aku menatap Faris yang sudah tidak bergerak lagi itu.. wajahnya dipenuhi oleh darahnya sendiri, dan darahnya juga menggenang dikepala belakangnya..

Aku lalu mendekati Faris dan mengangkat kaki kananku.. lalu..

BUHHHGGGG..

Aku injak mulutnya lalu aku tekan dengan kuat..

“mulut ini yang menghina ibuku..” ucapku sambil menekan kakiku diwajahnya dengan kuat..

“MAS FARISSSS..” teriak seseorang didepan pintu kosanku..

Aku lalu melihat kearah pintu kosan.. dan disana, berdiri seorang pemuda dengan tangan yang terkepal dan mata yang melotot serta seluruh bola matanya menghitam..

Aku menatap mata orang itu sambil terus menginjak mulut Faris..

“aku akan membunuhmu.. aku akan membunuhmu..” ucapnya dengan sangat emosi lalu berjalan kearahku..

“Haris.. kalau sampai kamu ikut campur.. kuselesaikan kamu sekarang juga..” ucap Mas Panji yang duduk sambil menunduk..

Laki – laki itu pun langsung menghentikan langkahnya dan melihat kearah Mas Panji.. Mas Panji pun langsung mengangkat wajahnya perlahan..

Dan pemandangan yang mengerikan, langsung terlihat dimata Mas Panji.. seluruh bola matanya menghitam dan lebih menakutkan dari tatapan Faris atau Haris yang baru datang ini.. dan itu langsung membuat susana penuh dengan mistis, memenuhi pondok merah ini.. tegang dan menyeramkan..

“sekarang angkat kakimu dai.. cukup sudah pertarunganmu kali ini..” ucap Mas Panji kepadaku..

“aku belum puas mas..” ucapku yang masih emosi ini..

“kalau belum puas.. kamu duel sama aku dai..” ucap seseorang yang baru datang dari arah pintu.. kami semua langsung melihat kearah pintu kosan.. dan itu adalah suara Angger..

Dia menatap kearahku.. tatapan matanya sangat tajam, walaupun berwarna putih dan tengahnya hitam.. tapi tidak mengurangi tajamnya tatapannya.. lalu dia berjalan kearahku dengan santainya..

“kamu mau duel sama aku..?” ucap Angger ketika berdiri dihadapanku.. dan itu membuat aku terdiam dan tidak sanggup menjawab perkataannya.. dia terus menatap mataku..

Dan tatapan matanya pun terasa dalam kearahku… lingkaran matanya yang hitam ditengah, sempat menghijau lalu menghitam lagi.. dan itu langsung membuat tubuhku merinding dan emosiku langsung mereda..

Bajingaaann.. kenapa aku bisa takluk dengan tatapan Angger ini..? kenapa emosiku langsung mereda..? gilaaaaa.. dan lebih gilanya lagi, suasana yang sempat menyeramkan dan menegangkan dikosan ini tadi.. berangsur – angsur berubah menjadai damai.. suasana mistispun, langsung hilang karena kehadiran Angger.. mataku, mata Mas Panji dan Haris yang baru datang.. langsung berubah normal.. hitam dan putih..

#cuukkk.. siapa kamu itu ngger..? kenapa kamu bisa mendamaikan suasana yang tegang ini dengan cepat..? kamu sangat misterius ngger.. kamu misterius.. bajingaannn..