Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Penghianatan Sahabat Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 23

Start Penghianatan Sahabat Part 23 | Penghianatan Sahabat Part 23 Start

Ketika Mila dan Om Burhan membuka mata, hari telah beranjak sore. Mereka pun membersihkan diri mereka secara bergantian di kamar mandi, dan bersiap untuk makan malam. Persetubuhan liar yang baru saja mereka lakukan ternyata benar-benar menguras stamina, hingga keduanya pun merasa sangat lapar.

“Mila, kamu sudah siap?” Ujar Om Burhan dari luar kamar.

Alangkah terkejutnya ia saat perempuan muda tersebut keluar dari kamar. Mila tampak begitu cantik dengan baju terusan berwarna biru muda yang menutupi tubuhnya dari atas hingga bawah. Ia pun mengenakan jilbab dengan warna senada.

“Sudah, Om,” ujar Mila sambil tersenyum. Perempuan tersebut langsung berjalan mendekati Om Burhan.

“Kamu cantik sekali,” ujar Om Burhan yang masih terpana.

“Cantik mana sama waktu Mila nggak pakai apa-apa?” Bisik Mila ketika ia telah berada di hadapan Om Burhan.

Om Burhan hanya tersenyum. Pria tua tersebut kemudian meraih kepala Mila, lalu mencium bibirnya dalam-dalam. Mila pun menyambut ciuman tersebut dengan kuluman yang tak kalah liar. “Om sayang kamu, Mila.”

“Tapi, kita tetap jadi makan malam, kan?” Tanya Mila sambil mengedipkan mata.

Om Burhan pun langsung menggandeng tangan Mila untuk berjalan menuju mobil sewaan yang ia parkir di depan vila. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di restoran yang mereka tuju. Di sana, mereka menghabiskan waktu selama dua jam untuk mengisi perut mereka yang kosong. Om Burhan memilih untuk memesan steak daging, sedangkan Mila lebih ingin menikmati spaghetti.

Setelah selesai, mereka pun langsung kembali ke vila. Begitu sampai, Mila tidak langsung turun dari mobil. Ia justru tersenyum ke arah Om Burhan, dan langsung naik ke pangkuan Om Burhan yang masih berada di kursi pengemudi. Pria tua tersebut pun langsung memundurkan kursinya, serta menurunkan sandarannya hingga kedua insan tersebut saling menindih dengan posisi setengah berbaring.

Mila langsung menciumi leher Om Burhan, membuat pemiliknya menggelinjang. Tangan Mila masuk ke balik kaos polo yang dikenakan Om Burhan, dan mengelus-elus dada pria tua tersebut. Sesekali ia mencubit-cubit puting dada pria itu. Om Burhan pun tidak kuat untuk menahan desahan dari mulutnya.

Diperlakukan seperti itu, Om Burhan pun tak mau kalah. Ia balas menciumi leher dan bahu Mila yang masih tertutup baju terusan dan jilbab, serta meremas-remas pantat Mila yang montok. Tangan Om Burhan yang masih bebas pun mulai mengelus dan meremas payudara Mila, hingga baju terusan yang ia kenakan menjadi berantakan.

“Kamu liar banget sih, Mila,” bisik Om Burhan di dalam mobil yang telah bergoyang-goyang tersebut.

“Salah sendiri kenapa Om rangsang Mila, sampai ambil keperawanan Mila. Sekarang Om harus tanggung jawab,” jawab Mila sambil menjilat bagian belakang telinga Om Burhan.

“Kalau tanggung jawabnya begini sih Om nggak akan nolak,” jawab Om Burhan.

Tak puas hanya bisa saling merangsang dengan posisi yang terbatas di dalam mobil, Om Burhan dan Mila memutuskan untuk melanjutkan ‘pertempuran’ mereka di tempat lain. Mereka pun keluar dari mobil, dan langsung bergegas masuk ke dalam vila.

Ketika melewati ruang makan, Om Burhan sudah merasa tidak tahan. Ia langsung menggendong Mila dan merebahkannya di atas meja makan. Ia kemudian menarik ujung baju terusan yang dikenakan Mila dan mengangkatnya ke atas. Paha dan kaki Mila yang mulus pun kembali terpampang di hadapannya.

Tanpa menunggu lama, Om Burhan langsung menarik celana dalam Mila hingga tergeletak di atas lantai, dan mulai menjilati kemaluan perempuan muda tersebut. Ia gerakkan jarinya keluar masuk dari liang senggama tersebut, sambil mencari klitoris Mila. Ketika berhasil menemukannya, Om Burhan langsung mengemut klitoris tersebut, sambil sesekali menggigitnya.

“Nggghhh,” Mila pun mendesah binal. Matanya terpejam menahan birahi, sedangkan tangannya kini telah meremas-remas kepala dan rambut Om Burhan. Ia bahkan menekan kepala tersebut agar lebih kuat menekan selangkangannya.

“Lebih enak diemut sama Om atau sama mantan pacar kamu, sayang?” Ledek Om Burhan.

“Sudah jangan bicarakan laki-laki pengkhianat itu, Om. Jelas lebih enak kuluman mulut Om ke mana-mana,” ujar Mila sambil mengerang. Ia pun menekan kepala Om Burhan lebih keras ke arah selangkangannya. Vagina Mila kini telah basah karena cairan cintanya yang mulai merembes keluar.

Om Burhan yang sudah tidak kuat menahan birahi langsung melepaskan celana panjang dan celana dalam yang ia kenakan. Penis besar miliknya yang sudah begitu terangsang itu pun kembali melompat keluar. Mila melirik kemaluan pria tua tersebut sejenak, dan tidak bisa berhenti mengagumi ukurannya yang besar.

Kaki Mila yang tegantung di pinggir meja kemudian diangkat oleh Om Burhan hingga seluruhnya berada di atas meja makan yang terbuat dari kayu jati tersebut. Selangkangan Mila dibuka oleh Om Burhan, yang kemudian langsung menempatkan kemaluannya di bibir vagina Mila.

“Boleh Om masukin lagi nggak, Mil?” Ujar Om Burhan kembali menggoda Mila.

“Sudah nggak usah tanya-tanya lagi, Om. Ayo cepet entotin Mila, ahhh.”

“Kamu liar banget kalau lagi horny,” ujar Om Burhan.

Om Burhan pun langsung menusuk kemaluan Mila dengan kemaluannya secara perlahan. Pinggangnya maju mundur, semakin lama semakin cepat, memaksa penisnya agar masuk sampai ke ujung kemaluan Mila. Tangan Om Burhan sama sekali tidak menyentuh tubuh Mila yang masih tertutup baju terusan panjang. Ia menikmati posisi berdiri di sisi meja, sambil memandangi raut wajah Mila yang sudah sangat terangsang sehingga mulai meremas payudaranya sendiri. Mata perempuan tersebut terlihat tertutup, demi menahan gelombang birahi yang perlahan mulai mendesak ingin keluar.

Justru Mila yang kemudian menarik tubuh Om Burhan agar menindih tubuhnya, dan langsung mencium bibir pria tua tersebut. Tangan Om Burhan kini menempel di payudara Mila, dan langsung meremasnya pelan-pelan. Pasangan tersebut tampak benar-benar menikmati persetubuhan itu, dan tidak ingin cepat selesai. Beruntung Om Burhan merupakan seseorang yang tidak terlalu cepat kehilangan kendali untuk orgasme, jauh berbeda dengan Egi.

“Ahhhhhhh ….” desah Mila yang berhasil meraih orgasme pertamanya malam itu. Om Burhan yang mengerti kondisi itu pun menghentikan genjotannya, dan langsung memeluk tubuh Mila dengan romantis.

Setelah beristirahat sejenak, Om Burhan melepaskan penisnya yang masih tegak menjulang dari vagina Mila, dan langsung duduk di sebuah kursi yang ada di sisi meja makan tersebut. Ia pun menepuk-nepuk pahanya yang terbuka.

Mila langsung paham apa maksud Om Burhan. Ia pun bangkit dan mendekati tubuh Om Burhan. Ia kemudian menarik kaos polo Om Burhan hingga pria tua tersebut kini telah telanjang tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Mila kemudian mengangkat kembali baju terusannya, dan naik ke atas pangkuan Om Burhan.

Kemaluan mereka berdua pun kembali bertemu. Mila kemudian menggesek-gesekkan vaginanya ke ujung penis Om Burhan, membuat penis besar tersebut kembali membesar ke ukuran maksimalnya.

“Kamu memang benar-benar binal, Mila,” bisik Om Burhan sambil menciumi telinga Mila.

“Biar Om makin sayang sama aku, dan nggak mau entotin cewek lain,” jawab Mila.

“Kalau sudah dapet istri seksi kayak kamu, bodoh banget kalau Om sampai ngentotin cewek lain,” ujar Om Burhan.

“Mila masukin yah, Om.”

Om Burhan hanya mengangguk.

Mila pun menurunkan tubuhnya, membiarkan vaginanya kembali ditembus oleh penis Om Burhan yang besar. Ia merasakan vaginanya betul-betul penuh oleh kemaluan berukuran jumbo tersebut. Ia kembali menaikkan tubuhnya namun tidak sampai melepaskan penis tersebut, lalu menurunkannya kembali. Mila melakukan gerakan tersebut berulang-ulang, sambil meremas penis tersebut kuat-kuat dengan dinding vaginanya.

Diperlakukan seperti itu, Om Burhan merasakan kenikmatan yang tidak ada duanya. Terlihat pemandangan yang sangat menggairahkan, di mana seorang perempuan muda berjilbab yang masih mengenakan pakaian lengkap, tengah naik turun di atas penis seorang pria tua yang telah telanjang tanpa busana. Mereka bahkan saling mengeluarkan desahan yang sangat binal.

Mila kemudian melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Selain gerakan naik turun, ia juga memutar-mutar pinggulnya di atas pangkuan Om Burhan, membuat dirinya tampak begitu binal. Om Burhan pun menjadi sangat terangsang. Ia yakin beberapa saat lagi diperlakukan seperti itu, ia pasti akan langsung mencapai orgasme.

Karena itu, Om Burhan pun segera menahan gerakan Mila dan melepaskan penisnya. Ia pun menggendong Mila untuk masuk ke dalam kamar, lalu merebahkan perempuan muda tersebut di ranjang. Dengan terburu-buru, ia melepaskan baju terusan Mila hingga bisa melihat payudara perempuan muda tersebut yang masih tertutup bra.

“Om suka sekali jilat toket kamu yang besar, Mila,” bisik Om Burhan sebelum kemudian mulai menjilat-jilat payudara Mila yang memang sangat montok.

Perlahan, tangan Om Burhan meraih kaitan bra yang ada di punggung Mila, dan melepaskannya. Mila pun tidak menahan tangan pria tua tersebut, dan hanya tersenyum ketika Om Burhan melemparkan bra miliknya ke lantai kamar. Pria tersebut kemudian langsung membenamkan wajahnya di sela-sela payudara Mila.

“Ahhh, isepin terus toket Mila, Om,” desah Mila.

Om Burhan makin bersemangat mengemut puting payudara Mila yang masih mengenakan jilbab. Selain puting perempuan muda yang berwarna merah muda itu, lidah Om Burhan pun melumat pangkal payudara Mila yang empuk. Pria tua tersebut kembali membelai paha dan selangkangan Mila, demi menaikkan birahi perempuan cantik itu.

Ia kemudian meminta Mila untuk menungging di atas ranjang. Dari belakang, Om Burhan kembali mengarahkan penisnya yang besar, dan langsung memasukkannya ke dalam vagina Mila. Ia mengeluarkan desahan liar, tanda bahwa ia ingin segera melepaskan birahinya di dalam vagina perempuan muda tersebut. Mila sendiri tidak khawatir, karena selama beberapa hari ini ia telah minum pil kontrasepsi.

Memandang tubuh Mila yang sintal dari belakang, sembari menyetubuhi kemaluannya, benar-benar membuat Om Burhan bergairah. Apalagi saat itu Mila masih mengenakan jilbab muslimah berwarna biru muda, yang menambah birahi pria tua tersebut. Betapa beruntung dirinya bisa mendapatkan keperawanan perempuan cantik berjilbab dengan tubuh yang seksi dan montok itu. Om Burhan pun langsung meremas-remas payudara Mila dari belakang.

“Ahhh, enak Om … Terus sodok memek aku, entotin tubuh aku, Om,” ujar Mila di vila yang hanya diisi oleh mereka berdua tersebut.

“Ngggh, sedotan memek kamu nikmat banget Mila. Om gak akan bosen ngentotin tubuh kamu tiap hari, ahhh,” ujar Om Burhan.

Setelah dua puluh menit bersetubuh dengan posisi doggy tersebut, Om Burhan dan Mila sama-sama merasa akan segera menjemput orgasme. Om Burhan pun memeluk tubuh Mila kuat-kuat, sedangkan sang perempuan muda juga menjepit kemaluan Om Burhan yang masih bersarang di vaginanya dengan lebih kencang.

Intensitas penis Om Burhan keluar masuk vagina Mila pun makin cepat, hingga akhirnya, ia membenamkan penis tersebut sedalam mungkin, hingga menyentuh rahim Mila.

“Ahhhhh …. “

“Ngggghhh …”

Keduanya sama-sama melepaskan cairan cinta masing-masing dalam waktu hampir bersamaan, yang kemudian saling bertemu di rongga kemaluan Mila. Om Burhan memeluk mesra tubuh pasangannya tersebut, dan langsung ambruk di atas ranjang. Mereka pun kembali terlelap hingga pagi menjelang.

Keesokan harinya, Mila terpaksa membuka mata karena cahaya matahari yang cukup terang telah masuk ke kamar tersebut. Om Burhan sudah tidak ada di ranjang tersebut, namun ia bisa mendengar kecipak air dari arah kolam renang yang berada di sisi kamar itu. Sepertinya Om Burhan sedang berenang di sana.

Mila kemudian bangun dan melepaskan jilbabnya yang masih terpasang. Ia pun masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sesekali, ia mematut tubuhnya di depan cermin, dan mengagumi bentuk tubuh dan payudaranya yang indah. Ia pun coba meremas-remas payudaranya sendiri, yang sejak beberapa hari terakhir telah menjadi sasaran birahi Om Burhan.

Setelah itu, Mila pun mengenakan jubah mandi berwarna putih dan melangkah keluar. Ia tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya.

Di kolam renang, Om Burhan tampak tengah beristirahat setelah menyelesaikan beberapa putaran berenang dengan gaya dada. Ia melihat Mila berjalan ke arah kolam renang. Seketika, pria tua tersebut kembali tersenyum. Ia pun memberikan isyarat kepada Mila untuk ikut masuk ke dalam kolam renang.

Mila pun membalas senyuman Om Burhan. Perempuan muda tersebut pun menanggalkan kembali jubah mandinya, hingga tubuhnya yang tanpa busana kembali terlihat. Tubuh tersebut tampak sangat seksi di sisi kolam renang yang terbuka tersebut. Mila tidak ragu melakukan itu di tempat terbuka, karena pagar vila itu yang sangat tinggi. Perempuan muda itu kemudian menjeburkan diri ke dalam renang.

Om Burhan menyongsong kedatangan Mila, dan langsung memeluknya. keduanya pun kembali berciuman mesra di dalam kolam renang. Secara otomatis, tangan Om Burhan kembali menyambangi payudara Mila yang besar, dan memainkan putingnya. Mila kembali mendesah.

“Ahhh, masih pagi neh Om,” ujar Mila.

“Justru karena masih pagi, harus kita manfaatkan,” jawab Om Burhan.

Mereka pun kembali berpelukan, dan saling merangsang tubuh satu sama lain. Om Burhan menyenderkan tubuh Mila di salah satu sisi kolam renang, dan langsung melepaskan celana renangnya tanpa keluar dari kolam renang. Di dalam air, ia pun menggesek-gesekkan kemaluannya ke vagina Mila.

“Ya ampun, pagi-pagi kontol Om udah gede aja,” ujar Mila.

“Bagaimana gak jadi gede, kalau lihat bodi kamu yang seksi kayak gini canti,” jawab Om Burhan sambil meremas pantat Mila.

Sepasang insan tersebut kembali bersetubuh di dalam kolam renang. Mila merasakan sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Kombinasi dinginnya air kolam dan kehangatan dari penis Om Burhan memberikan sensasi dan rasa nikmat yang baru ia kenal. Orgasmenya pun langsung menyusul tak lama kemudian.

Puas bermain di dalam kolam renang, mereka pun naik dan langsung saling menindih di atas kursi pantai yang ada di sisi kolam. Mila membiarkan vaginanya diemut kembali oleh Om Burhan, sedangkan dirinya juga mengemut penis pria tua tersebut. Mila pun kembali menjemput puncak kenikmatan dengan posisi 69 itu, sedangkan kemaluan Om Burhan masih tegak berdiri.

Mila kembali naik ke atas tubuh Om Burhan dan melakukan posisi Woman on Top. Payudaranya yang bergoyang-goyang langsung disambut oleh Om Burhan dengan tangan dan mulutnya. Mereka melakukan persetubuhan dengan posisi itu selama hampir tiga puluh menit, sebelum kemudian Mila kembali orgasme, yang disambut pula dengan semburan sperma Om Burhan di vagina Mila.

“Nikmat sekali tubuh kamu, Mila. Om seneng bisa ngentotin kamu,” bisik Om Burhan.

“Kontol Om Burhan juga benar-benar perkasa. Mila sampai kewalahan, seneng banget bisa dientot sama ayahnya Wulan,” ujar Mila tertawa. Keduanya pun berpelukan, sambil membayangkan hal gila apalagi yang bisa mereka lakukan di vila itu.

“Krriiiiinngg …” smartphone Om Burhan yang memang tergeletak di sisi kolam tiba-tiba berbunyi.

“Om ambil telepon dulu ya,” ujar Om Burhan. Mila pun mengangguk, dan melepaskan penis Om Burhan dari jepitan vaginanya.

Ketika mengangkat telepon tersebut, Om Burhan tampak sangat terkejut. Raut wajahnya tampak khawatir, membuat Mila penasaran. Setelah menutup telepon, Om Burhan pun menatap Mila tajam.

“Kita harus segera kembali ke Jakarta, Mil. Sekarang juga,” ujar Om Burhan. Mila pun terdiam mendengar kata-kata Om Burhan tersebut.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 23 | Penghianatan Sahabat Part 23 – END

(Penghianatan Sahabat Part 22)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 24)