Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Pelarian Kisah Cintaku Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46

Pelarian Kisah Cintaku Part 9

Start Pelarian Kisah Cintaku Part 9 | Pelarian Kisah Cintaku Part 9 Start

Chapter 9. Janji Si Supir Limousin​

Cuplikan Chapter sebelumnya…

Selama perjalanan kurang lebih 3 jam aku telah memasuki halaman hotel tempat Cinta menginap, sebelumnya aku sempat membelikan makan siang buat Cinta walaupun saat itu Prima ingin ia yang membayari tapi ku cegah dengan alasan uang papanya yang kemaren malam masih banyak sisanya dan masih ku pegang.

Aku memarkirkan mobil merci-ku di ikuti pula oleh mobil Toyota Fortuner yang parkir berjejer berdampingan.

Kami berdua segera menuju ke bungalo dimana Cinta saat ini berada.

Tok….Tok….Tok….

“Bentar Mas Adit…!”, suara sahutan Cinta dari dalam kamar.

Ceklek…..

“Hah……! Mas Prima…..!”.

.

.

.

Pov 3rd

“Hah……! Mas Prima……!”, seru Cinta kaget.

Ia reflek untuk menutup pintu kamar setelah mengetahui Adit datang bersama Prima kakaknya.

Tetapi sebelum pintu itu tertutup, dengan reflek yang cepat pula, Adit bisa menahan pintu tersebut supaya tetap terbuka.

“Tunggu, Cinta! Mas mohon!”, cegah Adit ketika menahan pintu kamar.

“Mas akan jelaskan semua, kamu jangan terbawa emosi dan salah faham dulu”.

Cinta akhirnya melepaskan pegangan tangannya di gagang pintu dan ia langsung berbalik badan dengan ekspresi wajah sedih dan kecewa.

Ia seperti kecewa dengan Adit karena membawa serta Prima kakak kandungnya.

Sementara Adit dan Prima mulai masuk ke dalam kamar, menyusul Cinta yang masih cemberut duduk di sofa di pojok kamar.

“Mas datang kok nggak salim, Dek!”, ucap Prima yang berusaha mencairkan suasana biar santai.

“Apa kabar kamu my little angel, Cinta?”.

Cinta seperti tidak mengindahkan candaan serta sapaan Prima kakaknya, malah ia sedikit ketus berucap.

“Kenapa Mas Prima ikut ke sini?”, tanya Cinta curiga dan was-was.

“Apa karena di suruh mama untuk bawa pulang, Cinta?”.

Matanya mulai berkaca-kaca setelah mengetahui bahwa kakaknya telah mengetahui tempat persembunyiannya.

“Mas kangen sama kamu dek. Mas khawatir dengan kamu”, sahut Prima santai.

“Dan kamu jangan salah faham dulu sama kami berdua! Mas ke sini bukan karena di suruh mama atau siapa pun! Mas datang ke sini ingin bantu kamu, Dek. Mas ingin kamu bahagia, Cinta”.

HIKS…. HIKS… HIKS….

Suara tangis Cinta membahana di ruang kamar itu. Kemudian ia mengangkat kepalanya melihat Prima yang juga terharu melihat kesedihan yang diderita Cinta.

Lalu Prima perlahan mendekati adiknya, ia memeluk Cinta dengan segenap perasaan.

Kedua kakak beradik itu berpelukan erat melepas rindu, sang kakak merindukan keceriaan Cinta seperti dulu sementara sang adik merindukan kebersamaan mereka sebagai satu keluarga.

Hanya tangisan yang mengiringi keduanya, seakan ingin menumpahkan semua beban penderitaan yang mereka tanggung terutama Cinta yang begitu tertekan dan menderita dengan beberapa kejadian yang menimpa hidupnya.

Kandasnya percintaannya dengan Robi kekasihnya, setelah kehamilannya kekasih yang sangat ia bangga-banggakan justru jadi lelaki pecundang dan pengecut.

Dan yang menguras air mata Cinta adalah renggangnya hubungan dia dengan keluarganya terutama kepada mamanya sendiri, karena nekat kabur dari rumah demi menghindari pernikahan yang tidak diinginkannya.

Hening dan cukup mengharukan melihat kakak beradik itu, begitu pun yang kini dirasakan oleh Adit.

Sejak tadi ia membuang muka tidak kuat melihat kesedihan itu, keharuan yang tercipta karena suatu keadaan.

Keadaan yang semua orang pasti tidak ingin mengalami seperti yang dirasakan oleh Cinta.

“Hmm…”, dehem Adit.

Kakak beradik yang sedang menumpahkan kerinduan itu tersadarkan, mereka berdua mulai bisa tersenyum satu sama lainnya.

Walau pelukan mereka belum terlepas, malah Prima mulai melancarkan godaan nya pada Adit.

“Cie… Ada yang cemburu Dek!”, gurau Prima.

“Dah.. Yuk kita ngobrolin santai, masalah kamu itu juga masalah buat mas jadi kamu jangan merasa sendirian menghadapi ini semua, Dek’.

Cinta tersenyum, tersirat ada rona merah merona saat mendengarkan gurauan Prima, lalu ia menoleh ke arah Adit yang memberikannya senyum.

“Hehehee… Gimana, Cin?”, tanya Adit sejenak ia tertawa kecil mendengar gurauan Prima barusan.

“Benar apa yang mas mu bilang? Kamu itu tidak sendiri, justru mas mu yang mau datang ke sini karena khawatirin kamu”.

“Iya… Makasih ya mas Prima. Cinta dari dulu emang sering merepotkan, Mas”, sahut Cinta sumringah.

“Nah gitu dong! Itu baru namanya my little angel-nya, Mas. Mulai sekarang mas nggak mau lihat air mata ini lagi ya, Dek. Cukup hari ini saja ya”.

Prima pun malah mencandai Cinta dengan mengacak-acak rambut adiknya, yang sering dulu ia lakukan bila Cinta sedang sedih dan galau walaupun sesekali dibalas Cinta dengan cubitan mautnya.

“Mulai deh datang jahilnya, Mas. Kan rambut Cinta yang bagus dan indah ini jadi lecek tau….!”, dengus Cinta cemberut.

“Hahahaha….”, tawa Prima lebar.

Adit yang melihat pun ikut tertawa, kemesraan mereka sangat jelas terlihat di mata Adit.

Sebaliknya buat Cinta kehadiran kakaknya sedikit banyak bisa mengurangi beban yang ia tanggung saat ini, ia setidaknya bisa melupakan sesaat penderitaan yang ia rasakan beberapa hari lalu.

“Jadi bagaimana rencana kamu selanjutnya, Cin?”, tanya Prima selanjutnya setelah tadi mereka saling bercanda gurau melepaskan kerinduan dan kebersamaan mereka yang sempat hilang beberapa hari lalu.

“Apa kamu ikut mas pulang, atau gimana? Tapi mas akan dukung kamu, carilah kebahagiaanmu sendiri, Dek”.

Cinta menggeleng.

Ia menghela nafasnya berusaha mengatur emosi nya jika dikaitkan dengan rumah ia terbayang akan hidup terkekang kembali.

“Mas…. Mas sayang kan sama adek”, tanya Cinta lirih.

“Jelas dek….! Takkan berubah apa pun yang terjadi”, jawab Prima yakin.

“Kalau begitu adek minta mas mengijinkan adek menentukan jalan adek sendiri, Mas….”, ujar Cinta menahan perih yang ia rasakan seketika.

Beberapa saat ia sempat menitikkan air mata terasa berat untuk ia ucapkan apalagi ia merasakan akan berpisah dengan keluarganya yang selama ini selalu menyertainya.

“….Adek ingin mandiri, membesarkan anak yang ada dalam kandunganku, biarkan adek merasakan kebebasan, menentukan pilihan hidup adek sendiri, Mas”.

Prima sentak kaget dan terperanjat, ia sampai menggeleng-gelengkan kepala.

“Tapi…Dek!”, sanggah Prima seakan tidak percaya atas apa yang ia dengarkan barusan.

“Kakak khawatir dengan mu. Tidak gampang dek menghadapi cibiran orang-orang di luar sana, belum lagi kerasnya hidup yang selama ini belum pernah kau rasakan. Mas nggak tega melihat itu semua akan menimpa mu kelak”.

“Mas…. Mas Prima, boleh Adit ikut bicara di sini?!”, ucap pemuda itu bersahaja.

Adit sejenak memberikan kode dengan kedipan mata pada Prima.

Prima cepat menyadari dan kembali menguasai keadaan supaya Cinta merasa tidak sedang diintimidasi.

Prima Mengangguk, lalu ia berkata.

“Silahkan, mas Adit!”, jawab nya cepat.

Adit menoleh sejenak ke Cinta yang masih menunduk dengan berbagai pikirannya yang berkecamuk.

“Cinta….! Kamu percaya sama mas?”, tanya Adit pada gadis itu.

Seketika Cinta mengangkat kepalanya menatap Adit, ia tidak tau apa yang akan pemuda itu katakan tetapi ada sesuatu yang membuatnya seakan percaya apa yang akan ia katakan.

“Kalau kamu percaya dengan perkataan ku kemaren. Saatnya di sini aku ingin menegaskan kembali kepada mas Prima bahwa aku akan selalu menemanimu menghadapi semua masalah hidupmu. Aku tidak akan membiarkanmu dihina, dicaci, dimaki apalagi sampai disakiti oleh orang lain, semua ku lakukan demi janjiku kepadamu bahkan nyawaku menjadi taruhannya, jika aku melanggar apa yang telah ku ucapkan kemaren”.

Prima yang mendengarkan omongan Adit barusan tersenyum lega, dia diam memikirkan apa yang terbaik untuk adiknya, Cinta.

Sesaat kemudian Cinta mulai menanggapi omongan Adit barusan.

“Nggak mas Adit. Mas Adit sudah terlalu banyak membantu Cinta. Ini sudah menjadi keputusan ku, Cinta ingin belajar menghadapi hidup, belajar mandiri, belajar menjadi diri Cinta sendiri”.

Mendengar keinginan yang begitu kuat dari Cinta, membuat Prima seperti ingin mengatakan jangan dan tidak boleh, tetapi ia juga masih bisa berpikir rasional.

Berpikir rasional supaya jangan sampai adiknya justru kembali nekat dan malah semakin sulit untuk diarahkan, akhirnya ia mempunyai ide walaupun mungkin idenya itu sedikit banyak membuat Adit dan Cinta akan bereaksi.

“Mas punya solusi buat mu Cinta, tetapi mas juga mesti meminta persetujuan Adit. Karena itu, sebelumnya mas mohon maaf jika ini membuat kalian berdua marah. Mas siap menanggung resiko nya jika hal itu terjadi”.

Mereka bertiga terdiam beberapa saat, helaan nafas ketiganya mengalun bak simphony yang merdu.

Hening menaungi ruangan dan suasana menjadi hampa.

Masing-masing terdiam dengan pikiran yang berbeda-beda.

Adit maupun Cinta menunggu apa yang hendak dikatakan Prima.

Sementara Prima mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan karena terbawa tegang karena suasana yang ia buat barusan.

“Jadi apa yang ingin mas Prima sampaikan?”, tanya Cinta tidak sabar.

“Iya mas, katakan saja jangan buat kami bingung”, ucap Adit menimpali.

Prima yang merasa di desak oleh Adit dan Cinta sedikit menjadi tegang dan gugup, tetapi karena ini menyangkut masa depan adiknya akhirnya ia memberanikan diri untuk mengatakan yang membuat suasana menjadi tegang.

Sambil ia menatap Adit, kemudian berpindah memandang Cinta, ia pun mengutarakan maksudnya.

“Ini demi kebahagiaan Cinta adikku, Dit! Jika kamu serius dengan janji yang kamu ucapkan pada adikku realisasi-kan janji mu dengan bukti….”, Prima sempat memotong perkataannya sambil menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya melalui mulut secara perlahan seakan ingin meyakinkan dirinya ini yang terbaik buat Cinta adiknya.

“Dit…! Kau mesti menikahi Cinta, walau ku tau itu bukan pilihan yang tepat buat kalian berdua, karena kalian berdua belum lama mengenal satu sama lain. Tetapi setidaknya ini jalan yang terbaik buat Cinta demi menjaga kehormatannya dari cacian masyarakat minimal sampai ia melahirkan nanti. Jika pernikahan ini tidak membuat kalian bahagia, aku pun akan bisa menerimanya dengan ikhlas mungkin itu sudah takdir dari-Nya untuk kalian berdua, mengenai hal ini saya serahkan ke kalian berdua apa pun keputusannya mas sudah lega sudah menyampaikannya ke kalian berdua”.

Prima seakan lega setelah mengucapkan kata perkata kepada mereka berdua secara langsung dan jelas, tetapi reaksi mereka berdua. Adit terbengong, sementara Cinta tercenung diam membisu dengan kepala menunduk.

.

.

.

Prima Sukmawan Pramudya aka Prima

Pov Prima

Entah kenapa suasana menjadi hening begini? Salah ku yang telah membuat suasana yang seharusnya bisa membuat adik ku Cinta bisa tersenyum kini malah membuatnya jadi malu, bahkan ia sekarang termenung dengan berbagai pikiran yang ada di benaknya.

“Duh kok aku jadi salah perhitungan gini ya, tidak seharusnya aku ngomong begitu pada Cinta dan Adit secara bersamaan. Harusnya aku bicarakan dulu ke mereka masing-masing bukan seperti ini”,sesal ku dalam benak ku.

Aku hanya bisa memandang keduanya yang sepertinya sibuk berpikir. Adit sepertinya sedang mencerna kata demi kata yang tadi kuucapkan, sementara Cinta terus menunduk, walau aku tidaklah tau apa yang dipikirkannya tetapi dari ekspresinya sangat terlihat jika ia sangat malu dengan dirinya.

“Bodoh, kamu bodoh Prima!

Kenapa kamu seperti mempermalukan adikmu sendiri?

Seperti kau sedang mengemis meminta uang padahal seharusnya itu tidaklah kau lakukan.

Itu bodoh Prima.

Gimana jika Adit menolak dengan kasar dan menghina Cinta?

Bukankah malah membuat Cinta semakin depresi dan makin menyalahkan dirinya sendiri akan kebodohan masa lalunya.

Bodoh, kamu bodoh Prima!”. Pikiran ku memaki kebodohanku sendiri.

“Aku minta maaf ya, Dit! Mungkin permintaanku ini jadi membebani mu, jika kamu mau melakukannya aku siap menyerahkan hidupku untuk mengabdi kepadamu. Ini semua ku lakukan demi Cinta adikku Dit!”, kata ku lirih.​

Tanpa aku bisa menahan air mata tak tertahankan untuk menetes.

Selama hidupku baru kali ini aku menangis dihadapan lelaki dan Cinta adikku.

Bahkan aku rela merendahkan diri ku demi kehormatan Cinta, demi menjaga martabatnya dan demi membuatnya tersenyum bahagia, dan aku yakin Adit lah orang yang tepat untuk itu.

Cinta langsung memelukku sambil terisak-isak, dia marah walau tak ada satu kata yang terlontar dari mulutnya.

Adit yang sesaat lalu masih terdiam tak bersikap apa pun, tiba-tiba ia berkata.

“Aku akan menikahi Cinta, mas Prima. Tetapi aku tidak akan memenuhi permintaan mas Prima yang menyerahkan hidup demi aku. Aku melakukan ini ikhlas demi menepati janjiku pada Cinta, tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Jika setelah Cinta melahirkan ia tidak ingin melanjutkan pernikahan ini aku siap melepaskannya”.

Aku dan Cinta seketika terperanjat mendengar perkataan Adit barusan, malah aku segera melepaskan pelukan Cinta adikku dan ingin mendekatinya bahkan ingin ku peluk Adit sebagai ungkapan rasa terima kasihku padanya karena Adit dengan berani memutuskan dan mengambil sikap di waktu sesingkat itu.

“Berikan aku restumu, Mas! Aku akan menghadap papa dan mama untuk melamar Cinta secara langsung”, sambung Adit tegas penuh keyakinan.

Aku sangat senang mendengar langsung kesediaan Adit untuk menikahi Cinta adikku, tetapi belum habis rasa senang ku tiba-tiba Cinta langsung menanggapi perkataan Adit dengan ketus dan ekspresi dingin.

“Tidak, aku tidak mau menikah dengan kamu. Apa kamu siap menerima anak ini yang bukan dari benih mu? Apa sanggup kamu menerima cacian orang-orang tentang masa lalu aku? Lagipula mau dikasih makan apa aku dan anakku kelak dengan pekerjaan mu yang hanya seorang supir”, sahut Cinta menanggapi perkataan Adit dengan ketus dan dingin.

“Cinta….Kamu?”, bentak ku pada Cinta adikku.

Reflek tangan ku sudah berada di atas untuk menampar muka Cinta tetapi dengan cepat ditahan oleh Adit dengan gelengan kepala.

“Jangan, Mas”, bisiknya pelan mencegahku.

“Percayakan saja padaku mas”.

“Cinta…! Mungkin benar aku hanyalah seorang pemuda miskin, cuma seorang supir limousin yang berpenghasilan pas-pasan, secara status sosial kita bak bumi dengan langit…”, ucap Adit bijak.

“Aku sudah katakan padamu aku akan melindungimu dari semua caci maki bahkan orang yang akan menyakitimu sampai kamu melahirkan. Aku tidak akan memanfaatkan situasi. Aku tidak akan memaksa mu, bahkan aku tidak akan memggauli mu. Aku hanya ingin menepati janji yang sudah kuucapkan padamu, pantang bagiku berjanji jika mesti mengingkarinya. Hanya kata dan kalimat ini yang bisa ku ucapkan sabagai JANJI SEORANG SUPIR LIMOUSIN”.

Cinta diam tak berkata apa-apa lagi, dia melongo memandang Adit dengan tatapan yang sangat dalam, entah apa yang membuat adikku seperti itu tapi setidaknya aku sudah senang dan bahagia jika benar mereka menikah, adikku setidaknya bisa terjaga kehormatan dan martabatnya.

“Dek…. Mas tanya sekali lagi, apa kamu bersedia menikah dengan Adit? tolong berpikirlah dengan kepala dingin. Ini semua demi masa depan mu dan janin dalam kandungan mu. Jawablah sekarang Dek supaya mas dan Adit tau keputusan kamu, jika kamu memang tidak mau menikah dengan Adit, mas tidak akan memaksa mu, Dek”.

Suasana hening kembali.

Beberapa saat kemudian….

Anggukan kepala Cinta mengiyakan perkataan ku yang menanyakan kesediaan nya menikah dengan Adit.

Cinta cuma berkata singkat walaupun pelan dan nyaris tak terdengar.

“Cinta serahkan sepenuhnya pada mas Prima dan mas Adit. Maafin sikap Cinta mas Prima, terutama pada mas Adit yang berniat tulus ingin membantu”.

Aku tersenyum sumringah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa supaya kelak mereka berdua benar-benar saling mencintai satu sama lain dan menjalani pernikahan ini dengan hati.

Setelah Cinta makan siang, jam 3 sore aku pamit kepada mereka berdua.

Sebelum aku pulang ke rumah, aku menitipkan Cinta pada Adit dan akan segera mengurus secepatnya pernikahan mereka.

.

.

.

Aditya Febriansyah aka Adit

Pov Adit

Tak ku sangka aku berada di kondisi seperti ini, ini episode hidupku yang begitu penuh tantangan apalagi aku dihadapkan dengan prinsipku sendiri.

Prinsip yang selalu ku junjung tinggi karena menyangkut martabat dan harga diri ku sebagai seorang lelaki.

Prinsip yang diajarkan Papa hingga aku bisa menjalankan bisnis Papa dengan baik dan malah mengarah semakin maju dan berkembang pesat.

Prinsip hidup seorang lelaki yang selalu ditanamkan dalam benak dan hati nuraniku.

“Jika kau telah mengucapkan JANJI, maka pantang bagimu untuk mengingkarinya.

Lelaki baik itu dipercaya dari ucapannya, bukan dari bentuk fisik, glamour, kekayaan maupun kekuasaannya.

Bagaimana seseorang akan mempercayaimu jika kau tidak bisa menepati JANJI yang kau ucapkan padanya?

Bagi sebagian orang, JANJI itu mungkin bukan hal yang terlalu penting dan hal yang dianggap remeh, tetapi JANJI bagi yang memahami maknanya itu hal yang utama dan menjadi kewajiban untuk menepatinya.

Karena JANJI adalah kesaksian diri, penyerahan diri, keseriusan diri orang yang mengucapkan karena itu tercatat langsung di benak dan hati di saksikan oleh malaikat dan Sang Pencipta.

JANJI itu mudah diucapkan tetapi belum tentu semua orang sanggup menjalankannya

Kata petuah yang penuh makna itu diajarkan Papa sejak aku berusia 5 tahun. Kini masih terus melekat dan bersemayam di benakku.

Beliau menceritakan secara singkat betapa ia sangat menjunjung tinggi JANJI karena berkah dari kata singkat itu begitu ia rasakan sendiri, hotel yang dulunya hanya kelas melati berkembang pesat menjadi hotel berbintang dan malah merambah ke bisnis restoran, belum lagi ekspansi atau perluasan usah di bidang lainnya itu juga berkat kata pendel berjumlah 5 huruf.

Janji papa pada insvestor untuk meyakinkan mereka dengan JANJI bagi hasil ia tepati sesuai dengan lesepalatan awal pada saat ditanda tanganinya perjanjian kerja antara keduanya.

JANJI kepada pihak perbankan untuk membayar cicilan pinjaman kita sebagaimana kesepakatan kita dengan fihak perbankan.

Pada saat Prima bertanya kesediaan ku untuk menikahi Cinta aku sedikit gamang untuk menjawab, Iya.

Malah lebih berat untuk mengatakan Tidak. Tetapi karena aku sudah mengucapkan janji untuk selalu menemani nya, menjaganya, dan melindunginya itu berarti aku harus selalu dekat di sisinya.

Dan bukannya dengan menikahinya aku bisa menepati semua JANJI ku itu, apalagi dalam ajaran agama yang ku anut, berduaan tanpa menikah dalam suatu ruangan yang bukan muhrim kita akan menimbulkan fitnah dan dosa besar untuk menghindari fitnah dan dosa besar kenapa tidak aku menikahinya.

“Aku akan menikahi Cinta, mas Prima. Tetapi aku tidak akan memenuhi permintaan mas Prima yang menyerahkan hidup demi aku. Aku melakukan ini ikhlas demi menepati janjiku pada Cinta, tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Jika setelah Cinta melahirkan ia tidak ingin melanjutkan pernikahan ini aku siap melepaskannya”.

Reaksi mereka berdua kakak beradik itu seperti terperanjat setelah mendengarkan perkataanku barusan.

Cinta bereaksi menundukkan wajahnya setelah rasa kagetnya dan diam termenung mungkin sedang berusaha mencerna dan memikirkan perkataanku.

Sementara mas Prima tersenyum sumringah, sambil melepaskan pelukannya pada Cinta. Sepertinya ia ingin mengucapkan terima kasih yang teramat banyak padaku karena aku dengan berani memutuskan dan mengambil sikap di waktu sesingkat ini.

“Berikan aku restumu, Mas! Aku akan menghadap papa dan mama untuk melamar Cinta secara langsung”, kata ku tegas penuh keyakinan.

Tetapi aku sempat kaget saat Cinta menanggapi langsung penyataan ku bersedia untuk menikahinya karena ingin menepati JANJIku padanya.

“Tidak, aku tidak mau menikah dengan kamu. Apa kamu siap menerima anak ini yang bukan dari benih mu? Apa kamu sanggup menerima cacian orang-orang tentang masa laluku? Lagipula mau dikasih makan apa aku dan anakku kelak dengan pekerjaan mu yang hanya seorang supir”, sahut Cinta menanggapi perkataan ku dengan ketus dan dingin.

Aku berusaha bersikap tenang dan berpikiran positif menyikapi reaksi dan jawaban Cinta.

Sambil tersenyum aku padanya, aku justru bangga pada prinsipnya yang kuat dan tidak mau diremehkan ataupun direndahkan orang lain.

Dan makin kagum dengan keberaniannya menolak tegas permintaan ku, walau di sisi lain ia pun pasti telah memikirkan juga matang-matang perkataanku barusan, yang setidaknya bisa membantunya menghadapi permasalahan hidupnya ke depan.

“Cinta….Kamu?”, bentak Prima pada Cinta adiknya.

Reflek tangannya sudah berada di atas untuk menampar Cinta, tetapi dengan cepat kutahan sambil memberi kode dengan gelengan kepala.

“Jangan, Mas”, bisikku pelan mencegahnya.

“Percayakan saja padaku mas”.

“Cinta…! Mungkin benar aku hanyalah seorang pemuda miskin, cuma seorang supir limousin yang berpenghasilan pas-pasan, secara status sosial kita bak bumi dengan langit…”, ucap ku bijak mencoba membuka hatinya dengan keseriusan ku untuk membantunya.

“Aku sudah katakan padamu aku akan melindungimu dari semua caci maki bahkan orang yang akan menyakitimu sampai kamu melahirkan. Aku tidak akan memanfaatkan situasi. Aku tidak akan memaksa mu, bahkan aku tidak akan memggauli mu sebagai istriku. Aku hanya ingin menepati janji yang sudah ku ucapkan padamu, pantang bagiku berjanji jika mesti mengingkarinya. Hanya kata dan kalimat ini yang bisa ku ucapkan sebagai JANJI SEORANG SUPIR LIMOUSIN”.

Aku bisa melihat perubahan di raut wajah mereka berdua.

Mas Prima mengacungkan jempol sambil tersenyum bangga.

Sementara Cinta memandangku. Matanya menatap dalam sekali tanpa berkedip sekalipun.

Seakan ia sedang menilai hati dari pancaran mata ku atas ucapan dan perkataanku tadi itu serius dari hati dan pikiranku atau hanya untuk menghiburnya.

Aku membalas pandangan dan tatapan mata Cinta yang seakan menghipnotis ku.

Terasa jantungku berdegup kencang, percikan yang mengisyaratkan rasa kagum dan suka akan kepribadiannya yang kuat untuk menjadi dirinya sendiri dengan segala kekurangan yang ada dalam dirinya.

Mas Prima lantas seperti menyadari kalau diantara kami berdua mulai ada benih-benih ketertarikan satu sama lain, lalu ia tiba-tiba berucap hingga suasana hening beberapa saat kembali seperti semula.

“Dek…. Mas tanya sekali lagi, apa kamu bersedia menikah dengan Adit? tolong berpikirlah dengan kepala dingin. Ini semua demi masa depan mu dan janin dalam kandungan mu. Jawablah sekarang Dek supaya mas dan Adit tau keputusan kamu, jika kamu memang tidak mau menikah dengan Adit, mas tidak akan memaksa mu, Dek”.

Suasana hening kembali.

Beberapa saat kemudian….

Anggukan kepala Cinta mengiyakan perkataan mas Prima yang menanyakan kesediaanya menikah denganku.

Cinta cuma berkata singkat walaupun pelan dan nyaris tak terdengar.

“Cinta serahkan sepenuhnya pada mas Prima dan mas Adit. Maafin sikap Cinta mas Prima, terutama pada mas Adit yang berniat tulus ingin membantu”.

“Semoga aku bisa menepati semua janji-janjiku padamu, aku akan berusaha membuatmu kembali tersenyum, jujur senyummu itu sangatlah indah Cinta.

Aku akan menjadi tangan, kaki dan perisaimu yang siap melindungi mu dari semua cacian, makian, cibiran orang dan menjadi perisai pertama untuk menghadang orang yang ingin mencelakakanmu, sampai kau melahirkan anak yang sedang kau kandung”.

.

.

.

Cinta Rahayu Pramudya aka Cinta​

Pov Cinta

Mungkin ini hanya seperti dalam mimpi dan bukan di dunia nyata, seakan aku masih tidak percaya dan menyangka perjalanan ku akan seperti ini.

Saat hati gundah gulana karena barusan menelepon semua sahabat ku. Mereka yang kuanggap sahabat bukannya memberikan solusi atau saran yang baik untuk ku, eh, malah memojokkan dan menyalahkan ku atad keputusan dan tindakanku kabur dari rumah menghindari pernikahanku di depan mata.

Bahkan sempat aku memikirkan sebagian pendapat mereka tadi pagi, yang kini masih membayangi ingatanku.

“Di mana sih kau, Cinta”, semprot Resti begitu mendengar suaraku di telepon.

“Bikin gempar saja! Kemaren semua orang sudah siap menyaksikan akad nikahmu, pengantinnya malah kabur!”.

“Aku tidak mau terpenjara untuk kedua kalinya dalam hidupku”, desah ku bercampur tangis.

“Kawin dengan orang yang tidak kucintai!”.

“Tapi itu jalan keluar yang terbaik untukmu, Cinta”, desak Resti kesal.

“Kau hamil, Robi tidak mau bertanggung jawab”.

“Barangkali kalau mamaku yang minta dan mengancam, Robi mau menikahiku”.

“Tapi apa yang kau harapkan dari Robi?”, tukas Resti gemas.

“Masih kuliah, belum punya pekerjaan, orangtuanya tidak jelas, mamamu justru menghindarkanmu dari hidup sengsara”.

“Aku tidak takut hidup sengsara!”, gumam ku pilu.

“Tapi sejak lahir kau sudah tidur di atas ranjang bulu angsa bertilamkan sutra!”, cibir Resti sumbang.

“Mana mungkin putri raja sepertimu hidup melarat!”.

Komentar Anya lebih sadis lagi. Aku meneleponnya setelah Resti tidak bisa memberikan jalan keluar.

“Kau betul-betul gila!”, maki Anya di seberang sana. “Mempermalukan mamamu!”.

“Apa aku harus menukar kebahagianku demi menuruti perintah mamaku?”.

“Kebahagiaan mana lagi?”, Anya hampir memekik.

“Bukankah mamamu sudah memberikan segalanya padamu? Apa lagi yang kurang?”.

Jawaban yang sama pun diutarakan silvy dari gagang telepon.

“Tidak mungkin kau hidup tanpa mamamu”, desis Silvy tanpa perasaan.

“Meninggalkan mamamu, sama artinya meninggalkan semua yang kau miliki selama ini! Kemewahan, fasilitas, kekuasaan…Mana mungkin kau sanggup hidup menjadi orang yang tidak punya apa-apa…Sebagai bukan siapa-siapa…”.

“Barangkali sahabat-sahabatku benar”, sesal ku terisak-isak.”Aku telah menyia-nyiakan hidupku, barangkali aku harus bersimpuh di kaki Mama, menukar kebebasanku kembali, memggadaikan diriku lagi dengan semua kemewahan yang dulu dilimpahkan Mama kepadaku”.

“Ah, sudahlah buat apa aku pikirin pendapat mereka yang hanya memandang suatu kebahagiaan itu hanya dari segi materi saja.

Padahal kebahagiaan hakiki itu letaknya di hati dan tidak bisa diukur dengan materi maupun kekuasaan.

Rahasia hati itulah yang mereka tidak fahami.

Aku selama ini justru merasa miskin hati dan kasih sayang, mama menyayangiku itu tidak setulus ia menyayangi kedua kakakku yang tidak ia perlakukan berlebihan dengan berbagai aturan yang ketat.

Aku hanya ingin dihargai sama seperti kedua kakakku, diperlakukan sama seperti kedua kakakku tanpa membedakan diriku yang seolah-olah menjadi emas dan permata yang mesti dijaga dan dilindungi.

Aku hanya ingin diberikan kebebasan menentukan hidup dan keinginan ku sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain, termasuk dari mama.

Aku tidak ingin disamakan dengan peliharaan mama. Burung merpati yang memiliki bulu yang indah dan hanya untuk menyenangkan orang lain, tetapi tidak bisa bebas bergerak walaupun tinggal di dalam sangkar yang terbuat dari emas.

Bosan. Kata itu yang ada dalam pikiranku. Bosan dengan aturan mama, bosan dengan teman-teman yang memandang orang dari status dan martabat, kaya dan miskin.

Walau sudah berkali-kali aku memindah-mindahkan channel TV, tetapi tidak ada satupun yang bisa mengalihkan perhatian ku dari keresahan dan kegundahan hati.

Selera makan pun tak ada, walau sekarang sudah lebih dari jam 1 siang.

Tiba-Tiba aku dikejutkan dengan suara ketukan dari luar pintu kamar ku saat ini.

Dengan senyum ceria dan penuh keyakinan yang mengetuk pintu itu adalah Adit, aku segera menyahut dari dalam.

Bentar Mas Adit…!”, suara sahutan Cinta dari dalam kamar.

Ceklek…..

“Hah……! Mas Prima……!”, seru ku kaget.

Aku reflek untuk menutup pintu kamar setelah mengetahui Adit datang bersama mas Prima.

Tetapi sebelum pintu itu tertutup, dengan reflek yang cepat pula, Adit bisa menahan pintu tersebut supaya tetap terbuka.

“Tunggu, Cinta! Mas mohon!”, cegah Adit ketika menahan pintu kamar.

“Mas akan jelaskan semua, kamu jangan terbawa emosi dan salah faham dulu”.

Aku akhirnya melepaskan pegangan tanganku di gagang pintu dan langsung berbalik badan dengan ekspresi wajah sedih dan kecewa.

Aku kecewa dengan Adit karena membawa serta Prima kakak kandungku.

Sementara mas Adit dan mas Prima mulai masuk ke dalam kamar, menyusulku yang masih cemberut duduk di sofa di pojok kamar.

“Mas datang kok nggak salim, Dek!”, ucap mas Prima yang berusaha mencairkan suasana biar santai.

“Apa kabar kamu my little angel, Cinta?”.

Aku tidak mengindahkan candaan serta sapaan mas Prima, malah aku berkata dengan sedikit ketus.

“Kenapa Mas Prima ikut ke sini?”, tanya ku curiga dan was-was.

“Apa karena di suruh mama untuk bawa pulang, Cinta?”.

Mataku mulai berkaca-kaca setelah mengetahui bahwa mas Prima telah mengetahui tempat persembunyianku di sini.

“Mas kangen sama kamu dek. Mas khawatir dengan kamu”, sahut mas Prima santai.

“Dan kamu jangan salah faham dulu sama kami berdua! Mas ke sini bukan karena di suruh mama atau siapa pun! Mas datang ke sini ingin bantu kamu, Dek. Mas ingin kamu bahagia, Cinta”.

HIKS…. HIKS… HIKS….

Suara tangisku membahana di ruang kamar ini. Kemudian aku mengangkat kepala melihat ke arah mas Prima yang juga terharu melihat kesedihan yang dideritaku.

Lalu mas Prima perlahan mendekatiku, ia memelukku dengan segenap perasaan, seorang kakak yang sayang pada adik bungsunya yang manja.

Kami berpelukan erat melepas rindu, mas Prima merindukan keceriaanku seperti dulu sementara aku merindukan kebersamaan kami sebagai satu keluarga, kakak beradik.

Hanya tangisan yang mengiringi kami, kami seakan ingin menumpahkan semua beban penderitaan yang kami tanggung terutama aku yang begitu tertekan dan menderita dengan beberapa kejadian yang menimpa hidupku.

Kandasnya percintaanku dengan Robi, masalah kehamilanku yang justeu kekasih yang sangat aku bangga-banggakan justru jadi lelaki pecundang dan pengecut.

Dan yang menguras air mataku adalah renggangnya hubunganku dengan keluarga terutama kepada mama, karena kenekatanku kabur dari rumah demi menghindari pernikahan yang tidak kuinginkan pasti membuat malu dan mencoreng harga diri keluargaku

Hening dan cukup mengharukan saat ini, setidaknya aku bisa melupakan sejenak masalahku, walau untuk tersenyum masih terasa berat dan kupaksakan.

“Hmm…”, suara deheman Adit.

Kami yang sedang menumpahkan kerinduan itu jadi tersadarkan bahwa ada Adit yang beberapa saat kami cuekin.

Walau pelukan kami belum terlepas, malah mas Prima mulai melancarkan godaan nya pada Adit.

“Cie…! Ada yang cemburu Dek!”, gurau mas Prima.

“Dah.. Yuk kita ngobrolin santai, masalah kamu itu juga masalah buat mas jadi kamu jangan merasa sendirian menghadapi ini semua, Dek”.

Aku tersenyum, tersipu malu karena gurauan mas Prima, lalu aku menoleh ke arah Adit berusaha tersenyum padanya.

“Hehehee… Gimana, Cin?”, tanya Adit sejenak ia tertawa kecil mendengar gurauan Prima barusan.

“Benar apa yang mas mu bilang? Kamu itu tidak sendiri, justru mas mu yang mau datang ke sini karena khawatirin kamu”.

“Iya… Makasih ya mas Prima. Cinta dari dulu emang sering merepotkan, Mas”, sahut ku sumringah.

“Nah gitu dong! Itu baru namanya my little angel-nya, Mas. Mulai sekarang mas nggak mau lihat air mata ini lagi ya, Dek. Cukup hari ini saja ya”.

Mas Prima malah mencandaiku dengan mengacak-acak rambutku, yang sering dulu ia lakukan bila aku sedang sedih dan galau. Walaupun sesekali ku balas dengan senjata andalan ku yaitu cubitan mautku.

“Mulai deh datang jahilnya, Mas. Kan rambut Cinta yang bagus dan indah ini jadi lecek tau….!”, dengus ku cemberut.

“Hahahaha….”, tawa mas Prima lebar.

Adit yang melihat pun keakraban kami jadi ikutan tertawa, kemesraan kami setidaknya bisa membuatku tersenyum.

Kehadiran mas Prima sedikit banyak bisa mengurangi beban yang kutanggung saat ini, setidaknya aku bisa melupakan sesaat penderitaan yang kurasakan beberapa hari lalu.

“Jadi bagaimana rencana kamu selanjutnya, Cin?”, tanya mas Prima selanjutnya setelah tadi mereka saling bercanda gurau melepaskan kerinduan dan kebersamaan mereka yang sempat hilang beberapa hari lalu.

“Apa kamu ikut mas pulang, atau gimana? Tapi mas akan dukung kamu, carilah kebahagiaanmu sendiri, Dek”.

Aku menggeleng.

Aku menghela nafas dalam-dalam berusaha mengatur emosiku, jika dikaitkan dengan rumah aku terbayang akan hidup terkekang kembali.

“Mas…. Mas sayang kan sama adek”, tanya ku lirih.

“Jelas dek….! Takkan berubah apa pun yang terjadi”, jawab mas Prima yakin.

“Kalau begitu adek minta mas mengijinkan adek menentukan jalan adek sendiri, Mas….”, ujarku menahan perih yang kurasakan seketika.

Beberapa saat aku sempat menitikkan air mata, terasa berat untuk aku ucapkan.

Apalagi merasakan akan berpisah dengan keluargaku yang selama ini selalu menyertaiku.

“….Adek ingin mandiri, membesarkan anak yang ada dalam kandunganku, biarkan adek merasakan kebebasan, menentukan pilihan hidup adek sendiri, Mas”.

Mas Prima sentak kaget dan terperanjat, ia sampai menggeleng-gelengkan kepala.

“Tapi…Dek!”, sanggah Prima seakan tidak percaya atas apa yang ia dengarkan barusan.

“Kakak khawatir dengan mu. Tidak gampang dek menghadapi cibiran orang-orang di luar sana, belum lagi kerasnya hidup yang selama ini belum pernah kau rasakan. Mas nggak tega melihat itu semua akan menimpa mu kelak”.

“Mas…. Mas Prima, boleh Adit ikut bicara di sini?!”, ucap pemuda itu bersahaja.

“Silahkan, mas Adit!”, jawab mas Prima cepat.

“Cinta….! Kamu percaya sama mas?”, tanya Adit padaku.

Seketika aku mengangkat kepala menatap tajam ke arah Adit, aku tidak tau apa yang akan pemuda itu katakan tetapi ada sesuatu yang membuatku seakan percaya apa yang akan ia katakan.

“Kalau kamu percaya dengan perkataan ku kemaren. Saatnya di sini aku ingin menegaskan kepada mas Prima bahwa aku akan selalu menemanimu menghadapi semua masalah hidupmu. Aku tidak akan membiarkanmu dihina, dicaci, dimaki apalagi sampai disakiti oleh orang lain, semua ku lakukan demi janjiku kepadamu bahkan nyawaku menjadi taruhannya, jika aku melanggar apa yang telah ku ucapkan kemaren”.

Sesaat kemudian aku mulai menanggapi omongan Adit barusan.

“Nggak mas Adit. Mas Adit sudah terlalu banyak membantu Cinta. Ini sudah menjadi keputusan ku, Cinta ingin belajar menghadapi hidup, belajar mandiri, belajar menjadi diri Cinta sendiri, Mas”.

“Mas punya solusi buat mu Cinta, tetapi mas juga mesti meminta persetujuan Adit. Karena itu, sebelumnya mas mohon maaf jika ini membuat kalian berdua marah. Mas siap menanggung resiko nya jika hal itu terjadi”.

Kami bertiga terdiam beberapa saat, helaan nafas kami mengalun bak simphony yang membentuk nada-nada yang merdu saling bersahutan.

Hening menaungi ruangan dan suasana menjadi hampa.

Masing-masing terdiam dengan pikiran yang berbeda-beda.

Aku maupun mas Adit menunggu apa yang hendak dikatakan oleh mas Prima?

Sementara mas Prima mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan karena terbawa tegang karena suasana yang ia buat sendiri barusan.

“Jadi apa yang ingin mas Prima sampaikan?”, tanya ku tidak sabar.

“Iya mas, katakan saja jangan buat kami bingung”, ucap Adit menimpali.

Mas Prima yang merasa di desak oleh kami berdua sedikit menjadi tegang dan gugup, tetapi karena ini menyangkut masa depanku akhirnya ia memberanikan diri untuk mengatakan yang membuat suasana sedikit menjadi tegang.

Sambil ia menatap Adit, kemudian berpindah memandangku, ia pun mengutarakan maksudnya.

“Ini demi kebahagiaan Cinta adikku, Dit! Jika kamu serius dengan janji yang kamu ucapkan pada adikku realisasi-kan janji mu dengan bukti….”, Mas Prima sempat memotong perkataannya sambil menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya melalui mulut secara perlahan seakan ingin meyakinkan dirinya ini yang terbaik buatku.

“Dit…! Kau mesti menikahi Cinta, walau ku tau itu bukan pilihan yang tepat buat kalian berdua, karena kalian berdua belum lama mengenal satu sama lain. Tetapi setidaknya ini jalan yang terbaik buat Cinta demi menjaga kehormatannya dari cacian masyarakat minimal sampai ia melahirkan nanti. Jika pernikahan ini tidak membuat kalian bahagia, aku pun akan bisa menerimanya dengan ikhlas mungkin itu sudah takdir dari-Nya untuk kalian berdua, mengenai hal ini saya serahkan ke kalian berdua apa pun keputusannya mas sudah lega sudah menyampaikannya ke kalian berdua”.

Setelah mas Prima mengucapkan kata perkata kepada kami berdua secara langsung dan jelas, membuat aku tercenung diam membisu dengan kepala menunduk, sementara Adit diam terbengong.

“Apa yang disarankan oleh mas Prima itu adalah solusi terbaik untukku?

Apakah mungkin mas Adit bisa menerima keadaanku yang sudah ternoda bahkan kini sudah berbadan dua?

Jujur aku sebetulnya tidak akan sanggup menjalani ini semua sendirian tanpa ada yang membantu, menguatkan hati, memberi semangat dan melindungi ku dari cacian, makian, cibiran, bahkan bisa saja ada kekerasan fisik padaku karena aku pasti dianggap membawa aib dan itu bisa menimbulkan bencana bagi orang banyak.

Belum lagi aku masih belum bisa membuka hatiku pada pria lain selain Robi, walaupun secara sikap dan perhatian justru mas Adit lebih dewasa dan bisa mengayomi ku kelak.

Ah, pusing apa yang mesti kukatakan, aku tidak ingin berhutang budi pada siapa pun, aku ingin hidupku tidak ingin melibatkan orang lain termasuk mas Adit.

Tapi aku mesti tegas menerima atau menolak, tidak boleh ragu untuk mengatakan”.

“Tidak, aku tidak mau menikah dengan kamu. Apa kamu siap menerima anak ini yang bukan dari benih mu? Apa kamu sanggup menerima cacian orang-orang tentang masa laluku? Lagipula mau dikasih makan apa aku dan anakku kelak dengan pekerjaan mu yang hanya seorang supir”, sahut ku menanggapi perkataan mas Adit dengan ketus dan dingin.

Lega rasanya aku sudah berani mengatakan apa yang ada di otakku, aku tidak memikirkan lagi apa yang akan terjadi.

Jika mas Prima marah aku terima, bahkan jika mas Adit kecewa dan membenciku sekali pun aku tak peduli.

Bukannya malah bagus kalau mas Adit menjauh dari masalahku, jadi aku tidak merasakan berhutang padanya.

“Cinta….Kamu?”, bentak mas Prima padaku.

Reflek tangannya sudah berada di atas untuk menamparku. Aku sudah pasrah jika mas Prima mau menamparku, karena memang tidaklah pantas perkataan ku barusan yang lebih merendahkan harga diri mas Adit.

Baru kali ini aku melihat jelas kemarahan yang begitu besar dari mas Prima, mungkin bukan hanya kecewa yang ia rasakan saat itu tetapi lebih dari itu, rasa malu dan terhina punya adik yang tidak menghargai niat baik lelaki apalagi itu mas Adit yang berani mempertaruhkan masa depannya juga.

Tetapi anehnya tangan mas Prima tidak sampai menerpa pipi ku. Aku mengangkat wajahku sejenak ternyata mas Adit yang menahan tangan mas Prima sambil ia memberi kode dengan gelengan kepala kepada kakak ku.

“Jangan, Mas”, bisik mas Adit pelan mencegah mas Prima.

“Percayakan saja padaku mas”.

Suara bisikan pelan itu sempat terdengar di telingaku, aku menunduk seakan menyesali apa yang sudah terlanjur kuucapkan.

“Cinta…! Mungkin benar aku hanyalah seorang pemuda miskin, cuma seorang supir limousin yang berpenghasilan pas-pasan, secara status sosial kita bak bumi dengan langit…”, ucap mas Adit bijak dengan bahasa yang lembut dan menyejukkan hati.

“Aku sudah katakan padamu aku akan melindungimu dari semua caci maki bahkan orang yang akan menyakitimu sampai kamu melahirkan. Aku tidak akan memanfaatkan situasi. Aku tidak akan memaksa mu, bahkan aku tidak akan memggauli mu sebagai istriku. Aku hanya ingin menepati janji yang sudah ku ucapkan padamu, pantang bagiku berjanji jika mesti mengingkarinya. Hanya kata dan kalimat ini yang bisa ku ucapkan sebagai JANJI SEORANG SUPIR LIMOUSIN”.

Aku bisa melihat perubahan di raut wajah mereka berdua.

Mas Prima mengacungkan jempolnya kepada mas Adit dengan penuh kebanggaan.

Sementara aku memandangnya. Mataku menatap tajam tanpa berkedip. Aku bisa melihat semua perkataannya penuh kejujuran tanpa rekayasa atau ada niat terselubung untuk memanfaatkanku, niat seorang lelaki yang jantan bersedia menepati janji nya pada seorang walaupun mesti ia harus mengorbankan hidup dan masa depannya.

Dari situ aku bisa menilai bahwa mas Adit memang dewasa, bisa mengayomiku , membimbingku, mendidik dan mengajarkan kebaikan yang selama ini tidak kudapatkan selain dimanjakan oleh gemilangan harta dan kemewahan.

Entah mengapa aku semakin mengagumi sosok mas Adit, tadi pagi saja aku merasa kesepian dan bosan begitu melihatnya bosan itu seketika hilang berganti dengan kehangatan. Tutur katanya santun dan sikapnya yang peduli dan perhatian.

Tiba-tiba jantungku terasa berdebar-debar, seperti saat aku mengenal dan jatuh hati pada Robi. Kami berdua saling menatap dengan tatapan yang dalam, bagai tatapan antara pria dan wanita yang sedang saling mengagumi satu sama lain.

Kami tersadarkan dari saling terpana saat mas Prima tiba-tiba berucap hingga suasana hening berubah menjadi sikap salah tingkah kami berdua.

“Dek…. Mas tanya sekali lagi, apa kamu bersedia menikah dengan Adit? tolong berpikirlah dengan kepala dingin. Ini semua demi masa depan mu dan janin dalam kandungan mu. Jawablah sekarang Dek supaya mas dan Adit tau keputusan kamu, jika kamu memang tidak mau menikah dengan Adit, mas tidak akan memaksa mu, Dek”.

Suasana hening kembali.

Beberapa saat kemudian….

Aku menganggukan kepala mengiyakan perkataan mas Prima yang menanyakan kesediaan ku menikah dengan mas Adit.

Aku cuma berkata singkat walaupun pelan dan nyaris tak terdengar.

“Cinta serahkan sepenuhnya pada mas Prima dan mas Adit. Maafin sikap Cinta mas Prima, terutama pada mas Adit yang berniat tulus ingin membantu”.

.

.

.

Pov 3rd

Malam pun datang, sekarang mereka berdua mulai belajar saling terbuka, belajar memahami satu dengan yang lain.

Kini mulai ada secercah semangat baru dalam diri Cinta, menatap masa depannya bersama Adit.

Malah pada saat makan malam, Cinta sudah bisa sedikit bersikap manja pada Adit dan tanpa sungkan Adit menuruti permintaan Cinta tanpa protes tetapi tetap lembut dan tegas.

Akankah rencana pernikahan mereka berjalan mulus?

Bersambung

END – Pelarian Kisah Cintaku Part 9  | Pelarian Kisah Cintaku Part 9 – END

(Pelarian Kisah Cintaku Part 8)Sebelumnya | Selanjutnya(Pelarian Kisah Cintaku Part 10)