Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Nafsu Besar Citra Part 41

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48 END

Nafsu Besar Citra Part 41

Start Nafsu Besar Citra Part 41 | Nafsu Besar Citra Part 41 Start

Cerita Panjang di Rumah Sakit

“Aku dimana ini..? Kok badan aku susah banget buat digerakkan…?” Bingung Citra dalam hati ketika melihat kondisi tubuhnya yang terasa begitu lemas. Matanya berat dan tubuh bagian bawahnya terasa mati rasa.

Sinar lampu operasi yang menyorot kearahnya, begitu terang. Terasa menyilaukan mata. Sejenak, Citra perlu menyesuaikan diri dengan suasana ruangan yang putih bersih itu.

“Aku pasti sudah berada diruang operasi….” Batin Citra lagi ketika ia memperhatikan kondisi disekitarnya.

Disekelilingnya, banyak orang berpakaian hijau dengan masker diwajah , tak hentinya mondar-mandir. Meneriakkan kalimat-kalimat medis yang sama sekali tak Citra tahu. Dan ketika Citra mengetahui jika tubuh bagian bawahnya tertutup tirai kecil berwarna hijau, calon ibu itu sadar jika ia sedang akan menjalani proses melahirkan.

“Dokter….? Gimana kondisi istri saya..?” Tanya seorang lelaki yang terdengar samar dari sudut ruangan

“Pak Marwan nggak usah khawatir… Istri bapak baik-baik saja kok… ” Jawab pria berjas hijau.

“Itu seperti suara mas Marwan… Dan Dokter Beno… ” Batin Citra sambil berusaha mencari arah datangnya suara itu, “Mas Marwaaan… Maaasss….” Jerit Citra berusaha memanggil lelaki itu.

“Iya Deek.. Mas disini…” Jawab Marwan.

“Maaf Pak… Bapak tidak diperkenankan mendekat….” Jawab seorang suster wanita. Mencegah Marwan supaya tidak mendekat ke arah Citra.

“Mas Marwan…”

“Kamu tenang saja dek.. semua akan baik-baik saja…” Ucap Marwan dari kejauhan, “Sebentar lagi… Kamu akan jadi seorang ibu Dek…” Tambahnya lagi sambil tersenyum.

“Iya Mas… Kamu juga bakal jadi seorang ayah….”

“Makasih Mas… Sudah menemaniku disini….” Ucap Citra pelan sambil memicingkan mata guna melihat lebih jelas kearah suaminya. Namun, ketika ia berhasil melihat lokasi lelaki itu berada, ia merasa ada sesuatu yang aneh.

“Loohh…? Itu…? Mas Marwan apa Mas Jupri ya…?” Heran Citra ketika melihat samar lelaki yang masih tersenyum itu. “Kalo mas Marwan…? Kok dia berkumis dan berjanggut ya…. ? Tapi kalo Mas Jupri… Dia kok mirip sekali dengan Mas Marwan…?”

“Ibu… Jangan banyak bergerak….” Saran suster wanita yang ada didekat Citra, “Proses operasi sedang akan dimulai…”

“Mas aku takut…” Ucap Citra pelan.

“Tenang aja Dek….” Jawab Marwan dari kejauhan

“Ibu tak perlu khawatir… Ibu ditangani oleh dokter ahli dan profesional kok…” Ucap suster pembantu itu berusaha menenangkan.

“Iya Ibu… Ibu tenang saja….” Sahut seorang dokter yang tiba-tiba datang menemani suster dan berdiri diantara Citra dan Marwan, “Suster… Tolong siapin alat-alat operasi….. Biar saya yang coba menenangkan pasien…” Pinta dokter itu kepada suster yang menjaga Citra.

“Baik Dok…” ucap suster itu segera meninggalkan Citra bersama si dokter.

“Ibu Citra yang cantik…. Ibu tak perlu khawatir yaaa…. Saya bakal menjaga semuanya kok…. ” Ucap dokter itu sembari membuka maskernya dan mengusap payudara Citra pelan.

“Loohh…? Dokter Beno…?”

“Hehehe… Iya… Ibu tenang saja yaa… Karena saya yang akan mengoperasi ibu… Yang akan mengeluarkan dede bayi ibu dari dalam perut bulat ibu… Dan yang akan merawat ibu hingga sembuh…”

Tambah dokter beno yang semakin berani meremas payudara sekaligus mempermainkan puting Citra.

“Sssshh.. Dokter…..” Lenguh Citra ketika merasakan tangan jahil Dokter Beno terus meremasi kedua payudaranya secara bergantian.

“Air susu ibu sudah banyak ya….?” Bisik Dokter Beno cuek sambil terus meremasi payudara Citra secara terang-terangan. Karena ia adalah seorang Dokter, bukan perkara sulit baginya untuk menikmati kekenyalan payudara pasiennya,”Pasti bayinya nanti bakalan tak kesulitan dengan asi….”

“Ooohh…. Dokter…. Jangan remas tetek saya Dok….” Bisik Citra lemah.

“Looohhh.. Kalo nggak diremas… Air susunya nanti susah keluar loh Bu…” Bisik Dokter Beno berusaha menjelaskan, “Kasihan bayinya kalo asi ibu mampet….” Tambahnya lagi sembari terus meremasi kedua payudara bulat Citra hingga baju operasinya membasah karena asi.

“Tapi… Ooohhh… Jangan keras-keras Dok ngeremesnya…. Ssssshhh.. Ooohhh.. Sakiittt…” Lenguh Citra dengan puting yang makin mengeras.

“Hehehe… Katanya sakit…? Tapi kok pentilnya ngaceng Bu….? ” Bisik Dokter Beno sambil memilin-milin puting Citra yang menonjol di balik baju operasinya, “Ibu sange yaaa…? Waaahhh…. Nakal… Ada suaminya menunggu disini… Ibu malah horny dengan lelaki lain….?”

“Dokter… Saya mohon… Hentikan….Atau…”

“Atau…? Atau apa Bu….?” Tantang Dokter Beno, “Atau Ibu mau menceritakan perselingkuhan Ibu dengan saya…? Atau… Ibu mau memberitahukan kepada suami ibu jika ibu selalu melakukan persetubuhan setiap kali periksa dengan saya…? Atau…. Mungkin… Ibu mau kasih tahu jika memek ibu begitu menikmati sodokan kontol besar saya ketimbang sodokan kontol kecil suami ibu…?”

Mendengar kalimat Dokter Beno, Citra merasa begitu terpojok. Ia hanya bisa terdiam, tak mampu berbuat apa-apa.

“Jangan Dok…” Bisik Citra pasrah.

“Hehehee… Melihat ibu panik begini… Membuat kontol saya langsung bangun Bu….” Bisik Dokter Beno diatas kemenangannya. “Iyadeh….Kali ini saya hentikan…” Sambung Dokter Beno, “Tapiiii…. Begitu nanti ibu sudah selesai lahiran… Sudah sehat… Gantian saya ya Bu…? Yang membuahi sel telur ibu dengan pejuh-pejuh saya… Biar besok setelah ibu siap… Ibu bisa langsung hamil lagi dari benih saya… Hehehe…” Bisik Dokter Beno kurang ajar sambil terkekeh.

“Pasti setelah melahirkan… Ibu bakal terlihat makin seksi…. Makin bisa membuat banyak lelaki pengin ngentotin dan ngehamilin Ibu lagi… Termasuk saya… Hehehehe….” Oceh Dokter Beno ditelinga Citra, “Saya nggak bisa ngebayangin Bu… Besok ibu bakalan jadi seseksi apa ya… ? Hamilnya aja seksi begini… Apalagi pas udah singset…. Hehehe….”

“Dokter… Prosedur operasinya sudah siap…” Potong Suster pembantu.

“Eh iya Sus… Makasih…” Jawab Dokter Beno singkat, “Ibu… Sekarang ibu tarik nafas dalam-dalam…. Karena operasinya akan segera dimulai….”

Perlahan, mata Citra terasa makin berat ketimbang sebelumnya. Cahaya disekitarnya perlahan redup. Redup. Hingga akhirnya gelap gulita.

***

“Ooooeeeeekkk… Ooooeeeeeeekkkkk……” Jeritan suara bayi terdengar begitu lantang. Memecah kesunyian ruang operasi yang begitu tegang.

“Selamat ya Paak.. Anaknya sudah lahir dengan selamat…. Begitu pula dengan ibunya… ” Ucap Dokter Beno sambil memberikan selamat pada Marwan,

“Waaah.. Terimakasih Dok…”

“Mau diberi nama siapa Pak…?” Sahut suster pembantu.

“Clarissa…”: Jawab Marwan singkat, “Clarissa Miranti…”

“Cocok…. Namanya secantik Ibunya Pak….” Celetuk Dokter Beno, “Semoga… Anak bapak menjadi anak yang pinter… Cantik… Dan berbakti kepada orang tua….” Tambah Dokter Beno

“Aminnn….”

“Dan yang pasti… Bisa jadi LONTE hebat… Yang nggak kalah binalnya dengan ibunya… Hehehe….” Bisik Dokter Beno lirih sembari pergi meninggalkan ruangan.

***

Setelah proses operasi, Citra tak dapat banyak berbuat apa-apa. Ia hanya dapat berbaring lemas diatas tempat tidurnya. Ditangan terdapat selang infus, dan di selangkangannya masih terdapat kateter kencing yang menghalangi segala macam aktifitasnya.

Sejak sadar, Citra merasa begitu bosan akan kondisinya. Terlebih putrinya Clarissa, juga masih dalam perawatan intensif oleh para suster,membuatnya semakin tak berkutik melawan rasa jenuhnya.

Satu-satunya hal yang ia dapat lakukan hanyalah, menonton TV dan menggunakan handphonenya.

” TUUUTTTT….. TUUUTTTT….. TUUUTTTT…..”

Berulangkali, Citra berusaha menghubungi suaminya. Namun tetap saja, handphonenya tak bisa dijawab sama sekali.

“Ayo Maasss.. Angkat dooong… Angkaat….” Seru Citra dalam hati.

” TUUUTTTT….. TUUUTTTT….. TUUUTTTT…..”

Tetap saja. Tak terdengar jawaban apapun dari ujung telephon.

“Mas Marwan kemana ya….? Kok susah banget ditelephon….” Heran Citra yang karena kesal, melempar handphonenya keatas tempat tidur.

“Sluuurrppp… Sluuurrppp…. Cup… Cupp… Juhh… Sluuurrppp….”

“Awww Maassss…. Geli…. Hihihihihi….”

Disela kebosanannya, Citra tiba-tiba mendengar kekeh seorang wanita dari ujung ruangan. Dari arah kamar mandi, lebih tepatnya.

“Ssssttt.. Suster… Jangan kenceng-kenceng teriaknya…” Ucap suara lelaki dari arah kamar mandi, “Nanti istriku bangun….”

“Hehehe… Tenang aja Maasss… Istri Mass itu nggak bakalan bangun dalam waktu dekat kok… Khan obat biusnya masih bereaksi….”

“Beneran nih….? Jadi istriku nggak bakalan bangun sekenceng apapun kita teriak…?”

“Iya Masku Sayaaang… Tenang aja… Hihihi….” Jawab wanita itu cekikikan, “Udah ah… Ayo lanjutin lagi jimeknya Mas… Nanggung banget nih… Aku udah mau keluar….. “

“Tapi nanti gantian lagi loh ya…?”

“Iya Mas Marwaaannnkuuu… Gantengkuuu…. Kontol besarkuuu… Tenang saja Mas … Kontol Mas… Bakal aku puasin nanti… Bila perlu… Nanti kontol Mas bakal aku entotin disofa… Disamping istri Mas tidur…”

“Bener loh ya…?”

“Iya Sayaaangkuuuuu…”

“Bakal aku obrak-abrik tuh memek pake kontol ini….”

“Iya Maaasss Marwankuuuu…… Silakaaannn ajaaa…. Obrak-abrik memekku sepuasmu…. Hihihi…”

“Dasar suster Nakal….”

“Nakal-nakal tapi doyan khaaan….”

“Sluuurrppp… Sluuurrppp…. Cup… Cupp… Juhh… Sluuurrppp….”

“Haah…? Mas Marwan….? Apa jangan-jangan…. Didalam kamar mandi itu beneran Mas Marwan….?” Tanya Citra dalam hati, “Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi didalam disana…?”

Merasa penasaran, Citra memaksakan dirinya untuk dapat beranjak dari tempat tidurnya. Sekuat tenaga, ia berusaha bangkit dari posisi telentangnya. Sambil berpegangan ditepi tempat tidur, Citra mencoba untuk bangkit. Namun, karena tubuhnya masih lemas, semuanya sia-sia. Ia tak dapat bangkit sama sekali.

“Aaaawwww…. Sakit banget perut aku….Sssshh.. Aduuuhh….” Rintih Citra setiap kali berusaha bangun dari posisi tidurnya.

“Ooohhh… Maasss… Oooohhh…. Aku mau keluar Maass…. Oooohhhh… Mas.. Maass… Maaassss…..”

Sejenak, suasana hening.

Tak terdengar suara-suara apapun dari dalam kamar mandi. Hanya terdengar tetes air yang terkadang jatuh kedalam bak.

“Ooohhh…. Ohhhh….. Ohhhh…..Aku… Bener-bener… Puas Paaak….” Lenguh wanita itu dengan nafas putus-putus, “Sekarang… Giliran… Kontolmu ya Maass… Yang aku puasin lagi…”

“Yaudah… Sekarang mau kamu gimana…?”

“Terserah Mas aja…. Mau aku sepong… Atau mau ngentot… Terserah Sayang maunya gimana….” Ucap wanita itu genit, “Kalo buat ngelayanin kontol gedhe Mas mah… Aku pasraaah aja… Hihihiihi….”

“Hah… Kontol gedhe…?” Heran Citra, “Sejak kapan Mas Marwan punya kontol gedhe…?”

CKLEK….

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan kepala seorang wanita muncul.

Buru-buru Citra memejamkan mata, berpura-pura tidur seperti sedia kala.

“Aman Mas… Istri Mas masih tidur noh….” Ucap wanita itu sembari menunjuk kearah Citra tidur kemudian celingukan keseluruh penjuru kamar. Setelah itu, ia berjalan berjingkat-jingkat menuju tempat Citra tidur. Mengamati sejenak. Mencari tahu apakah istri Marwan itu benar-benar masih dalam kondisi obat bius, atau sudah mulai sadar.

“Bu…? Bu Citra…?” Panggil si Sustermungil itu berusaha membangunkan Citra ,”Bu Citra Agustina….Ibu masih pingsan atau sudah sadar…?” Tanyanya lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

“Gimana Sus…?” Tanya Marwan sambil berbisik.

“Sepertinya aman Mas…. Istrimu masih dalam pengaruh obat bius… Masih tertidur lelap banget…. Mirip kebo…. Hihihi…” Ucap Suster itu dengan nada normal sambil berjalan kearah kamar mandi,

“Beneran…?” Tanya Marwan memastikan.

“Iyaaaa… Ayo sini kalo nggak percaya…. ” Jawab Suster itu sembari menarik batang penis lawan jenisnya, seolah penis itu adalah tali kekang yang terkait keselangkangan Marwan.

“Sayang…? Kamu udah bangun belom…?” Tanya Marwan begitu keluar dari kamar mandi.

“Tuuh… Beneeerr khaan…? Istrimu masih tidur…. Hihihihi….” Ucap Suster itu sambil tersenyum penuh arti, “Berarti… Itu tandanya… Kita bisa nerusin ngentot laagiiiii……” Tambah wanita mungil itu sembari menghempaskan diri keatas sofa yang ada disamping tempat tidur Citra. Membuka pahanya lebar-lebar dan memamerkan liang vagina berambutnya yang begitu lebat.

“Hehehehe… Yaudah… Siap-siap ya Sayang…. “

“Ini juga udah siap-siap Mas….” Ucap Suster itu genit, “Hihihihi….Istrinya sedang pingsan… Suaminya malah enak-enakan ngentotin wanita lain…”

“Sssttt… Jangan berisik….Suster nakal memang harus dihukum…….”

“Tapi nggak apa-apa deh… Hukum aku ya Maass… Hukum yang kenceng…”

“Hehehe.. Beneran loh yaaa…. Nanti kalo kesakitan jangan nangis… Karena aku bakal buat memekmu ledes seledes-ledesnya….” Ancam Marwan yang kemudian mengarahkan kepala penisnya yang sudah menegang keras itu keliang peranakan lawan mainnya.

“Uuuhhh… Atuuuttt….” Ledek Suster itu genit.

CLEEPPPP

“Oooohhhh….. Mas Marwan….Pelan-pelan Maasss….”

Karena penasaran akan panggilan berulang dari suster itu kepada suaminya, Citra perlahan membuka mata. Berusaha mengetahui, apakan pria yang mulai menyetubuhi suster mungil itu adalah benar suaminya.

“Terus Maass… Terus sodok memek aku….” Lenguh suster itu sembari terus menarik-narik pantat Marwan maju, “Masukin semua kontol kamu ke memek aku Maasss… Ooohhh…”

“Sempit sekali memekmu Sus…. Bikin kontolku kejepit….”

Dalam keremangan malam, perlahan Citra mulai menyesuaikan pandangan matanya. Mengawasi gerak-gerik dua insan yang sedang dilanda birahi. Mengawasi seorang suster yang sedang digagahi oleh lelaki yang dianggap sebagai suaminya.

“Bener nggak sih itu Mas Marwan…?” Tanya Citra lagi.

Karena tak juga dapat melihat dengan jelas, Citra mencoba untuk sedikit memiringkan kepalanya menghadap sofa. Namun betapa terkejutnya Citra, ketika ia melihat lelaki yang sedang menyodokkan batang penis besarnya itu adalah orang lain

“Lohhh….? Itu khan Mas Jupri….?” Heran Citra ketika mendapati jika lelaki yang sedang menyetubuhi suster mungil itu bukan suaminya, “Kok Mas Jupri dipanggil sebagai Mas Marwan ya…?”

“Sepertinya… Ada yang aneh disini…?” Tanya Citra dalam hati sambil membuka matanya lebar-lebar. Merekam setiap detail persetubuhan yang sedang terjadi didepan kedua matanya.

Bersambung

END – Nafsu Besar Citra Part 41 | Nafsu Besar Citra Part 41 – END

(Nafsu Besar Citra Part 40)Sebelumnya | Selanjutnya(Nafsu Besar Citra Part 42)