Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

MILF di Sekolah Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6 

MILF di Sekolah Part 3

MILF di Sekolah Part 3

Part III

“Sudah tahu belum? Mbak itu hamil lho,” Acara ngerumpi dimulai.
“Oh ya? Oh ya?” Semua pada ngerubung, mulai ramai. Sebenarnya, itu kabar biasa. Bukan berita mengagetkan, mengingat hampir semua ibu-ibu di sini adalah PUS. Bukan pus meong, melainkan singkatan dari Pasangan Usia Subur. Artinya, masih muda-muda dan segar-segar. Cocok buat
dihamili. Nah, yang dihebohkan adalah saling tebak, “Siapa lagi yang bakal hamil?” Kalau sampai sini, berita biasa ini akan menjadi ajang gosip paling hot. Pasti semua akan ribut, mencari-cari teman pasangan untuk si ibu hamil. Entah berawal sejak kapan, ada sebuah kebetulan yang terus menerus terjadi. Bila di
sekolah ini ada yang hamil, maka pasti akan ada yang menyusul hamil. Biasanya setelah itu ada tiga orang ibu hamil bersamaan, bahkan lebih.
“Hayo, siapa lagi nih?” begitu kata ibu-ibu yang lain. Semua pun celingukan.
Saling tebak, juga saling tuduh. Tidak mau dirinya jadi tersangka hamil. Lucu, hamil jadi seperti melakukan tindakan kriminal. Tidak tahukah mereka kalau jalan menuju hamil itu sangat enak sekali?
“Yang anaknya baru satu, siapa?” seru Jelita yang merasa sudah aman. “Nggak, nggak. Bukan aku. Anakku masih kecil.” kata Devita. Yang lain langsung tertawa cekikikan melihatnya. “Si ibu itu hamil anak ke berapa?” tanya Dearani. “Kalau anak ketiga, berarti yang baru punya anak dua nih, yang bakalan hamil.” serunya lagi.
“Bukan aku! Bukan aku!” Jelita buru-buru mengusap perutnya, dan seolah-olah tangannya berhasil menangkap sesuatu, lantas dibuangnya ke ibu-ibu yang lain. “Nih, buat kalian aja!” katanya. Tentunya tindakan itu disambut tawa dengan nada yang sanggup bikin kucing kaget dan lari tunggang langgang. Begitu seterusnya. Saling tuduh, juga saling mengelak. Sampai acara sekolah bubar. Aku pulang bersama Nanda—begitu namanya kukenal—namun ibu-ibu yang lain memanggilnya Mama Ryan sesuai dengan nama anaknya. Ketika pertama kali bertemu, ia terlihat berbeda dibanding ibu-ibu lain. Wajahnya
sangat cantik dengan kulit putih merona, bodinya montok dan kencang. Payudaranya pun terlihat proporsional di balik kaus yang sering ia kenakan. Dia berasal dari Cianjur, jadi wajarlah kalau wajahnya cantik khas wanita Priangan. Namun segala pesonanya itu tertutupi oleh kehidupannya yang sederhana. Suaminya hanya seorang supir pribadi yang penghasilannya terbatas, belum lagi suka main judi dan jarang pulang, yang tentu saja makin memberatkan ekonominya. Hubungan menantuku dengan Nanda cukup baik, sering Nanda berkunjung ke rumah dan ngobrol dengan Furi. Pada saat itu aku sering curi-curi pandang ke arahnya. Sering ia hanya mengenakan kaos longgar dan rok pendek kalau main ke rumah, sehingga belahan dada dan sebagian pahanya yang putih mulus menjadi santapanku. Dan kalau sudah begitu, batang penisku bisa mengeras diam-diam. Hari ini kulihat dia agak murung, aku pun memberanikan diri bertanya kepadanya. “Ada apa, mbak Nanda? Saya lihat Mbak agak murung pagi ini?” “Tidak apa-apa kok, Pak. Biasa kali saya seperti ini,” ia berusaha menyangkal.
“Mbak nggak usah bohong sama saya,” aku berkata. “Saya tahu Mbak orangnya ceria. Jadi kalau murung sedikit, pasti saya tahu.” Nanda tersenyum mendengar perkataanku. “Tidak apa-apa, Pak. Yah, namanya hidup, pasti ada saja masalahnya.”
“Kalau Mbak nggak keberatan, cerita saja sama saya. Siapa tahu saya bisa membantu.”
“Bagaimana ya, Pak…” Nanda memutus pembicaraan, sepertinya ragu untuk melanjutkan.
Aku menoleh kepadanya, dan kupandangi wajahnya dalam-dalam sambil membujuknya untuk terus bercerita. Akhirnya dia mau buka mulut. “Ini, Pak, saya lagi butuh duit buat bayar kontrakan. Sudah ada sih sebagian, tapi masih kurang sekitar 700 ribu. Padahal nanti malam sudah ditagih.”
Aku tersenyum sambil menatap matanya. “Ah, gampang itu, Mbak. Nanti saya bantu.”
“Tuh kan, saya jadi merepotkan Pak Bakri.”
“Tidak apa-apa, Mbak. Namanya kita bertetangga, kalau ada yang kesusahan, apa salahnya kita bantu. Lagian, Ryan dan Rangga itu sahabatan. Kalau sampai Ryan pindah kontrakan, Rangga bisa kesepian nggak punya teman.”
“Iya sih, Pak…” Nanda mengangguk malu. “Ya sudah, kalau Pak Bakri ada, saya mau pinjam uang dulu sama Bapak.”
“Gampang itu, Mbak.”
Ketika sampai di depan rumahnya, segera kubuka dompetku dan kuambil uang satu juta rupiah, lalu kuberikan kepadanya. Nanda kaget dengan pemberianku sebanyak itu.
“Kok banyak sekali, Pak? Saya kan butuhnya cuma tujuh ratus ribu?”
“Iya, sisanya buat beli beras. Atau buat apa saja juga tidak apa-apa.” Nanda tertawa mendengar ucapanku. “Tapi saya belum bisa mengembalikan dalam waktu dekat, Pak.”
“Tidak dikembalikan juga tidak apa-apa, Mbak.”
“Lho, kok tidak dikembalikan?” dia bertanya bingung. “Saya kan pinjam, Pak. Jadi harus kembali.”
“Ya sudah, gampang itu, Mbak. Kalau ada, ya dikembalikan. Kalau tidak ada, ya dikembalikan dengan cara lain.” ujarku mencoba memancing di air keruh.
“Lho, cara lain apa, Pak. Kok saya bingung jadinya?”
Aku cuma tertawa, dan Nanda semakin bingung dengan sikapku. Di halaman rumah, Rangga sudah asyik bermain bersama Ryan. Kesibukan dua bocah kecil itu membuatku jadi kian leluasa mendekati Nanda.
“Ya mungkin dengan menawari minum misalnya,” ujarku bercanda. Nanda tergelak dan buru-buru meminta maaf. “Iya ya, saya sampai lupa. Mari, Pak. Masuk dulu.” Aku pun bergegas mengikutinya. Nanda masuk ke dalam, sedangkan aku duduk menunggu di kursi ruang depan yang cukup empuk. Rumahnya masih asli—dalam arti belum pernah direnovasi. Ada dua kamar di dalamnya, lengkap dengan dapur yang dibangun semi permanen di belakang. Sederhana sekali.
“Mau minum apa, Pak?” tiba-tiba Nanda menyadarkanku yang sedari tadi memperhatikan rumah beserta isinya.
“Eh… air putih saja, Mbak.”
Tak lama dia pun membawa dua gelas air putih dingin. “Wah, jadi seger nih, siang-siang minum es sirup. Apalagi ditemani Mbak Nanda yang juga segar.”
“Ih, apaan sih, Pak!” Dia tertawa sambil mencubit pinggangku. Wajahnya sudah kembali ceria, tidak semuram pagi tadi. Kami pun ngobrol sambil menonton acara tivi. Aku mulai memberanikan diri mendekatkan posisi dudukku dengannya, dan Nanda diam saja. Kucoba pegang tangannya. Awalnya ia seperti canggung, sedikit berjengit, tapi akhirnya membiarkan saja. Aku mulai membelai rambutnya yang panjang sebahu dan meniup tengkuknya. Dia bergidik, tapi tetap diam. Merasa mendapat persetujuan, maka aku pun kian mendekat. Dan tak lama bibir kami pun sudah saling bersilaturahmi. Berpagutan dengan begitu bebasnya. Bibirku dilumat habis olehnya, dengan napas mulai tersengal-sengal. Nampak birahi Nanda mulai naik. Wajar saja lha dia jarang disetubuhi suaminya. Tanganku pun kuberanikan menelusup ke balik kaos yang ia kenakan. Nanda diam saja. Kuraih payudara kirinya yang masih tersembunyi di balik bra, kuremas-remas halus sambil kumainkan putingnya yang mungil. Nanda menggelinjang sambil melenguh tertahan. “Auhhh… ahhh… Paakk!”
Sambil melumat bibirnya, kucoba membuka bajunya, dan ia pun mengikuti dengan turut melepas kancing kemeja yang kukenakan. Pakaian kami pun akhirnya terhampar di lantai. Kini terpampang jelas di hadapanku tubuh mulus Nanda dengan payudara yang masih tertutup bra warna krem. Bulat dan besar, sesuai bayanganku. Walau perutnya sedikit berlipat karena lemak, tetap saja tidak mengurangi keinginanku untuk menyetubuhinya. Segera kubuka kait branya dan bra itu pun jatuh di lantai. Payudara Nanda segera menyembul. Sangat padat, dengan puting berwarna coklat tua dan areola berwarna lebih muda. Puting itu mencuat tegak. Kaku dan keras. Segera saja kuhisap puting susunya, membuat Nanda melenguh lebih keras dari sebelumnya. “Aaahhhh… Paakk… ahhh… ouhhh…“ Ia semakin terangsang dengan perbuatanku. Terus kuhisap puting susunya, kanan dan kiri secara bergantian. Ia pun menggelinjang semakin keras, kepalanya tengadah menatap langit-langit ruangan. Matanya terpejam, namun mulutnya meracau mengeluarkan suara desahan dan rintihan samar. Kedua tangannya menjambak-jambak rambut di kepalaku. Cukup lama kumainkan kedua putingnya. Setelah puas, aku pun bangkit dari kursi dan segera berdiri. Nanda mengerti maksudku. Sambil tetap duduk, dia membuka ikat pinggang dan celana yang kukenakan. Tidak lupa celana dalamku pun ikut dipelorotkannya ke bawah. Seketika itu juga penisku yang
cukup besar dan panjang, mengacung ke depan dengan begitu gagahnya. Nanda tersenyum sambil melirikku. Dipegang dan dibelainya kepala penisku, dikocok-kocoknya perlahan batangnya berulang kali. Tak lama ia masukkan kejantanan itu ke dalam mulutnya, dikulumnya batang penisku sampai ke pangkalnya. Karena ukuran penisku yang cukup besar, ia jadi sedikit tersedak. Aku pun tertawa geli. Tapi dengan usil, digigitnya batang penisku. Aku pun menjerit, kaget. Nanda mengocok lagi batang penis itu dengan gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya sambil lidahnya dengan liar menjilat-jilat kantung zakarku. Perlakuannya sungguh luar biasa, tidak tahan aku jadinya, ingin segera menyetubuhinya.
“Berdiri, Mbak. Lepas roknya.” Aku meminta. Nanda melakukannya tanpa membantah. Setelah bugil, kubalik badannya dan kuminta agar menungging. Lututnya kutumpukan ke kursi dan tangannya menyangga di sandaran. Belahan vaginanya yang tertutup bulu jembut yang cukup lebat terlihat merekah di hadapanku. Bibir vaginanya berwarna kecoklatan, namun liangnya masih menampakkan rona kemerahan yang tampak berkilat dan basah. Indah sekali.
“Siap ya, Mbak. Kumasukkan sekarang!”
Segera saja kupegang batang penisku dan kuarahkan ke liang kewanitaan Nanda. Lalu kumajukan pinggulku hingga batangku pun amblas masuk, tenggelam sepenuhnya dalam liang vagina tetanggaku ini. Nanda tercekat dan berteriak karena kontolku yang cukup besar menyesaki rongga kewanitaannya. Ia menoleh kepadaku dengan mulut terbuka lebar sambil merintih.
“Aaaahhhh… p-pelan-pelan, Pak!”
Kedua tanganku memegangi pantatnya yang cukup besar saat aku mulai memaju-mundurkan pinggul. Batang penisku keluar masuk di liang vaginanya dengan tempo yang cukup cepat. Nanda terus merintih dengan begitu riuhnya
”Ahhh… ouuhhh… ahhh… ouhhhh…”
Sambil terus menggerakkan pinggul, aku pun mulai meraih payudaranya yang menggantung dengan kedua tanganku. Kuremas dan kumainkan puting susunya dengan kasar. Nanda pun semakin keras merintih dan meracau.
”Ughhh… auuhhh… uhhh… auhhhh…”
Tak lama ia pun menjerit keras dan kurasakan ada kedutan di liang vaginanya. Otot memeknya semakin mencengkeram erat kejantananku. Rupanya Nanda mengalami orgasme yang pertama. Tubuhnya melemah, tangannya tidak sanggup lagi menahan berat tubuhnya. Kepalanya jatuh terkulai di kursi dengan posisi tetap menungging. Kupercepat permainanku, tetapi tampaknya spermaku tidak ingin keluar
cepat-cepat. Segera kucabut batang penisku dari liang vaginanya. Lalu kubalik tubuh Nanda menghadap diriku. Dengan posisi setengah duduk, punggungnya yang bersandar di kursi kuangkat, dan kurenggangkan kedua kakinya. Terlihat liang vaginanya yang menganga cukup lebar. Segera saja kuhujamkan kejantananku ke liang kenikmatan itu.
“Arrghhh… Paakk!!”
Lagi-lagi Nanda menjerit tertahan ketika batangku menerobos liang vaginanya. Kumaju-mundurkan pinggul dan terlihat penisku yang besar keluar masuk dengan bebasnya di liang sempit itu, menciptakan pemandangan yang begitu indah. Bibir kemaluan Nanda menguncup ketika penisku menerobos masuk, dan kemudian merekah ketika kutarik. Kedua tungkai Nanda kupegang dengan tangan, dan aku terus menyetubuhinya sambil tetap berdiri. Payudaranya yang begitu menantang dengan puting yang mencuat sudah basah oleh keringat. Payudara itu bergoyang-goyang hebat mengikuti irama sodokan penisku yang terus maju mundur cepat. Kepala Nanda tergolek ke kanan dan kiri dengan mulut yang terus mendesis dan merintih lirih. Lima belas menit aku terus menyodoki liang vaginanya, yang diimbangi oleh Nanda dengan menggoyangkan pinggulnya ke kanan ke kiri. Setelah dua puluh menit, aku pun tidak tahan lagi. Kupercepat frekuensi sodokan batangku ke
dalam liang vaginanya, dan tak lama cairan spermaku pun menyemprot deras. Berbarengan kurasakan kedutan keras di lorong vaginanya, menandakan Nanda juga mengalami orgasme—yang kedua. Kami pun terkulai lemas di atas kursi ruang tamu. Tubuhku menindih tubuhnya, dengan kontolku masih tertanam di liang vaginanya. Nafas kami tersengal-sengal karena pertempuran yang luar biasa nikmat itu. Aku bangkit setelah kembali memperoleh tenaga, kutarik penisku yang mulai mengendur dari jepitan liang memek Nanda. Lubang itu terlihat menganga, juga tampak carian putih meleleh keluar dari bagian dalamnya. Nanda masih terkulai lemas, kakinya terjuntai ke lantai dan tangannya tergolek lemah di sebelah tubuhnya. Segera kuhampiri dan kuciumi bibirnya.
“Enak, Pak. Lain kali minta lagi ya.” ujarnya sambil tersenyum.
“Siap. Kapan saja Mbak butuh, saya siap melayani.” candaku. Dan dia pun tertawa sambil mencubit pinggangku penuh arti.
Setelahnya, aku berpakaian dan mengajak Rangga pulang. Cucuku itu memandangku keheranan. Tadi pintu ruang tamu tidak kami tutup. Mungkin dia sempat melihatku yang sedang menyetubuhi ibu temannya, tapi bingung untuk bertanya.
“Kakek tadi menghibur Mamanya Ryan biar nggak sedih lagi,” begitu aku berkata, dan Rangga hanya mengangguk mengiyakan.

[Bersambung]