Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21
Part 22Part 23Part 24Part 25Part 26Part 27Part 28
Part 29Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40Part 41Part 42
Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49 END

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 5

Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 5

Chapter V

Save by the bell

Saya tersadar, Nita tadi datang di jemputkan, berarti sekarang dia tidak punya kendaran. Saya langsung melesat melalui tangga darurat, men ini 20an lantai, jadi di lantai 10 saya sudah mulai ngos-ngosan, dan akhirnya saya mengambil lift. Sampai di lobi, saya mencari sejenak, kulihat Nita sudah berbicara pada resepsionis, sepertinya untuk minta tolong dipanggilkan taxi.

Sebelum sempat dia selesai berbicara, kusambar tangannya, dia terkejut, tangannya dengan reflex membentuk kepalan dan mengarahkannya kewajahku, langsung ke tangkis juga dengan tangan kiri ku dan ku genggamm sekarang kedua tangannya. Nita tampak terkejut melihatku disana, aku dengan segera menariknya menuju ke koridor menuju parkiran basement.

Saat sedang berlari dia tampak tersenyum. Koridor yang kami lewati cukup sepi, saya menarik Nita dan mengarahkannya ke tembok, lalu kami berciuman.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya dengan bingung dan senang.

“Akan kuceritakan di jalan, ayo!” sambil kembali kutarik tangannya dan berlari menuju parkiran motorku, kuberikan jaket kulitku untuk dia kenakkan begitu juga helmku, saya sendiri tidak menggunakan helm, karena saya hanya membawa satu helm.

Saya ingin mengantar Nita pulang saat itu, namun dia tidak ingin pulang, Dia ingin bersamaku, melewati Valentine ini. Akhirnyaku putuskan untuk membawa Nita menuju apartementku karena malam ini semua café dan resto pasti sedang penuh-penuhnya.

Kami melesat keluar dari hotel itu, menuju ke apartementku. Selama perjalanan kujelaskan bahwa saya tidak jadi berangkat karena ada titipan, dan karena itu saya pun memutuskan untuk memata-matai Nita dan Dody. Nita sangat senang, dan Nita memelukku semakin erat dari belakang, kepala bersandar di bahuku, walau ada helm <yang pengalaman boncengin cewe yang suka naro kepala di bahu tahu penderitaan ini>.

Akhirnya kami sampai ke apartementku, kami masuk dan langsung mengambil lift. Apartementku memang boleh dibilang sepi. Ketika sedang berada dalam lift, Nita sudah memelukku dengan erat. Entah bagaimana bibir kami sudah bertautan, bibir lembut Nita yang begitu indah berwarna pink, lipstiknya telah hilangku caplok. Lengannya melingkar di leherku dan tanganku di pingganya, memeluknya semakin erat, semakin dalam bersamaku.

Pintu apartementku dibuka dengan pin jadi saya tidak perlu sulit lagi mencari kunci untuk membuka pintu, sangat memudahkan.

Kubaringkan Nita di sofa, dan kutindih dia, bibir kami terus terpaut, ku letakkan tangan kiriku di bawah lehernya untuk menyanggah kepalanya, dan tangan kananku tetap di pingganya. Lengan Nita pun tidak lepas dari leherku. Sudah lupa kami melepaskan sepatu, melepaskan jaket, Kami terus bercumbu, meluapkan perasaan kami.

Perlahan ciuman ku turun, menuju keleher jenjangnya, aroma parfumnya, aroma tubuh Nita, membuatku terbuai. Kekecup lehernya perlahan-lahan, antara leher dan dagunya perlahan dan lembut, terdengar nafas Nita semakin memburu. Tanganya yang sebelumnya berada di leherku, sekarang berada di rambutku, menekan dan menarik-narik rambutku.

Kecupan-kecupan kecil itu berubah menjadi jilatan, lidahku mulai menyusuri leher jenjangnya, perlahan, pelan dan berakhir di telinganya. Tubuh Nita menggeliat ketika ku kecup dan jilat kecil telinganya, suara nafasnya yang halus berubah menjadi desahan kecil yang merdu.

Kembali ku kecup bibirnya, mulai lidahku menyusuri bibirnya, berusaha dia tangkap lidahku dengan bibirnya, terasa berbeda sensasi malam ini, lidahku dan Nita mulai saling paut, saling menjalin. Kuhentikan ciuman ku, perlahan Nita membuka matanya, dia menatapku dengan sayu, penuh tanya mengapa saya berhenti.

“I Love You Anita ****** ”, kusebut nama lengkapnya dan dia pun tersipu malu melihatku , dan kecup keningnya.

“I Love You Theodore **** ”, Nita kembali memejamkan matanya dan menarik kepalaku kearahnya. Bibir kami kembali terpaut, perasaan bercampur cinta, kemenangan, cemburu rasanya menjadi satu malam ini.

Ciuman kami berlangsung lama, nafas kami semakin memburu, begitupun nafsuku. Aku berusaha menjaga tetap terkendali, aku tidak ingin terbawa khilaf dan melukai Nita. Aku ingin melindunginya, aku ingin menjaganya. Tapi berbeda dari apa yang ada dalam pikiranku, tangan kananku mulai mengusap lembuat payudara Nita, sesekali meremasnya dengan pelan. Nita mulai mendesah dengan pelan, dia pasrah menikmati perlakuanku, dia pasrah dengan perbuatan tidak senonohku. Payudaranya begitu ranum, padat dan begitu membuatku melayang hanya dengan menyentuhnya, walau masih terbungkus dalam bra.

Dalam pergumulan kami, smartphone Nita berbunyi. Menghentikan ciuman kami, Nita memasukkan tanggannya kedalam tasnya dan berusaha menggapai smartphone itu, dia khawatir itu adalah telfon orang tuanya. Ternyata bukan, di layar Smartphone itu tertulis DODY. Nita langsung men-silent smartphonenya, dan meletakkannya di pinggir meja.

Melihat nama itu, rasanya saya langsung tidak kelihangan iramaku. Saya terduduk dilantai, karena sofa memang tidak terlalu besar, sofa itu sudah penuh oleh Nita yang berbaring di atasnya. Lalu Nita merangkulku dari belakang dan mengecup tengkukku.

“Kamu cemburu sayang?”, sembari menempelkan wajahnya pada wajahku. Saya tidak tahu mesti menjawab apa, untuk apa cemburu toh Nita sudah mencampakkannya, untuk apa cemburu sedangkan Nita sudah bersamaku di sini. Tapi dalam dada masih ada rasa panas, rasa yang menusuk di hatiku.

Nita lalu berdiri di menuju pintu masuk dan mulai melepaskan sepatu bootnya, setelah itu dia berjalan masuk, sangat sexy menurutku dengan berlenggak seperti di catwalk, dia bersimpuh dihadapanku dan menarik sepatuku hingga lepas, keduanya dan kembali meletakkannya di pintu.

Kali ini di kembali kepadaku, tidak lagi berjalan seperti model, tapi dia merangkak padaku. Dengan tangan dan lututnya di karpet. Mendekatkan wajahnya padaku, dan mengecup bibirku dengan lembut.

“Aku milikmu… malam ini dan seterusnya …”, lalu diamengecupku lagi, mengecupku dengan menggebu-gebu. Nita semakin maju, dan kini dia telah duduk di atas pangkuanku. Saling berhadapan, tidak bisa dipungkiri penisku mengeras, dan aku yakin dia pasti merasakannya. Tanganku memeluh tubuh Nita, dalam dekap yang erat, seluruh punggunyaku sanggah dan ku peluk. Ingin rasanya tubuh kami melebur menjadi satu.

Aku berusaha meraih, resliting dibagian belakang Blues yang dikenakan Nita. Kuusap tengkuknya dengan perlahan, sembarai menarik resliting tersebut turun. Resliting itu hanya sampai setengah dari bluesnya. Tanganku kini dapat merasakan lembutnya kulit punggung Nita, rasanya begitu lembut dan hangat. Ciuman kami mulai terasa liar, dan saya mulai kehilangan irama. Nafas kami berdua sempoyongan, antara nafas dan desahan.

Saya berusaha meloloskan blues Nita dengan menariknya kekiri dan kekanan, kini blues itu telah jatuh dari bahunya. Nita melepaskan genggamannya dari leherku, membiarkan bluesnya jatuh dari lengannya. Nita menarik tubuhnya sedikit kebelakang, membiarkan blues itu jatuh melewati dadanya. Kini blues itu telah berada di perut Nita, sembari itu kami terus berciuman dengan penuh gejolak.

Tanganku berusaha mencari pengait bra yang dia kenakkan, berusaha membukanya, sekali coba ternyata berhasil, sepertinya ilmuku belum luntur. Kini tanganku lebih bebas lagi menjelajahi kulit polos Anita. Tubuhnya begitu halus, wangi dan menawan.

Kualihkan ciumanku ke bahunya, menghirup aroma tubuhnya, mengecup setiap jengkal bahu, leher, hingga kembali ketelinganya. Dia mendesah menikmati setiap kecupan itu, dia memejamkan matanya, sambil terus mencengkram kepalaku.

Kami saling bertatapan, bola mata itu begitu indah terlihat jelas walau dalam cahaya yang samar, matanya sayu dan penuh kasih. Nita kembali mengecup bibirku, sebuah ciuman yang panjang. Lalu tiba-tiba saja dia berdiri. Meloloskan bluesnya jatuh kelantai, begitu juga dengan branya ikut terjatuh. Nita menutupi dadanya dengan lengan kirinya, lalu kemudian dia perpaling dariku, memunggungiku.

Dia mengambil remot hometheaterku, dan menekan play. CD yang sedang terpasang langsung melantunkan musik jazz. Nita tahu kebiasanku yang suka beraktifitas dirumah dan diiringi irama jazz, instrumental. Yang terputar adalah Chill out smooth jazz.

Tubuh Nita mulai melenggak seirama dengan irama musik jazz yang pelan dan lembut, sambil masih membelakangiku, pinggulnya melenggang bersama musik itu. Perlahan dia turunkan celana jins ketatnya, jins itu terlihat ketat dan begitu sulit turun. Saya berniat berdiri dan menghampirinya, lalu Nita berbalik, kemudian dengan kaki jenjang dia menekanku kembali duduk. Damn she so sexy, top less, long leg.

Kukecup dengan lembuat betisnya yang masih terbungkus celana jins itu, ku belai kakinya yang jenjang itu. Nita kembali melangkah, dan mulai mengikuti musik lagi. Perlahan menurunkan celananya, celana dalamnya telah terlihat, namun samar dalam gelapnya ruangan. Semakin larut dalam musik, gerakan Nita terasa begitu erotis, kini kedua tangannya menutup masing-masing payudaranya sambil sembari bergoyang. Dengan gerakan kakinya itu, celananya tetap menurun dengan perlaha, lagupun telah berganti, kini menjadi Smooth satin sheets. Alunan musik ini begitu lembuat dan menggoda, membuat tubuh Nita bergerak dengan anggun dan erotis disaat bersamaan.

Dengan kakinya Nita telah berhasil melepaskan sebelah kaki dari jins itu, dan tak lama sebelahnya, kita yang menutupi tubuhnya tinggal celana dalam tanga, yang menutupi kemaluannya. Sembari musik terus berputar, tubuh Nita kembali meliuk-liuk. Kembali dia membelakangiku, kali ini sembari menari Nita menganggak kedua tangannya diudara, tidak ada yang menghalangi payudaranya. Tapi tidak dapat terlihat olehku karena dia membelakangiku.

Tubuhnya kini berbalik, namun kembali tangannya menutup payudaraku. Dia sangat pandai membuatku penasaran, dan dia paling tahu saya mudah penasaran. Payudaranya yang ranum dan padat, terlihat begitu padat, karena memang dia sering berolahraga, pasti rasanya sangat kenyal jika bisa kurasakan langsung tanpa terhalang.

Sembari masih diiringi musik, dia mulai meperlihatkan payudaranya, bergerak seirama, dia mengangkat kedua tangannya keudara, sembari menikmati musik dan terus melenggang. Begitu Indah payudara itu, begitu menggoda, begitu sekal dan ranum. Ingin segeraku petik dan kunikmati. Tubuhnya Nita terus bergerak, berputar, pinggulnya juga bergerak seirama dengan musik.

Seperti menggodaku dengan payudaranya, dia meremas-remas payudaranya sendiri dan mengimpitkan keduanya saling bertemu. Dengan senyum nakal diwajahnya dan sambil menggigit bibir bawahnya, inginku terkam Nita saat itu, tapi aku masih ingin menikmati pertunjukkan ini.

Namun, Nita berhenti bergerak, dia menatapuku dengan mata yang sayu. Nita lalu berlutut dengan perlahan, dia letakkan kedua tangganya di atas pangkuannya, dan dengan tubuh yang tegak, membusungkan payudaranya.

“Ted, malam ini akanku serahakan seluruhnya padamu”, kata Nita sambil menatap mataku.

“Aku akan melayanimu, command me! Do what you please to me”, sambungnya lagi namun kali ini terdengar seperti sedang mendesah halus padaku.

Saya berdiri, berjalan kehadapan Nita. Kini Nita tepat berada di selangkanganku, jujur tubuhnya yang polos membuatku sangat bernafsu. Tubuh ini akan kumiliki malam ini, bukan hanya hati, bukan hanya pikiran, tapi malam ini akan kumiliki tubuh Nita.

Kuangkat dagunya dengan tangan kiriku, kutatap matanya yang sayu. Dia sudah terbakar nafsu, dia telah terbawa dalam gelora api ini. Apakah ini yang Nita inginkan selama ini, di DOMINASI, di KUASAI, di TAKLUKKAN?

“Open it”, kataku sembari tangan kananku mengelus selangkanganku.

Menuruti perintahku, tangan Nita mulai membuka ikat pinggangku, perlahan namun pasti, kemudian kancing jins yang ku kenakkan, jarinya terasa dingin mengenai abdomenku. Perlahan dia menarik turun resliting celanaku, setelah terbuka dia menarik turun celanaku. Dihadapannya ada penisku yang telah menegang sejak tadi, terbungkus celana dalamku, dia lalu menempelkan wajahnya pada penisku yang masih terbungkus dalam celana dalam, Nita menghirupnya, aku bisa merasakan deru nafasnya dari balik celana dalamku.

Kujambak rambutnya, menarik mundur wajahnya dari selangkanganku, terdengar suara desahan halus dari bibirnya. Nita menatapku dengan tatapan pasrah, nafasnya terengah-engah, seluruh tubuhnya, seluruh jiwanya telah dia serahkan padaku, malam ini akulah yang menjadi penentu dalam hidupnya.

Aku membunkukkan diriku sebisa mungkin, sedekat mungkin dengan wajah Nita,

“Call me Master!”, perintahku padanya.

“Yes, Master”, jawabnya lirih dibalik nafasnya yang terengah-engah.

“Buka dan jilat !”, kataku pada Nita dengan setengah membentak, langsung dengan cepat tangan Nita menarik celana dalam ku turun, karena itu penisku tersentak keluar, dia terlihat terkejut.

Perlahan Nita menjulurkan lidahnya, sambil memejamkan matanya, perlahan dia mendekatkan lidahnya pada kepala penisku yang sudah full ereksi. Begitu lidah hangatnya menyentuk penisku, rasanya, sensasinya begitu luar bisa, menyebar keseluruh tubuhku. Dia mulai jilat kepala penisku naik turun, seperti sedang menjilat ice cream, begitu lembut, membuatku memejamkan mataku. Rasanya begitu nikmat!

Dia beralih kesisi kiri dan kanan penisku, di jilati perlahan dan lembut, setiap incinya, tidak ada yang luput dari lidahnya, dengan lembut dan nikmat. Kedua tangannya mengenggam pinggulku dan perlahan Nita mencoba memasukkan penisku kedalam mulutnya, perlahan dia coba dengan lembut, giginya mengenai penisku, segera pinggulku tersentak mundur. Nita langsung membuka matanya dan kembali bersimpuh.

“Maaf Master, ini pertama kali hamba melakukannya”, sambil dia menatapku. Oh betapa indahmu Nita, betapa cantikmu, mana mungkin aku bisa marah.

“Coba lagi hingga kau bisa”, bisik ku pada Nita.

Nita mulai mencoba lagi, dia mengulangi semuanya dari awal. Menjilat dengan lembut kepala penisku, lalu bergerak kebatangnya kiri dan kanan, sekarang dia mencoba memasukkannya lagi kedalam mulutnya.

Perlahan, nafasnya terengah-engah berusaha memasukkannya tanpa mengenai giginya. Nafas dari hidunya, menyembur mengenai penisku, deru nafas itu memberikan sensasi tersendiri bagiku. Kali ini usaha Nita telah berhasil memasukkan ½ dari batang penisku kedalam mulutnya.

Rasa hangat dalam rongga mulutnya, dan basah dari lidahnya membuat rasayang sangat nikmat. Perlahan dia mencoba memaju mundurkan kepalanya, masih ragu-ragu sepertinya takut mengenai giginya lagi. Aku pun tidak dapat menahan desahanku, perlahan nafasku mulai terengah-engah merasakan kenikmatan ini. Gerakan kepala Nita mulai tidak karuan, dan tidak berirama, mebuatnya semakin terengah-engah begitupula denganku.

Kutahan kepalanya dengan kedua tanganku, penisku masih berada di dalam mulutnya. Dia membuka matanya menatapku, mata kami saling berpandangan. Perlahan ku gerakkan kepalanya dengan tanganku, perlahan-lahan, bergerak semakin cepat dengan irama yang lebih baik. Akhirnya tidakku pengangi lagi kepalanya, kini Nita bergerak sendiri dengan iramanya. Rasanya penisku dipenuhi dengan liur Nita, rasanya sangat basah dan hangat, becek dan lembut, semuanya bercampur.

TIBA-TIBA smartphone ku berbunyi, dari handphone kerjaku, kucari darimana asal suaranya, lalu saya sadar, masih berada dalam celanaku. Kurogoh celanakuyang masih berada tertahan di lututku, ku ambil handphone tersebut, melihat nomor yang tidak dikenal sebenarnya saya malas mengangkatnya, tapi berhubung itu nomor kerja ya harus diangkat, biasanya jam segini nomor kerja itu urgent.

Nita berhenti sejenak, dia membuka matanya dan menatapku,

“Keep going honey”, aku meminta Nita kembali melanjutkan aktifitasnya, dia pun menurut dan memejamkan matanya dan mulai memaju mundurkan kepalanya lagi. Lalu aku mengangkat telfon itu sembari berusaha mengatur nafasku.

Suara : “Nak Tedy?”

Ted : “Iya, ini dengan siapa?”

Suara : “Ini Ibunya Anita”

JEGERRRRR!!! Saya berupaya tenang, ibunya menelfonku dan anaknya saat ini sedang berada di bawah berurusan dengan selangkanganku.

Ted: “Oh ibunya Anita”, sengaja ku sebut keluar seperti itu agar Nita mendengarnya. Karena itu Nita membuka matanya, namun tetap melanjutkan aktifitasnya, mengulum penisku. Sengaja ku speaker telfonku agar Nita dapat mendengarnya.

Ted: “Ada apa ai?” (ai panggilan tante orang tionghoa)

Ibu Nita: “Nita tadi pergi bersama temannya, Dody, dari sore sampe sekarang belum balik nak”

Mendengar perkataan itu aku mencari jam dindingku, saat itu sudah pukul 23 malam, kami tiba di apartement sepertinya baru jam 20 lewat, kami sudah bergumul hampir 3 jam.

Ted : “Mereka kemana emangnya?”

Ibu Nita : “Katanya sih ke Restoran <*****>, cuman makan malam saja katanya tapi sampai sekarang belum balik”

Ibu Nita : “Mau minta tolong Nak Tedy cari Anita, karena dari tadi Ai telfon tidak diangkat”

Baru kami teringat smartphone Nita tadi dia silent karena telfon si Dody.

Ted : “Baik Ai, nanti saya antar Nita pulang”

Ibu Nita : “Xie-xei ya Nak Tedy, sudah merepotkan”

Ted : “tidak apa –apa ai”

Ibu Nita : “ Malam”

Ted : “Malam”

Telfon itupun berakhir, sembari menelfon tadi Nita masih asik bermain dengan penisku, walau sudah tidak di masukkan dalam mulutnya, tetap saja dia terus menjilat batang penisku. Tetap saja memberikanku kesulitan bernafas.

Saya baru teringat saat pertamakali bertemu dengan Ibunya, saya sempat memperkenalkan diri dan memberikan kartu nama perusahaan kepada Ibunya. Pantas saja dia mengetahui telfon kantor ini. Baru juga jam 23, kemarin waktu keluar denganku, sepertinya pernah ku antar pulang pukul 01, dan ibu Nita sama sekali tidak mencari Nita ataupun saya. Sepertinya Ibunya tidak mempercayai Nita pergi bersama Dody, dan lebih percaya padaku.

“Ayo berdiri Nit”, sambil kubantu dia berdiri. Wajahnya masih sayu, masih terbuai dalam gejolak kami. Tubuhnya dipenuhi keringat, walau apartementku ber-ac tapi permainan kami membuat kami berdua berkeringat. Ada liur yang menetes dari dagu Nita, dagunya dipenuhi liur. Saat dia mengulum penisku dia tidak bisa menelan liurnya, hingga liurnya mengalir membasahi penisku, dagunya, bahkan ada sedikit di dadanya.

Kukecup bibirnya, dengan lembut.

“I love you Nit”, sambil kutatap dia dan tersenyum.

“I want to stay hire, I want it tonight” katanya sambil tangannya menggenggam penisku, dan jemarinya mulai bermain dengan kantong zakarku. Sensasi lain yang kurasakan dari tangan Nita yang dingin.

“Mamamu sudah menelfon, dan dia khawatir”, kataku pada Nita sembari memeluknya agar dia tidak kedinginan. Ku kecup bibirnya dengan pelan, lenganku kuselipkan mengambil kesempatan ini meremas payudara Nita, memainkan putingnya yang dari dekat sekarang terlihat pink.

Nita lalu mulai menciumku dengan buas, dia berusaha mengocok penisku, dengan pelan namun karena dia tidak berpengalaman, ini terasa nikmat tapi juga sakit. Nita masih terbawa oleh nafsunya, sebaiknya ini tidak dilanjutkan, orang tua Nita telah mempercayaiku untuk mebawa anaknya pulang dari Dody, dan itulah yang akan kulakukan.

“Cukup Nita, kamu harus pulang”, sembari mendorong tubuhnya menjauh dariku, melepaskan tautan kami. Nita menatapku dengan kosong dan masih berusaha mengatur nafasnya.

“Yes Master”, jawab Nita kemadaku dengan senyuman manisnya “Your wish is my command”.

Nita mulai mengambil branya dan mengenakkannya kembali, bersamaan dengan itu aku juga merapikan celana dan pakaianku. Nita masih berupaya memasukkan celana jins, dan akhirnya berhasil. Sebelum ia mengenakkan bluesnya, saya sempat memeluknya dan mengecup tengkunya dari belakang.

“Bukannya perintahmu agar aku bersiap pulang, kalau Tuan melakukan itu aku akan melayani tuan lagi” sambil berbalik menatapku.

“Pakai bluesmu, akan ku antar kamu pulang sayang”, sambil ku kecup kecil bibir merah mudahnya.

Nita selesai merapikan pakaiannya dan juga rambutnya yang sudah acak-acakan dari tadi.

Saat tiba di depan rumah Nita, saya pengen turun menemui Ibu Nita, tapi Nita bilang tidak perlu, biar dia saja yang menjelaskan kepada ibunya apa yang terjadi dan sebainya saya langsung pulang saja karena besok sudah harus berangkat mudik. Ya tidak ku paskan juga sih buat bertemu ibunya, akhirnya sayapun memacu motorku pulang ke apartement dan beristirahat. Tapi sebelum itu tentunya chat dulu dengan Nita.

(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(Cerita Dewasa Kerja ya Kerja, Ngeseks ya Ngeseks Part 6)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game