Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Kehidupan Baru di Kota Besar Part 1

Part 1Part 2Part 3     

Kehidupan Baru di Kota Besar Part 1

Kehidupan Baru di Kota Besar Part 1

BAGIAN 1
MENUNGGU PAGI

Yang perlu kita putuskan adalah apa yang akan kita lakukan,
dengan waktu yang kita miliki.

– JRR Tolkien

Mata Jalak Harnanto berkedap-kedip, mencoba menyesuaikan diri dengan gelapnya ruang sempit yang kini harus ia akui sebagai kamarnya. Ia menggeliatkan badan, merentangkan setiap urat pegal di badan hingga semua aliran darah lancar – atau setidaknya itu yang ia inginkan. Yang jelas ia selalu lebih merasa nyaman setiap kali setelah menggeliat.

Jam berapa sekarang? Nanto melirik ke arah jam meja kotak berwarna putih yang ia beli seharga lima belas ribu sebulan yang lalu. Ia harus mendekatkan jam meja itu ke matanya agar terlihat karena ruangan benar-benar gelap dan pelupuknya benar-benar berat.

Ah, pukul setengah empat pagi. Pantas saja jendela kontrakannya yang terletak di lantai dua ini masih belum kebagian siraman cahaya matahari, tidak ada cahaya iseng menyelinap masuk dan bermain-main di dalam. Di luar sana pasti masih gelap.

Ketika masih tinggal dengan kakeknya, Nanto memang selalu bangun sekitar jam segini. Lalu membangunkan orang tua konyol itu dan mereka akan mengajak Sagu jalan-jalan sembari berolahraga ke hutan terdekat – Sagu adalah nama anjing kampung milik sang kakek.

Entah bagaimana nasib Sagu sekarang, ia sudah dihibahkan dan dirawat oleh anak tetangga di desa.

Pemuda itu mencoba meraih gelasnya karena tiba-tiba saja ia kebelet kencing. Lho? Kebelet kencing kok malah mau ambil gelas? Masa mau pipis di gelas? Nggaklah. Ini hanya salah satu prinsip aneh dalam hidupnya saja. Sebelum buang air kecil sempetin minum dulu terutama kalau haus, biar nanti ga kebelet lagi. Prinsip apaan dah? Itu mah cuma males bangun lagi namanya.

Sekarang pun dia haus dan mau minum dulu sebelum buang air kecil.

Tapi gelas itu kosong dan Nanto pun menggerutu. Ia melirik ke arah aqua galon yang isinya air isi ulang lima ribuan – tapi ah, kosong juga. Masa iya ia harus masak air dulu sebelum kencing, sih?

Pemuda itu bangkit, menguap lebar-lebar, dan dengan gontai melangkah ke kamar mandi yang ada di bagian belakang rumah kontrakannya. Rumah kontrakan tiga petak minimalis yang cat ijo-nya mulai luntur karena lembab. Seperti kontrakan petak lain, tempat ini terdiri dari tiga sekat ruangan; ruang depan – biasanya untuk ruang tamu, ruang tengah – biasanya untuk kamar tidur, dan ruang belakang yang biasanya tempat kamar mandi dan dapur.

Sejak pintunya rusak, kamar mandi di kontrakan Nanto dibiarkan terbuka dan hanya menggunakan kain seadanya sebagai penutup, biarkan saja seperti itu. Malah seru. Mau mengintip? Silahkan saja.

Nanto menyalakan keran air agar embernya lebih terisi.

“Lagi apa?”

Terdengar suara seorang wanita memanggil dari ruang tengah. Suaranya parau, pasti si dia belum benar-benar terbangun. Begitupun Nanto, matanya terasa berat sekali dibuka.

“Pipis bentar.” Jawab Nanto singkat. Entah wanita itu mendengar suara lirihnya atau tidak. Lagipula udah jelas-jelas ke kamar mandi jam segini, sudah pasti tujuannya salah satu dari dua.

Nanto menurunkan celananya, mengeluarkan belalai gajahnya dan mulai memejamkan mata sambil menyemprot kencang ke arah pembuangan kloset jongkoknya. Ah enaknya surga di bumi, syukurlah ia masih bisa merasakan nikmatnya kencing lancar di pagi seperti ini.

Sembari menggoyang-goyang belalai untuk mengeluarkan sisa air kencingnya, pikiran Nanto mengelana. Bagaimana ia bisa sampai di tempat ini? Bagaimana ia bisa mendapatkan wanita indah yang kini sedang terbaring tanpa busana di tempat tidurnya?

Keberuntungan? Kesialan? Hidupnya memang tidak pernah benar-benar sepi.

Semuanya bermula dari beberapa bulan yang lalu.

.::..::..::..::.

.: BEBERAPA BULAN YANG LALU :.

“Kamu tinggal saja di kota, le.” Kata Tante Susan sembari menyebarkan bunga di makam Kakek. “Om Darno itu kan kerjaannya lumayan di kantor, jabatannya tinggi. Om bilang mau bantuin bayarin kuliah kamu. Nanti kalau sudah lulus S1, kalau kamu mau kamu juga bisa kerja di tempat Om. Sayang kan kalau kamu cuma mengandalkan ijazah SMA dari desa. Di tempat ini tidak ada apa-apa lagi, le.”

Nanto tidak menjawab ya ataupun tidak. Dia sudah tidak lagi memiliki orang tua – ayahnya meninggal saat ia baru saja lulus SMP dan ibunya juga sudah wafat karena komplikasi penyakit sewaktu ia duduk di tingkat dua SMA. Yatim piatu membuatnya harus pindah ke kampung untuk tinggal dan menemani sang Kakek yang juga tinggal sendirian. Sejak Nenek meninggal, sang Kakek memang lebih memilih tinggal sendiri di desa dibandingkan harus ikut keluarga Tante Susan atau keluarga Pakde Wira yang tinggal di lain pulau.

Ikut sang Kakek selama beberapa tahun di desa, Nanto jauh lebih menikmati hidupnya dibandingkan saat ia masih tinggal di kota. Sawah, ladang, gunung, sungai, senyum orang-orang desa yang ramah, dan waktu berharganya bersama sang kakek. Itulah kehidupan bersahaja yang mungkin sebenar-benarnya kebahagiaan. Setelah ia menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini, haruskah ia kembali ke kota dan menghadapi hiruk pikuk yang memusingkan?

Ia mengelus-elus kepala Sagu yang tidak beranjak dari makam Kakek sejak orang tua konyol itu dimakamkan. Omong-omong, kenapa Nanto selalu menyebut kakeknya orang tua konyol? Itu cerita untuk lain waktu.

Sagu menjulurkan lidah sembari menatap sedih ke arah Nanto – seakan-akan menggambarkan kesedihannya telah ditinggal oleh Kakek, dan sebentar lagi juga Nanto. Kenapa semua orang meninggalkannya? Lidahnya terjulur panjang dan mulutnya terbuka seperti terengah. Bahkan Sagu pun mungkin juga mempertanyakan nasibnya.

“Saya tidak enak, Tante. Kalau saya kembali ke kota, hanya akan membebani Om dan Tante nantinya.”

“Ya tidak juga. Om nanti biar mencarikan kuliah malam, jadi kamu kuliahnya tidak seperti kebanyakan orang yang ambil kuliah reguler. Banyak kok kampus yang menyediakan kelas malam. Jadi kamu nanti malamnya kuliah, paginya bisa cari kerja untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri. Om dan Tante juga akan carikan kerja seadanya dulu buat kamu. Kalau mau cari kerja sendiri juga boleh, yang penting ada pemasukan dulu.”

“Saya bisa bekerja seadanya di sini, Tante. Hidup sederhana di desa bersama Sagu. Rasanya saya tidak perlu kuliah lagi. Semua yang saya butuhkan ada di sini. Setahun belakangan setelah lulus SMA saya dan Kakek hidup dari bercocok tanam, itu sudah cukup untuk kami.”

“Kami yang akan merasa bersalah kalau kamu tetap tinggal di sini, le. Kalau kenapa-kenapa Om dan Tante tidak bisa cepat membantu, kami merasa dilimpahi tanggung jawab sama Ibu kamu. Kakek sendiri sudah pesan dalam wasiatnya kalau beliau meminta rumah di sini dijual dan hasilnya dibagikan sebagai warisan untuk cucu-cucunya. Pakde Wira dan Tante sudah sepakat untuk menjual rumah sesuai wasiat Kakek. Kamu satu-satunya putra Mbak Sari, kamu jelas membutuhkan modal untuk masa depan kamu, uang dari Kakek nanti sebagian bisa ditabung, sebagian lagi bisa dipakai untuk membantu kebutuhan hidup semasa kuliah atau modal usaha kelak.”

Nanto menatap mata Sagu dengan gamang, segamang kosongnya hati menatap masa depannya yang kian tak menentu, atau malah sudah ditentukan dari sekarang? Apa yang akan terjadi dengan hidupnya?

Nanto kembali mengelus kepala anjing berwarna putih di sampingnya yang kian menunduk.

.::..::..::..::.

Beberapa kampus memiliki julukan yang macam-macam; ada kampus yang berjuluk Kampus Biru meski sebagian besar catnya tidak berwarna biru – atau mungkin pernah biru pada suatu ketika. Lalu ada juga julukan Kampus Perjuangan yang lucunya digunakan dan diakui oleh banyak kampus – mungkin karena setiap siklus perkuliahan adalah sebuah perjuangan baik bagi mahasiswa ataupun dosen. Yang ndagel juga ada, salah satunya adalah Kampus Ultraman karena logo kampus konon mirip kepala tokoh tokusatsu asal Jepang itu.

Nah berbicara mengenai julukan, Universitas Amora Lamat juga memiliki sebuah julukan, sayang julukannya bukan julukan yang baik. Universitas Amora Lamat sering juga disebut KBB – Kampus Babak Belur karena menurut mitos banyak pertikaian antar mahasiswa yang terjadi di sana. Entah fakta ataukah hoax semata.

Kampus swasta Amora Lamat didirikan oleh Yayasan Pendidikan Kembang Setaman yang didirikan oleh tokoh masyarakat Almarhum Dra. Amora Lamat – nama yang kemudian diabadikan sebagai nama kampus di bawah Yayasan Pendidikan Kembang Setaman. Dra. Amora memiliki mimpi yang idealis, membangun sistem pendidikan yang baik demi memberikan masa depan cerah bagi anak didiknya. Tapi ya gitu, akhirnya mimpi sang sesepuh menjadi musnah begitu saja oleh anak didik semprul semau gue yang menjadikan UAL sebagai ajang KBB.

Herannya, justru kampus itulah yang dipilih Nanto.

“Oalah, le. Masih banyak kampus lain yang bisa dipilih. Kenapa kamu memilih UAL? Banyak desas-desus yang ga jelas di situ. Kamu kuliah bukan cuma sebulan dua bulan lho, tapi empat tahun. Itu juga kalau lancar.” Keluh Tante Susan pada suatu ketika saat Nanto menyebutkan nama kampus yang ia pilih. “Kenapa tidak memilih kampus-kampus lain yang juga terjangkau dan memiliki reputasi yang jelas? Kan banyak yang menyediakan kelas malam ?”

“Kata siapa sih UAL tidak jelas? Teman-temanku ada yang jadi dosen di sana. Kampusnya sudah berbenah dan sering berprestasi. Itu hoax saja, sayang. Sekarang kampusnya sudah bagus dan berkesan rapi.” Om Darno menyanggah ucapan istrinya sendiri di hadapan Nanto. “Tapi reputasinya memang masih mengalahkan prestasi saat ini. Yakin tidak memilih kampus lain, le? Bukannya aku mempertanyakan keputusanmu. Itu hakmu, dan kalau sudah dipilih itu menjadi tanggung jawab kamu untuk membuktikan kampus itu pilihan yang tepat.”

Sama halnya dengan Tante Susan, Om Darno juga selalu memanggilnya dengan sebutan tole, panggilan bocah dalam Bahasa Jawa. Om Darno lebih santai dibandingkan dengan Tante Susan, ia juga biasanya tidak banyak bicara kalau tidak penting. Tapi kalau sudah minat bicara, bisa berjam-jam sampai berbusa. Usia Om dan Tante Nanto terpaut lumayan, Om Darno sudah empat puluhan dan merupakan kawan sekelas Sari – Ibunda Nanto, sedangkan Tante Susan masih tiga puluhan.

Pagi itu adalah saat sarapan di rumah Om Darno dan Tante Susan, si sulung Azka putra mereka sedang menyiapkan tas sekolah di kamarnya, si tengah Daffa sedang memilih-milih sepatu yang akan digunakan untuk sekolah, sedangkan si kecil genit Zakia seperti biasa tidak bisa lepas dari gadget. Ketiganya sudah sarapan duluan.

Nanto menyendok nasi dan sebongkah besar terong balado. “Itu yang paling murah, Om. Supaya om ngeluarin biayanya juga tidak besar. Heheh.”

Om Darno tertawa. “Besar kecilnya uang yang om keluarkan nggak ngefek sama kampus yang kamu pilih. Om janji akan membayar semua biaya SKS sesuai Kartu Rencana Studi kamu. Kalau ada biaya tambahan di luar itu atau nilai pembayaran per semester di atas normal SKS di KRS, ya terpaksa jadi tanggung jawabmu.”

Nanto mengangguk, “itu sebabnya saya memilih UAL, Om. Biayanya paling masuk akal dan rasa-rasanya masuk di anggaran. Lalu… saya juga sedang berusaha mencari kerjaan agar tidak selamanya bergantung ke Om dan Tante.”

Tante Susan geleng-geleng kepala, “Ya sudahlah kalau kamu ngeyelle. Tetap bersikukuh memilih UAL. Tapi usahakan nilai kamu bagus, jangan kehilangan fokus untuk belajar. Ingat kamu pakai uang kuliah dari sponsor, bukan biaya sendiri. Karena ini dibiayain Om, Tante minta paling tidak nilai tiap mata kuliah kamu minimal C, tidak boleh ada mata kuliah yang mengulang – pokoknya Om maksimal hanya akan mengeluarkan biaya kuliah untuk empat tahun. Belajar yang bener.”

Om Darno manggut-manggut, kali ini ia setuju dengan sang istri.

Nanto mengunyah terong baladonya. Ia menatap kosong nasi di atas piringnya. Pikirannya menerawang jauh, pemuda itu seperti mendengar suara kakeknya yang saat ini sedang tertawa melihat jalur kehidupan yang dijalani Nanto. Tidak salah memang hidup seperti ini, bahkan sangat sah dan wajar saja, tapi kalau saja beliau masih hidup beliau pasti akan duduk di lincak kesayangannya sambil terkekeh-kekeh dan mengejeknya dengan receh.

Orang tua konyol itu selalu saja punya cara untuk mengolok-oloknya, termasuk saat ini saat sang kakek tiba-tiba saja menginvasi benaknya.

Bagaimana, Nanto cah bagus? Kamu beneran mau kuliah? Yakin? Hahaha… isih enak jamanku, to?

.::..::..::..::.

Nanto memarkirkan motor di samping gardu satpam, tempat parkir motor tamu. Entah kenapa hari itu SMA Cendikia Berbangsa menjadi ramai sekali, motor yang diparkir begitu banyaknya sehingga ruang yang tersisa tidak lapang. Duh, awas hati-hati jangan sampai motor yang ia pinjam dari Om Darno lecet kegesek motor di samping.

Om Darno memang selalu tenang dan anteng menghadapi masalah apapun, ia juga dengan santai meminjamkan motor yang belum ada sebulan on the road kepada Nanto untuk dipakai sehari-hari tanpa syarat apapun sampai nanti ia bisa memiliki motor sendiri. Meski begitu… kalau sudah marah, wah… ya jangan sampai lah. Lebih baik cari aman saja, jangan sampai saat dikembalikan nanti, motornya sudah lecet-lecet parah. Bisa-bisa dikirim ke Korea Utara buat wajib militer.

Nanto kemudian melangkah perlahan menyusuri kenangan. Ia mungkin hanya satu setengah tahun menjadi siswa SMA Cendikia Berbangsa, namun sebelumnya ia juga lulus dari SMP di lokasi yang sama dan berada satu lingkungan dengan SMA ini. Mengunjungi tempat ini bagaikan menguak berbagai cerita yang selama ini hanya tertanam dalam memorinya.

Kelas dua SMA. Terakhir kali menginjakkan kaki di tempat ini, Nanto masih kelas dua SMA – atau kalau sekarang lebih sering disebut kelas 11. Dia masih hapal betul, sudut-sudut nakal tempat ia dulu sering kongkow, lorong yang harus dihindari waktu bolos agar tidak ketahuan kabur sama guru, dan jalur-jalur unik lainnya.

Apakah sudah terlalu lama ia meninggalkan tempat ini sampai-sampai para satpam sudah diganti, tidak ada lagi yang ia kenali. Beberapa orang guru berseragam yang lalu lalang pun dengan santai lewat tanpa sapa hangat. Ya mau bagaimana lagi, memang tidak kenal. Ada perubahan yang sudah terjadi di tempat ini.

Saat memasuki pintu depan dan hampir sampai ke meja guru piket yang berjaga di depan untuk menerima tamu, sebuah suara terdengar merdu memanggil namanya. Iya, namanya yang dipanggil kan, ya? Tidak ada orang lain di sini yang namanya sama dengannya kan, ya?

“Nanto? Jalak Harnanto?”

Nanto menoleh ke arah ruang di kanan dan pemandangan indah di depan pintu menyambut dengan senyum lebar paling sumringah yang pernah ia lihat dalam beberapa tahun terakhir. Kalau ada satu hal yang selalu ingin membuatnya kembali ke sini, mungkin itu adalah sosok ini. Asty Ayuning Ratri – biasa dipanggil Bu Asty. Guru muda yang menjabat sebagai Guru BK di SMA Cendikia Berbangsa. Sosok yang paling sering ia temui, terutama karena kenakalannya dulu.

Sosok yang paling ingin ia temui.

“Halo, Bu.” Nanto menyapa sang guru muda dan membungkuk untuk mencium punggung tangannya. Cincin yang melingkar di jemari wanita jelita itu menandakan Bu Asty sudah punya suami, dia juga sudah memiliki momongan.

“Wah… wah… beneran kamu, Nanto? Sudah gagah aja kamu. Tumben banget datang kesini, ada perlu apa nih? Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba saja mampir. Ada perlu sama bagian Tata Usaha Sekolah?”

“Ti… tidak sih, Bu.”

“Terus?”

“Jujur saya kemari mau menemui Ibu. Ada yang ingin saya tanyakan, Bu. Boleh kita berbicara empat mata?”

“Oh ya? Mau ketemu saya?”

Bu Asty kemudian melirik ke arah jam dinding yang terpampang di atas meja guru piket. Jam bulat besar berwarna putih itu menunjukkan waktu istirahat siang. Ya sudahlah, hari ini kebetulan sedang tidak ada jam mengajar ataupun siswa yang meminta bimbingan.

Guru muda itupun mengangguk.

.::..::..::..::.

“Jadi begitu ceritanya, Bu. Ibu bisa mencarikan saya kerja di tempat ini?”

“Balik ke sini? Mau jadi apa kamu?”

“Tidak tahu, yang penting kerja saja. Seperti yang tadi saya ceritakan, Bu. Saya butuh pekerjaan untuk membayar banyak hal, termasuk untuk mencari kos atau kontrakan, dan untuk kebutuhan kuliah. Saya sedang mulai menata kembali hidup saya, Bu. Om memang membantu banyak hal, termasuk biaya kuliah, tapi untuk yang lain-lain saya harus mencari sendiri. Di kota ini, selain Om dan Tante saya hanya percaya sama Ibu.”

“Ya udah. Nanti coba aku tanyakan ke HRD, siapa tahu ada lowongan cleaning service atau staf lain. Tidak apa-apa pekerjaan seperti itu? Aku tidak bisa membantu banyak karena ijazah kamu cuma SMA. Apalagi karena kamu cowok, aku tidak bisa mengusulkan kamu sebagai librarian untuk perpustakaan, tata usaha juga sudah penuh tidak ada lowongan.”

“Tidak apa-apa, terima kasih banyak sebelumnya, Bu.”

“Kalau tidak di sini bagaimana? Siapa tahu dapat lowongan kerja di bidang dan tempat lain?”

“Itu juga tidak apa-apa. Saya ikut saja sih, Bu. Kalau ada lowongan di tempat lain saya juga mau. Saya paham ijazah saya yang cuma SMA mungkin agak susah mencari kerjaan di kota apalagi kalau tidak punya relasi.”

“Ya sudah, nanti coba Ibu bantu carikan ya. Kamu tinggalkan nomer saja.”

Nanto mengangguk, ia mengeluarkan ponsel bekas yang dulunya pernah dipakai oleh Tante Susan. Ia memang beruntung Om Darno dan Tante Susan sangat baik dan memberikan ponsel ini untuknya. Nanto membuka note untuk membaca catatan nomer ponselnya sendiri yang sampai sekarang belum ia hapal.

Bu Asty mencatat nomer Nanto di hapenya.

Suasana hening kemudian saat terdengar bel sekolah yang nyaring menandakan sudah saatnya siswa masuk ke kelas masing-masing. Baik Nanto maupun Bu Asty terdiam seribu bahasa. Nanto menatap guru muda itu. Semasa sekolah di sini, Bu Asty adalah penyelamatnya. Betapa sering beliau menyelamatkannya dari gamparan tangan dan hajaran penggaris Kepala Sekolah yang sudah sering mampir ke lengan, punggung atau kakinya. Untungnya ada Bu Asty yang dengan sabar menutupi semua kelakuan bandel Nanto hingga hukuman yang ia terima tidak sebanyak yang seharusnya.

“Bagaimana kabar Pak Subur, Bu?” Nanto menanyakan Kepala Sekolah yang sering menggampar dan menghajarnya dengan penggaris. Memori indah lah.

“Beliau terkena komplikasi penyakit gula dan darah tinggi, sudah resign dua semester kemarin dan pulang ke kampungnya. Kepala Sekolah yang baru namanya Pak Suratman – dipanggilnya Pak Man.”

“Wah… beliau sudah resign ya, Bu?” kepala Nanto menunduk, terdengar sedikit penyesalan di sana. “saya belum sempat meminta maaf pada beliau. Meski cuma sebentar di sini sudah banyak sekali kenakalan yang dulu saya perbuat dan membuat beliau mencak-mencak. Jangan-jangan beliau juga sering tensi-nya naik gara-gara saya ya, Bu?”

“Memang! Hahaha. Kamu itu hobi banget bikin orang-orang tensinya naik, termasuk ibu. Sering berantem, tawuran dimana-mana. Sok jago banget sih. Berapa kali coba ibu harus menyembunyikan kamu di ruang UKS karena datang ke sekolah lebam-lebam? Tahu tidak kalau banyak orang mengkhawatirkan kamu?”

Nanto tertawa dan menggelengkan kepala. “Tidak ada yang mengkhawatirkan saya. Ibu kandung saya saja tidak pernah tahu saya di mana. Beliau juga tidak pernah banyak bertanya.”

“Ya bagaimana beliau bisa tahu. Sejak ayah kamu meninggal kan Ibu kamu sakit-sakitan. Bukannya ngerawat Ibu malah sering main ke kantor polisi. Nanto… Nanto…”

Nanto tersenyum kalau teringat masa-masa kenakalannya dulu, ia pun hanya mengangkat bahunya. “Kalau di rumah, saya justru sering diusir sama Ibu supaya lebih sering keluar rumah dan main sama temen. Sebenarnya sih saya tahu Ibu tidak mau saya melihat beliau sakit-sakitan, Ibu bukan tipe orang yang ingin dirawat, Ibu ingin terlihat kuat di mata saya.“

“Almarhum Ibu kamu berbuat seperti itu karena ingin kamu mandiri, beliau tahu penyakit beliau berat dan tidak akan bisa menjadi sandaran hidup kamu terus menerus. Itu alasannya.”

“Mungkin ya, Bu. Tapi kesannya saya diusir melulu dari rumah. Jadi mau kemana pun saya pergi, tidak ada yang bakal nyariin.”

Haish. Ngaco. Ibu pernah ketemu sama ibu kamu. Beliau bilang kalau beliau sayang banget sama kamu. Banyak harapan Ibu kamu, supaya kamu dapat tumbuh menjadi orang yang baik dan peduli pada sesama, supaya kamu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, supaya kamu menjadi laki-laki sejati.”

Nanto duduk terdiam tanpa membalas lagi.

Pemuda itu tengah duduk di ruang detention room yang ada di sebelah ruang BK. Sementara guru BK muda yang dulu sering bertugas memberikannya penyuluhan duduk di hadapannya, saat ini pun masih berasa seperti itu.

Ruang ini terpisah dan terisolasi dari ruangan lain di sekolah, berkesan seperti penjara. Sengaja dibuat demikian agar para siswa merasa kapok dan jera jika masuk ke ruang BK. Semua – kecuali Nanto. Saat sekolah di sini dulu, Nanto sering sekali masuk ke ruangan ini dan membuat Bu Asty pusing tujuh keliling. Ternyata sekarang setelah lulus dan kembali pun, Nanto kembali lagi ke ruangan ini.

“Selain keluarga, sepertinya tidak ada yang khawatir sama saya.”

“Aku khawatir. Makanya aku dulu sering belain kamu.”

Nanto memiringkan kepala, menatap ke arah guru BK-nya dengan pandangan mata sejuk. “Ibu berbeda dengan yang lain.”

“Bedanya gimana?”

“Ibu khawatir.”

“Ya kan memang sudah seharusnya sekolah mengkhawatirkan siswanya. Seburuk-buruknya sekolah ini, kami dari jajaran guru tidak pernah memperlakukanmu dengan tidak layak, kan? Kami selalu memperhatikan semua murid. Itu termasuk murid sableng seperti kamu. Udah nilainya jeblok, kerjaannya berantem, ga pernah masuk kelas. Eh malah nongkrong di kantor polisi, gimana Ibu tidak pusing.”

Nanto kembali mengangkat bahunya. “Dulu rasanya semua hal membuat saya selalu marah. Ibu yang stress sepeninggal Ayah, hidup yang tidak tentu arah, semua terasa kacau dan tanpa harapan.”

“Sampai sekarang?”

“Sedikit seperti itu. Tapi ya, sekarang saya sedang mencoba memiliki harapan baru, Bu.”

“Bagus itu. Apa cita-cita kamu?”

“Saya tidak punya cita-cita, Bu. Saya sudah tahu seperti apa masa depan saya kelak. Kelam pokoknya. Suram, gelap, ga ada cahaya. Saya aja ga pernah menyangka saya akan kembali ke kota setelah menyelesaikan SMA di desa dan hidup bersama Kakek. Meski tanpa cita-cita, rasanya hidup lebih damai di desa.”

Guru BK cantik yang duduk di depan Nanto menggeleng. “Cahaya itu selalu ada, selama kamu berharap dan berdoa. Jangan pernah putus harapan. Kamu itu punya banyak potensi, punya banyak bakat. Sayang kalau tidak dikembangkan. Katanya mau kuliah? Ya selesaikan itu, meskipun tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, setidaknya Ibu yakin kamu pasti akan menemukan jalan hidup yang lebih baik. Jangan pernah takut dengan tantangan. Pisau yang tak diasah, mana bisa tajam.”

“Bener kan. Ibu memang berbeda dengan yang lain.”

Bu Asty tersenyum. Tak sengaja, guru BK itu melirik ke arah cermin yang ada di samping Nanto. Ia memperbaiki kerudungnya yang sepertinya agak melorot. Tadi pagi ia berangkat dengan terburu-buru karena harus mengantarkan anaknya ke sekolah jadi tidak sempat berdandan dengan rapi. Suaminya sendiri akan menjemputnya pulang hari ini setelah beberapa hari pergi ke luar kota demi keperluan dinas, jika Bu Asty adalah guru honorer di sekolah swasta, maka suaminya seorang karyawan perusahaan StartUp.

“Berbeda gimana sih, maksud kamu? Ibu tak ada bedanya dengan Kepala Sekolah yang bersedia memberikan kamu kesempatan demi kesempatan, guru-guru yang masih mau memberikan kamu nilai meski kamu tidak ikut ujian, guru-guru piket yang tutup mata melihat absen kamu bolong-bolong, dan…”

Guru muda itu tersentak saat tiba-tiba saja Nanto sudah berada didepannya. Sejak kapan dia…

“Ibu berbeda. Ibu cantik.”

Nanto menurunkan kepalanya agar bisa sejajar dengan Bu Asty yang memang jelita itu, mata sang guru BK langsung terbelalak karena sadar apa yang akan dilakukan mantan murid yang bengal itu. Sebelum ia sempat bergerak, Nanto sudah melaksanakan niatnya.

“Nanto! Kamu mau aphhh…!!”

Bibir mungil Bu Asty langsung disergap oleh bibir sang mantan murid. Guru muda yang cantik itu jelas berontak, mencoba melepaskan diri. Tapi… bibir Nanto yang lebih kuat tidak membiarkannya lepas begitu saja. Pagutannya begitu kencang, begitu menuntut dan berkuasa penuh atas bibir sang guru muda.

Bu Asty memang selalu membuat Nanto gelisah karena terpesona. Tubuhnya indah, kulitnya putih, bibirnya merah merona, matanya bulat membius, dan penampilannya wah jangan ditanya lagi. Secara tinggi badan, tubuh Bu Asty sangat proporsional dengan lekukan indah yang membuat mata seorang pria dimanjakan. Guru muda yang tidak hanya jelita tapi juga seksi ini acapkali mengenakan baju yang pas dengan porsi badannya – dan itu membuat bagian dada dan bokongnya makin beraksen. Hijab yang ia kenakan juga menambah dewasa dan tenang wajah ayunya.

Guru idola lah. Dulu mana ada anak SMA Cendikia Berbangsa yang tidak kepengen coli kalau melihat Bu Asty.

Nanto memeluk Bu Asty erat sementara ciumannya terus mendera dan menghujani bibir mantan guru BK-nya itu. Bu Asty merasakan elusan demi elusan lembut di bibirnya, ini bukan olesan bibir yang memaksa, ataupun berniat menghancurkan harga dirinya. Ini olesan lembut yang penuh dengan perasaan. Bibir mungil guru muda itu beradu dengan bibir kencang Nanto, saling berpagutan, saling mencumbu, saling mengulum.

Lidah Nanto kini mulai bergerak, membuka mulut Bu Asty, menggeliat lincah bagai ular keluar dari sarang. Mencoba mencari celah untuk berpindah dari satu mulut ke mulut lain. Mencari pasangannya di gua seberang yang masih bersembunyi. Sampai akhirnya lidah Bu Asty pun ia temui, sehingga keduanya saling terikat, berkait, menjelajah.

Bu Asty tidak mengira kalau Nanto sepintar ini berciuman, ia bisa merasakan ketulusan dari ciumannya, semua rasa tumpah ruah dalam setiap kecupan. Ciuman yang bisa membuatnya terangsang, Bu Asty merasakan bagian bawah tubuhnya mulai basah tanpa bisa ia tahan. Ciuman dari mantan murid bengal ini bahkan membuatnya lebih terangsang dibandingkan saat berciuman dengan suaminya…

Suaminya! Dia sudah punya suami! Astaga! Apa yang sudah ia lakukan!?

“Sudah!! Cukup!!” Bu Asty mendorong Nanto menjauh. Ia berdiri dari kursinya dan mendorong anak muda yang usianya lebih muda itu agar melepaskan pelukan dan ciumannya. “Ka… kamu kurang ajar ya!”

PLAKK!!

Bu Asty menampar Nanto dengan kerasnya, sampai-sampai kepala pemuda itu terlempar ke samping. Tentu saja ini efek perasaan jengkel. Saking jengkelnya karena dilecehkan oleh Nanto yang tiba-tiba saja menciumnya. Guru muda itu terengah-engah karena ledakan emosi, jantungnya berdetak begitu kencang seperti tak mampu ia kendalikan.

“Bisa-bisanya kamu melecehkan ibu seperti itu?! Kurang ajar kamu!”

“Karena Ibu berbeda… Ibu juga merasakan apa yang saya rasakan, kan?” Nanto menatap guru muda di depannya dengan mata tegas. Ia mengelus pipinya sendiri yang panas karena tamparan tadi. “Jangan bilang kalau Ibu tidak menikmati apa yang baru saja terjadi.”

“Kamu!!!”

Bu Asty melotot mendengar ucapan Nanto barusan, bisa-bisanya si bengal ini ngomong begitu? Setelah apa yang selama ini ia korbankan untuknya, setelah semua kebaikan yang ia tanam untuknya? Bahkan setelah dia bilang minta dicarikan kerjaan!

Bisa-bisanya dia…

Sungguh kurang ajar…

Pemuda yang…

Tapi…

Bu Asty menatap ke arah Nanto dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan oleh sang pemuda bengal. Mata guru muda yang jelita itu berkaca-kaca.

“Bu…”

“Diam…”

“Ibu tidak apa-apa?”

“Diam kamu…!”

Bu Asty tiba-tiba saja menarik kerah kemeja Nanto, memejamkan mata dan mencium bibir Nanto dengan ciuman yang penuh nafsu. Birahi guru muda itu sudah terlanjur menyala, dan mereka berdua pasti akan menerima konsekuensinya. Tapi itu nanti. Sekarang, biarlah keduanya diperbudak oleh nafsu birahi jahanam yang menembus batas etika dan susila.

Nanto memeluk Bu Asty dan menciumnya balik.

Keduanya berpagutan di bilik detention room. Tangan Nanto menjelajah, menyusuri badan indah sang guru muda. Bu Asty mendesah di balik lumatan bibirnya.

Sementara di luar sana kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

[Bersambung]