Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Hidup di Jakarta Part 54

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48
Part 49Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55Part 56
Part 57Part 58Part 59Part 60Part 61Part 62 END

Hidup di Jakarta Part 54

Start Hidup di Jakarta Part 54 | Hidup di Jakarta Part 54 Start

Part 54

“Kira-kira, begitu ceritanya, Mon. Kalau seandainya elo, mau benci gw, silahkan, kok, Mon” yap, karena hari ini gw meminta tante BeR, berkata jujur, jadi gw memutuskan untuk jujur juga ke Monique, semua hal, tentang gw. Apa masalah yang gw hadapi, siapa gw. Setidaknya dia tahu, dari mulut gw langsung.

(Gw lagi curhat, di bangku taman sama dia)

Gw berserah saja sekarang.

“Gavin. Sejujurnya, dari dulu, aku sudah tahu semua tentang kamu” kata dia.

Ore??
But, how??

“Kamu nggak, usah pikirin aku tahu darimana. Tapi aku selalu percaya, bahwa kamu akan berubah. Dan sekarang, nyatanya, kamu sudah berhenti” kata dia, sambil menggenggam tangan gw.

“Dan aku, nggak akan benci kamu. Karena untuk benci kamu itu, susah. Dan aku akan mendampingi kamu, menghadapi setiap masalah. Jadi jangan kuatir” lanjut dia.

“Kalau kamu udah, tahu, kenapa nggak ngomong?” Tanya gw.
“Aku kan selalu, bilang, jangan suka yang aneh-aneh. Aku yakin pasti kata-kata aku, ke bayang di pikiran kamu. Lagian aku nggak punya hak” jawab dia.

Ehehehehe, gw bingun, happy, pusing, sedih, sama takut disaat bersamaan. Ini orang, kok bisa tahu tentang gw, apa yang ada dipikirkan gw. Sadis!

“Nah, yang aku minta, Vin, biar aja masa lalu kamu, jadi masa lalu. Masa depan kamu, kamulah yang tentukan.
Kamu tetep harus lihat masa lalu. Supaya kamu tahu, apakah jalan itu pernah lo lewati. Tapi inget, aku ada sama kamu” kata dia.

Gw nggak salah jatuh cinta, men.
Gw jatuh cinta ke orang yang tepat.

“Mon, kalau gw cinta sama elo, kamu tahu, nggak?” Kali ini, hati gw yang mengambil alih tubuh gw.

“Vin, kalau aku nggak tahu, aku bukan Monique” entah kenapa, bagi gw, jawabannya horor.

Dan, tanpa panjang lebar, gw menggenggam erat tangannya, dan hati gw mulai berbicara.

“Monika, kamu mau nggak, jadi temen hidupku? Karena aku yakin, kamu bisa membantu, setiap permasalahan, yang akan aku hadapi. Mungkin waktunya nggak tepat, tapi, Kamu sudah tahu, aku cinta sama kamu, dan menurut aku, kamu harus tahu juga seberapa besar cintaku” untuk pertama kalinya, gw menjadi penyair cinta.

(Buset, bahasa lo, tong-tong)

“Gavin,
No matter, where you are,
No matter, WHAT you are,
No matter, what problem we face,
I will always love you” jawab dia.

Dan saat itu juga, dia gw peluk.

“Hehehehe” gw cengengesan, saat di peluk.
“Kok, ketawa?” Tanya dia.
“Nggak. Lucu, aja. Setelah sekian lama, akhirnya gw jadi juga sama elo” kata gw.
“Udah, ah. Untuk masalah yang kamu omongin, nggak usah kuatir. Kita selesaikan sama-sama” kata dia.
“Hehehe, adinda emang paling hebat” lalu gw melepas pelukan, gw.

Oi, Suara Sakti!
Gw, punya pacar!
Monique, lagi!
Menang banya gw, men!

“Eh, tapi kok, nada what you arenya, harus ditekanin?” Tanya gw.
“Abisnya aku nggak tahu, kamu jenis mahluk apa” jawab dia.
“Uwahh. Thank you, sis, buat pujiannya” kata gw.

“Hihihi.
Besok, pas libur, aku temenin kamu, ketemu mama, kamu. Nggak usah takut. Ini bukan kesalahan kamu, kok” kata dia.
“Selama sama kamu, semua bisa aku atasi” jawab gw.

“Oke, deh. Makan, yuk. Belum makan, kan?” Ajak Monique.
“Ayo”

Tapi, gw masih penasaran, si Monique tau dari mana???
Ada lagi, misteri di dunia ini.

——————————————
Sementara itu, di dimensi lain.
Empat space entity, sedang berkumpul.

(“Ah, babi, tai, anjing, sialan, monyet, kampret. Noh, gope!”)
(‘Anjrit-anjrit, padahal gw authornya, tapi kalah taruhan. Sialan, tuh, si Gege. Pake jadian lagi’)
(/wah, parah, gope, lagi. Tahu gitu gw tetep sama pendirian gw. Nggak ngikut-ngikut koalisi\)
[•lumayan. Gope, gope, gope. Saya bilang juga apa. Gege pasti jadian sama Monique•]

(‘Lo, curang, lo. Lo kan supreme Gege. Dia pasti nurut sama elo, lah’)
[•lah, Kalo Moniquenya nggak mau, gimana?•]
(“Anjing. Alasannya masuk akal, lagi”)
(/mau gw bikin banjir, rumahnya bukan wilayah gw\)

(‘Nggak, yang jadi masalah, kan gw authornya, yang ibaratnya semua harus seijin gw. Masa si Gege, bisa jadian tanpa seijin gw!’)
[•wahahahahahaha•]

(Ett, dah, bocah. Hidup gw, lo pada, jadiin bahan taroan? Wah, bangsat lo pada!)
——————————————

‘Senangnya hatiku,
Sekarang punya pacar’

Pagi ini, gw bernyanyi-nyanyi menyampaikan, kegembiraan, hati gw.

Ingin rasanya, daku membelai bulan dan menjamah matahari.

Et, dah. Gw jijik, sendiri.
Hentikan kebiasaan, ini!
Bongkar, kebiasaan lama!

“PAGI, SEMUA!” Kata gw ketika melihat anak-anak lagi sarapan.

“Wah-wah. Happy banget, lo, Ge” kata Kevin.
“Tahu, napa, lo? Hutang, lo, lunas?” Tambah Alex.
“No-No-No. Ini, adalah, kabar gembira, bagi gw dan semua orang yang mau lihat gw gembira” jawab gw.

“Tuhkan, elo, aneh, Ge” kata Cathy.
“Yap, gw aneh” jawab gw.

“Lo stres, Ge” kata Vivi.
“Yap, betul juga. Gw stres”

“Lo, Sinting, ya??” Tanya Nia.
“Haha. Iima ratus ribu rupiah!”

“Ya, ampun Ge, lo kenapa, sih? Siapa tahu gw bisa bantu” tanya Tere.
“Tenang, Ter. Semua aman, terkendali” jawab gw.

“Lo miskin, Ge?” Tanya Putri.
“Iya, tepat…. What. Nggaklah. Gw standart. Tidak miskin” hampir gw kecolongan. Fiuhhh.

“Mon, lo, kenapa, senyam-senyum?” Tanya Gadis. Anak kost senior, juga. Termasuk yang paling lama.
Hampir bareng sama Monique.
“Apaan, sih. Gw nggak senyam-senyum” jawab Monique.

“Ah, gw tahu, nih” kata Cathy.
“Iya, gw juga tahu. Boker lo, berhadiah, kan?” kata Kevin.

“Weee. Sok tau!” Kata gw.

“In, Kevin. Orang lagi, makan, juga. Lagian motong pembicaraan gw aja, lo!” Kata Cathy.
“Iyee, maap” jawab Kevin.

“Mon, gw bener, nggak?” Tanya Cathy.
“Pikir, aja sendiri” jawab Monique, senyam-senyum.
“OMG, Cat, udah, Cat” kata si Dewi.

“Apaan, sih? Gw ketinggalan berita, ya?” Kata Nia.
“Nggak. lo ketinggalan jam tayang, noh” kata gw.
“Ih, orang gw libur. Apaan, sih beritanya?” Tanya Nia.

“Cie, selamat ya, abang Gege. Akhirnya kesampaian juga” kata Cathy.
“Hehehe”

“OMG. Seriusan? Selamat ya, Ge” kata Tere.
“Lo ngerti, Ter?” Tanya gw.
“Ngerti. Lo sama Monique, jadiankan?” Jawab dia.

Buset, dia bisa ngerti. Kok, aneh ya, di mengerti.

“HAH! SERIUSAN???” Teriak anak kost yang lain.

“Bro, kita harus kudeta jendral, kalau gitu” kata Alex.
“Bener itu, bro” jawab Kevin.
“Sialan, lo. Gw di militer, lebih lama dari elo!” Kata gw.

“Eh, by the way, si Radit mana??” Tanya gw, setelah mereka selesai memberi selamat ke gw dan Monique. Kayak nikahan aja.

“Lagi PDKT” jawab Alex.
“Sama siapa?”
“Stefi” jawab dia.
“Serius?”
“Iya. Tuh, lagi nganterin calonya, ke mini market” jawab Alex.

Berani juga tuh, anak.

“Lo, pada berisik banget, sih” kata Boni, baru dateng. Baru bangun kayaknya.

“Lah, yang satu Happy.
Yang satunya lagi, berusaha Happy.
Yang ini mengkerut. Kenapa, kopral?” tanya Kevin.

“Lagi, bad mood gw” jawab Boni.
“Ya, udah. Cerita” kata gw.
“Jangan di depan cewek. Malu, gw” kata dia.

Akhirnya para lelaki pindah, ke pinggir kolam.

“Kenapa, bro?” Tanya Alex.
“Mantan gw mau nikah, bro” jawab dia.
“Yah, elah. Itu mah, masalah kecil, men. Cari yang baru. Yang lebih oke” kata Alex sang Don Juan.

“Tau, bro. Liat nih, jendral kita. Meski percintaannya suram, tapi sekarang dia bisa jadian sama Monique” kata Kevin.

“Oh, jadian, lo, Bro? Selamat, ya” kata Boni.
“Yoyoi. Thank you”

“Gw, sih nggak masalah, dia nikah. Tapi, sama siapa di mau nikah” kata Boni.

“Siapa bro?” Tanya kita bertiga.
“Dia mau jadi istri, babeh gw. Entah yang keberapa”

“Turut berduka cita, ya, men” kata gw.
“Iya, men. Semoga, elo di beri ketabahan” tambah Kevin.

“Wah, parah lo, gw bukanya meninggal” kata Boni.
“Elo, kan, lagi berduka” kata Alex.

“Ah, malah tambah bad moon, gw” kata Boni.

“Ya, elah, si mas Boni, melow” kata gw.
“Tau, lo boikot aja, nikahannya” kata Kevin.
“Dosa, gw men” jawab Boni.

“Terus lo maunya apa?” Tanya kita.
“Tau, deh, bro. Bunuh diri, kali” jawab dia.
“Elo, boikot nikahan takut dosa. Tapi, maunya bunuh diri. Mending boikot aja, bro. Dosanya lebih kecil. Percaya, deh, gw udah pernah” kata Alex.
“Sialan, lo”

“Emang pernah boikot, nikahan lo, Lex?” Tanya gw.
“Hohoho. Pernah, dong”
“Gimana ceritanya?” Tanya Kevin.

“Ah, elo, malah, jadi cerita. Emang, gimana ceritanya??” Kata Boni.

Bersambung

END – Hidup di Jakarta Part 54 | Hidup di Jakarta Part 54 – END

(Hidup di Jakarta Part 53)Sebelumnya | Selanjutnya(Hidup di Jakarta Part 55)